MY INFERTILITY. MY CROSS. MY RESURRECTION

Suddenly I feel the urge to write about my infertility.

Capture.JPGBanyak orang yang mengatakan kekaguman mereka karena kami sebagai pasangan yang tidak punya anak bisa terlihat bahagia… and the truth yes we are happy.
Tetapi buat Saya pribadi sebagai seorang perempuan, untuk sampai pada hari ini – Saya menyadari, itu adalah perjalanan Rahmat Tuhan.

Ada masa di mana Saya mempertanyakan kenapa.
Kenapa ada seorang perempuan di luar sana yang Saya tahu sudah beberapa kali aborsi, tetapi bisa mendapatkan anak?
Kenapa ada seorang perempuan di luar sana yang juga sudah hamil sebelum nikah, lalu memberikan anaknya kepada orang lain (Thank God!), juga dengan mudahnya hamil dan beranak pinak?
Kenapa ada seseorang yang tidak dalam kehidupan yang benar, dengan mudahnya juga hamil.

Sedangkan Saya?
Saya mendampingin Suami Saya melayani Tuhan. It’s been more than 27 (for hubby) and 23 (for me) years of our commitment to serve God. Saya ngga bermaksud menyombongkan beberapa tahun Kami ada dalam pelayanan, tetapi ini justru menjadi alasan kuat Saya bertanya KENAPA? After all these years?
What did I do wrong?
Why You have to humiliate me, and I can’t be fruitful at the core of my calling as a woman?
Kenapa Saya harus menangis saat orang tua Saya juga dipermalukan karena kemandulan Saya?
Kenapa Saya tidak diberikan kesempatan memberikan mertua Saya cucu dari anak mereka satu-satunya?
Kenapa bahkan Engkau sendiri merelakan diriMu dipermalukan karena ada suara yang berkata: “Lihat tuh udah pelayanan buat Tuhan dan selalu bilang untuk percaya sama Tuhan, tetap aja Tuhan ngga percaya kasih anak ke mereka…”

Don’t worry, that happened to us. And even tough I feel so blessed karena Saya merasa telah melewati itu, saat seperti detik ini, saat Saya menuliskan dan meningat kembali, masih terasa seperti ada yang linu dan membuat Saya mulai memproduksi mucus berlebihan hahahaha…

Tetapi pengalaman kemandulan ini, membawa Saya pada pengertian yang indah mengalami God’s grace.
Hari ini Saya bersuka cita pernah dan terus mengalami pertanyaan-pertanyaan di atas. Sampai kapanpun pertanyaan dari sekitar kita tidak pernah selesai. Bahkan ada lontaran yang Saya tahu itu Cuma cara mereka untuk menyemangati juga bisa melukai.
Seperti waktu Saya ditahun ke 5, ada hiburan yang dilontarkan: “Ngga apa… ada Saudara Saya sudah nikah 10 tahun kemudian hamil.” Setelah nikah 10 tahun, ada yang mengatakan 15 tahun… dstnya… let see sampe berapa tahun kemudian orang tidak menggunakan contoh ini.
Tetapi Saya hari ini mengingat semua itu dan tersenyum. Ada kegembiraan yang melonjak setiap kali Saya mendengar ada kehamilan baru yang terjadi di sekeliling Saya.
Biarpun jujurnya untuk beberapa orang tertentu, Saya masih bertanya, after what she’s done, she can pregnant and I can’t? But anyway, it is just me and my sirik attitude yang harus dimurnikan.

Hari ini Saya Cuma mau merayakan apa yang Tuhan terus buktikan.
KesetiaanNya. KemurahanNya. Berkat-berkatnya.
Mertua yang selalu mendukung pernikahan kami. My parents yang selalu mementingkan kebahagiaan kami daripada status punya cucu buat mereka.
Buat Saya sebagai perempuan sikap suami yang terus melihat Saya begitu ‘subur’ dan terus berusaha membahagiakan Saya rasanya sudah cukup untuk membuat Saya berhenti bertanya kenapa.
Most of all… Ladang pelayanan, tanah yang memberikan kesempatan buat Kami berdua untuk berbuah. Mungkin tidak dalam bentuk manusia atau anak biologis, tetapi berupa jiwa-jiwa orang muda yang mengalami perjumpaan dengan Yesus, yang memberi kekuatan pada Saya untuk melalui semua ini.

desiree-chalk-board.jpg            It’s a Lent season.
It’s not only the time for repentance. For me it is also the time to understand once again about the cross.
One thing for sure, if you carry your weakness, addiction, problem, in my case my infertility to the cross, mempersatukan itu dengan penderitaan Yesus, dan tahu dengan sungguh bahwa tidak ada satupun yang mustahil saat kita membawa semua itu pada Yesus yang menembus segala kelemahan, dosa, dan gagal subur, Saya percaya di hari ke-3 atau di waktu Tuhan kita akan bangkit bersama Tuhan dan mengalami kemenangan bersama dengan Tuhan.
Children is not our right. It’s God given precious gift. If you have that gift, be joyful and take it as ‘holy’ responsibility.
But if you haven’t/don’t have that gift. Be joyful as well. That means the world waiting for you dan kita akan melihat buah kehidupan yang hadir dari misi dan pemberian diri kita bagi sesama.

On my case.
This body is fail to be fertile.
Human can judge and humiliate me (like I judge other people with that why questions).
But I know, it’s our privilege to experience and walk the journey with unending hope to God (HAAAAA… that unending hope makes me understand why Sara laugh when she heard that she will be pregnant).

I took it as the cross. With the grace of God I tried to be faithful.
And if you see joy of my infertility today, it comes from the cross and the power of God’s love who raise me from my self pity and why questions.

This joy is my resurrection.
This joy is because of Jesus.

For this child I prayed. And I can smile today that the journey give us so many child not only in our home, but so many places around the world. With this in mind, how can I cannot be joyful?

(LbA)

Advertisements

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

I was not an easy teenager.
Today, I am old enough to have a teenager on my own, and I have a promise in my heart when I was a teenager, that I will not agree to what my mom said, but now… life teach me so many things, and I find out why I didn’t believe her back then…

Here are (another 5) what my Mom taught me:

6. Kalau mau dokter buat jadi kaya materi, mendingan ngga usah jadi dokter!
Hehehe… ini kata-kata pertama yang my mom ucapkan waktu Saya insist buat masuk Fakultas Kedokteran waktu itu. Actually she did not support me with the decision. My mom said that being a medical doctor will consume your life, because it’s a calling. Saya tidak mengerti apa maksudnya waktu itu. Tetapi hari ini, melihat ke belakang, saya bersyukur she emphasized that strongly to me, sehingga sekarang… setelah menjadi seorang yang mengucapkan sumpah Hippocrates which means biarpun saya tidak praktek, tetapi selamanya saya terikat pada sumpah itu, and what my mother said, even in her own simple words – it so alive now and become the strength for me to live this calling. You’re just a simple woman Mom, but your wise word is so true!

7. Hafal Firman Tuhan – terutama Mazmur dan Amsal. Itu akan menjadi pegangan dalam menjalani hidup.
Nahhhh… ini yang paling saya sebel! Berasa ngga berguna banget waktu itu, dan ngga ngerti juga apa maksudnya. Masa kecil saya penuh dengan cerita Kitab Suci dan sejak saya mulai bisa menghafal, saya diajarkan untuk mulai menghafal ayat Kitab Suci. My mom always said… “Baca Mazmur dan Amsal buat menemani perjalanan hidup kamu karena banyak kata-kata hikmat.” and of course I didn’t believe her.
Tetapi hari ini, saya bersyukur akan ayat-ayat yang saya hafalkan dan sudah saya lupakan hehehe… tetapi tanpa sadar, ayat-ayat itu menjadi kekuatan di saat saya terhimpit beban berat. Sebuah bekal dari ibu yang akan menjadi kekuatan sepanjang masa.

8. Sex itu suci! Jangan sembarangan melakukan nya. Jaga kekudusan.
Hehehhe… I’ve in relationship. From I’m 15 until 28, saya ngga pernah berhenti ada dalam relasi. Baik pacaran atau TTM. Anyway… My mom keep repeating this message but it seems like I didn’t care about it.
Yes… I made so many mistakes. Pacaran saya ngga bisa dibilang bener dan menjaga kekudusan tubuh saya.  But now when I looking back, I know that she was right.
Setelah kehidupan pernikahan dan mengalami langsung apa arti sexual, I really understand why sex is holy. Once again I have to say… yeaa Mom, you’re right!

9. Jangan minta kepada manusia, karena itu akan mengecewakan. Mintalah ke Tuhan. Dia yang akan memberikan semuanya.
I don’t know whether this one is a toxic faith or not. Because of this understanding I feel disappointed by God. Big time. But then I found out, that what made me mad was because the wrong understanding of God. Dalam perjalanan waktu, ketika pengenalan akan Tuhan bertambah, saya mengerti apa artinya dan dalam konteks apa Dia (Tuhan) akan memberikan semuanya. Saat saya mengerti konteks yang sesungguhnya, kata-kata ini menjadi penguat iman dan harapan saya.
My mom have gone through a lot of things in her life. I am the testimony of her life because I was born in this family (Thank God!). I testimony how she depends on God so much and how God fulfill her dreams one by one. Yes there were sad and failed moments, but God always shows up in the end and make everything good.
Thank you for not only taught me this, but also show me what the meaning to be a woman of faith.

10. Ingat nanti kalau kamu jadi istri dan ibu, cuma 1 modalnya: DENGKUL!
This one is my favorite.
I don’t have a biological children until now, but this words become a great reminder. Melihat hidup Saya sendiri, kurang apa sih saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya? Saya dibesarkan dengan pendidikan iman yang kuat. Tetapi tetap di masa remaja, di mana saya sudah mampu menentukan pilihan saya, orang tua saya tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap saya. Tetep aja Saya pacaran dan ngga menjaga diri Saya. Gimana caranya kita bisa mengetahui dan percaya kepada suami kita? Gimana caranya kita bisa melindungi anak-anak kita 24 jam sehari? Hal inilah yang membuat banyak istri/ibu hidup dalam kekhawatiran – kecemasan – insecure berkepanjangan dan ngga tahu gimana cara mengendalikan semua yang diluar kendalinya.
So my mom said…:”Cuma ada 1 modal di mana ibu (read: parents) bisa menjaga anak-anak dan suaminya: MODAL DENGKUL!!!” Artinya… get down on your knees and pray!
Lia MomShe still with me now.
She is 75 when I write this.
She is getting weak in terms of her memory and she doesn’t talk much because she loose so many words in her memory. Sometimes I feel sad, looking at her, remember her as a preacher and so passionate to God’s words.

I write all of this as a testimony on how fruitful her life is. And forever I will thank her for what she taught me. Yes I didn’t believe her until today…

I have to admit, every single word she taught me… All is right!

Yeaa Mom… Let’s Party! Let’s celebrate how you live your life well and how God is sooo faithful to you.

Thank you for what you guys (you and Papa) taught me and how you both support me and keep loving me. You both saw my ups and downs, my flaws and how rebellious I was… I know I was not an easy daughter to raise, but forever I Thank God because I was born from your love.

I love you Mom. I love you Dad! God be with us all.

PS: I only share 10 – tapi sebenernya masih banyak yang my mom taught me. Will write again later about it 🙂

10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (1)

I was not an easy teenager.
Today, I am old enough to have a teenager on my own, and I have a promise in my heart when I was a teenager, that I will not to agree on what my mom said, but now… life teach me so many things, and I find out, I know why I didn’t believe her back then…

Here are what my Mom taught me:

1. Jangan pacaran dulu waktu – cari temen sebanyak-banyaknya
Buat Saya, SMA adalah masa pacaran. Mau ngapain lagi di SMA kalau ngga pacaran? Cuma belajar? Waktu itu saya berpikir, saya punya mama yang super kolot. She never understand teenager nowadays. Tetapi hari ini saya melihat kebelakang, menyadari kenyataan bahwa saya kehilangan masa SMA saya. Karena pacaran – dan terlalu ekslusif, saya kehilangan bonding dengan teman-teman SMA saya. Memang pacaran di usia sangat muda bukan hal yang benar.

image12. Bergantung kepada Tuhan – semua yang kamu pegang jadi. (Mazmur 1:3)
Ini adalah omongan yang sering diulang-ulang oleh My Mom. Dia pernah berkata, mama ngga sekolah tinggi, tetapi pokoknya berjuang hidup benar, takut akan Tuhan, kerja keras dan terus berusaha, semua yang kamu pegang pasti berhasil.
Hhhhhmmmm… jujurnya, agak sulit untuk mengangguk-angguk dan dengan lapang hati bilang iya… benerrrr… tetapi hari ini saya melihat kehidupan mama saya, ia tidak kekurangan apapun. Ia hanya lulusan SMA, dan dari cerita yang saya dengar, ia paling tidak dianggap karena seluruh saudara-saudara nya pintar dan punya karier, sedangkan my mom waktu itu memutuskan ‘hanya’ menjadi seorang pelayan Tuhan.
Tetapi hari ini, saya melihat penyertaan dan kesetiaan Tuhan dalam hidupnya. Untuk kenyataan ini… saya akhirnya berkata: Yes Mom you are right about God’s providence untuk anak-anak yang mengasihiNya.

3. Kamu pasti akan benci Mama sekarang, nanti satu hari kamu akan bersyukur mama pernah paksa kamu melakukan ini – itu.
Ini sering banget diucapkan kalau saya lagi ngambek ngga mau les piano. Saya ingat satu siang saya dibangunkan dari tidur siang saya, dan disuruh les. Rasanya pengen ngamuk se ngamuk-ngamuknya. Tetapi my mom selalu bilang: Kalau kamu bisa musik kamu ngga pernah patah hati! Hahahahah… waktu itu saya ngga ngerti maksudnya. Tetapi melihat hidup saya ke belakang, yes… music become my hiding place when I feel sad. Especially now with praise and worship experience, I really feel close with God. Again… yes.. I am grateful I can play piano and have a good harmonization because of what I learn.

4. Dicoba dulu – baru memutuskan suka atau tidak!
Kata-kata ini kayak bisa audible sampai saat ini. Suara my mom yang kesel tiap kali saya pasti meringis kalau disuruh mencoba makanan baru. Tapi rasanya omongan ini bukan cuma bukan makanan. Dalam hidup kita, banyak hal yang harus kita berani coba dulu, baru memutuskan kita suka atau tidak. Karena kalau kita ngga coba, darimana kita tahu bagaimana perasaan/pendapat kita tentang sesuatu? Mencoba membuat kita kaya akan hal baru yang belum pernah kita coba. And if it turns out we don’t like it, or we fail… it’s ok! Kita 1 tahap lebih kaya dari sebelumnya, karena pengalaman/pengetahuan kita bertambah. So Mom… again… yeaaaa… you right!

5. Kamu musti lihat dunia, dunia begitu luas, kamu akan belajar banyak!
Pasti ngga percaya. Mainan masa kecil saya itu: RISK. Mainan Risk adalah mainan strategy board game of diplomacy, conflict and conquest. Bayangin anak 5 tahun sudah dikasih mainan itu… hahaha… but I believe she just didn’t understand about the game. She just wanted me to get familiar with the world. No wonder today I have weird interest to map.
Hari ini saya selalu punya mimpi untuk melihat dunia, bertualang, berbagi diri dan karya dengan sesama di luar sana. Belajar banyak hal dari dunia dan saya percaya itu juga tangan Tuhan yang mau mengajarkan saya.
Saya selalu berkata pada adik-adik single… widen your horizon, see the world! and thanks Mom for make me a woman who has a dream through your sharing about the world. My mom ngga punya kesempatan untuk banyak melihat dunia di mana mudanya. Tetapi saya percaya itu jadi mimpi nya yang ia turunkan kepada anak perempuannya. Hari ini di masa tuanya – ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia bersama Papa saya. Again I learn… never stop dreaming and when you put your trust in God, HE will make all your dreams come true.

to be continued… 10 Things My Mom Told Me … And I didn’t believe Her (2)

 

Cinderella’s Mom and My Mom: I think They Are BFF

 

“Have courage and be kind.” (Cinderella’s Mom)
“Jangan takut kalau kita benar, tetapi musti tetap ingat kasih Tuhan.” (my mom)
Years ago, when I was a little girl, someone gave the same message like what Cinderella’s Mom said. It was not the exact word, but it had same deep meaning. That someone was my mom. She always teaches me to a woman with courage, stand for what its right, do what its right, but always have a kind heart full of forgiveness, and hope on other people, situation, but especially on myself.
“I believe in everything,” (Cinderella’s Mom)
“Percaya hanya kepada Tuhan, maka semua yang kau pegang akan berhasil” (my mom)
I remember one day, I came home from school on my elementary years. I was crying that day because I failed one exam, and then I told my mom that I couldn’t do it, it’s too difficult… I remember she said this: “Believe in God in all you do. When you put all your trust in God, you can believe in everything. Study hard, work hard. Don’t loose hope because when you put your trust in God… you will see all that He will make your path straight.
“Just because it’s done, doesn’t mean it should be done.” (Cinderella)
“Being a woman, a wife, a mother, even an MD, it is not and never be a carrier. It always be a calling and expect to find a hard time to live your calling. But don’t worry, God be with you. Our actions are everything. Make them kind actions, and we will change the world.” (my mom)
I remember the day I decided to enter the medical school – my mom said… “If you want to be a medical doctor for your wealth and richness, you better cancel your decision now. Because medical doctor is not for become rich in term of money and name, it is a calling.”
I think my mom and Cinderella’s mom are BFF 🙂
They taught me and Cinderella almost the same thing 🙂
She teaches me how to be a kind, strong, full of hope, courage, sensitive to other’s needs. Most of all she shows me her love and faith to God and it is a living testimony of her life that I live now.
I am not Cinderella even though I married a Prince Charming too… (*wink* to hubby)
I am my mom’s (and dad’s) daughter.
I live their legacy.
If there is something good in me it must be because God love me soooo much so He gave me my mom, my dad, my brother, my husband, and my community that I can learn so much to be a better woman every day.
It’s a compliment to Mother Mary too because She is the source of example for us all as a woman, wife, and mother.
It’s my love to my dad – because his love to my mom, without my dad’s love, my mom would never be like she is now.
It’s my huge appreciation to my mother in law… Her love, her strength, her faithfulness, her never ending prayers for my husband (and me) make my husband be the man who know how to love God, love his wife, and being an inspiration to many people.
It’s a group hug for all mothers out there… Cordisian’s mom, and all my BFF out there… Like Cinderella’s Mom said: “Magic, believe in magic.” … yes let’s make magic through our faith in God and together we will see the magic God will shows us 🙂
lia mom explorenow15
This to the one and only Mom I have…
Forever I will live your legacy as a mom, and forever I will celebrate life you (and dad) gave me.
Now other words can describe how lucky I am to be your daughter.
My prayers always be with you.
I love you Mama…
Indonesian Mother’s Day, 3 days before Christmas 2015.

 

It’s Not The End… It’s A Beginning (3)

Perkiraan lahir janin ini adalah 20 Maret 2012. Ninu berharap anak yang dinantikan ini lahir di tanggal 13 Maret karena itu akan sesuai dengan nama Santa pelindungnya.
Yessss… seorang Santa, karena anak ini adalah seorang perempuan. Another warrior princess will come to the world in the world will coming in a matter of days.

Waktu perkiraan lahir lewat, dan belum ada tanda-tanda mules sedikitpun, saya mulai kuatir dan terus bertanya pada Ninu: “Lu ngga cek?” atau “Belum mules juga?”
Sempat terbersit dalam pikiran saya, mungkin memang Ninu tidak terlalu mengharapkan terjadi proses melahirkan yang cepat karena dengan begitu ia tahu ia punya waktu lebih banyak lagi bersama dengan anak ini. Entar benar atau tidak, tapi kalau saya ada di dalam posisinya, mungkin saya akan melakukan hal itu.

Sampai saatnya benar-benar tiba, begitu cepat karena diputuskan untuk melakukan operasi Caesar karena sudah melewati 42 minggu kehamilan dan anak ini masih dalam posisi melintang. Malam itu kami mengajak Rm.Nugie SJ untuk berdoa bersama, memberikan kekuatan dan bersatu hati memohon kekuatan dan rahmat Tuhan. Sebelum pulang saya memeluk Ninu dan berkata: “Besok, satu tahap lagi dalam hidup elo akan elo alami. Welcome to motherhood”

Keesokan harinya, 3 April 2012,  saya dan suami menunggui Ninu menjalani operasi Caesar bersama seluruh keluarga besar Bim dan Ninu serta seorang sahabat Ninu. Tidak lama setelah operasi dimulai, terdengarlah suara tangisan bayi yang keras. Suara tangisan seorang bayi yang keras, terdengar sampai ruang tunggu, tangisan ini seolah ingin mengatakan lepada dunia: “Heyyyyy… saya hiduppppp!!!”

Segera setelah bayi ini disiapkan dan dimasukkan ke dalam inkubator, Rm. Nugie langsung mengadakan upacara pembabtisan, sebuah upacara yang mengklaim anak ini sebagai anggota kerajaan Surga. Saat Romo berkata: “Grace Gloria, aku membabtis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.” Saat air pembabtisak diteteteskan di dahi bayi mungil ini, tidak ada satupun, baik malaikat maupun penguasa, baik ancaman sekarang ini maupun ancaman di masa yang akan datang, baik yang di langit maupun di bumi, baik kematian maupun kehidupan, semuanya itu tidak dapat mencegah Allah untuk mengasihi anak ini, dan air pembabtisan membuat anak ini tidak terpisah dari cinta kasih Allah. (Roma 8:38-39).

Betapa seluruh isi Surga bersuka-cita atas peristiwa ini. Yes, her name is Grace Gloria. Hellooowww every one… please welcome Grace Gloria (*yaaayyyyyyyy*) : a warrior princess who were born from a warrior mom, and has a dad with a brave heart. From God Grace comes and to God be the Glory. So proud for the three of you!

Ini adalah tanggapan saya terhadap pengumuman kelahiran yang di posting sang Papa di FB nya: “Hari ini telah lahir Grace Gloria. Seorang anak pejuang kehidupan. Karena berkatNya kami dikuatkan. Dan untuk kemuliaan Tuhan-lah ia hadir.”

Grace Gloria adalah seorang bayi yang sangat cantik, kulitnya putih dan mulus, bibirnya merah merona, tubuh kecilnya gempal menunjukkan jelas dia putri siapa (hehehe… tanpa bermaksud fisikkk lho yaaa…) hanya kepalanya saya tertutup oleh kain putih steril untuk melindungi bagian kepalanya yang terbuka. Dengan kondisi seperti ini, siapa yang menyangka dia adalah seorang bayi dengan kondisi anencephaly? Dia begitu cantik. Bagi saya… dia sempurna!

Di tempat yang lain, Ninu sang Mama sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Ninu menggigil kedinginan sampai ia harus memakai selimut penghangat dan masih terlihat lemah saat saya masuk. Tetapi di mata yang sayu saya melihat pancaran lain dari mata itu. Pancaran kemenangan dan kekuatan dari cinta yang mengalahkan teori apapun yang dikatakan,  bahkan mengalahkan maut. I don’t know, maybe it’s just me, tetapi kenyataan bahwa bayi perempuan ini hidup adalah sebuah tanda kemenangan.

Melihat kondisi Ninu, saya kembali merefleksikan panggilan saya sebagai seorang perempuan. Siapa yang berani mengatakan perempuan lebih lemah dari pada lelaki saat melihat kondisi seperti Ninu saat ini. Tetapi hal ini juga meningatkan saya akan pengertian yang saya dapatkan, yang membebaskan saya dari kebohongan feminisme.
Why woman have to fight for equal right with man? Apa yang mau disamakan? Perempuan dan laki-laki adalah dua jenis manusia yang berbeda dan unik, dengan panggilannya masing-masing. Di atas meja operasi, di saat seorang perempuan menyabung nyawa untuk kehidupan, memberikan rahimnya sebagai tempat kehidupan, memberikan payudaranya untuk mempertahankan kehidupan, atau memberikan seluruh hari, hati, dan perhatiannya untuk membesarkan manusia-manusia yang lebih baik daripada dirinya sendiri… di situlah letak kekuatan seorang perempuan yang tidak dapat dipertanyakan apalagi diragukan lagi.
Melihat Ninu hari itu membuat saya amat sangat bersyukur atas keberadaan saya sebagai seorang perempuan.
Yes, woman… we are the crown of creation. Don’t let the devil take away that truth from you!

Minggu itu adalah hari-hari dalam pekan suci. Hari-hari di mana kita sedang mempersiapkan diri turut berjalan bersama dengan Tuhan  Yesus di jalan salibNya. Bagi saya, Grace memberikan makna yang mendalam di pekan suci tahun ini.

Setelah mulai libur hampir tiap hari saya dan suami saya mampir ke RS untuk melihat perkembangan Grace. Ninu dengan senang bercerita kalau Grace minumnya banyak. Bimo dengan bangga bercerita bagaimana Grace tidak bereaksi dengan baik saat diputarkan lagu anak-anak seperti Twinkle-Twinkle Little Star, tetapi saat dipasangkan lagu Erat Dengan HatiMu yang kata-katanya:

“Betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadianku.
Kau menenun diriku serupa gambaranMu.
Sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku.
Kau membawa hatiku mendekat, erat dengan hatiMu.”

Saat lagu ini dipasang, Grace bereaksi dengan baik, kadang kepalanya mengangguk-angguk seperti meng-amin-kan kata-kata lagu ini.
Oh Grace… I learn a lot from you.
Bagaimana bersuka-cita dan bersyukur apapun keadaanmu.

A big (and old *sighhhh*) girl like me has to learn how to have a simple heart like you.

It’s definitively not the end… It’s a beginning of a life’ celebration

To be continued: Triduum: From Suffering to Victory

Let Go The Need to Know Why… But… WHY??? (1)

I live for 39 years this year.
I met so many great people.
Sometimes the acquaintance happens so short, I have not even have time to breathe perfectly.
This is the story of my encounter with one tiny little girl, that the world sees her not perfect not even perfect being born.
Yes, this is the story of my encounter of one great person.

Saya ingat di suatu malam, saya sedang beristirahat di kamar. Suami saya Riko pulang dari pertemuan dengan sepasang suami istri sahabat kami, yang juga partner bisnis suami saya. Waktu itu saya menolak ikut karena badan rasanya tidak bisa diajak kompromi untuk berbagi waktu dengan mereka.
Begitu masuk kamar, suami saya berkata bahwa Bimo dan Ninu, nama pasangan suami istri itu akan segera punya anak. Ninu sedang hamil di sekitar minggu ke-20. Saat itu saya kaget, kok saya ngga tahu… tapi melihat karakter saya, kadang semua berlalu tanpa sempat saya perhatikan dan cerna. Ahhh… Lord have mercy on me… kadang saya putus asa dengan sifat cuek saya yang kadang keterlaluan.

Tetapi yang membuat saya terdiam saat itu adalah kenyataan bahwa sepasang sahabat kami itu menceritakan, bahwa anak dalam kandungan Ninu mengalami satu keadaan yang dinamakan: anencephali. Anencephali adalah keadaan di mana janin mengalami gangguan pertumbuhan organ otak sehingga sebagian besar jaringan otak dan tempurung kepala janin tidak terbentuk. (http://www.anencephaly.net/).

Mengenal Bimo dan Ninu, yang juga adik kelas saya di Fakultas Kedokteran, saya langsung bertanya dalam hati saya: “Why them Lord? Why?” dan setelah itu saya Cuma bisa terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak menyangka dengan sifat ke-cuek-an saya, informasi seperti ini bisa menimbulkan dampak yang besar sehingga saya sulit sekali rasanya mencerna berita ini. Boro-boro mengunyah, menggigit saja rasanya tidak mampu karena kenyataan yang begitu keras dan tidak adil.


Saya melihat ke diri saya yang sampai hari ini belum dikaruniai anak (read: https://whittulipe.wordpress.com/2011/12/21/with-god-nothing-such-mission-impossible-a-reflection-of-one-barren-woman/), dan saya sedikit banyak mengetahui kehidupan sepasang suami istri ini, kami belum jadi orang-orang suci, kami bukan orang sempurna, tetapi kami juga bukan penjahat/ pembunuh. What have we done so we deserve this? It’s really unfair! Sedang saya mengingat orang lain yang pernah melakukan aborsi karena hamil sebelum menikah, sekarang sudah mempunyai anak yang lucu dan sehat. Dengan pengetahuan dan otak saya, dengan pengertian dan niat saya selama ini, I learn to let go the need to know why, especially things like this. But really, I was really so tempted to ask, even to shout protest. Saya benar-benar perlu belas kasihan Tuhan untuk bisa mengerti semuanya ini.

Malam itu saya mengakhiri hari dengan menuliskan e-mail kepada Bimo dan Ninu. Saya menuliskan e-mail ini untuk mereka:
Dear Bim and Ninu,
Gw baru dapat kabar dari riko 2 hal.
1. Gw baru tahu… Sumpehhhh… Kl Ninu udah hamil bahkan sudah cukup lama kayaknya. Mohon maappp gw bukan org yang perhatian hehehe… Jd gw baru tahu kalau Ninu hamil.
2. Tapi agak kaget juga pas beritanya adlh anak kalian diagnosa anencephaly.
Salut mendengar kalian begitu ‘tenangnya’ sdgkan gw yg mendengarkan saja sudah berurai air mata dan speechless… And yes… Berasa ngga adil.
Anyway gw msh mengolah berita ini juga sambil coba browsing.

Segini dulu, yang pasti doaku bersama kalian.
Ntar sambung lagi ya kl ud bisa mencerna dgn lebih benar.

 
Ketika kita mendengar sesuatu terjadi di luar kuasa kita, dan kemudian kita tahu bahwa kita tidak bisa apa-apa, bahkan Bim dan Ninu yang dua-duanya dokter tidak bisa mengubah keadaan anencephali ini,  rasanya kata-kata penyemangatan seperti: It’s ok everything’s gonna be okay, atau Tuhan akan membuat sesuatu indah pada waktuNya, atau jangan takut Tuhan bersama kita tidak bisa keluar dari mulut ini. Kebenaran yang telah teruji selama ribuan tahun bahkan tidak mampu saya katakan karena misteri yang tidak bisa saya mengerti.

Life is a mystery, everyone must stand alone. I really want to know what’s God’s plan right away, but I know it for sure all I have to do was get down on my knees and pray.

Katanya… Tuhan hanya sejauh doa!

To be continued: The Roller Coaster Lifelogy

With God Nothing Such Mission Impossible (A reflection of one barren woman)

Nama saya Lia Brasali Ariefano.
Saya terlahir dengan nama Elizabeth Lia Indahyani.
Saat saya menulis ini, saya sudah menikah selama 7 tahun 6 bulan.
Sampai hari ini saya belum mempunyai anak.
Secara kedokteran keadaan ini dinamakan infertilitas.
Atau… Dunia mengatakan saya: M A N D U L.

Saya mengerti mengapa Sara tertawa saat ia mendengar Allah melalui malaikatnya memberi tahu Abraham bahwa ia akan mengandung.
Kitab Lukas menceritakan bahwa Elisabet juga akan mengadung. Malaikat Tuhan juga datang ke suaminya Zakaria, mengatakan bahwa istrinya yang telah mati haid dan dirinya yang sudah tua itu akan mendapatkan seorang anak laki-laki dan mereka hendaknya menamai anak itu Yohanes.
Tidak ada kata-kata pahit yang keluar dari mulut mereka. Tetapi saya yakin sebagai seorang perempuan yang mengerti kodrat keperempuanannya, naik turun perasaan di cap sebagai perempuan mandul, pasti membawa Sara dan Elisabet pada godaan untuk bertanya: “Bagaimana mungkin?” Kalau bahasa sekarang ini kayak Mission Impossible hehe..

Advent berasal dari bahasa Latin Advenīre (ad- to + venīre to come) yang berarti kedatangan atau akan tiba terutama untuk seseorang yang dinanti-nantikan.
7 tahun lebih saya dan suami saya menanti-nantikan kedatangan seorang anak, buah cinta kami berdua. Saya bukan seorang yang suka anak kecil. Bahkan ada masanya saya berpikir tidak ingin mempunyai anak karena hanya merepotkan dan menghalangi kebebasan serta karir saya. Tetapi rahmat Allah membawa saya pada sukacita kebenaran yang membuat saya menanti-nantikan berapapun anak yang Tuhan mau titipkan pada kami berdua. Bahkan saya pernah menginginkan anak minimal 4 dalam keluarga kami hehehhe…
Kenyataannya hari ini… boro-boro 4, satu kepalapun belum hadir dalam rahim saya. Kadang saya berpikir apa ini ganjaran dosa saya karena pernah berjanji dalam hati saya untuk tidak mempunyai anak?

Mandul atau barren berarti unfruitful / unproductive,  lacking in liveliness or interest.
Hhhhmmmm… menurut definisi, itulah kondisi saya hari ini. Tidak heran banyak perempuan yang begitu tertekan dengan keadaan ini.
Tidak heran Sara merelakan dirinya dimadu supaya suaminya bisa mendapatkan keturunan yang sangat penting secara adat istiadat.
Tidak diceritakan secara detail pergumulan apa yang dilalui Elisabet. Tetapi kedudukannya sebagai seorang istri dari imam yang terpandang, pasti memberikannya tekanan tersendiri.

Dinilai tidak mampu berbuah atau tidak produktif adalah suatu rasa yang seakan merobek keberadaan diri ini, melecehkan keperempuanan kita, dan membuat kita (atau untuk saya paling tidak) merasa menjadi istri yang tidak ‘berguna’.

Tetapi rahmat Allah yang Maha Tinggi membentuk hidup saya dengan cara yang tidak pernah saya pikirkan dan bayangkan karena dengan rahmatNya, sekali lagi… hanya dengan belas kasihan dan kemurahanNya, setiap hari terasa seperti Advent buat saya.
Saya merindukan kehadiran anak, sama seperti perempuan-perempuan lain, tetapi hari ini kerinduan itu tidak lagi terasa menyakitkan, tetapi malah membebaskan saat mengetahui bahwa panggilan keperempuanan saya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tubuh ini mengandung dan melahirkan seorang anak.

Panggilan keperempuanan saya menjadi penuh saat saya mampu menerima kasih Tuhan, membuka hati saya untuk dicintai Allah habis-habisan.
Panggilan keperempuanan saya menjadi nyata, saat saya melahirkan buah-buah dari kasih Tuhan itu melalui apa yang menjadi misi hidup saya.
Panggilan keperempuanan saya menjadi hidup saat kasih Allah yang saya terima kembali saya bagikan kepada orang-orang di sekeliling saya dalam bentuk karya.
Kalau hari ini saya belum dikaruniai seorang Anak, itu bukan karena dosa/kutuk/ganjaran atas apa yang saya lakukan. Saat saya kembali kepada Tuhan dan mohon ampun, saya percaya Dia Allah yang tidak pernah meningat-ingat dosa saya. Suami saya selalu member ikan analogi Allah yang sudah membuang dosa kita jauh ke dasar lautan yang paling dalam dan memberikan tonggak tulisan” “Dilarang Memancing!”
Tetapi saya percaya dengan hati yang penuh (ini juga proses yeee… hehehe) kalau hari ini saya belum mempunyai anak yang lahir dari kandungan saya, saya merasa saya sudah mempunyai banyak anak.
Yes, for me I feel that the calling of motherhood is not just defined by biological mother.

My third baby

Saya merasa hidup dan berbuah saat saya ada di tengah komunitas yang Tuhan berikan kepada saya untuk menjadi tempat berbagi. Ada di tengah-tengah orang-orang yang terus mendukung saya untuk mengeluarkan the best of me.
Saya merasa begitu bergairah dan produktif saat saya ada di ruang kuliah, di laboratorium, atau di ruang belajar saya. Detak jantung saya begitu keras ingin memberikan tanda yang begitu hidup dan sooo alive,  saat saya membayangkan suka cita dan harapan apa yang dapat saya bagikan untuk kemanusiaan  melalui ilmu yang saya pelajari ini.
Saya merasa begitu sempurna, setiap kali hati saya disentuh oleh cinta Tuhan melalui kehadiran suami, orang tua, adik, para Cordisians, juga begitu banyak sahabat yang mengasihi saya.

Ada kata pepatah lebih baik dicintai daripada mencintai tanpa balasan. Benarkah begitu? Karena tidak banyak perempuan yang dapat menerima cinta walaupun sepertinya menerima cinta terdengar mudah. Merasa dicintai tidak akan pernah terpuaskan sampai hati ini dibentuk dan dipulihkan terlebih dahulu oleh rahmat dan cinta Tuhan yang sempurna.

Melalui apa yang ada hari ini dalam hidup saya, tidak ada kata lain yang saya dapat ucapkan selain:  Syukur kepada Allah.
Kemandulan ini membuat setiap hari menjadi Advent buat saya.
Keadaan ini membuat dari waktu ke waktu saya melihat bahwa kuasa Allah lebih besar daripada kelemahan kita.           This “mission impossible”  (yaitu membuat saya menjadi hamil hehehe…) mengajarkan saya menjadi seorang perempuan yang penuh iman kepada Allah dan menjalankan iman saya tanpa back up plan. Yes, no back up plan!

Yes, again… My name is Lia Brasali Ariefano.
Saya terlahir dengan nama Elizabeth Lia Indahyani.
Saat  menulis ini, saya sudah menikah selama 7 tahun 6 bulan.
Dengan belas kasihan Tuhan saya menerima kasihNya.
Melalui rahmat Allah yang maha Tinggi, Ia mengubahkan dan memperbaharui hati saya.
Terlalu sering dunia mengatakan saya bodoh karena ikut Tuhan dan mau belajar hidup sesuai dengan perintah Tuhan melalui ajaran gereja.
Saya percaya… iman saya kepada Tuhan yang terus mau belajar berharap akan membuat suatu hari nanti dunia menyebut saya:  YANG BERBAHAGIA.

Bersama di dalam Tuhan, Ia akan menjadikan kita seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah dan yang tidak layu daunnya. Saat itu dunia akan melihat keajaiban dan sorak sukacita akan memenuhi hati banyak orang karena tahu kemandulan bukan sebuah mission impossible bagi Allah kita.
Merry Christmas to all ‘barren’ woman out there,
With the love of Jesus we are never barren in His sight.
We are woman with special plan from God.
With God nothin’ such Mission Impossible, cause anything is possible!

Mother and Mary

Mother and Mary

A reflection of mother’s day and mother Mary

“Mama ada?”

Itu pertanyaan pertama saya setiap kali saya pulang sekolah dan menginjakkan kaki di rumah kembali. Saya menanyakan itu setiap kali saya harus pulang sendiri/ dijemput dari sekolah oleh orang lain selain mama saya. Hari ini, bila saya mengingat kembali perasaan saya bila pertanyaan saya dijawab: “Ada.”… ada rasa hangat dan aman mengetahui mama saya ada di rumah.

Di masa puber dan menjelang dewasa, begitu banyak perselisihan dan pertentangan yang terjadi antara mama dan saya. Semua terjadi hanya karena pertentangan semua kehendak baik. Mama ingin yang baik dan benar terjadi dalam hidup puterinya, dan saya merasa sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan benar untuk hidup saya.

Hari ini, 6 ½ tahun pernikahan saya. 6 ½ tahun menjadi seorang istri, saya mulai mengerti apa yang dilalui oleh mama saya. Saya (mulai) mengerti apa artinya menjadi seorang ibu, biarpun saya belum dikaruniai seorang anakpun. Semuanya itu membawa saya pada sebuah refleksi indah di pertengahan antara hari ibu kemarin dan hari Natal besok lusa.

Do you know this song? Let’s read slowly what the lyric says:

Mary, did you know
that your Baby Boy would one day walk on water?
Mary, did you know
that your Baby Boy would save our sons and daughters?
Did you know
that your Baby Boy has come to make you new?
This Child that you delivered will soon deliver you.

Mary, did you know
that your Baby Boy will give sight to a blind man?
Mary, did you know
that your Baby Boy will calm the storm with His hand?
Did you know
that your Baby Boy has walked where angels trod?
When you kiss your little Baby you kissed the face of God?

Mary did you know..
The blind will see.
The deaf will hear.
The dead will live again.
The lame will leap.
The dumb will speak
The praises of The Lamb.

Mary, did you know
that your Baby Boy is Lord of all creation?

Mary, did you know
that your Baby Boy would one day rule the nations?
Did you know
that your Baby Boy is heaven’s perfect Lamb?
The sleeping Child you’re holding is the Great, I Am.

Saat saya membaca lirik lagu ini, saya membayangkan, apa yang terjadi saat Bunda Maria didatangi oleh Malaikat Gabriel.

Seorang gadis lugu, muda, yang mungkin sedang begitu excited nya menyiapkan pernikahan karena ia sudah ditunangkan dengan seorang pria. Tetapi dalam sekejab, semua berantakan ‘hanya’ karena malaikat yang memberitakan sebuah ‘berita gembira’. Saat itu dengan ketaatan dan ketulusan hatinya Maria mengatakan YA pada kehendak Tuhan atas dirinya. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah pada ku menurut perkataanMu.” Ohhh Mary did you know…

Apa jadinya kalau saat itu Maria mengatakan tidak kepada kehendak Allah yang ingin dinyatakan dalam hidupnya.

Hari ini kita tidak menyapanya dengan panggilan mother Mary.

Saat ini kita (mungkin) masih ada dalam rentetan hukum taurat yang mengikat kita.

Yang paling parah adalah… detik ini kita belum diselamatkan dari semua dosa kita.

Apa jadinya kalau saat itu (37 tahun yang lalu), my mom said NO to my presence at her womb?

Tidak pernah akan ada seorang Elizabeth Lia Indahyani Brasali, yang ‘ditemukan’ oleh seorang Josef Riko Ariefano my hubby.

Tetapi jalan seorang ibu bukanlah jalan yang terus menerus dipenuhi oleh gemerlapan bintang dan indahnya panggilan seorang keibuan.

Tanya saja pada Priska Lia bagaimana rasanya saat melahirkan Mika kira-kira 2 bulan yang lalu.

Ingat-ingat bagaimana pergumulan mual Anast waktu hamil Celine dan Ika saat ini.

Belum lagi gimana menghandle Jovan yang sudah mulai punya pendapat dan kemauan sendiri.

Saat-saat di mana anak-anak sakit dan membuat para ibu dan ayah tidak tidur dan gelisah melihat anak mereka sakit.

Saya mengingat bagaimana mama saya menangis waktu harus menghadapi anak-anaknya, saya dan adiknya memberontak di masa puber kami.

Apa rasanya saat Ayah Josef dan Bunda Maria, sudah berjalan demikian jauh, kemudian menyadari anaknya hilang, mereka berjalan berkilo-kilo meter… hanya untuk mendapati anak mereka mengatakan: “Kenapa engkau mencari Aku, bukankah Aku harus tinggal di rumah BapaKu?” (*ggrrrrrr* kalo itu anak gw, udah gw jitaakkkkk! J)

Tetapi saat itulah seorang ibu memperlihatkan cinta yang tidak ada batasnya.

Seperti Bunda Maria menyimpan semua dalam hatinya, banyak Ibu yang melakukan ini.

Saya tahu, mama saya menyimpan banyak perkara dalam hatinya, dan terus berdoa untuk suami, kedua anaknya, dan saat ini, kedua menantunya.

So today, two days after Mother’s Day, and it’s Chrismast eve!

Let’s celebrate the calling of a motherhood.

Be thankful for our mothers.

I am grateful to be a woman.

And Mary did you know? Thank you Mother Mary because you took all the risks and you said yes to God’s will and you brought Jesus to all of us.

Mother and Mother Mary.

I am so proud of both of you.

Pray for me Mother and Mother Mary, so I can be a woman after God’s own heart.

From My Closet: I Wish for Four, now I still have Zero

Waktu saya di bangku SMA, saya pernah berjanji dalam hati, saya tidak mau hidup saya dibebani dengan makhluk-makhluk kecil yang bernama: A N A K. Buat saya (saat itu), anak hanya menghalangi langkah saya untuk mencapai apa yang saya mau dalam hidup saya. Kebetulan saya juga bukan tipe perempuan yang suka akan anak dan mau dinilai orang keibuan.

Ini berlangsung sampai masa saya bekerja. Hati saya selalu berontak bila melihat kenyataan perempuan seakan-akan tidak punya pilihan. Semua kesialan, ketidak-beruntungan, bahkan ketidak-enakan selalu harus dijalani oleh perempuan. Saya percaya akan kontrasepsi, saya percaya akan pilihan-pilihan yang harus dibuat oleh perempuan, saya percaya kita perempuan bisa hidup tanpa lelaki. Satu-satunya yang belum bisa saya terima waktu itu adalah aborsi, karena biar bagaimanapun saya tahu itu adalah pembunuhan. Tapi…  kalau waktu itu saya mengalami kehamilan yang tidak saya inginkan, jangan-jangan… saya akan melakukannya juga! Who know’s…?

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan tercurah deras atas hidup saya. Lewat sebuah buku yang ditulis oleh Kimberly Hahn: Live Giving Love, pandangan saya berubah 180°, dari seseorang yang menggunakan hidup, menjadi seseorang yang belajar mencintai kehidupan.

Sejak itu ada kerinduan untuk memeluk anak-anak saya. Sampai sekarang saya masih belum bisa tahan kalau melihat anak-anak berlarian dan teriak-teriak, rasanya saya pengen menghampiri mereka dan menaruh plakban di mulut mereka dan mengikat kaki mereka (eehhh… *cartoon mode*) tetapi saya harus mengakui.. setiap kali memeluk Jovan dan Celine (anak2 dari pasangan Kusno&Anast dari komunitas kami) saya tidak bisa membohongi, ada kehangatan yang menyelimuti hati saya dan kadang tidak mau melepaskan mereka. Sejak membaca buku itu, saya selalu memimpikan 4 orang anak hadir dalam pernikahan kami.

Tahun ini kami melewati tahun ke 6 pernikahan kami. Seperti judul tulisan ini, I wish for 4 (children), tapi saat ini kami masih bertahan di angka Zero (atau nol!). Saya pernah melewati masa-masa sedih setiap kali mendengar seseorang hamil. Duluuuuu setiap kali saya bertemu dengan orang yang baru menikah, kalau ketemu kata basa-basi saya adalah: “Gimana? Sudah isi?”.. sampai saya mendapati pertanyaan itu begitu menyakitkan dan semua mata dan telunjuk seakan tertuju kepada saya dan mengatakan: “Kamu bukan perempuan krn kami tidak bisa mempunyai anak!”

Rasanya saya mulai mengerti bagaimana perasaan St.Elisabet sebelum akhirnya ia mendapatkan Yohanes.

Tetapi saya memutuskan untuk tidak menjadi pahit dengan semua ini. Saya bersyukur dengan setiap pengalaman yang boleh saya jalani. Cara pandang saya sebagai seseorang yang dulunya adalah Pro Choice, justru membuat saya hari ini makin mencintai kehidupan dan keperempuanan saya.

Kalau saya membuka diri saya buat kehidupan, saya memilih untuk terbuka pada cinta, bukan kepahitan dan kebencian.

Kalau saya memilih untuk terbuka akan berapapun jumlah anak yang Tuhan berikan kepada kami, itu karena Ia mempercayakan kehidupan yang Ia ciptakan dengan sempurna, dan Ia sumber kehidupan dan kelimpahan akan memberikan dan mencukupi segala keperluan kami.

Kalau kami hari ini belum diberi satupun kehidupan, saya percaya ada hal lain yang harus kami kerjakan, dan membuat cinta kami tetap berbuah, berkelimpahan, dan menjadi berkat buat siapapun yang ada di sekeliling kami.

Beberapa waktu lalu saya nonton acara Oprah dengan The big family of Osmond.  Dari sepasang George dan Olive Osmond, mereka terbuka pada 9 anak yang diberikan kepada mereka, dari 9 anak, hari ini ada 55 cucu dan 48 (dan terus bertambah) cicit. Mereka berhasil mendidik anak-anak mereka dengan cinta dan terus hidup rukun sampai sekarang.

Waktu saya mendengar cerita ini, hati saya diliputi kehangatan, betapa cinta lebih besar dari apapun dan mampu mengalahkan apapun.

So, I was living my pro choice life with many (individual, egoist, and full of hate) choices.

I wish for four and we still have zero now! But we never doubt of whatever God has plan for us.

As we open ourselves to life He will create, we believe He will open the heaven’s door for us. Assuring that we will have the strength, the love, the blessing, the wisdom, happiness and everything we’ll need.

Yes I wish for Four and yet we still have Zero, but we believe if we generous enough to give our life, HE will give fo(u)rever generosity to us and you!

Womanhood: The Magnificent Power of Giving

Dear Woman of God,
Especially Mothers out there

silhouette-woman-on-grunge-splatter-thumb4609404Beberapa minggu lalu saya menghadiri misa 40 hari kepulangan adik Maria Skolastika Dewi Kinanti yang meninggal dalam kandungan ibunya, hanya 1 mgg sebelum kelahirannya di dunia (menurut jadwal).

Adik ini bernama Dewi Kinanti, karena ia adalah seorang Dewi kecil yang dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga, ayah bundanya dan ke 4 kakak lelakinya, karena ia akan menjadi ratu kecil dalam keluarga setelah bertahun-tahun bundanya menjadi satu-satunya ratu dalam keluarga. Ayah Bunda adik Maria kembali mensharingkan pengalamannya, dan saya masih meneteskan air mata.

Air mata sedih? Mungkin ya, tetapi lebih banyak air mata luapan hati saat menyadari kewanitaan saya dan menyadari arti menjadi Ibu.

Saya belum menjadi Ibu, saya tidak tahu kapan saya diberkati rahmat bisa menjadi ibu, tapi saya tahu satu hal ada kekuatan cinta yang tidak terbendung saat seorang wanita menjadi seorang Ibu. Wanita menjadi wanita yang sangat kuat saat ia menjadi seorang Ibu. Kekuatan yang mampu mengalahkan dunia dan si jahat karena cinta yang begitu besarnya.

Wanita berasal dari kata latin femina, yang berasal dari akar kata yang mengacu pada kata ‘breastfeeding’ atau menyusui. Menyusui adalah satu proses nurturing yang dilakukan secara alamiah oleh sang ibu sejak hari pertama kelahiran anaknya. Menyusui selalu menjadi aktivitas pemberian diri untuk hidup sang anak. Hari gini emang sudah banyak susu botol, tapi itu tetap susu sapi, dan susu ibu adalah yang terbaik.

Wanita tercipta dari menerima. Sehingga hakekat awal kewanitaan adalah menerima. Wanita tercipta dari daging dari daging ku dan tulang dari tulang ku kata Kitab Suci, dan karena kemampuan wanita menerima cinta inilah, ia kemudian dapat memberikan keseluruhan dirinya untuk kembali mencintai.

Masalahnya… si jahat selalu memakai segala cara untuk menggoda wanita, dari sejak awal penciptaan melalui ular yang menggoda Hawa. Si jahat tahu bahwa dari wanita yang mampu menerima kasih Allah secara utuh akan tercipta kekuatan yang luar biasa karena lewat menerima ia akan memberi dan menciptakan manusia-manusia baru yang mengerti arti kasih dan mampu mencintai kembali.

Hati manusia selalu rindu diisi oleh cinta. Tetapi luka, dosa, trauma, kegagalan dan banyak masalah yang menimpa hidup, membuat hati manusia menjadi banyak bocor di sana-sini. Sehingga berapapun cinta yang masuk ke dalam hati itu rasanya tidak pernah cukup karena hati itu bocor di sana-sini.

Wanita membutuhkan hati yang penuh dengan kasih karena ia harus memberikan dirinya kepada sekelilingnya, sehingga hati wanita harus penuh oleh cinta supaya ia bisa melakukan dan menghayati panggilan kewanitaannya dengan suka cita dan memuliakan Tuhan.

Rahim hanya ada di tubuh wanita. Sehingga panggilan untuk melahirkan anak hanya diberikan ekslusif kepada wanita.

Ini karena hakekat wanita yang sejak awalnya adalah menerima pembuahan, dan kemudian karena ia telah menerima cinta, ia mengandung buah cinta tersebut dan kemudian melahirkannya dan memberikan seluruh tubuh bahkan kehidupannya kepada anak yang dilahirkannya.

Mungkin ini yang disebut oleh kasih Ibu tiada batas.

Seharusnya bila hidup kita dipenuhi oleh cinta, tubuh ini siap untuk terus menerima cinta Tuhan dan terus mau member dan berbagi dengan kemurahan kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita.

Dan saat itu lah tubuh kita, hidup kita, seluruh keberadaan kewanitaan kita bukan milik kita lagi, tetapi menjadi milik sang pencipta yang telah memanggil kita menjadi wanita sejak awalnya.

Melihat sang bunda yang mensharingkan bagaimana melahirkan buah hatinya yang sudah ia ketahui meninggal, hanya 1 minggu sebelum kelahirannya membuat hati saya bergetar.

Saya pernah membantu kelahiran seorang ibu dengan anak yang meninggal di dalam kandungannya, dan saya membayangkan… bagaimana rasanya.

Tetapi dengan ketabahan dan cinta yang penuh sang bunda ini melahirkan cinta dan memberikan seluruh dirinya, melakukan yang terbaik sampai kapanpun ia bisa lakukan. Itulah arti seorang ibu.

Katanya anak adalah titipan Tuhan, itu sebabnya kita tidak bisa berbuat apa2 saat sang empuNya memanggil kembali seorang anak dengan 1 tujuan, mencintainya secara penuh dan dengan kasih yang sempurna.

Anak itu titipan Tuhan itu sebabnya kita sepertinya tidak mempunyai ‘hak’ atas seorang anak, tetapi punya kewajiban penuh untuk mendidiknya sebaik mungkin karena ia dititipkan sang pencipta dalam perlindungan kita di dunia.

Waktu saya melihat ini, saya memahami apa artinya “Mencintai sampai terasa sakit” seperti yang Ibu Teresa katakan.

Dan semua ini hanya bisa kita lakukan bila kita dipenuhi oleh cinta Tuhan.

Dengan ini semua, bersyukurlah karena kita semua diberkahi kekuatan yang luar biasa untuk menjadi seorang wanita. Kekuatan yang di luar apa yang kita bayangkan. Magnificent Power of Giving (=Loving).. that’s what we are!

Let’s rejoice for everything.

We are called to be a woman. And believe me… It’s not without a purpose.

Let’s celebrate our womanhood, let’s give and share the love we already received from Him.

Dedicated to all great women I know,
Esp: Mother Mary, Mbak Devi (thanks for your generosity to life), Mbak Sandra, Aunt Linda and My Mom(s)
Thanks for the inspiration of your womanhood to me
Witnessing your life makes me proud to be a woman!