Moment of Truth: Somewhere in My Wicked, Miserable Past

“So somewhere in my youth or childhood
I must have done something good”

This is a lyric from a song from Sound of Music movie.
My favorite movie, until some point I think I ‘possessed’ by that movie hahahaha…
I don’t why this two line stuck in my head this passed 5 days and it keeps playin’ till this second.
when I reflect these words, I feel that the lyric so alive in me.
I decided to write something on it and I hope it will stop bugging me.
hqdefault.jpg

“Perhaps I had a wicked childhood
Perhaps I had a miserable youth

I have a beautiful childhood, but then back in my youth time, I can say I’m not proud with myself at all.
I was so desolate, sensitive, inferior, low self esteem, bad self image, people pleaser, coward, stupid (literally), timid, couldn’t express my opinion, even when I write this one by one I don’t like ‘her’ at all.
Then something happened – a huge storm came into my life (read: https://whittulipe.wordpress.com/2016/03/13/dance-with-my-father-a-memoir-prolog/) and changed me to a dominating woman, selfish, still bad self image but with a extreme feminist expression, full of hatred and pain, manipulating, using,and insensitive.
Imagine that kind of woman as your friend…
yeahh.. I know… me sucks rite…?

But then as the lyric said:
But somewhere in my wicked, miserable past
There must have been a moment of truth”

I don’t know when, but somewhere in my wicked, miserable past – there must have been a moment of truth.
The moment of truth that led me to who I am today.
I remember I was so frustrated with my self. I knew that I have to change but I just didn’t know how, and where to start.
So I started with baby step.
I made a commitment to my self not to say a negative/ complain comments. I have to keep my mouth shut and if want to say something, think again twice, and ask again why I have to say that… I have to teach my self and draw my self to a zero point between positive and negative.
… and the miracle start to happen when you start to work and Grace of of God become so powerful when you start to let go your own understanding.

For here you are, standing there, loving me
Whether or not you should
But somewhere in my youth or childhood
I must have done something good

Today all I can say is… I still have to work on myself.
I still a woman in between – sharp in so many area (the way I talk, sometime I know it can hurt other’s feeling), I have to work on my dominating attitude.
I have to learn to be patient. I have to fight my laziness and selfishness. I have to go out from my comfort zone and work hard to give more of my self to others.
The courage that I live today.
The joy that I have today.
The blessing that come in my way.
I know that I must have done something good.

… and that something is let God be God in my life.
Let Jesus be a King that take over all my weakness and limitation.
I can testify how God is so good.
How He is a merciful God.
How He performed miracle somewhere in my youth.
Yes… again… I must have done something good.

That something good has a name.
And His name is Jesus.

Reflection of Lent Season 2018
(LbA)

Advertisements

MY INFERTILITY. MY CROSS. MY RESURRECTION

Suddenly I feel the urge to write about my infertility.

Capture.JPGBanyak orang yang mengatakan kekaguman mereka karena kami sebagai pasangan yang tidak punya anak bisa terlihat bahagia… and the truth yes we are happy.
Tetapi buat Saya pribadi sebagai seorang perempuan, untuk sampai pada hari ini – Saya menyadari, itu adalah perjalanan Rahmat Tuhan.

Ada masa di mana Saya mempertanyakan kenapa.
Kenapa ada seorang perempuan di luar sana yang Saya tahu sudah beberapa kali aborsi, tetapi bisa mendapatkan anak?
Kenapa ada seorang perempuan di luar sana yang juga sudah hamil sebelum nikah, lalu memberikan anaknya kepada orang lain (Thank God!), juga dengan mudahnya hamil dan beranak pinak?
Kenapa ada seseorang yang tidak dalam kehidupan yang benar, dengan mudahnya juga hamil.

Sedangkan Saya?
Saya mendampingin Suami Saya melayani Tuhan. It’s been more than 27 (for hubby) and 23 (for me) years of our commitment to serve God. Saya ngga bermaksud menyombongkan beberapa tahun Kami ada dalam pelayanan, tetapi ini justru menjadi alasan kuat Saya bertanya KENAPA? After all these years?
What did I do wrong?
Why You have to humiliate me, and I can’t be fruitful at the core of my calling as a woman?
Kenapa Saya harus menangis saat orang tua Saya juga dipermalukan karena kemandulan Saya?
Kenapa Saya tidak diberikan kesempatan memberikan mertua Saya cucu dari anak mereka satu-satunya?
Kenapa bahkan Engkau sendiri merelakan diriMu dipermalukan karena ada suara yang berkata: “Lihat tuh udah pelayanan buat Tuhan dan selalu bilang untuk percaya sama Tuhan, tetap aja Tuhan ngga percaya kasih anak ke mereka…”

Don’t worry, that happened to us. And even tough I feel so blessed karena Saya merasa telah melewati itu, saat seperti detik ini, saat Saya menuliskan dan meningat kembali, masih terasa seperti ada yang linu dan membuat Saya mulai memproduksi mucus berlebihan hahahaha…

Tetapi pengalaman kemandulan ini, membawa Saya pada pengertian yang indah mengalami God’s grace.
Hari ini Saya bersuka cita pernah dan terus mengalami pertanyaan-pertanyaan di atas. Sampai kapanpun pertanyaan dari sekitar kita tidak pernah selesai. Bahkan ada lontaran yang Saya tahu itu Cuma cara mereka untuk menyemangati juga bisa melukai.
Seperti waktu Saya ditahun ke 5, ada hiburan yang dilontarkan: “Ngga apa… ada Saudara Saya sudah nikah 10 tahun kemudian hamil.” Setelah nikah 10 tahun, ada yang mengatakan 15 tahun… dstnya… let see sampe berapa tahun kemudian orang tidak menggunakan contoh ini.
Tetapi Saya hari ini mengingat semua itu dan tersenyum. Ada kegembiraan yang melonjak setiap kali Saya mendengar ada kehamilan baru yang terjadi di sekeliling Saya.
Biarpun jujurnya untuk beberapa orang tertentu, Saya masih bertanya, after what she’s done, she can pregnant and I can’t? But anyway, it is just me and my sirik attitude yang harus dimurnikan.

Hari ini Saya Cuma mau merayakan apa yang Tuhan terus buktikan.
KesetiaanNya. KemurahanNya. Berkat-berkatnya.
Mertua yang selalu mendukung pernikahan kami. My parents yang selalu mementingkan kebahagiaan kami daripada status punya cucu buat mereka.
Buat Saya sebagai perempuan sikap suami yang terus melihat Saya begitu ‘subur’ dan terus berusaha membahagiakan Saya rasanya sudah cukup untuk membuat Saya berhenti bertanya kenapa.
Most of all… Ladang pelayanan, tanah yang memberikan kesempatan buat Kami berdua untuk berbuah. Mungkin tidak dalam bentuk manusia atau anak biologis, tetapi berupa jiwa-jiwa orang muda yang mengalami perjumpaan dengan Yesus, yang memberi kekuatan pada Saya untuk melalui semua ini.

desiree-chalk-board.jpg            It’s a Lent season.
It’s not only the time for repentance. For me it is also the time to understand once again about the cross.
One thing for sure, if you carry your weakness, addiction, problem, in my case my infertility to the cross, mempersatukan itu dengan penderitaan Yesus, dan tahu dengan sungguh bahwa tidak ada satupun yang mustahil saat kita membawa semua itu pada Yesus yang menembus segala kelemahan, dosa, dan gagal subur, Saya percaya di hari ke-3 atau di waktu Tuhan kita akan bangkit bersama Tuhan dan mengalami kemenangan bersama dengan Tuhan.
Children is not our right. It’s God given precious gift. If you have that gift, be joyful and take it as ‘holy’ responsibility.
But if you haven’t/don’t have that gift. Be joyful as well. That means the world waiting for you dan kita akan melihat buah kehidupan yang hadir dari misi dan pemberian diri kita bagi sesama.

On my case.
This body is fail to be fertile.
Human can judge and humiliate me (like I judge other people with that why questions).
But I know, it’s our privilege to experience and walk the journey with unending hope to God (HAAAAA… that unending hope makes me understand why Sara laugh when she heard that she will be pregnant).

I took it as the cross. With the grace of God I tried to be faithful.
And if you see joy of my infertility today, it comes from the cross and the power of God’s love who raise me from my self pity and why questions.

This joy is my resurrection.
This joy is because of Jesus.

For this child I prayed. And I can smile today that the journey give us so many child not only in our home, but so many places around the world. With this in mind, how can I cannot be joyful?

(LbA)

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

I was not an easy teenager.
Today, I am old enough to have a teenager on my own, and I have a promise in my heart when I was a teenager, that I will not agree to what my mom said, but now… life teach me so many things, and I find out why I didn’t believe her back then…

Here are (another 5) what my Mom taught me:

6. Kalau mau dokter buat jadi kaya materi, mendingan ngga usah jadi dokter!
Hehehe… ini kata-kata pertama yang my mom ucapkan waktu Saya insist buat masuk Fakultas Kedokteran waktu itu. Actually she did not support me with the decision. My mom said that being a medical doctor will consume your life, because it’s a calling. Saya tidak mengerti apa maksudnya waktu itu. Tetapi hari ini, melihat ke belakang, saya bersyukur she emphasized that strongly to me, sehingga sekarang… setelah menjadi seorang yang mengucapkan sumpah Hippocrates which means biarpun saya tidak praktek, tetapi selamanya saya terikat pada sumpah itu, and what my mother said, even in her own simple words – it so alive now and become the strength for me to live this calling. You’re just a simple woman Mom, but your wise word is so true!

7. Hafal Firman Tuhan – terutama Mazmur dan Amsal. Itu akan menjadi pegangan dalam menjalani hidup.
Nahhhh… ini yang paling saya sebel! Berasa ngga berguna banget waktu itu, dan ngga ngerti juga apa maksudnya. Masa kecil saya penuh dengan cerita Kitab Suci dan sejak saya mulai bisa menghafal, saya diajarkan untuk mulai menghafal ayat Kitab Suci. My mom always said… “Baca Mazmur dan Amsal buat menemani perjalanan hidup kamu karena banyak kata-kata hikmat.” and of course I didn’t believe her.
Tetapi hari ini, saya bersyukur akan ayat-ayat yang saya hafalkan dan sudah saya lupakan hehehe… tetapi tanpa sadar, ayat-ayat itu menjadi kekuatan di saat saya terhimpit beban berat. Sebuah bekal dari ibu yang akan menjadi kekuatan sepanjang masa.

8. Sex itu suci! Jangan sembarangan melakukan nya. Jaga kekudusan.
Hehehhe… I’ve in relationship. From I’m 15 until 28, saya ngga pernah berhenti ada dalam relasi. Baik pacaran atau TTM. Anyway… My mom keep repeating this message but it seems like I didn’t care about it.
Yes… I made so many mistakes. Pacaran saya ngga bisa dibilang bener dan menjaga kekudusan tubuh saya.  But now when I looking back, I know that she was right.
Setelah kehidupan pernikahan dan mengalami langsung apa arti sexual, I really understand why sex is holy. Once again I have to say… yeaa Mom, you’re right!

9. Jangan minta kepada manusia, karena itu akan mengecewakan. Mintalah ke Tuhan. Dia yang akan memberikan semuanya.
I don’t know whether this one is a toxic faith or not. Because of this understanding I feel disappointed by God. Big time. But then I found out, that what made me mad was because the wrong understanding of God. Dalam perjalanan waktu, ketika pengenalan akan Tuhan bertambah, saya mengerti apa artinya dan dalam konteks apa Dia (Tuhan) akan memberikan semuanya. Saat saya mengerti konteks yang sesungguhnya, kata-kata ini menjadi penguat iman dan harapan saya.
My mom have gone through a lot of things in her life. I am the testimony of her life because I was born in this family (Thank God!). I testimony how she depends on God so much and how God fulfill her dreams one by one. Yes there were sad and failed moments, but God always shows up in the end and make everything good.
Thank you for not only taught me this, but also show me what the meaning to be a woman of faith.

10. Ingat nanti kalau kamu jadi istri dan ibu, cuma 1 modalnya: DENGKUL!
This one is my favorite.
I don’t have a biological children until now, but this words become a great reminder. Melihat hidup Saya sendiri, kurang apa sih saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya? Saya dibesarkan dengan pendidikan iman yang kuat. Tetapi tetap di masa remaja, di mana saya sudah mampu menentukan pilihan saya, orang tua saya tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap saya. Tetep aja Saya pacaran dan ngga menjaga diri Saya. Gimana caranya kita bisa mengetahui dan percaya kepada suami kita? Gimana caranya kita bisa melindungi anak-anak kita 24 jam sehari? Hal inilah yang membuat banyak istri/ibu hidup dalam kekhawatiran – kecemasan – insecure berkepanjangan dan ngga tahu gimana cara mengendalikan semua yang diluar kendalinya.
So my mom said…:”Cuma ada 1 modal di mana ibu (read: parents) bisa menjaga anak-anak dan suaminya: MODAL DENGKUL!!!” Artinya… get down on your knees and pray!
Lia MomShe still with me now.
She is 75 when I write this.
She is getting weak in terms of her memory and she doesn’t talk much because she loose so many words in her memory. Sometimes I feel sad, looking at her, remember her as a preacher and so passionate to God’s words.

I write all of this as a testimony on how fruitful her life is. And forever I will thank her for what she taught me. Yes I didn’t believe her until today…

I have to admit, every single word she taught me… All is right!

Yeaa Mom… Let’s Party! Let’s celebrate how you live your life well and how God is sooo faithful to you.

Thank you for what you guys (you and Papa) taught me and how you both support me and keep loving me. You both saw my ups and downs, my flaws and how rebellious I was… I know I was not an easy daughter to raise, but forever I Thank God because I was born from your love.

I love you Mom. I love you Dad! God be with us all.

PS: I only share 10 – tapi sebenernya masih banyak yang my mom taught me. Will write again later about it 🙂

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (1)

I was not an easy teenager.
Today, I am old enough to have a teenager on my own, and I have a promise in my heart when I was a teenager, that I will not to agree on what my mom said, but now… life teach me so many things, and I find out, I know why I didn’t believe her back then…

Here are what my Mom taught me:

1. Jangan pacaran dulu waktu – cari temen sebanyak-banyaknya
Buat Saya, SMA adalah masa pacaran. Mau ngapain lagi di SMA kalau ngga pacaran? Cuma belajar? Waktu itu saya berpikir, saya punya mama yang super kolot. She never understand teenager nowadays. Tetapi hari ini saya melihat kebelakang, menyadari kenyataan bahwa saya kehilangan masa SMA saya. Karena pacaran – dan terlalu ekslusif, saya kehilangan bonding dengan teman-teman SMA saya. Memang pacaran di usia sangat muda bukan hal yang benar.

image12. Bergantung kepada Tuhan – semua yang kamu pegang jadi. (Mazmur 1:3)
Ini adalah omongan yang sering diulang-ulang oleh My Mom. Dia pernah berkata, mama ngga sekolah tinggi, tetapi pokoknya berjuang hidup benar, takut akan Tuhan, kerja keras dan terus berusaha, semua yang kamu pegang pasti berhasil.
Hhhhhmmmm… jujurnya, agak sulit untuk mengangguk-angguk dan dengan lapang hati bilang iya… benerrrr… tetapi hari ini saya melihat kehidupan mama saya, ia tidak kekurangan apapun. Ia hanya lulusan SMA, dan dari cerita yang saya dengar, ia paling tidak dianggap karena seluruh saudara-saudara nya pintar dan punya karier, sedangkan my mom waktu itu memutuskan ‘hanya’ menjadi seorang pelayan Tuhan.
Tetapi hari ini, saya melihat penyertaan dan kesetiaan Tuhan dalam hidupnya. Untuk kenyataan ini… saya akhirnya berkata: Yes Mom you are right about God’s providence untuk anak-anak yang mengasihiNya.

3. Kamu pasti akan benci Mama sekarang, nanti satu hari kamu akan bersyukur mama pernah paksa kamu melakukan ini – itu.
Ini sering banget diucapkan kalau saya lagi ngambek ngga mau les piano. Saya ingat satu siang saya dibangunkan dari tidur siang saya, dan disuruh les. Rasanya pengen ngamuk se ngamuk-ngamuknya. Tetapi my mom selalu bilang: Kalau kamu bisa musik kamu ngga pernah patah hati! Hahahahah… waktu itu saya ngga ngerti maksudnya. Tetapi melihat hidup saya ke belakang, yes… music become my hiding place when I feel sad. Especially now with praise and worship experience, I really feel close with God. Again… yes.. I am grateful I can play piano and have a good harmonization because of what I learn.

4. Dicoba dulu – baru memutuskan suka atau tidak!
Kata-kata ini kayak bisa audible sampai saat ini. Suara my mom yang kesel tiap kali saya pasti meringis kalau disuruh mencoba makanan baru. Tapi rasanya omongan ini bukan cuma bukan makanan. Dalam hidup kita, banyak hal yang harus kita berani coba dulu, baru memutuskan kita suka atau tidak. Karena kalau kita ngga coba, darimana kita tahu bagaimana perasaan/pendapat kita tentang sesuatu? Mencoba membuat kita kaya akan hal baru yang belum pernah kita coba. And if it turns out we don’t like it, or we fail… it’s ok! Kita 1 tahap lebih kaya dari sebelumnya, karena pengalaman/pengetahuan kita bertambah. So Mom… again… yeaaaa… you right!

5. Kamu musti lihat dunia, dunia begitu luas, kamu akan belajar banyak!
Pasti ngga percaya. Mainan masa kecil saya itu: RISK. Mainan Risk adalah mainan strategy board game of diplomacy, conflict and conquest. Bayangin anak 5 tahun sudah dikasih mainan itu… hahaha… but I believe she just didn’t understand about the game. She just wanted me to get familiar with the world. No wonder today I have weird interest to map.
Hari ini saya selalu punya mimpi untuk melihat dunia, bertualang, berbagi diri dan karya dengan sesama di luar sana. Belajar banyak hal dari dunia dan saya percaya itu juga tangan Tuhan yang mau mengajarkan saya.
Saya selalu berkata pada adik-adik single… widen your horizon, see the world! and thanks Mom for make me a woman who has a dream through your sharing about the world. My mom ngga punya kesempatan untuk banyak melihat dunia di mana mudanya. Tetapi saya percaya itu jadi mimpi nya yang ia turunkan kepada anak perempuannya. Hari ini di masa tuanya – ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia bersama Papa saya. Again I learn… never stop dreaming and when you put your trust in God, HE will make all your dreams come true.

to be continued… 10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

 

Armageddon: A Battle Between My Past and My Present (how to move on from the past)

Dari semalam saya mellow banget gara-gara liatin foto-foto Europe. Terus sekarang Hujan nambahin  mellow below.
Jadi mulai korek-korek lagu masa lalu yang kalau kita denger terasa adem dan pengen narik nafas panjang.

Apapun artinya itu.

Dari tadi muter lagu nya Aerosmith – I Don’t Want to Miss a Thing gara-gara waktu itu Saya nonton film Armagedon sama mantan Saya (lagu itu jadi soundtracknya) dan kemudian lagu itu jadi lagu yang Saya suka karena ngga lama setelah itu dia pergi sekolah ke luar negeri dan belum tahu rencana ke depan kami gimana.

Armageddon

Waktu itu kami ngga nonton berduaan. Kami nonton bersama dengan 2 teman Saya. Satunya teman cewek Saya, dan yang satu lagi teman cowok saya. Mereka pacaran juga, jadi ceritanya kami double date waktu itu dan ngga nyangka bertahun-tahun kemudian – teman  yang cowok  kemudian menjadi suami Saya hihihihihi… Uppssss… beneran ngga nyangka ya what life can bring to you…

Anyway… kita perempuan adalah makhluk relational dan emotional. Bersama dengan relasi itu, emosi yang menyertai relasi itu selalu ada dan tinggal dalam hati kita. Kadang itu terasa indah, tetapi kadang ada yang terlalu menyakitkan. Kadang kita dapat merasakannya, kadang rasa itu terlalu menyakitkan untuk dikenang sehingga kita memilih untuk ‘melupakannya’. Sampai satu titik di mana kita ngga bisa move on dan sampai pada kesimpulan: hidupku atau kebahagiaanku sudah berakhir waktu itu semua berakhir di masa lalu kita.

I was one of those women who think that way.

Contohnya: paling nyata adalah hari ini. Waktu saya mendengarkan lagu I don’t want to miss a thing tadi, ada rasa nyaman dalam hati Saya. Rasanya this is so right. The ambiance, the melody and lyric… This is soooo me!

Tapi apakah Saya merasa kangen dengan mantan Saya waktu itu…? No… hahahaha… My God! Dia sudah beristri dan beranak pinak, dan Saya sudah bersuami. Tetapi seakan-akan rasa itu ada and sometime it feels so real until I feel the pain in my heart. But then I know, that is just my emotional illusion – kayak sakaw gitu…

Saya ngga lagi punya perasaan terhadap mantan Saya. Yang Saya kangen adalah my emotion at that time, bertahun-tahun lalu di tahun 1997, waktu Saya madly in love with him, dan kami baru saja jadian, dan waktu kita harus menghadapi kenyataan bahwa kami akan menjalani LDR.

Soooo… it was that feeling – rasa nyaman – yang meninggalkan informasi dalam otak saya, dan rasa itu seperti Dopamine yang memancing reward system dalam otak Saya. Informasi itulah yang tertinggal Saat ini dan merupakan salah satu ‘release’ yang membuat rasanya terasa ‘nyaman’ dan ‘benar’.

Kalau hari ini Saya ditanya apakah Saya ingin kembali ke masa-masa itu…? Hhhhmmm jawaban Saya dengan pasti TIDAK. That was one day in my life and I cherish that moment as I cherish his presence in my life. Hari ini ada karena hari kemarin, semua yang terjadi yang boleh memberikan informasi dalam ingatan kita, itulah yang harus kita utilize untuk hari ini yang lebih baik, karena hari esok ada karena adanya hari ini.

Dari berbagai Seminar soal relationship yang Saya dan Suami Saya lakukan bersama, banyak pertanyaan bagaimana caranya move on from the past. Buat Saya move on artinya dengan kehendak bebas Saya, dan bergantung pada kekuatan rahmat Tuhan melangkahkan kaki Saya. Setapak demi setapak. Berdamai dengan apa yang ada kemarin, melihat semua peristiwa lalu sebagai gambaran pelatihan hati dan peyadaran diri bahwa kita adalah manusia rapuh yang berbuat kesalahan, saling menyakiti, dan terkadang tidak mampu menghargai moment-moment dalam hidup kita. Tetapi seperti Allah memerintahkan Lot dan keluarganya untuk tidak melihat kebelakang dalam konteks dosa – Allah yang sama juga mau kita semua melihat ke depan karena ada janji rancangan damai sejahtera dan sukacita bagi orang-orang yang mengasihi Allah dan menggantungkan harapannya hanya kepada Tuhan.

Capture1.JPGDon’t want to close my eyes
I don’t want to fall asleep
‘Cause I’d miss you baby
And I don’t want to miss a thing

‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I’d still miss you baby
And I don’t want to miss a thing

Yes… I don’t want to miss a thing.
I don’t want to miss a single little thing of my life. Live your life today to the fullest because your life is a poetry. Written by God who wants to write beautiful stories of your life.

Common Princess – don’t be bullied by the devil and continue to wallow in the mud of the past that makes you unable to see the beauty of tomorrow.It is a battle, and with God will win it and we can see how the wound from the past can be a story of how faithful our God is… Don’t loose hope and enjoy the beauty of God’s promises in our life.

LbA.

Renungan Jumat di Radioterapi

Siang ini dengan badan yang sangat ngga enak saya nunggu di ruang radioterapi RSCM. Nungguin kuliah jam 12.30, sedangkan saya dtg kepagian 1 jam.

Duduk sambil manggut-manggut seakan setuju sama pembicaraan ibu2 di sebelah, saya menahan badan saya supaya ngga gabruk. Rasanya sulittttt bersyukur kl ud ngga enak badan gini.

Tapi sambil semilir, saya memperhatikan aktivitas pasien-pasien kanker yg sdg menunggu giliran buat disinar, serta keluarga yg mendampingi mereka. Ada yg jalan-jalan dgn belalainya (begitu istilah Mungky dulu ttg sondenya), ada yg sedang membaca, ada yg melamun, ada yang merem sambil megangin bengkak luka yang kayaknya berdarah.

Rasa syukur menyelip masuk perlahan dalam hati saya. Kekaguman yang tiada habisnya saya berikan untuk pasien kanker yang menghidupi arti pengharapan.
Awal saya duduk di sini, saya sempat terganggu dengan pemandangan duduk dengan kaki diangkat, ‘ngelosor’ di kursi panjang. Tdk ada yg duduk tidak angkat kaki (untung tdk ada yg meludah!), tetapi makin lama, curi dengar asal mereka yg dari kampung, bagaimana mrk berusaha menghargai hidup, saya terharu.

Orang sederhana sangat mudah berinteraksi satu sama lain. Mereka tdk pusing akan jabatan, image atau apapun. Mereka mensharingkan kehidupan dengan mudah, saling memeluk tanpa risi, berbagi makanan dari keterbatasan mereka, menghargai hidup dgn sangat sederhana. Kelihatannya mereka lebih mudah dibuat bahagia daripada saya seorang dokter, mahasiswi S2, yang katanya kaum intelektual. Kok ironis ya…?

Saya selalu menemukan Yesus di kalangan org sederhana. Yesus begitu mudah dijangkau lewat hidup mereka. Mungkin penderitaan mereka membuat Yesus lebih transparan dan mudah ditemui.

Oh Tuhan.. Oh Yesusku..
Beri aku rahmat untuk tetap sederhana. Hati yang mudah menampakkan kasih.
Jangan biarkan aku teralih dengan keegoisan ku. Ajarkan aku dapat berbagi hidup karena di situ aku menemukan Engkau yang juga dibagi-bagikan.

Jumat Pra Paskah ke berapa yaa…

*miss you Mungky*

A Friendship with Something Called: Pain

Rasa sakit itu tidak enak. Tapi (ternyata) rasa sakit itu perlu.

Seorang penderita kusta (=Lepra)1 yang saraf tepi nya diserang oleh bakteri yang bernama  Mycobacterium leprae akan kehilangan rasa/sensorisnya. Is that good? Hhhmmm… Terkadang kalau kita sedang merasa kesakitan, kita berdoa minta tidak merasakan sakit lagi. Tapi saat seorang penderita lepra kehilangan rasa sakitnya, hal itu membuat kerusakan yang jauh lebih parah daripada bila ia merasakan nyerinya.

Rasa sakit adalah sesuatu yang banyak dihindari oleh banyak orang. Rasa sakit bahkan membawa manusia pada keinginan untuk mati, karena itu akan menghilangkan dan menyelesaikan rasa sakit itu dengan sekejab. Euthanasia2 menjadi satu hal yang diperdebatkan dalam penghormatan terhadap kehidupan, salah satunya karena keinginan untuk terbebas dari rasa sakit ini.
Tara Elizabeth Corner3, Miss Pageant America 2006 adalah seorang wanita yang desperately ingin keluar dari rasa sakit ini. Perceraian kedua orang tuanya di awal masa remajanya membuat ia menjadi seperti kehilangan kendali. Ia menjadi seorang teenager yang berteriak minta tolong dan perhatian, tetapi seakan-akan tidak ada yang mendengar teriakannya ini. Sampai ia menemukan, sebuah obat bernama Vicodin4 (sebuah obat penghilang rasa sakit tingkat sedang-berat) berhasil membuat ia ‘terbebas’ dari rasa sakitnya. Ia menggunakannya bahkan saat sedang ada di atas panggung pagelaran Miss Pageant saat itu. Tara bahkan mampu mengkonsumsi obat itu sampai 30 butir dalam sehari. Di satu tahap dalam hidupnya, Tara pernah menghadiri sebuah pesta, di akhir pesta ia memang setengah mabuk, tapi masih cukup sadar untuk mengetahui apa yang ada di sekitarnya. Ia membiarkan seorang teman lelakinya menggendong dia ke dalam mobil untuk diantar pulang. Dalam hati, ia tahu bahwa teman lelakinya ini punya maksud di balik keinginannya mengantar pulang. Saat itu, teman lelakinya memperkosa Tara di dalam mobil. Tara mengetahuinya, tapi membiarkan hal itu terjadi karena dengan begitu ia merasa terbebas dari rasa sakitnya. Rasa sakit karena merasa ia adalah sampah, barang kotor, dan tidak diinginkan karena tidak ada yang mencintai dan mendengarkannya. Membiarkan tubuhnya diperkosa, seperti sebuah penghilang rasa sakit karena tindakan itu mengkonfirmasi semua pandangannya terhadap dirinya sendiri. Ia melumpuhkan perasaannya, membiarkan hal buruk terjadi padanya, supaya ia terbebas dari rasa sakit.

Seorang anak perempuan berusia 15 tahun, yang mempunyai gambar diri begitu jelek. Tidak mencintai dirinya sendiri. Dia membiarkan dirinya terbuai dan mempercayai banyak kebohongan-kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Dia membiarkan tubuhnya mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Ia melakukan itu dari waktu ke waktu, membunuh rasa sakit yang awalnya muncul, sampai akhirnya ia merasa ‘numb’ akan rasa cinta. Ia membiarkan dirinya jatuh pada hubungan yang ‘asal’ karena ia memandang dirinya hanya seorang perempuan yang ‘asal’. Waktu ada rasa sakit akan kebenaran yang terungkap, ia menolak jauh-jauh kebenaran itu karena rasanya perasaan ‘numb’ yang dirasakannya lebih membuatnya terasa nyaman, biarpun jauh di kedalaman hatinya ia tahu, ia hidup dalam kebohongan dan kebahagiaan semu. Perhatian dari lawan jenis, sebuah relationship, dan status pacar seseorang menjadi adiksi dan sumber pelarian rasa sakitnya. Dalam satu hubungan ia merasa seperti mempunyai segalanya, padahal saat itu ia tidak mampu merasakan perasaannya sendiri.

Cerita 2 perempuan di atas rasanya bukan cerita yang luar biasa.

Sejak keluar dari rahim ibu, kita sudah mengenal apa rasanya sakit. Keluar dari jalan lahir ibu bukan proses yang menyenangkan bagi seorang bayi… (lihat muka bayi-bayi yang baru lahir, rasanya ngga ada yang lahir dengan muka tersenyum lebaarrrrrr…) tapi setelah itu seorang bayi tahu bahwa ia dikasihi waktu ia diletakkan di dada ibunya.
Dalam proses belajar kita sehari-hari, rasa sakit menjadi satu tolak ukur yang positif… Satu iklan detergen di TV bilang begini: “Kalau ngga ada kotor, ngga belajar!” atau apapun lah isinya (lupa-lupa inget…) Tapi rasa sakit menjadi batu pijakan yang positif untuk keberhasilan yang ada di depan jalan kita.

Saat berbagai kondisi menerpa kita, banyak keadaan yang terjadi tidak sesuai harapan kita.
Rasa sakit menjadi demikian perih, tak tertahankan, sampai rasanya tidak mampu melihat sisi baik dari rasa sakit itu.
Rasa sakit menacap begitu dalam di hati, sehingga rasanya tidak mungkin menariknya keluar karena itu akan menghancurkan hati lebih parah lagi.
Saat harapan akan rasa sakit yang memberi harapan akan hari esok yang lebih baik menjadi ilusi.

Saat inilah kemampuan defence mechanism5 manusia membiarkan rasa numb6 lebih baik daripada rasa sakit, karena ternyata dengan membiarkan perasaan menjadi numb hidup dapat terus berlangsung (apapun buah-buahnya, yang pentin hidup jalan teruuusss…)
Saat itu… kita tak ubahnya seperti seorang penderita lepra.

Tara membiarkan dirinya numb selama bertahun-tahun, bahkan di saat ia diperkosa. Anak perempuan tadi (yang sekarang sudah jadi perempuan dewasa), membiarkan dirinya numb selama bertahun-tahun karena ia mempercayai, dengan melumpuhkan perasaannya semuanya menjadi lebih baik. Tanpa mereka sadari, mereka hidup dalam kebohongan.
Sampai satu waktu someone touched their hearts…

Saat mengetahui bahwa Tara adalah seorang pencandu obat-obatan, dewan Miss Pageant saat itu ingin memecat Tara dari jabatannya. Tapi seorang pemilik dari Institusi Miss Pageant ini, membelanya dan memberi  kesempatan kedua kepadanya. Dia adalah Donal Trump. Kesempatan kedua ini seperti air segar yang memberi kesejukan dalam hatinya.
Anak perempuan itu tumbuh menjadi perempuan dewasa yang sangat rapi menyembunyikan semua perasaannya yang sesungguhnya. Adiksi nya terhadap sebuah hubungan membawanya dari satu hubungan ke hubungan yang lain. Ia tidak pernah merasa cukup dan aman dengan dirinya sendiri. Sampai di satu waktu, di dasar kejatuhan dirinya, ada sebuah suara lembut dalam hatinya, yang mengajaknya keluar dari semua kebohongan dan kelelahan dirinya menahan semua rasa sakit itu.

Saat ini, mereka berdua… Tara dan perempuan itu telah berhasil melampaui rasa sakitnya. Adiksi hanya gejala yang timbul dari rasa sakit yang tidak tertahankan. Adiksi menjadi tempat persembuyian yang aman dan terasa ‘benar’ saat rasa sakit tidak tertahankan.

Mereka berdua memilih untuk memberanikan diri, berhadapan dengan rasa sakit itu. Satu persatu. (Berjuang)Berdamai dengan setiap luka, (belajar) menerima diri sendiri, dan memilih untuk memandang rasa sakit sebagai kesempatan untuk berbuah bagi kehidupan.

Perempuan itu adalah saya sendiri.
Hari ini, saya selalu meneteskan air mata setiap kali membaca/mendengar perjuangan-perjuangan untuk keluar dari diri mereka. Apapun tahap yang mereka rasakan saat itu, apakah rasa sakit, atau kebanyakan justru tidak merasa apa-apa, butuh keberanian untuk menghadapinya satu persatu.

Saya pernah melalui semuanya itu, dan hari ini saya bisa berkata bahwa “Tangan Tuhan telah berlaku baik atasku.”
Apapun yang (pernah) terjadi dalam hidupmu, apapun cara kita memandang diri kita, dan kerusakan apapun yang sedang Anda alami hari ini, semuanya itu tidak menggagalkan rencana besar Allah akan kejadian kita di dunia ini.
Tidak ada luka, adiksi, kerusakan, kegagalan, yang cukup besar, yang mampu menghalangi rahmat cinta dan pengampunan yang selalu ditawarkan untuk Anda dan saya.
Bahkan berita baiknya adalah, Ia Allah yang terus mengarahkan pandanganNya pada hati yang hancur.
Berita buruknya? Saat Anda berteriak: “God, go away! Leave me alone!” … He won’t and will never do that. He is God who sooooo in love with you, and tremendously crazy about you and me… (saat nulis ini kok gw berasa Tuhan nyanyiin lagu: I’ll be There7 … ohhh so sweet…)

Today, make a special connection with your pain.
Be brave and be strong, cause the Lord is with you!
It’s time… to make all the pain that cripple you all these years into the magnificent power to bless and inspire the world!
It’s time to spread our wings and fly to persue our wildest dream.
It’s time to make a friendship to something called pain, because from that pain we can climb the highest mountain of our life and walk from victory to victory.
Yeessssss! (semangat sendiri :D)

For I am persuaded, that neither death, nor life, nor angels, nor principalities, nor powers, nor things present, nor things to come, Nor height, nor depth, nor any other creature, shall be able to separate us from the love of God, which is in Christ Jesus our Lord. (Rome 8:39-39)

Written by:
Survival woman who’s surviving from day to day pain and numb.
Battle in progress everyday!

Notes:
1 Kusta. Wikipedia ensiklopedia bebas. Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Kusta
2 Euthanasia. Reason for euthanasia. Available from:http://www.euthanasia.com/reasonsforeuthanasia.html
3 Beauty Queen Tara Corner’s Revelation. Available from: http://www.oprah.com/oprahshow/The-Truth-About-Beauty-Queen-Tara-Conner
4 Vicodin. Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Vicodin
5 Johathan Smith. Stress Management.  New York: Springer Publishing Company, 2002; p.29-38. Available from: http://books.google.co.id/books?id=_VDzXDikuXgC&pg=PA31&lpg=PA31&dq=numb+as+defence+mechanism&source=bl&ots=PVUvQGXo4n&sig=tIrodgecWLrezrEWccCv_zSpc18&hl=en&ei=cRC0TK6dMoOIvgPjloSYCg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7&ved=0CD0Q6AEwBg#v=onepage&q&f=false
6 Available from: http://www.thefreedictionary.com/numb
7 Available from: http://www.mp3lyrics.org/m/michael-jackson/ill-be-there/

Tubuhmu Merubah Dunia

Tubuh adalah sarana setiap orang untuk mengungkapkan dirinya. Tubuh menjadi center kehidupan, yang selalu diperhatikan dalam kehidupan. Keberadaan setiap orang (sebagian besar) dinilai dari keberadaan tubuhnya. Tubuh seharusnya menjadi tanda kebesaran Allah pencipta yang tiada taranya.

Tetapi melalui tubuh ini pula, kemurnian kasih Tuhan perlahan-lahan surut, dan di satu titik semua kebohongan bisa menjadi kebenaran. Di saat itu, kebahagiaan hanyalah ilusi.

Friends, hari ini banyak dari kita yang hidup dalam kebohongan itu. Kebohongan yang begitu nyata, sehingga kita menganggap itu adalah kebenaran.

Seorang perempuan yang memberikan tubuhnya jauh sebelum ia berpikir tentang pernikahan, menyangka bahwa dengan tubuhnya ia bisa mendapatkan cinta sejati. Kenyataannya, 21 hari kemudian hubungan mereka putus tanpa bekas.(Satu studi menunjukan angka rata-rata satu hubungan bertahan di kalangan anak SMA setelah mereka melakukan hubungan seksual hanya 21 hari!)(1)(2)
Hal ini bukan hanya terjadi pada perempuan, tetapi banyak laki-laki yang juga terjerumus pada kebohongan ini tanpa mereka sadari.

Seorang laki-laki tidak dapat menahan dirinya untuk terus melakukan masturbasi, dan layar computer menjadi pengisi hatinya yang mungkin haus akan cinta. Lalu sepertinya semua terpuaskan saat selesai melakukan masturbasi, tanpa ia sadari bahwa semuanya itu hanya kebohongan. Maka iapun kembali masuk pada kesepian dan kehausan akan kasih, yang bahkan lebih parah daripada sebelumnya.

Padahal masturbasi itu menyebabkan: (3)
–          Melemahnya sistem pertahanan tubuh
–          Ejakulasi premature di kemudian hari
–          Kerontokan rambut
–          Nyeri pada bagian panggul
–          Menurunnya kadar mineral tertentu dalam tubuh (akibat sering keluarnya cairan sperma) yang berfungsi untuk: sintesa DNA untuk pembelahan dan pertumbuhan sel, kerja fungsi hati, dsbnya.

Gaya hidup hari ini mengajak kita untuk mengeksploitasi tubuh kita. Banyak media yang menuntun kita untuk menggali kenikmatan yang sebesar-besarnya dari tubuh kita (dan pasangan), tanpa pernah memberikan waktu untuk berdiam sejenak dan merenungkan betapa tubuh ini diberi kemampuan yang luar biasa, untuk menaklukan dunia.

Melalui tubuh yang telah ditebus ini (seharusnya) kita mampu melakukan banyak perkara besar.
Melalui tubuh yang telah ditebus ini (seharusnya) kita dapat meraih semua mimpi-mimpi yang ada dalam hati kita yang terdalam.
Melalui tubuh yang telah ditebus ini (seharusnya) kita mampu ke luar dari kebohongan dan mendapatkan cinta sejati serta kebahagiaan.

Melalui kebenaran yang ditaburkan lewat cinta sejati Tuhan Yesus, kita dapat meraih kemenangan, dan bersama Dia kita berjalan dari satu kemenangan menuju kemenangan berikutnya dalam hidup kita.

Lewat tubuh yang telah ditebus oleh darah Yesus di atas kayu salib,  kita mewartakan kebenaran cinta sejati Tuhan yang membebaskan, dan bahkan mengubah wajah dunia ini.

Bersama –sama kita kibaskan kebohongan yang selama ini kita percayai, dan berlari-lari kepada kebenaran sejati dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39)

Please visit: http://truelovecelebration
Reference:
(1)The New Sex Revolution: http://chastity.com.
(2)J.D.Teachman, J.Thomas, dan K.Paasch. “Legal Status and the Stability of Coresidential Unions.” Demografi (November 1991): 571-583.
(3)What are the side effect of masturbation? : The Revolution Health http://www.revolutionhealth.com/forums/sexual-health/male-sexual-dysfunction/156609

I am making my dreams come true… Proudly Present: My First ‘baby’

TELAH TERBIT:
Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood.
terbitan Domus Cordis Literature Apostolate, siap dipasarkan tanggal 10 Desember 2009…!!!

Harian Wanita (RHW) ini dibuat dengan harapan dapat menemani para perempuan Katolik dalam menemukan/meneguhkan jatidiri mereka, dan melalui hari-hari mereka.
Renungan ini ditulis oleh 10 perempuan dari latar belakang yang berbeda (keterangan penulis lebih lengkap di bawah), dengan Kata Pengantar dari Rm. Deshi Ramadhani SJ. Untuk itu, Domus Cordis (DC) Literature sangat berharap RHW ini dapat menjangkau dan memberkati perempuan Katolik sebanyak mungkin.
Partisipasi semua rekan-rekan dalam menyebarluaskan (memasarkan) RHW ini tentu akan sangat membantu tercapainya harapan ini.

Rencananya RHW ini akan dipasarkan melalui PD-PD dan atau komunitas/toko buku/ gereja/kategorial/kelompok Katolik yang ada di seluruh Indonesia.
Untuk itu, ada penawaran khusus dari DC:
1. Diskon 10% untuk setiap pembelian min 20 pcs.
2. Diskon 20% untuk pembelian min 50 pcs.
Harga: Rp.55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Selain itu, mohon info dari teman-teman sekalian jika memungkinkan/berkeinginan berjualan di gereja masing-masing. DC Literature akan menyiapkan surat pengantar/surat ijin ke Romo Paroki (mohon info nama Romo &Paroki-nya).

Sekian info dari DC Literature.

Apabila teman-teman punya info channel/cara lain untuk memasarkan RHW ini, please info ya. Pasti akan sangat membantu.

Info&Pemesanan, hubungi bagian pemesanan:
Thres (e_theresia@yahoo.com / 0815 1163 8288)

Para Penulis:
1. Anastasia Avi DT
Seorang istri dan marketing manager sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia, koordinator Literature Apostolate – Domus Cordis.
2. Angelin Savitrie
Single, mengajar di sebuah perusahaan penyedia pendidikan bahasa Inggris di Jakarta, koordinator Preaching Apostolate – Domus Cordis.
3. Annatasia Widiyanti
Seorang istri dan ibu dari 2 anak (sedang hamil anak ke-2), serta rekanan dari sebuah Kantor Akuntan Publik , bersama suaminya menjadi koordinator Formation Division – Domus Cordis.
4. Fonny Jodikin
Seorang istri dan ibu dari 1 anak, bermukim di Vietnam, dan mengabdikan diri sepenuhnya sebagai Ibu Rumah Tangga sambil terus menceritakan kebaikan Tuhan lewat tulisan-tulisannya.
5. Ika Sugianti
Single, psikolog anak dan remaja, koordinator Counseling Apostolate – Domus Cordis.
6. Dr.Lia Brasali Ariefano
Seorang istri dan dokter umum yang mendalami biophysics healthcare dan biomedics, pengajar Teologi Tubuh, serta bersama suaminya melayani di Domus Cordis.
7. Dr.Lucia Luliana SpRM
Single, dokter spesialis rehabilitasi medik, bekerja di 2 rumah sakit ternama di Jakarta, staf pengajar FK Atma Jaya, pengajar Teologi Tubuh, serta melayani di Domus Cordis.
8. Mungky Kusuma
Single, bekerja sebagai seorang profesional, terlibat aktif di berbagai kelompok kerasulan Gereja, penasehat Domus Cordis.
9. Sr. Amanda, OSU
Biarawati Ursulin, aktif dalam berbagai karya pendampingan dan pastoral di Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia.
10. Yurika Agustina
Single, pewarta Katolik full-time, koordinator bidang pembinaan orang muda BPK PKK KAJ, pengajar Teologi Tubuh, dan penasehat Domus Cordis.

Woman to woman: It hurts me to see them left behind!

Education is a gift!

Hari ini, di hari istirahat gw (krn kuliah meliburkan gw 1 hari ini), I have my coffee and as always.. watching the Oprah show.

Hari ini membahas tentang kehidupan-kehidupan wanita di Congo, Somalia, bahkan Kamboja yang ditindas dalam arti kata apapun. Mereka diperkosa, dipaksa menikah bahkan sejak usia 11 tahun, dan membuat perempuan menjadi under educated dan akhirnya dipandang menjadi ‘beban’ dalam masyarakat.

Seorang wanita bernama Tara. Dia tidak bisa mendapatkan pendidikan karena keluarganya sangat miskin. Kakak laki-lakinya mendapat prioritas pendidikan, tetapi setiap hari dia minta kakaknya untuk mengajarkan apa yang diperolehnya disekolah. Di usia 11 tahun ia dinikahkan dan kemudian harus merawat suaminya yang ternyata penderita AIDS. Mimpinya seakan terkubur dan ia menjalankan kesehariannya dengan mimpi dan harapan-harapan yang terus menyala di hatinya. 

Buat saya pribadi, yang punya kesempatan untuk sekolah lagi, mengejar mimpi saya, cerita ini menyakitkan buat saya. Kata pertama di atas: Education is a gift adalah kata-kata dari ibu Tara yang juga mengetahui hasrat hati anak wanitanya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kemiskinan dan budaya mereka. But it’s true indeed… education is a gift. Saat saya ada di kelas dan mendegarkan setiap pengetahuan yang membuat saya membuka mulut saya dan kadang lupa menutupnya lagi, kadang-kadang ada desiran dalam hati saya yang mengharapkan setiap wanita mendapatkan apa yang saya dapatkan! Tentu saja bukan ilmu yang sama, tapi kesempatan yang sama!

Tara akhirnya mengejar cita-citanya setelah suaminya meninggal. Dia usia yang tidak lagi muda, ia akhirnya mengejar pendidikannya sampai ke US dan akhirnya mendapatkan gelar Doktoral nya di sana. Di akhir interviewnya, ia menunjukkan sebuah kotak seperti kotak permen, di mana di dalamnya ada sebuah kertas kumal yang merupakan tulisan mimpinya yang terus ia genggam selama ini. Tidak ada yang menyangka (bahkan dirinya sendiri), suatu hari ia akan mendapatkan gelar pendidikan tertinggi, dan ia akan pulang ke kampung halamannya, untuk menguburkan kotak itu di kuburan ibunya yang menjadi semangat buat Tara untuk terus mengejar apa yang ia impikan.

Saya teringat kepada Rama (seorang adik wanita yang dibimbing oleh teman2 dari Spes Cordis), saya teringat kepada adik-adik di Perbukitan Manoreh, saya teringat kepada begitu banyak wanita di luar sana yang kehilangan hak ini. Setiap saya melihat mata mereka saya melihat kerlip harapan dan wajah mereka tidak hilang dari ingatan saya. Setiap sentuhan, sapaan, dan cerita dari perempuan yang saya temui meninggalkan bekas yang mendalam dalam hati dan pikiran saya.

Education girl change the world! Ada sebuah quote yang selama ini saya selalu pasang di dinding utama milis CatWoG (Catholic Woman of God):

If you educate a boy,
you educate a man. 
If you educate a girl,
you educate a family.
And a family passes on what it learns to the next generation.

Tanpa sedikitpun menghilangkan penghormatan akan peran pria dalam dunia ini, tetapi kenyataan sehari-hari menempatkan perempuan sebagai hati dari sebuah keluarga. Waktu yang lebih banyak dipunyai perempuan untuk keluarga membuat ia menjadi penerus pendidikan yang dominan dalam keluarganya. It will change the world.

Bukan hanya pendidikan formal, tetapi juga pendidikan dan pengetahuan bagaimana mereka berharga dan mereka selalu mempunyai harapan.  Memberitahukan kabar gembira bahwa mereka punya seseorang sumber harapan yang akan mengangkat mereka tinggi-tinggi bila mereka menggantungkan harapan kepadaNya. And he’s nama is Jesus.

If a person give us hope, we can live, we can survive!

Let’s change our life by changinging others life. Let’s treasure our womanhood by treasuring the journey of other women’s life.

Mid day of Nov’09 … let’s do something?