10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

I was not an easy teenager.
Today, I am old enough to have a teenager on my own, and I have a promise in my heart when I was a teenager, that I will not agree to what my mom said, but now… life teach me so many things, and I find out why I didn’t believe her back then…

Here are (another 5) what my Mom taught me:

6. Kalau mau dokter buat jadi kaya materi, mendingan ngga usah jadi dokter!
Hehehe… ini kata-kata pertama yang my mom ucapkan waktu Saya insist buat masuk Fakultas Kedokteran waktu itu. Actually she did not support me with the decision. My mom said that being a medical doctor will consume your life, because it’s a calling. Saya tidak mengerti apa maksudnya waktu itu. Tetapi hari ini, melihat ke belakang, saya bersyukur she emphasized that strongly to me, sehingga sekarang… setelah menjadi seorang yang mengucapkan sumpah Hippocrates which means biarpun saya tidak praktek, tetapi selamanya saya terikat pada sumpah itu, and what my mother said, even in her own simple words – it so alive now and become the strength for me to live this calling. You’re just a simple woman Mom, but your wise word is so true!

7. Hafal Firman Tuhan – terutama Mazmur dan Amsal. Itu akan menjadi pegangan dalam menjalani hidup.
Nahhhh… ini yang paling saya sebel! Berasa ngga berguna banget waktu itu, dan ngga ngerti juga apa maksudnya. Masa kecil saya penuh dengan cerita Kitab Suci dan sejak saya mulai bisa menghafal, saya diajarkan untuk mulai menghafal ayat Kitab Suci. My mom always said… “Baca Mazmur dan Amsal buat menemani perjalanan hidup kamu karena banyak kata-kata hikmat.” and of course I didn’t believe her.
Tetapi hari ini, saya bersyukur akan ayat-ayat yang saya hafalkan dan sudah saya lupakan hehehe… tetapi tanpa sadar, ayat-ayat itu menjadi kekuatan di saat saya terhimpit beban berat. Sebuah bekal dari ibu yang akan menjadi kekuatan sepanjang masa.

8. Sex itu suci! Jangan sembarangan melakukan nya. Jaga kekudusan.
Hehehhe… I’ve in relationship. From I’m 15 until 28, saya ngga pernah berhenti ada dalam relasi. Baik pacaran atau TTM. Anyway… My mom keep repeating this message but it seems like I didn’t care about it.
Yes… I made so many mistakes. Pacaran saya ngga bisa dibilang bener dan menjaga kekudusan tubuh saya.  But now when I looking back, I know that she was right.
Setelah kehidupan pernikahan dan mengalami langsung apa arti sexual, I really understand why sex is holy. Once again I have to say… yeaa Mom, you’re right!

9. Jangan minta kepada manusia, karena itu akan mengecewakan. Mintalah ke Tuhan. Dia yang akan memberikan semuanya.
I don’t know whether this one is a toxic faith or not. Because of this understanding I feel disappointed by God. Big time. But then I found out, that what made me mad was because the wrong understanding of God. Dalam perjalanan waktu, ketika pengenalan akan Tuhan bertambah, saya mengerti apa artinya dan dalam konteks apa Dia (Tuhan) akan memberikan semuanya. Saat saya mengerti konteks yang sesungguhnya, kata-kata ini menjadi penguat iman dan harapan saya.
My mom have gone through a lot of things in her life. I am the testimony of her life because I was born in this family (Thank God!). I testimony how she depends on God so much and how God fulfill her dreams one by one. Yes there were sad and failed moments, but God always shows up in the end and make everything good.
Thank you for not only taught me this, but also show me what the meaning to be a woman of faith.

10. Ingat nanti kalau kamu jadi istri dan ibu, cuma 1 modalnya: DENGKUL!
This one is my favorite.
I don’t have a biological children until now, but this words become a great reminder. Melihat hidup Saya sendiri, kurang apa sih saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya? Saya dibesarkan dengan pendidikan iman yang kuat. Tetapi tetap di masa remaja, di mana saya sudah mampu menentukan pilihan saya, orang tua saya tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap saya. Tetep aja Saya pacaran dan ngga menjaga diri Saya. Gimana caranya kita bisa mengetahui dan percaya kepada suami kita? Gimana caranya kita bisa melindungi anak-anak kita 24 jam sehari? Hal inilah yang membuat banyak istri/ibu hidup dalam kekhawatiran – kecemasan – insecure berkepanjangan dan ngga tahu gimana cara mengendalikan semua yang diluar kendalinya.
So my mom said…:”Cuma ada 1 modal di mana ibu (read: parents) bisa menjaga anak-anak dan suaminya: MODAL DENGKUL!!!” Artinya… get down on your knees and pray!
Lia MomShe still with me now.
She is 75 when I write this.
She is getting weak in terms of her memory and she doesn’t talk much because she loose so many words in her memory. Sometimes I feel sad, looking at her, remember her as a preacher and so passionate to God’s words.

I write all of this as a testimony on how fruitful her life is. And forever I will thank her for what she taught me. Yes I didn’t believe her until today…

I have to admit, every single word she taught me… All is right!

Yeaa Mom… Let’s Party! Let’s celebrate how you live your life well and how God is sooo faithful to you.

Thank you for what you guys (you and Papa) taught me and how you both support me and keep loving me. You both saw my ups and downs, my flaws and how rebellious I was… I know I was not an easy daughter to raise, but forever I Thank God because I was born from your love.

I love you Mom. I love you Dad! God be with us all.

PS: I only share 10 – tapi sebenernya masih banyak yang my mom taught me. Will write again later about it 🙂

Advertisements

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (1)

I was not an easy teenager.
Today, I am old enough to have a teenager on my own, and I have a promise in my heart when I was a teenager, that I will not to agree on what my mom said, but now… life teach me so many things, and I find out, I know why I didn’t believe her back then…

Here are what my Mom taught me:

1. Jangan pacaran dulu waktu – cari temen sebanyak-banyaknya
Buat Saya, SMA adalah masa pacaran. Mau ngapain lagi di SMA kalau ngga pacaran? Cuma belajar? Waktu itu saya berpikir, saya punya mama yang super kolot. She never understand teenager nowadays. Tetapi hari ini saya melihat kebelakang, menyadari kenyataan bahwa saya kehilangan masa SMA saya. Karena pacaran – dan terlalu ekslusif, saya kehilangan bonding dengan teman-teman SMA saya. Memang pacaran di usia sangat muda bukan hal yang benar.

image12. Bergantung kepada Tuhan – semua yang kamu pegang jadi. (Mazmur 1:3)
Ini adalah omongan yang sering diulang-ulang oleh My Mom. Dia pernah berkata, mama ngga sekolah tinggi, tetapi pokoknya berjuang hidup benar, takut akan Tuhan, kerja keras dan terus berusaha, semua yang kamu pegang pasti berhasil.
Hhhhhmmmm… jujurnya, agak sulit untuk mengangguk-angguk dan dengan lapang hati bilang iya… benerrrr… tetapi hari ini saya melihat kehidupan mama saya, ia tidak kekurangan apapun. Ia hanya lulusan SMA, dan dari cerita yang saya dengar, ia paling tidak dianggap karena seluruh saudara-saudara nya pintar dan punya karier, sedangkan my mom waktu itu memutuskan ‘hanya’ menjadi seorang pelayan Tuhan.
Tetapi hari ini, saya melihat penyertaan dan kesetiaan Tuhan dalam hidupnya. Untuk kenyataan ini… saya akhirnya berkata: Yes Mom you are right about God’s providence untuk anak-anak yang mengasihiNya.

3. Kamu pasti akan benci Mama sekarang, nanti satu hari kamu akan bersyukur mama pernah paksa kamu melakukan ini – itu.
Ini sering banget diucapkan kalau saya lagi ngambek ngga mau les piano. Saya ingat satu siang saya dibangunkan dari tidur siang saya, dan disuruh les. Rasanya pengen ngamuk se ngamuk-ngamuknya. Tetapi my mom selalu bilang: Kalau kamu bisa musik kamu ngga pernah patah hati! Hahahahah… waktu itu saya ngga ngerti maksudnya. Tetapi melihat hidup saya ke belakang, yes… music become my hiding place when I feel sad. Especially now with praise and worship experience, I really feel close with God. Again… yes.. I am grateful I can play piano and have a good harmonization because of what I learn.

4. Dicoba dulu – baru memutuskan suka atau tidak!
Kata-kata ini kayak bisa audible sampai saat ini. Suara my mom yang kesel tiap kali saya pasti meringis kalau disuruh mencoba makanan baru. Tapi rasanya omongan ini bukan cuma bukan makanan. Dalam hidup kita, banyak hal yang harus kita berani coba dulu, baru memutuskan kita suka atau tidak. Karena kalau kita ngga coba, darimana kita tahu bagaimana perasaan/pendapat kita tentang sesuatu? Mencoba membuat kita kaya akan hal baru yang belum pernah kita coba. And if it turns out we don’t like it, or we fail… it’s ok! Kita 1 tahap lebih kaya dari sebelumnya, karena pengalaman/pengetahuan kita bertambah. So Mom… again… yeaaaa… you right!

5. Kamu musti lihat dunia, dunia begitu luas, kamu akan belajar banyak!
Pasti ngga percaya. Mainan masa kecil saya itu: RISK. Mainan Risk adalah mainan strategy board game of diplomacy, conflict and conquest. Bayangin anak 5 tahun sudah dikasih mainan itu… hahaha… but I believe she just didn’t understand about the game. She just wanted me to get familiar with the world. No wonder today I have weird interest to map.
Hari ini saya selalu punya mimpi untuk melihat dunia, bertualang, berbagi diri dan karya dengan sesama di luar sana. Belajar banyak hal dari dunia dan saya percaya itu juga tangan Tuhan yang mau mengajarkan saya.
Saya selalu berkata pada adik-adik single… widen your horizon, see the world! and thanks Mom for make me a woman who has a dream through your sharing about the world. My mom ngga punya kesempatan untuk banyak melihat dunia di mana mudanya. Tetapi saya percaya itu jadi mimpi nya yang ia turunkan kepada anak perempuannya. Hari ini di masa tuanya – ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia bersama Papa saya. Again I learn… never stop dreaming and when you put your trust in God, HE will make all your dreams come true.

to be continued… 10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

 

Dance with My Father: a memoir – Two Days Before Mangrove Forest

Dua hari Sebelum Hutan Bakau

Saya menutup telpon.
Malam ini terasa dingin di kamar kos ini. Sedingin hati saya yang antara bisa dan tidak bisa merasakan.
Pain and numb.
Sad and couldn’t feel anything.
Ambigu.

Baru pertama kali saya pergi meninggalkan rumah. Jauh dari keluarga. Papa Mama saya sedang berlibur keluar negeri, dan saya mendapatkan kabar kalau saya harus berangkat ke satu tempat yang jauh di ujung Utara Sulawesi untuk melakukan Ujian Negara sebagai syarat kelulusan saya sebagai Dokter.
Tetapi hidup rasanya berantakan sekali saat itu, saya tidak tahu bagaimana caranya lulus dengan kondisi tubuh, jiwa dan raga saya yang kacau seperti ini.

1 tahun yang lalu saya memutuskan untuk mengakhiri pertunangan saya dengan kekasih dan calon suami (my fiancee) saya waktu itu.
Saat itu adalah tahun ke 10 hubungan kami.

2 bulan setelah putus, saya menjalin hubungan dengan seseorang yang berhasil membuat saya mengerti apa artinya “jatuh cinta”. Tetapi 10 bulan hubungan LDR berlangsung, dia memutuskan saya dengan alasan yang sangat mulia dan membuat saya tidak mampu marah karena ‘mengerti’.

Lalu sebelum saya berangkat ke Manado saya sempat dekat dengan seseorang yang saya percaya dengan sepenuh hati. Seorang yang saya anggap ‘sahabat’… yang baru putus juga dari pacarnya.
Yes… seperti yang bisa diprediksi bersama: we had a ‘bounce’ effect relationship sampai kemudian ia mengatakan bahwa ia masih mencintai mantannya dan akan mengejar untuk mendapatkan kekasihnya kembali.
He said he love me, and he said that I deserved someone better.
And the funny thing was my previous boy friend who dumped me before… said the same thing.
Ooohhh I must be sooo darn “precious”.

Setelah sahabat saya selesai mengucapkan kata-kata that I deserved someone better … saya malah merasa seperti seseorang yang tidak berharga.
Selama 10 tahun di hubungan saya yang pertama, saya mempunyai ketakutan. Ketakutan itu adalah: tidak akan ada lagi lelaki yang ‘mau’ sama saya yang bodoh, gendut, buruk rupa, tidak menyenangkan, dan lain sebagainya. Boro-boro jadiin istri, jadiin pacar aja pasti 1000 pangkat 1 juta mikirnya.
Hal inilah yang membuat saya mempertahankan hubungan saya sampai pada pertunangan, padahal saya tahu banyak ketidak-cocokan antara saya dan mantan tunangan saya waktu itu.
And walllaaa… the word: you deserve someone better seperti jawaban kebenaran atas ketakutan saya.
Saat ini saya merasa ditinggalkan. Oleh semua yang mengatakan menyanyangi dan mencintai saya.

Semua peristiwa itu membawa saya pada malam ini. Kebetulan FK  UnSrat Manado memanggil saya untuk ujian Negara sehingga saya bisa melarikan diri ke tempat ini.

Saya tidak dapat menahan kangen saya ke “sahabat” saya itu dan terus mencoba menghubunginya. Mendengar suaranya membuat rasa sakit dalam hati ini  terasa sedikit nyaman sebelum kemudian terasa sakit lagi seperti saat ini… sesaat setelah menutup telpon dengannya.

Saya mengutuki diri saya karena saya menjadi seorang perempuan yang menyedihkan.
Mengiba-iba perhatian dan cinta dari lelaki yang sudah jelas tidak membalas perasaan saya dan sedang berusaha mengejar kembali kekasihnya.
Tetapi bagi saya saat ini, terlalu muluk-muluk untuk mengharapkan dicintai.
Saya hanya berharap dia mau mengangkat telpon saya, mengasihani saya, dan berbohong kepada saya untuk membuat hati ini sedikit terasa nyaman.

I really unworthy of everything!
Saat ini kebohongan rasanya cukup dan terbaik buat saya, karena kebenaran terasa begitu sakit dan berbau busuk.
Rasa mual yang luar biasa karena mencium bau busuk dari tubuh saya sendiri membuat saya berlari ke kamar mandi dan muntah.
Ada bercak-bercak darah di sana dengan lambung saya karena sudah lebih dari satu hari saya tidak makan.

Saya kembali ke kamar… membuka sebuah plastic obat  yang saya beli tadi siang di apotik. Sebagian saya bawa dari Jakarta. Saya belum menjadi seorang dokter hari ini, tapi menjadi seorang calon dokter yang hampir lulus, membuat saya mempunyai akses untuk mengambil blanko resep kosong dan membeli obat yang harus dengan resep dokter sebanyak ini.
Sekali tegak rasanya cukup untuk membuat saya tidak bangun lagi selamanya.

Tidur selamanya.
Rasanya menjadi pilihan yang sangat masuk akal dan cerdas untuk keluar dari rasa sakit yang berkepanjangan dan tak tertahankan ini.

Saya memegang 20 butir obat itu di tangan saya, di kamar saya yang gelap.
Sudah 1 hari saya tidak keluar dari kamar ini, dan saya tidak punya rencana keluar dari sini selamanya. Semua harus berakhir ini sini.
Kalau orang bilang saya kalah, biarlah mereka berkata begitu… kalau saja mereka tahu bagaimana rasanya sakit di hati dan tubuh yang tidak tertahankan ini.
Terbayang oleh saya wajah mama dan papa saya tersenyum, lalu saya menangis sejadi-jadinya. Mereka pasti hancur dan sangat sedih. Dalam hati saya minta ampun kepada mereka berdua karena membesarkan seorang anak yang gagal seperti saya.
Saya berharap kepergiadance with darknessn saya juga tidak menjadikan pukulan untuk adik laki-laki saya.
Saya mencintai mereka, tetapi semua penolakan dan rasa sakit ini tidak mampu mempertahankan saya untuk tetap hidup.

Bayangan berikutnya yang hadir adalah saya sedang berdansa. Tetapi kali ini tidak jelas siapa partner dansa saya itu. Tubuhnya besar sekali, tetapi saya tidak bisa melihat wajahnya. Yang terasa hanya dingin, begitu dingin, masih teringat begitu jelas rasa dingin itu, biarpun kejadian ini sudah hampir 16 tahun yang lalu. Saya merasa ada tarikan kuat untuk masuk ke dalam jubah hitamnya sehingga saya rasanya tidak mampu bernafas.

Saat saya mengambil air putih untuk meminum obat itu, saya ingat saya berdiri dari tempat tidur saya, tempat saya hanya melamun dan menangis sepanjang hari.

Tiba-tiba… di tengah tarikan yang demikian kuat untuk masuk ke dalam jubah hitam itu, ada sebuah suara lembut yang seakan-akan bergema di kepala saya. Sangat lembut. Halus. Tidak memaksa. Hampir saja tidak terperhatikan oleh saya. Tetapi ada percikan-percikan kehangatan di tengah tubuh saya yang sudah hampir membeku.                                           Suara itu seperti mengatakan:
“Jangan sekarang minum nya.. Besok saja…”

Saya agak kaget waktu ‘mendengar’ suara itu.
Saya terduduk kembali di tempat tidur… dan menunggu beberapa saat, sambil menyadarkan kepala saya di bantal karena saya tidak mampu lagi menopang badan saya.
Sampai akhirnya… Saya tertidur tanpa saya sadari.

to be continued… Dance with My Father: a memoir – One Day Before Mangrove Forest

Cinderella’s Mom and My Mom: I think They Are BFF

 

“Have courage and be kind.” (Cinderella’s Mom)
“Jangan takut kalau kita benar, tetapi musti tetap ingat kasih Tuhan.” (my mom)
Years ago, when I was a little girl, someone gave the same message like what Cinderella’s Mom said. It was not the exact word, but it had same deep meaning. That someone was my mom. She always teaches me to a woman with courage, stand for what its right, do what its right, but always have a kind heart full of forgiveness, and hope on other people, situation, but especially on myself.
“I believe in everything,” (Cinderella’s Mom)
“Percaya hanya kepada Tuhan, maka semua yang kau pegang akan berhasil” (my mom)
I remember one day, I came home from school on my elementary years. I was crying that day because I failed one exam, and then I told my mom that I couldn’t do it, it’s too difficult… I remember she said this: “Believe in God in all you do. When you put all your trust in God, you can believe in everything. Study hard, work hard. Don’t loose hope because when you put your trust in God… you will see all that He will make your path straight.
“Just because it’s done, doesn’t mean it should be done.” (Cinderella)
“Being a woman, a wife, a mother, even an MD, it is not and never be a carrier. It always be a calling and expect to find a hard time to live your calling. But don’t worry, God be with you. Our actions are everything. Make them kind actions, and we will change the world.” (my mom)
I remember the day I decided to enter the medical school – my mom said… “If you want to be a medical doctor for your wealth and richness, you better cancel your decision now. Because medical doctor is not for become rich in term of money and name, it is a calling.”
I think my mom and Cinderella’s mom are BFF 🙂
They taught me and Cinderella almost the same thing 🙂
She teaches me how to be a kind, strong, full of hope, courage, sensitive to other’s needs. Most of all she shows me her love and faith to God and it is a living testimony of her life that I live now.
I am not Cinderella even though I married a Prince Charming too… (*wink* to hubby)
I am my mom’s (and dad’s) daughter.
I live their legacy.
If there is something good in me it must be because God love me soooo much so He gave me my mom, my dad, my brother, my husband, and my community that I can learn so much to be a better woman every day.
It’s a compliment to Mother Mary too because She is the source of example for us all as a woman, wife, and mother.
It’s my love to my dad – because his love to my mom, without my dad’s love, my mom would never be like she is now.
It’s my huge appreciation to my mother in law… Her love, her strength, her faithfulness, her never ending prayers for my husband (and me) make my husband be the man who know how to love God, love his wife, and being an inspiration to many people.
It’s a group hug for all mothers out there… Cordisian’s mom, and all my BFF out there… Like Cinderella’s Mom said: “Magic, believe in magic.” … yes let’s make magic through our faith in God and together we will see the magic God will shows us 🙂
lia mom explorenow15
This to the one and only Mom I have…
Forever I will live your legacy as a mom, and forever I will celebrate life you (and dad) gave me.
Now other words can describe how lucky I am to be your daughter.
My prayers always be with you.
I love you Mama…
Indonesian Mother’s Day, 3 days before Christmas 2015.

 

Fly With Your Wings Grace Gloria. Pray for Us! (6)

Kami sampai di rumah duka Carolus di ruang singgah Dorothea. Suami saya yang juga menuliskan perjalanan refleksi dia bersama dengan Grace menuliskan sebuah refleksi yang indah tentang ruang singgah ini (please visit: http://vitaapostolica.wordpress.com).

Waktu saya masuk ke ruang Dorothea, terlihat mama Grace sedang duduk di samping kotak tempat menaruh tubuh Grace karena peti belum datang.
Saya tersenyum dan memeluk Ninu, dia bercerita bagaimana Grace benar-benar berjuang untuk hidup di detik-detik terakhir. Berkali-kali kejang, lalu berhenti nafas dan membiru, lalu bernafas lagi. Kejang, henti nafas, lalu berusaha untuk bernafas lagi sampai akhirnya makin lama semua tanda-tanda hidup menghilang dan Grace benar-benar tidur lelap untuk selamanya.

Saya menarik nafas dan menitikkan air mata waktu mendengar cerita ini, saya mengagumi ketangguhan papa dan mama Grace yang mau terluka memilih melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.
Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat kondisi anaknya seperti itu, dan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mampu memegang tangan Grace dan terus berdoa.
Hati Bim dan Ninu  begitu besar untuk cinta Tuhan yang mau dicurahkan melalui hidup Grace. Dan Grace sendiri benar-benar anak baik yang tahu balas budi orang tua.
Grace tahu benar betapa ia dikasihi, dia diperjuangkan, dia diharapkan sehingga Grace pun berjuang tidak setengah-setengah dalam mempertahankan kehidupannya. Grace pun berjuang sampai akhir.

Saya memandang wajah Grace yang terbalut selimut warna kuning yang adalah selimut yang dipakai mama Grace waktu ia bayi, wajahnya begitu damai dan tersenyum dan saya berkata kepada Grace dalam hati: “Good job warrior princess, it was a good fight! Fly with your wings little angel!”

Kembali seperti sebelum-sebelumnya saya merasa Grace berbisik ke saya dan kali ini ia seakan menitipkan kedua orang tuanya kepada kami, saya seperti teringat akan satu refleksi: begitu lahir Grace langsung dimenangkan melalui air pembabtisan, dengan iman kita menyakini, Grace sudah menjadi milik Tuhan. Selama 6 hari kehidupannya, rasanya Grace tidak mampu untuk berbuat dosa, sehingga dengan pasti Grace sudah berada di surga bersama dengan Tuhan Yesus dan Ibu Maria. Siapa lagi yang lebih pantas menjadi pendoa kedua orang tuanya selain Grace sendiri?  Grace pasti berdoa untuk kedua orang tuanya, dan entah kenapa saya percaya Grace juga pasti akan menjadi pendoa kekal bagi Youth Mission 4 Life (YM4L).
Bukan tanpa maksud Grace tercipta dan lahir di awal gerakan YM4L ini. Grace bahkan menyiapkan kedua orang tuanya sehingga mereka juga menjadi pilar-pilar pendukung YM4L ini.

Setiap dari kita dilahirkan dengan misi ke dunia ini. Siapapun itu, tanpa terkecuali, demikian juga Grace… and you accomplished your misión my little angel Grace Gloria.
You are a living proof of God’s might power, to change all the hopeless situation to a victory.You turn the bad news to good news. The story of how faithful, and big is our God!
You were born after all the people shout Gloria… Gloria… Hosanna.. Hosanna… and you’re back you where you belong one day after a victorious day… Jesus who’s risen from the death… all of our being in this world is always God’s grace.

Malam itu saya dan Riko pulang ke rumah dan menyiapkan lagu untuk misa requiem untuk Grace yang akan dilakukan hanya beberapa jam lagi. Sebelum tidur, saya menuliskan pesan di whats app ke Ninu:
Nu, FYI, besok gw akan pake baju warna merah ya. It’s a sign of salutation for Grace, you and Bim.

Saya memutuskan hal itu karena pembelajaran saya dari semua peristiwa ini tidak dapat membuat saya bungkam dan tidak mengekspresikan betapa berharganya sebuah kehidupan, dan saya ingin menunjukan hal itu melalui hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang-orang saat menghadiri acara kematian, yaitu menggunakan baju berwarna merah.

Keesokan harinya Rm.Deshi mempersembahkan Misa Requiem untuk Grace. Kami semua membuka dengan lagu: Amazing Grace.

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me.
I once was lost but now am found,
Was blind, but now I see.

T’was Grace that taught my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear
The hour I first believed.

The Lord has promised good to me.
His word my hope secures.
He will my shield and portion be,
As long as life endures.

Suara saya tercekat di saat saya menyanyikan bait kedua lagu ini:
T’was Grace that taught my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear
The hour I first believed.

Kata-kata lagu ini benar-benar menggambarkan perasaan saya sejak di hari pertama saya mendengar kondisi Grace yang masih dalam kandungan mamanya, sampai di detik saya menyanyikan lagu ini. Sungguh, how precious did that Grace appear, ohh how great is our God who give us amazing Grace to stand and fight for life. It’s really a privilege for me and YM4L. Saat itu kembali Grace seperti berkata kepada saya sebuah ayat favorit saya, ayat yang sama yang terukir di nisan adik kandung saya yang juga meninggal saat bayi: “Tangan Tuhan telah berlaku baik atasku.” (Nehemia 2:8b) (*Please hug Tia for me Grace…*)

Rm.Deshi memberikan khotbah yang sangat indah pagi itu. Khotbah yang sekali lagi meningatkan kita untuk terus mendukung kehidupan. Apa yang dikatakan bodoh di mata dunia adalah kemenangan karena membela kebenaran Allah. Misa pagi itu biarpun singkat tetapi saya merasakan kasih dari surga yang memenuhi hati saya.

Epilog
 
I live for 39 years this year.
I met so many great people.
Sometimes the acquaintance happens so short even for only 6 days, I have not even have time to breathe perfectly.
This is the story of my encounter with one warrior little angel, that the world sees her not perfect not even perfect being born.
But she teached me something about how precious life is. She is now in heaven and she won’t be forgotten.
Her name is Grace Gloria.

Melalui seluruh rangkaian peristiwa kehidupan ini, satu episode berlalu dari kehidupan pernikahan Bimo dan Ninu.
Satu episode juga berlalu bagi kehidupan Riko (yang adalah bapak babtis Grace) dan saya.
Satu pembelajaran akan kehidupan diberikan kepada seluruh teman-teman yang ada di dalam Youth Mission 4 Life (YM4L) yang akan segera meluncurkan produk pertamanya untuk membela kehidupan yaitu sebuah web bernama http://sayahidup.com.

Melalui semuanya ini, mari sekali lagi percaya bahwa Cinta Tuhan selalu menang melalui berbagai macam kebohongan yang ditaburkan dunia untuk menghancurkan hidup anak-anak Allah.
Diberanikan oleh rahmat cinta dan belas kasihan Tuhan, kita semua, tanpa terkecuali, apapun kondisi kita, bagaimanapun latar belakang dan masa lalu kita, saat kita bersama membela kehidupan, saya percaya kita akan dapat bersama-sama berdiri atas nama cinta kasih Allah berkata sekali lagi dengan kepala tegak dan suara lantang berteriak:
“Maut di manakah sengatmu?”
 
Until we meet again Grace Gloria.
Thank you for all the lessons lifelogy.
Please pray for us (and YM4L) our dearest little angel.

Jakarta, Oktaf Paskah 2012

Dedicated this writing to:
1. Bimo Ninu: No other words I can express except: Thank you!
My pray be with you selama masa-masa kehilangan ini. Setelah ini jalan tidak mudah, tetapi seperti Tuhan telah memberi kalian berdua kekuatan menghadapi semuanya ini, kekuatan yang sama, bahkan yang lebih besar dari pada sebelumnya akan menyertai kalian berdua.
2. YM4L: let’s fight together with the grace of the lord and for the glory of God.
3. 6 episodes, for 6 days of your life on earth Grace Gloria.
Happy all day playing in heaven. Don’t forget to pray for us ya dear… 🙂 please hugs everyone I know there for me.

Mother and Mary

Mother and Mary

A reflection of mother’s day and mother Mary

“Mama ada?”

Itu pertanyaan pertama saya setiap kali saya pulang sekolah dan menginjakkan kaki di rumah kembali. Saya menanyakan itu setiap kali saya harus pulang sendiri/ dijemput dari sekolah oleh orang lain selain mama saya. Hari ini, bila saya mengingat kembali perasaan saya bila pertanyaan saya dijawab: “Ada.”… ada rasa hangat dan aman mengetahui mama saya ada di rumah.

Di masa puber dan menjelang dewasa, begitu banyak perselisihan dan pertentangan yang terjadi antara mama dan saya. Semua terjadi hanya karena pertentangan semua kehendak baik. Mama ingin yang baik dan benar terjadi dalam hidup puterinya, dan saya merasa sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan benar untuk hidup saya.

Hari ini, 6 ½ tahun pernikahan saya. 6 ½ tahun menjadi seorang istri, saya mulai mengerti apa yang dilalui oleh mama saya. Saya (mulai) mengerti apa artinya menjadi seorang ibu, biarpun saya belum dikaruniai seorang anakpun. Semuanya itu membawa saya pada sebuah refleksi indah di pertengahan antara hari ibu kemarin dan hari Natal besok lusa.

Do you know this song? Let’s read slowly what the lyric says:

Mary, did you know
that your Baby Boy would one day walk on water?
Mary, did you know
that your Baby Boy would save our sons and daughters?
Did you know
that your Baby Boy has come to make you new?
This Child that you delivered will soon deliver you.

Mary, did you know
that your Baby Boy will give sight to a blind man?
Mary, did you know
that your Baby Boy will calm the storm with His hand?
Did you know
that your Baby Boy has walked where angels trod?
When you kiss your little Baby you kissed the face of God?

Mary did you know..
The blind will see.
The deaf will hear.
The dead will live again.
The lame will leap.
The dumb will speak
The praises of The Lamb.

Mary, did you know
that your Baby Boy is Lord of all creation?

Mary, did you know
that your Baby Boy would one day rule the nations?
Did you know
that your Baby Boy is heaven’s perfect Lamb?
The sleeping Child you’re holding is the Great, I Am.

Saat saya membaca lirik lagu ini, saya membayangkan, apa yang terjadi saat Bunda Maria didatangi oleh Malaikat Gabriel.

Seorang gadis lugu, muda, yang mungkin sedang begitu excited nya menyiapkan pernikahan karena ia sudah ditunangkan dengan seorang pria. Tetapi dalam sekejab, semua berantakan ‘hanya’ karena malaikat yang memberitakan sebuah ‘berita gembira’. Saat itu dengan ketaatan dan ketulusan hatinya Maria mengatakan YA pada kehendak Tuhan atas dirinya. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah pada ku menurut perkataanMu.” Ohhh Mary did you know…

Apa jadinya kalau saat itu Maria mengatakan tidak kepada kehendak Allah yang ingin dinyatakan dalam hidupnya.

Hari ini kita tidak menyapanya dengan panggilan mother Mary.

Saat ini kita (mungkin) masih ada dalam rentetan hukum taurat yang mengikat kita.

Yang paling parah adalah… detik ini kita belum diselamatkan dari semua dosa kita.

Apa jadinya kalau saat itu (37 tahun yang lalu), my mom said NO to my presence at her womb?

Tidak pernah akan ada seorang Elizabeth Lia Indahyani Brasali, yang ‘ditemukan’ oleh seorang Josef Riko Ariefano my hubby.

Tetapi jalan seorang ibu bukanlah jalan yang terus menerus dipenuhi oleh gemerlapan bintang dan indahnya panggilan seorang keibuan.

Tanya saja pada Priska Lia bagaimana rasanya saat melahirkan Mika kira-kira 2 bulan yang lalu.

Ingat-ingat bagaimana pergumulan mual Anast waktu hamil Celine dan Ika saat ini.

Belum lagi gimana menghandle Jovan yang sudah mulai punya pendapat dan kemauan sendiri.

Saat-saat di mana anak-anak sakit dan membuat para ibu dan ayah tidak tidur dan gelisah melihat anak mereka sakit.

Saya mengingat bagaimana mama saya menangis waktu harus menghadapi anak-anaknya, saya dan adiknya memberontak di masa puber kami.

Apa rasanya saat Ayah Josef dan Bunda Maria, sudah berjalan demikian jauh, kemudian menyadari anaknya hilang, mereka berjalan berkilo-kilo meter… hanya untuk mendapati anak mereka mengatakan: “Kenapa engkau mencari Aku, bukankah Aku harus tinggal di rumah BapaKu?” (*ggrrrrrr* kalo itu anak gw, udah gw jitaakkkkk! J)

Tetapi saat itulah seorang ibu memperlihatkan cinta yang tidak ada batasnya.

Seperti Bunda Maria menyimpan semua dalam hatinya, banyak Ibu yang melakukan ini.

Saya tahu, mama saya menyimpan banyak perkara dalam hatinya, dan terus berdoa untuk suami, kedua anaknya, dan saat ini, kedua menantunya.

So today, two days after Mother’s Day, and it’s Chrismast eve!

Let’s celebrate the calling of a motherhood.

Be thankful for our mothers.

I am grateful to be a woman.

And Mary did you know? Thank you Mother Mary because you took all the risks and you said yes to God’s will and you brought Jesus to all of us.

Mother and Mother Mary.

I am so proud of both of you.

Pray for me Mother and Mother Mary, so I can be a woman after God’s own heart.

You are What YOU ARE

Karena aktifitas Renungan Harian Wanita (RHW) setahun belakangan ini, dan akhir-akhir ini makin di pertajam dengan sharing iman tentang keperempuanan dengan beberapa sahabat wanita (dan pria juga), saya kembali merefleksikan keberadaan saya di dunia ini.

Saya lahir di keluarga yang mencintai saya. Saya anak pertama yang pasti dinanti-nanti. Papa saya bisa dikatakan setengah ‘adore’ anak perempuannya. Dia adalah pria pertama dalam kehidupan saya yang membuat saya mengerti akan arti cinta seorang pria.

Mama saya adalah seorang perempuan hebat di mata saya. Mama dan papa saya berjuang dari bawah bersama-sama. Mereka jualan bakmi dipinggir jalan Rp.50,- semangkok untuk menghidupi mereka dan saya. Mama selalu mendampingi papa saya yang saat mudanya punya karakter sangat keras. Dengan segala kelemahanannya sebagai manusia, mama tetap seorang yang luar biasa. Dari muda ia selalu bicara soal makna perempuan dan panggilan sebagai seorang istri untuk jemaatnya (karena ia dulu adalah seorang pendeta di sebuah gereja Pentakosta). Setiap Rabu sore jam 4, saya selalu ‘ditenteng’ mama saya ke persekutuan kaum ibu di gerejanya, melihat begitu banyak wanita berkumpul, berdoa, dan berlutut menyembah Tuhan mohon kekuatan.

Warna itu yang menghiasi hari-hari seorang lia kecil.

Tetapi saat saya remaja, saya kehilangan jati diri saya karena dimakan rendah diri akan penampilan saya, merasa tidak berarti karena kebodohan saya di sekolah. Semuanya itu menghancurkan saya perlahan.Dari awal saya mulai mengerti soal perbedaan laki dan perempuan, saya mulai mempertanyakan: “Kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan?”

Proses itu berlanjut dengan mengutuki hari-hari menstruasi saya dan berontak bila mama membelikan dan menyuruh saya pakai rok. Saya tidak pernah punya rambut yang panjang, dan sebel banget waktu mama ajak saya ke dokter kulit hanya untuk ngurusin muka saya yang penuh dengan freckles.

Berlanjut akhirnya ada seseorang yang ‘mau’ sama saya (dan saya mengganggap itu keajaiban! padahal waktu itu usia saya baru 15 tahun tetapi sudah desperado :p), saya kembali tidak menghargai tubuh saya, dan pernah berjanji untuk tidak mau punya anak karena anak hanya akan memperlambat langkah saya.

Begitu banyak hal terjadi, yang membuat saya makin yakin. Bahwa hidup sebagai perempuan itu merugikan, saya ingin membalaskan banyak dendam dan luka hati saya pada lelaki. Saya benci akan dominasi mereka dan saya berjanji satu hari saya akan lebih dari mereka. Saat itu saya masuk dalam banyak pembenaran-pembenaran diri saya. Sangat sinis, dan sukar diajak berelasi. Saya merasa tidak memerlukan satu hubungan karena saya bisa melakukan semuanya sendiri. Saya berhasil sampai pada jabatan manager di satu perusahaan besar di usia 27 tahun. Mungkin itu biasa buat sebagian orang, tetapi buat saya yang selalu merasa diri saya bodoh, itu pencapaian yang luar biasa.

Sampai akhirnya… saya menyerah karena lelah. Saya lari dari satu pembenaran ke pembenaran berikutnya dan mendapati ternyata saya hanya berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan berikutnya.

Saat itu pertolongan datang…

Hari ini saya melihat ke belakang dan mendapati konsistensi, banyak titik terendah dalam kehidupan saya, berhasil dipulihkan oleh Tuhan lewat bantuan buku. Saat itu saya membaca sebuah buku berjudul: Life Giving Love yang ditulis oleh Kimberly Hahn. Entah mengapa, rahmat Tuhan mengalir deras melalui buku itu dan menyelamatkan saya. Terutama menyelamatkan keperempuanan saya.

Hari ini saya bersuka-cita untuk apa yang ada. Saya beralih dari seorang feminis menjadi seorang femina dalam arti kata sesungguhnya.

Saya mensyukuri keperempuanan saya hari ini. Saat saya pulih dari luka-luka hati saya, saya dimampukan melihat gambar besar kenapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan.

Saya sadar, tidak ada yang harus saya perjuangkan sebagai perempuan untuk sama dengan laki-laki. Sampai kapanpun seorang perempuan berjuang, tidak akan pernah cukup dan habisnya, karena perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Karena perbedaan itulah perjuangan feminis hari ini seakan tidak pernah usai dan tidak pernah sampai pada hasil yang diinginkan, karena memang laki-laki dan perempuan berbeda!

Dan perbedaan itu bukanlah perbedaan siapa yang lebih baik atau siapa yang lebih buruk. Perbedaan itu adalah perbedaan yang bila disatukan akan menciptakan sesuatu yang luar biasa. Persatuan yang akan mengalahkan iblis dan persatuan yang akan memenangkan dunia demi kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu iblis terus menebarkan luka dan kebohongan pada banyak perempuan supaya pengertiaan akan perbedaan ini tidak pernah sampai dan kebencian terus hidup diantara para perempuan terhadap keberadaan keperempuanannya.

Untuk itu semua… yang harus diperjuangkan hanya satu hal: bagaimana saya sebagai perempuan mampu memaknai arti keperempuanan saya, memberi makna bagi kehidupan, dan menjadi berkat buat kemanusiaan di dunia ini. Sehingga lewat itu dunia melihat dan memuji Tuhan… bahwa Ia juga menciptakan perempuan sama indahnya dengan laki-laki.

Jawabannya adalah Yesus! Karena Dia yang telah tersalib untuk menebus semua kebencian dan kebohongan itu.

Jawaban berikutnya adalah Ibu Maria yang telah dengan setia dan sempurna menjalani keperempuanan nya dan menang sampai akhir.

So.. woman of God…

Celebrate our womanhood! Celebrate our life.

We have a great mission on earth.

And as Mother Mary… let’s bring the joy of our womanhood to fill the world with love.

You are what YOU ARE.

Be proud of it… 🙂

Apa Artinya Sebuah Nama (part 1)

My Womanhood Journey with St.Elizabeth
(an Understanding of God’s Promises in me)

Ada pepatah yang mengatakan: “Apalah artinya sebuah nama…”

Saya dahulu adalah salah satu penganut pepatah itu. Apalah arti sebuah nama. Yang penting adalah karakter dan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Sampai di satu titik dalam kehidupan saya, makna dari sebuah nama ternyata membawa kekuatan pada perjalanan kehidupan saya.

Orang tua saya menamai saya Elizabeth Lia Indahyani. Di masa kecil saya, nama Elizabeth sangat mengganggu telinga saya. Saya malu bernamakan Elizabeth. Kesannya tua, ngga ‘gaul’ dan saya merasa seperti nenek-nenek.Saya sering dipanggil orang Elizabeth karena itu adalah nama awal saya. Lia yang menjadi nama panggilan saya adalah nama tengah saya. Jadi wajar kalau banyak orang pikir,saya dipanggil Elizabeth. Mama saya bilang, saya tidak pernah mau menoleh apabila dipanggil Elizabeth.

Tahun 1988, saya dibabtis di gereja Katolik. Bersama pembabtisan itu saya memilih nama Angelika (dari asal nama St.Angela Merici ). Saya memilih sendiri nama iu, tetapi kalau ditanya kenapa? Saya tidak tahu. Mungkin karena waktu kecil saya bayak berperan sebagai malaikat dalam drama-drama sekolah minggu yang saya mainkan. Itu sebabnya saya mempercayai… apalah arti sebuah nama.

Tetapi ada hal yang saya pelajari sebagai anak Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan sedikitpun kebaikan yang ada dalam hidup kita menjadi nyata. Orang tua saya memberikan nama Elizabeth untuk satu tujuan baik. Juga nama Angelika saya pilih bukan karena satu kebetulan. Tuhan mampu membuat hal-hal kecil yang sepertinya tidak penting menjadi kekuatan bagi perjalanan hidup saya.

Ada masa dalam hidup saya, saya mempertanyakan banyak hal tentang peran Allah dalam hidup saya. Saya meragukan cinta kasih Allah, saya marah karena merasa ‘dikhianati’ oleh Yesus, dan hidup saya terlihat begitu kuat tapi sebenarnya demikian rapuh karena saya kehilangan pegangan hidup.

StElizabeth2Tetapi saat itu seorang sahabat (yang kemudian menjadi suami saya), menceritakan arti nama Eizabeth ke saya. Tidak banyak yang kita ketahui mengenai kehidupan St.Elizabeth, selain ia adalah ibu dari St.Yohannes pembabtis, bersuamikan Zakharia, saudara dari Bunda Maria dan ia pernah dikunjungi oleh Bunda Maria. Elizabeth berasal dari bahasa Hebrew yang berati Janji Tuhan atau Allah bersumpah. Di satu sumber dikatakan: Allah bersumpah (untuk) menggenapi janjiNya. Saat itu saya terperangah akan arti nama saya sendiri, dan kemudian melihat perjalanan hidup saya. Tanpa saya sadari… sebagian luka saya disembuhkan oleh pengertian akan nama saya sendiri.

Sejak itu St.Elizabeth menjadi hidup dalam hari-hari saya. Bila saya ada dalam keadaan terdesak atau merasa sedih… saya panggil namanya bersama dengan nama Yesus dan Bunda Maria. Saya minta ia untuk mendoakan saya. Tanpa saya sadari pengertian akan arti nama Elizabeth menjadi “rhema” dalam kehidupan saya.

Apapun yang terjadi saya percaya, Allah Tuhan yang telah menciptakan saya, mendampingi kehidupan saya dengan janji-janjiNya. Seperti kepada St.Elizabeth, Ia akan menggenapi janji-janjiNya dalam kehidupan saya, bila saya hidup benar dan takut akan Tuhan. Tidak ada satupun yang mustahil dalam kehidupan ini  bila saya menggantungkan harapan saya kepada janji Tuhan. Seperti air hujan yang turun membasahi bumi, demikian pula janji Tuhan tidak akan pernah kembali sia-sia.
I am standing on the promises of God.

St. Elizabeth doakanlah kami…

to be continued: Apa Artinya Sebuah Nama (part 2 – end)

 

Sing Me Your Song Again Daddy…

sing me your song again daddy...
sing me your song again daddy

Sejak masa kecil, seorang anak perempuan kadang memimpikan hari pernikahannya. Gw selalu memimpikan pernikahan gw dihadiri dan direstui oleh kedua orang tua gw… Dan Puji Tuhan 3 Juni 2004, I was walking down the isle with the first man in my life.

Malam (atau ini sudah pagi sih hehehe…) ini gw nulis blog ini sambil nonton Oprah di Hallmark. Malam ini sedang nge bahas soal anak-anak hasil donor sperma. Anak-anak yang tidak tahu siapa ayahnya, dan selama ini hanya diberi tahu banyak cerita yang berlainan. Bahkan salah satu dari mereka hanya diberi tahu, nama ayah mereka adalah No.46 (nomor donor yang dipilih ibu mereka saat itu)

Buat gw, sama sekali ngga terbayang tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Gw punya hubungan yang cukup istimewa dengan bokap gw. Gw dekat dengan nyokap dan bokap dengan cara yang sangat istimewa. Berlainan satu dengan lainnya. Karena posisi nyokap tidak pernah bisa digantikan dengan bokap gw, demikian juga sebaliknya.

Bokap gw hanya manusia biasa. Dia bukan seorang bokap dan suami yang sempurna. Tetapi apapun yang terjadi He always be my dad. Karena dia dan nyokap gw ada di dunia ini dan diijinkan mengecap kehidupan.

Betapa beruntungnya kita mempunyai Bapa di surga. Kalau bokap gw aja yang seorang manusia biasa yang tidak sempurna bisa memberi makna dalam kehidupan gw, apalagi Bapa kita di surga yang menciptakan kita satu persatu. He has the perfectness of love yang kadang tidak kita sadari krn gambar Bapa yang retak dalam hati kita.

Bapa yang mau merelakan apa saja untuk kita anak-anakNya di dunia, bahkan putraNya yang terkasih pun Ia biarkan didera untuk memenangkan jiwa dan keselamatan kita satu persatu. Think how lucky we are… Feel how loved we are. Dan untuk kasus gw, mungkin itu sebabnya gw selalu berasa I am a princess…! Karena gw selalu merasa kedua ayah gw… Bapa gw di surga dan Papa gw di dunia ini selalu menyanyikan lagu cinta buat gw.

Yes.. I am loved by my Daddy… And forever His song of love will linger in my heart! Thank You for the life You gave me and for Your presence in my life… The one I’ll most remember are your songs of love.

Sing me a song again, Daddy
Sing me a happy verse.
Teach me those clever lines you sang
As you carried me on your shoulders.
Sing me that hymn that you so loudly
Sang in church with mom.
Sing it again to me and fill me
With all your words of wisdom.

Comforting words of love when I
Would get home from school in tears.
Somehow your songs have stayed within me
Down through all the years.
Once when my younger heart was broken
Your shoulder was there to cry on.
Sing me those songs I know will linger
Long after you have gone.

I am standing at the threshold
Of a chapter in my life
I am asking for your blessing
As I’m about to be the wife
Of a man I know who loves me
And I’m proud to be his bride.
Dad the time has come for me to leave your side.

So, sing me a song again, Daddy.
Sing me a lullaby.
Wrap me inside your arms, Daddy,
‘Though this is not goodbye.
Your songs will live forever
In my heart. When times get rough
The ones I’ll most remember
Are your songs of love.