My Stars of Life… Yes, Something Called Friendship

Hati ini terasa tumpul.
Rasanya tidak ingin lagi memberikan kesempatan pada hati ini untuk percaya dan merasa lagi pada sesuatu yang bernama persahabatan.

Hati ini marah.
Sekali lagi saya membiarkan diri ini melangkah untuk mencintai, dan mendapati… cinta itu disalah-artikan.

Hati ini memutuskan.
Untuk tidak menjadi seseorang yang ‘kepo’ mau tahu urusan orang lain. Biarpun saya tahu… orang yang saya kasihi ada dipinggir jurang dan ada kemungkinan dia terjatuh dan mati (tapi mungkin juga tidak).

Ya… hati ini merasa sakit, tetapi juga dapat merasakan senang. Syukurlah… berarti saya masih hidup.
Satu bulan belakangan ini saya hidup dalam dilemma, untuk keluar dari salah satu trauma saya (ngga abis-abis ya trauma gw… hhhmmm… what a life!!! *ho oh!*) dan kembali melangkah mengambil resiko untuk kehilangan dan merasakan kembali sakit yang sama seperti yang saya rasakan bertahun-tahun lalu.

It’s a dilemma. Wheather me being an honest friend or wisely silent. Resiko yang ada di depan mata, kehilangan akan akan seseorang yang dekat di hati saya kembali terjadi, atau diam seribu bahasa (yang katanya emas itu) dan mendoakan dari jauh sambil percaya akan rahmat dan kemurahan Allah yang juga bekerja dengan cara yang kita pikir tidak mungkin. Saya adalah seseorang yang menjunjung tinggi arti persahabatan. Apalagi persahabatan sesama teman perempuan. Tetapi waktu memang tidak dapat dibayar oleh apapun. Trauma dan luka memang memberikan pengertian yang mendalam akan arti persahabatan.

Kalau hari ini ada pertanyaan yang diajukan kepada saya, a simple question: what the meaning of friendship to you? Here is my answer:

Persahabatan buat saya adalah perjalanan panjang dari saling menyakiti dan mentertawakan apa yang menyakiti persahabatan itu.
Persahabatan artinya kemauan dan kerelaan untuk mengampuni terus menerus. Mengampuni sahabat kita dan juga mengampuni diri kita sendiri.
Persahabatan buat saya adalah keberadaan dan kehadiran. Keberadaan di saat-saat yang paling dibutuhkan, menangis bersama, muntah bersama (percaya atau tidak, I did it with one of my best friend in our youth’s days :D)… atau kehadiran  saat kita sebenarnya tidak mau ada di sana, tetapi tetap hadir dan tersenyum, menghargai keputusannya, mendoakan dan membuang jauh-jauh pemikiran untuk berkata suatu hari nanti: “See… I told you…”

So my dear friends… my best friends…

Maybe I am not a perfect friend for you (pastinyaaa… :D), sometime I can be so annoying for you, yeah.. even sometimes I can be an enemy who’s pretend to hold your hands but stab you from the back… I can’t lie about myself rite? *don’t underestimate me mate… ggrrrrr* hihihihi…

But I am a friend who’s learning to have an honest heart, never ending hope, generous heart to love and forgive, and a courage to stand for a friendship… (*ooohhh so help me God daahhhh*)
Let’s make this world be a better place because we love each other through our friendship.

I am who I am today because the grace of God, love from my parents and hubby, and last but not least… I have so many friends who bring out the best in me.

Thank you.
… and Thank God! 🙂

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”
– Martin Luther King Jr.

Advertisements

Celebration of Life in True Meaning

Seminggu yang lalu, tepatnya 13 Februarin 2011, saya kehilangan seseorang.

Seseorang yang secara fisik tidak terlalu dekat dengan saya, tetapi saya selalu tahu kapanpun saya membutuhkan dia, dia akan hadir secara fisik.
Sahabat yang memberi saya  kemudahan dalam berteman. Bersahabat dengan nya terasa begitu mudah, aman, ngga pusing karena dia tidak pernah berprasangka dan tidak mudah tersinggung.
Sosok yang mengajari saya apa artinya berjuang dan mempersembahkann silih dalam senyum dan tutup mulutnya.
Pribadi yang mengingatkan saya akan arti memberi. Bahkan saat kesakitan dan nyeri nya ia tetap memberikan dirinya.
Ia tidak pernah menggembar-gemborkan hubungannya dengan Tuhan, karunia-karunianya, tetapi memancarkan kasih Tuhan lewat hidupnya, seberapapun ia disakiti dan dikecewakan.

Untuk semua itu, tidak mungkin saya tidak kehilangan.

Tetapi di balik semua itu, di saat ia sudah benar-benar tutup mulut, tutup mata. Waktu ia sudah menutup semua inderanya dan saat ini bersatu dengan plankton-plankton air laut mengarungi samudra ke seluruh dunia, ia masih terus mengajarkan saya.

Tidak ada alasan untuk tidak berbagi diri dengan orang lain. Tidak ada alasan untuk tidak belajar memberi. Bagaimanapun keadaanmu.
Siapa yang tahu beberapa hari sebelum kematiannya, ia masih membantu salah satu sahabat yang juga sedang berjuang melawan kanker untuk mendapatkan seorang Romo yang bisa memberikannya sakramen perminyakan.
Ia memberikan uang sumbangan yang tadinya ditujukan untuknya kepada seorang teman sekamar di RSCM yang tidak mampu.

Saat semuanya binasa, apa yang kau tinggalkan di dunia ini menjadi bukti jejas kehidupanmu.
Sahabatku ini telah pergi, tetapi dari waktu ke waktu sampai detik ini rasa kehilangan itu ada (paling tidak untuk ku). Selalu ada alasan untuk mengenangnya karena ia meninggalkan tapak jejaknya di dunia ini.

Saat kita terbujur kaku di peti mati kita, yang ada tinggal pertanyaan: “Seperti apa engkau mau dikenang?”
Bila ada sebaris kalimat yang akan dituliskan di nisan kita, kalimat seperti apa yang kita ingin dituliskan untuk kita.

Saya masih harus belajar banyak dari kehidupan. Saya bukan orang suci, biarpun saya bermimpi untuk hidup kudus dan mengejar kekudusan itu. Saya belajar dari sahabat ku ini untuk tidak menyerah. Saya memperjuangkan keselamatan dengan takut dan gentar dengan iman percaya belas kasihan Allah yang membuat saya berani melangkah dalam hidup ini.

“Sebab bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Thank you so much for every thing you teached me through your witness of life.
Good bye for real my dear sister and friend Mungky D.Kusuma.
See you in heaven.

-adik dan sahabatmu di peziarahan dunia-

A Friendship with Something Called: Pain

Rasa sakit itu tidak enak. Tapi (ternyata) rasa sakit itu perlu.

Seorang penderita kusta (=Lepra)1 yang saraf tepi nya diserang oleh bakteri yang bernama  Mycobacterium leprae akan kehilangan rasa/sensorisnya. Is that good? Hhhmmm… Terkadang kalau kita sedang merasa kesakitan, kita berdoa minta tidak merasakan sakit lagi. Tapi saat seorang penderita lepra kehilangan rasa sakitnya, hal itu membuat kerusakan yang jauh lebih parah daripada bila ia merasakan nyerinya.

Rasa sakit adalah sesuatu yang banyak dihindari oleh banyak orang. Rasa sakit bahkan membawa manusia pada keinginan untuk mati, karena itu akan menghilangkan dan menyelesaikan rasa sakit itu dengan sekejab. Euthanasia2 menjadi satu hal yang diperdebatkan dalam penghormatan terhadap kehidupan, salah satunya karena keinginan untuk terbebas dari rasa sakit ini.
Tara Elizabeth Corner3, Miss Pageant America 2006 adalah seorang wanita yang desperately ingin keluar dari rasa sakit ini. Perceraian kedua orang tuanya di awal masa remajanya membuat ia menjadi seperti kehilangan kendali. Ia menjadi seorang teenager yang berteriak minta tolong dan perhatian, tetapi seakan-akan tidak ada yang mendengar teriakannya ini. Sampai ia menemukan, sebuah obat bernama Vicodin4 (sebuah obat penghilang rasa sakit tingkat sedang-berat) berhasil membuat ia ‘terbebas’ dari rasa sakitnya. Ia menggunakannya bahkan saat sedang ada di atas panggung pagelaran Miss Pageant saat itu. Tara bahkan mampu mengkonsumsi obat itu sampai 30 butir dalam sehari. Di satu tahap dalam hidupnya, Tara pernah menghadiri sebuah pesta, di akhir pesta ia memang setengah mabuk, tapi masih cukup sadar untuk mengetahui apa yang ada di sekitarnya. Ia membiarkan seorang teman lelakinya menggendong dia ke dalam mobil untuk diantar pulang. Dalam hati, ia tahu bahwa teman lelakinya ini punya maksud di balik keinginannya mengantar pulang. Saat itu, teman lelakinya memperkosa Tara di dalam mobil. Tara mengetahuinya, tapi membiarkan hal itu terjadi karena dengan begitu ia merasa terbebas dari rasa sakitnya. Rasa sakit karena merasa ia adalah sampah, barang kotor, dan tidak diinginkan karena tidak ada yang mencintai dan mendengarkannya. Membiarkan tubuhnya diperkosa, seperti sebuah penghilang rasa sakit karena tindakan itu mengkonfirmasi semua pandangannya terhadap dirinya sendiri. Ia melumpuhkan perasaannya, membiarkan hal buruk terjadi padanya, supaya ia terbebas dari rasa sakit.

Seorang anak perempuan berusia 15 tahun, yang mempunyai gambar diri begitu jelek. Tidak mencintai dirinya sendiri. Dia membiarkan dirinya terbuai dan mempercayai banyak kebohongan-kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Dia membiarkan tubuhnya mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Ia melakukan itu dari waktu ke waktu, membunuh rasa sakit yang awalnya muncul, sampai akhirnya ia merasa ‘numb’ akan rasa cinta. Ia membiarkan dirinya jatuh pada hubungan yang ‘asal’ karena ia memandang dirinya hanya seorang perempuan yang ‘asal’. Waktu ada rasa sakit akan kebenaran yang terungkap, ia menolak jauh-jauh kebenaran itu karena rasanya perasaan ‘numb’ yang dirasakannya lebih membuatnya terasa nyaman, biarpun jauh di kedalaman hatinya ia tahu, ia hidup dalam kebohongan dan kebahagiaan semu. Perhatian dari lawan jenis, sebuah relationship, dan status pacar seseorang menjadi adiksi dan sumber pelarian rasa sakitnya. Dalam satu hubungan ia merasa seperti mempunyai segalanya, padahal saat itu ia tidak mampu merasakan perasaannya sendiri.

Cerita 2 perempuan di atas rasanya bukan cerita yang luar biasa.

Sejak keluar dari rahim ibu, kita sudah mengenal apa rasanya sakit. Keluar dari jalan lahir ibu bukan proses yang menyenangkan bagi seorang bayi… (lihat muka bayi-bayi yang baru lahir, rasanya ngga ada yang lahir dengan muka tersenyum lebaarrrrrr…) tapi setelah itu seorang bayi tahu bahwa ia dikasihi waktu ia diletakkan di dada ibunya.
Dalam proses belajar kita sehari-hari, rasa sakit menjadi satu tolak ukur yang positif… Satu iklan detergen di TV bilang begini: “Kalau ngga ada kotor, ngga belajar!” atau apapun lah isinya (lupa-lupa inget…) Tapi rasa sakit menjadi batu pijakan yang positif untuk keberhasilan yang ada di depan jalan kita.

Saat berbagai kondisi menerpa kita, banyak keadaan yang terjadi tidak sesuai harapan kita.
Rasa sakit menjadi demikian perih, tak tertahankan, sampai rasanya tidak mampu melihat sisi baik dari rasa sakit itu.
Rasa sakit menacap begitu dalam di hati, sehingga rasanya tidak mungkin menariknya keluar karena itu akan menghancurkan hati lebih parah lagi.
Saat harapan akan rasa sakit yang memberi harapan akan hari esok yang lebih baik menjadi ilusi.

Saat inilah kemampuan defence mechanism5 manusia membiarkan rasa numb6 lebih baik daripada rasa sakit, karena ternyata dengan membiarkan perasaan menjadi numb hidup dapat terus berlangsung (apapun buah-buahnya, yang pentin hidup jalan teruuusss…)
Saat itu… kita tak ubahnya seperti seorang penderita lepra.

Tara membiarkan dirinya numb selama bertahun-tahun, bahkan di saat ia diperkosa. Anak perempuan tadi (yang sekarang sudah jadi perempuan dewasa), membiarkan dirinya numb selama bertahun-tahun karena ia mempercayai, dengan melumpuhkan perasaannya semuanya menjadi lebih baik. Tanpa mereka sadari, mereka hidup dalam kebohongan.
Sampai satu waktu someone touched their hearts…

Saat mengetahui bahwa Tara adalah seorang pencandu obat-obatan, dewan Miss Pageant saat itu ingin memecat Tara dari jabatannya. Tapi seorang pemilik dari Institusi Miss Pageant ini, membelanya dan memberi  kesempatan kedua kepadanya. Dia adalah Donal Trump. Kesempatan kedua ini seperti air segar yang memberi kesejukan dalam hatinya.
Anak perempuan itu tumbuh menjadi perempuan dewasa yang sangat rapi menyembunyikan semua perasaannya yang sesungguhnya. Adiksi nya terhadap sebuah hubungan membawanya dari satu hubungan ke hubungan yang lain. Ia tidak pernah merasa cukup dan aman dengan dirinya sendiri. Sampai di satu waktu, di dasar kejatuhan dirinya, ada sebuah suara lembut dalam hatinya, yang mengajaknya keluar dari semua kebohongan dan kelelahan dirinya menahan semua rasa sakit itu.

Saat ini, mereka berdua… Tara dan perempuan itu telah berhasil melampaui rasa sakitnya. Adiksi hanya gejala yang timbul dari rasa sakit yang tidak tertahankan. Adiksi menjadi tempat persembuyian yang aman dan terasa ‘benar’ saat rasa sakit tidak tertahankan.

Mereka berdua memilih untuk memberanikan diri, berhadapan dengan rasa sakit itu. Satu persatu. (Berjuang)Berdamai dengan setiap luka, (belajar) menerima diri sendiri, dan memilih untuk memandang rasa sakit sebagai kesempatan untuk berbuah bagi kehidupan.

Perempuan itu adalah saya sendiri.
Hari ini, saya selalu meneteskan air mata setiap kali membaca/mendengar perjuangan-perjuangan untuk keluar dari diri mereka. Apapun tahap yang mereka rasakan saat itu, apakah rasa sakit, atau kebanyakan justru tidak merasa apa-apa, butuh keberanian untuk menghadapinya satu persatu.

Saya pernah melalui semuanya itu, dan hari ini saya bisa berkata bahwa “Tangan Tuhan telah berlaku baik atasku.”
Apapun yang (pernah) terjadi dalam hidupmu, apapun cara kita memandang diri kita, dan kerusakan apapun yang sedang Anda alami hari ini, semuanya itu tidak menggagalkan rencana besar Allah akan kejadian kita di dunia ini.
Tidak ada luka, adiksi, kerusakan, kegagalan, yang cukup besar, yang mampu menghalangi rahmat cinta dan pengampunan yang selalu ditawarkan untuk Anda dan saya.
Bahkan berita baiknya adalah, Ia Allah yang terus mengarahkan pandanganNya pada hati yang hancur.
Berita buruknya? Saat Anda berteriak: “God, go away! Leave me alone!” … He won’t and will never do that. He is God who sooooo in love with you, and tremendously crazy about you and me… (saat nulis ini kok gw berasa Tuhan nyanyiin lagu: I’ll be There7 … ohhh so sweet…)

Today, make a special connection with your pain.
Be brave and be strong, cause the Lord is with you!
It’s time… to make all the pain that cripple you all these years into the magnificent power to bless and inspire the world!
It’s time to spread our wings and fly to persue our wildest dream.
It’s time to make a friendship to something called pain, because from that pain we can climb the highest mountain of our life and walk from victory to victory.
Yeessssss! (semangat sendiri :D)

For I am persuaded, that neither death, nor life, nor angels, nor principalities, nor powers, nor things present, nor things to come, Nor height, nor depth, nor any other creature, shall be able to separate us from the love of God, which is in Christ Jesus our Lord. (Rome 8:39-39)

Written by:
Survival woman who’s surviving from day to day pain and numb.
Battle in progress everyday!

Notes:
1 Kusta. Wikipedia ensiklopedia bebas. Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Kusta
2 Euthanasia. Reason for euthanasia. Available from:http://www.euthanasia.com/reasonsforeuthanasia.html
3 Beauty Queen Tara Corner’s Revelation. Available from: http://www.oprah.com/oprahshow/The-Truth-About-Beauty-Queen-Tara-Conner
4 Vicodin. Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Vicodin
5 Johathan Smith. Stress Management.  New York: Springer Publishing Company, 2002; p.29-38. Available from: http://books.google.co.id/books?id=_VDzXDikuXgC&pg=PA31&lpg=PA31&dq=numb+as+defence+mechanism&source=bl&ots=PVUvQGXo4n&sig=tIrodgecWLrezrEWccCv_zSpc18&hl=en&ei=cRC0TK6dMoOIvgPjloSYCg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7&ved=0CD0Q6AEwBg#v=onepage&q&f=false
6 Available from: http://www.thefreedictionary.com/numb
7 Available from: http://www.mp3lyrics.org/m/michael-jackson/ill-be-there/

Persahabatan Bagai Kepompong

Semalam gw datang ke satu pertemuan yang mengingatkan naik turunnya persahabatan gw dengan satu sahabat lama gw.

chen-lia-fk-paregu-1994Kami ketemu saat kami masuk ke FK tahun 1991 sebagai anak baru. Kegiatan kuliah, hang out, ngafe, bulu tangkis, belajar bareng jadi kegiatan kami bersama. Sampai tahun 1995 kami berdua pergi ke satu retreat bersama dan sejak itu kami berdua tambah dekat.
Setelah itu banyak naik turun kehidupan kami yang membuat kami berdua makin dekat, nyaris tak terpisahkan.

Tetapi seperti judul lagu yang lagi beken… Persahabatan bagai Kepompong.. ada masanya kami ada di satu kondisi di mana persahabatan terasa selesai dan tidak mungkin dapat disambung lagi. Semua kedekatan yang terjadi seperti punah dan tidak ada artinya lagi.
Saat2 itu persahabatan kami memang jadi seperti kepompong yang buruk rupa, ‘dormant’ stage dan ngga tahu kapan berubahnya. Kami tidak bermusuhan, tapi kami tidak juga saling bicara selama 7 tahun penuh…
Jujurnya.. gw melewatkan pernikahan gw dengan tidak mempunyai MoH krn selama ini gw berpikir, dia yang akan jadi MoH gw.. (thanks to Sianita yang bersedia jadi Bride’s Maid gw.. hehehe..)

Tetapi apa yang gw alami semalam membuat gw banyak merefleksikan persahabatan ini.
chenny-lia2Gw memuji Tuhan buat 17 tahun pertemanan dan persahabatan yang terjalin diantara kami… and yes.. we’ve been through a lot! Up and down moments in our lives.
Dan di waktu2 ini, 1 tahun yang lalu kami kembali bicara, saling memaafkan dan kembali ada dalam kehidupan masing-masing. Waktu dan segala yang terjadi mendewasakan kami. Mungkin persahabatan kami tidak seperti dahulu, di mana kami bisa saling nginap satu sama lain dan ngobrol sampe jam 5 pagi di telpon… di masa2 kuliah kami. Tapi melewati 12 tahun kedekatan kami, 1 hal yang pasti… semua terjadi untuk mendewasakan kami.

lia-zhen-metamorfosa-copy2

Persahabatan bagai kepompong. Yang berproses dan hari ini menjadi indah dan dewasa. Mudah-mudahan menjadi berkat bagi sesama… 🙂

Domus Cordis Retreat Orientasi Class 2008

Komunitas kami Domus Cordis mengadakan retreat wajib tahunan yang akan selalu diadakan di liburan Kemerdekaan RI. Jadi tahun ini diadakan tgl.16 dan 17 Agustus 2008, dapat tempat di rumahnya Tante Joice, di daerah Lippo Carita… (yang ternyata juaaauhhhhh… tapi namanya berkat, musti disyukuri! hehehe…)

Kami akhirnya pergi ber-16, krn biarpun acara sudah diumumkan jauh-jauh hari, ada aja yang ngga bisa ikut karena urusan ini itu ehehe…
Moshi (Rm.Deshi Ramadhani SJ), Riko, gw dan Ms. Mindy (secara di rumah gw kosong, ternyata princess doggy satu ini diajak hehehe…) berangkat hari Jumat jam 3pm. Maunya sih sampe di sana duluan. Tapi secara kita berjalan seperti kura(h)dan berhenti2 krn hambatan Europian Resto di karawaci, serta nyasar(h) ke Serang dan bablas sampe ke Labuan, kita sampe di tempat baru jam 9 malam (HALELUYA! hehehe..)

Sampe di sana, sambil nunggu Vera, Chen(H), dan Yuli… gw masak makan malam. Ceritanya sih mau buat Bim Bim Bab kayak yang Tante Mei buat waktu itu. Tapi kok setelah di makan, rasanya kayak Beef Yakiniku… aneh… hehehe
3 wanita itu berdatangan… mulailah rame di vila. Gw teler banget malam itu… mana Mindy ngikutin terus… tidurlah gw duluan. Mana Mindy ngga tahu kenapa jadi manja banget… ngikutin gw ke mana(H)… lumayan juga… Ngga kebayang gw dikuntitin begini terus… sama anjing yang bisa gw bentak aja gw terganggu… jangan(H) ntar ama anak gw juga begitu… matilah… :p

Sabtu pagi semua berdatangan. Mike dan Ocep, Pasutri Balle, The Wikanta’s dan Rhea, Bro Dewo and Sist Angel… dah lengkap deh!
Kita mulai acara dari Sabtu sore sd. Minggu siang… Puji Tuhan semua lancar (sesion akan gw ceritain sendiri ya!), ada As dan Riyo juga yang bantuin masak jadi gw ngga pusing ama konsumsi kita semua.
Abis acara kita misa dan menyanyikan 17 Agustus dengan semangat! Setelah itu kita lomba… lucu banget ngeliatin Dewo yang berusaha menggendong Mbak Avi, Mike yang gendong Chen(H) belum lagi main ngesot(H)an dan gundu…
Biarpun usia bertambah… rasanya sulit ya jadi dewasa…!




Setelah itu kita rame-rame mau sunset-an di pantai carita. Di sana kita abis2an foto(H), dan emang menyenangkan pergi rame(H) ke laut gini… lucu aja… hehehe..
Ini beberapa pose(H) ngga tahu malu kita hehehe…





Dulu gw punya luka yang besar sama yang namanya komunitas dan sulit kembali mempercayai apa artinya persahabatan. Tapi gw bersyukur atas semua yang boleh Dia ‘kembalikan’ dalam kehidupan gw. Mungkin buat orang lain itu ngga terlalu berarti, tetapi buat gw pribadi… as I always said: Friends are like stars… mereka selalu memberi makna dalam setiap keadaan. Dan mereka menyembuhkan gw perlahan.
Kehidupan persahabatan naik dan turun. Kadang gw sebellll banget ama mereka! Malas ketemu mereka… tetapi melebihi semua itu.. they are my second family in this world! and thank God for that…

Notes from Perth: A week full with Adventure! (part 2)

Membayangkan 1 mgg ke depan, lalu masih besoknya lagi pulang… gilaaaa rasanya lama banget. Kayaknya gw serasa pindah ke Perth karena mikir, kayaknya gw bakal nganggur (yg ternyata gw salah besar! Hehehe…)
Oh ya.. saya akan mengubah kata2 saya menjadi gue (gw) yang dalam penulisan2 berikutnya…
Kagok euyyyy pake2 saya segala hehehe…

Hari Minggu ada sepasang Oom dan Tante… namanya Oom Adri dan Tante Yunita yang sudah bilang hari Senin ngajak kita lunch bareng sambil ngobrol2.
Secara Oom juga menawarkan mampir ke toko buku, kita berdua langsung berbinar-binar. Kalau keluar negeri, ngga ada yang lain yang selalu kita borong pulang… Books, books, and books!
So, Oom Adri jemput kita jam 10.35 pagi hari Senin. Kita langsung ke salah satu toko buku Katolik yang namanya GATTO bookshop dan kemudian Oom Adri ‘ngomporin’ kita dengan banyak buku2 bagus hehehe… Si riko disodorin buku… mana tahaaaannnnn…
Setelah dari situ… sambil nunggu Tante yang baru bisa keluar dari kerjaan jam 12, kita mampir ke Kings’ Park, bisa lihat pemandangan dari situ. Gedung-gedung di Perth juga Swan River yang gede banget ituh…



Abis jalan-jalan dan poto2… perut yang sudah lapar ini disuguhi daging steak yang besarnya ampun! Kita makan di Hog’s Breath Café di daerah NorthBridge .


Ngga lama Tante datang, dan mulailah kita makan sambil ngobrol-ngobrol. Mulai dari hal-hal sehari-hari sampe diskusi hal-hal menarik soal kesehatan, juga kerjaan Tante di RS yang kerjanya jadi pendamping orang-orang sakit. Interesting!
Abis kelar main menu, disodorinlah kita Mud Cake yang katanya enak banget… hhhhmmm… emang lumayan sih, Cuma krn gw ngga terlalu suka manis… gw ngga terlalu ‘balapan’ makannya hehehe…
Lagian masih malu ah…

Setelah itu krn Tante masih ada kerjaan lain, kita lanjutin jalan-jalan sama Oom ke Toko buku (again). Kali ini namanya Koorong (many weird names here! Heheh..). Kembali… kita beli beberapa buku… hhhmmm.. mulai kebayang over weight bagasi nih…
Abis dari situ kembali kita ngopi di tempat yang namanya Boatsheed, itu dipinggir sungai Swan… pemandangannya bagus banget, dan kopinya enak! Hhhmmm… what a life!



Ngobrol2 sama Oom Adri ngga kerasa ud jam 5 lewat, buru2 kita pulang krn mau mapir dulu ke rumah Oom Adri buat nyobaik Liquer Coffee.. and again.. it was really nice!
Aduhhh… parah nih… malu2in aja, masa disuguhin apapun nambah.. dasar sifat rakus emang susah dikendalikan hahaha…
Kita dinner di rumah… dimasakin Tante Mei RIBS! Yang biarpun gw belum pernah makan Tony Romas, yang ini ngga kalah! Malah mgkn lebih enak… Tante Meiiiii… siapa dulu dong yg masak hihihi… ini namanya cari muka biar dibuatin lagih! 

Besokannya pergi lagi sama Tante Mei ke Gatto krn ada yang kurang, nganterin Erlin ke Curtin University, gila gede banget tuh kampus, terus jalan-jalan di mal deket rumah. Mampir bentar beli coklat di Margaret Chocolate Factory terus langsung jemput Iicha di sekolahnya yang pemandangannya EDAN! Bagus banget! Dari atas bukit bisa lihat Swan River, hamparan rumput dan pohon rindang. Bener2 kayak boarding school yang gw bayangin di cerita Si Badung dulu (haiyaaa… cerita jadul banget yah…. Heheh..)

Malam riko musti bawain di PD Dewasa Karismatiknya, dan dia bawain lagi soal Fathers Heart. Rupanya banyak banget yang tersentuh… memang ini adalah Fatherless Generation. Eehhh… ada Bebeth juga datang di PD, setelah PD kita pergi ke satu tempat burger yang katanya seru… liat sendiri aja fotonya!

Pergi sama Bebeth dan Kevin, sampe di sana ternyata tempatnya bernama Alfreds Kitchen. Kayak kedai yang lumayan besar di pinggir jalan. Kita pesan burger dan makannya disekeliling perapian… Yang gila adalah ukuran burgernya… Gw pesen sandwichnya, Riko dan Bebeth pesen burgernya.

Penjualnya seorang wanita muda yang ramah banget (talkative), sempet nanyain gw pake parfum apa hihihihi… (white musk legend nih…)
Ternyata setelah keluar… ajubilah itu burger… ada 4 lapis daging di dalamnya, plus egg and cheese, tomat, dll.. (lihat di fotonya nanti ya…)
The big burger I ever eat! And ueeenaaakkkk tenaaaannnnn! Hehehe… Mak Nyus… wisata kuliner nih gw!



Rabunya gw diberkati Tuhan dengan Caversham Wild Life (Whiteman Park). Gw selalu cinta binatang! Di salah satu dream gw… kan gw pernah bilang one day, gw pengen punya zoo sendiri hehehe…
Dan di setiap kota baru yang gw datangi, pasti gw nyari zoo nya atau park kayak Taman Safarinya.
Akhirnya diantar Bebeth, Maria, dan Lisa… kami pergi ke sana. Na na na na… senangnya hatiku!

Tapi sebelum sampai di sana, kita brunch dulu di satu restaurant Jerman on the way ke sana. Namanya Duckstein Brewery di daerah Margaret River situ. Nostalgia nih ama makanan Jerman…

Langsung gw pesen Weizenbeer yang ada dalam menu pilihan bir-bir Jerman yang tersedia. Akhirnya kita semua pesen makanan berat deh. Riko dan gw pesen daging babi yang di roast dan sausage. Maria pesen Snitzel, dan Lisa juga pesen daging babi. Yang asik si Bebeth dong… dia pesen kaki babi yang waktu gw makan di Jerman namanya Schweinshaxe. Gilaaaa gede banget! Ama riko diiris-iris aja ngga abis buat kita ber-5. Tapi ud di makan, gw lebih suka yang di Jerman sih… ini Cuma di roast biasa.


Setelah kenyang beneran kita sampe di Caversham. Gw masuk ditemenin Maria, krn Lisa musti belajar dan Bebeth nemenin dia nunggu di cafetaria (thanks gals ud berkorban belajar buat nemenin gw dan riko!)
Gw keliling-keliling ama riko, ada lintasannya. Ngelian kalong, kanggoro kecil, dsbnya. Gw senang banget akhirnya bisa ngeliat dan megang kangguru sendiri. Ngasi makan pula, ngeliat anak di kantong mama kangguru.

Terus foto sama satu binatang (aneh sih bentuknya) yang namanya Wombat. Namanya sih serem, tapi ternyata boro-boro… tidur mulu, sampe gw ama riko foto aja, dia masih keenakan molor… bleeehhhhh…

Abis itu liat koala… yang katanya tidur hampir 20jam sehari… (gossshhhh… kok gw punya kesamaan dengan koala ya…? *garuk-garuk*)

Yang menarik dan gw seneng banget adalah masuk ke area farm (Molly’s Farm). Di situ adalah area tempat binatang2 yang biasanya ada di farm. Ada rabbit, Goast, Rabbits, Cows, Geese, Chicken, Buffalos, tapi yang gw jatuh hati adalah sama Tommy, my fav donkey. He’s so sweet and gentle. Paling lama gw di situ buat ngelus2 dia. I fall in love with him….

Ngga kerasa 2 jam ½ kali kita ada di dalam situ. Kebayang ngga sih, ibu2 yang ada di cafetaria… gw rasa bentar lagi bisa jadi seganas Tasmanian Devil yang gw juga sempet lihat di dalam (dan ternyata beda banget sama Tasmanian Warner Bros… ini bener2 Devil bentuk dan attitude nya!)

Abis itu tadinya kita mau test wine di winery, Cuma krn waktunya mepet… kita memilih balik ke Margaret Chocolate Factory yang kmrn kita ud pergi, buat… biasaaaa… ngopi!
Tapi ampe sana kejadiannya… ya belanja lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiii… 
Terus kita ngopi, foto2 dan nge cake di situ. Nice weather, good conversation, hhhmmm.. (again) what a life! 



Malamnya kita pergi ke rumah Endra buat pengisian coordinator sel TOM. Riko bawain soal Efesus (berapa ya… 4:6) yang menjadi visi TOM. Buat gw sih inspiring bisa dengar sudut pandang itu.
Setelah itu seperti biasa… kita pergi makan lagiiiiiiiiiiiiiii (pdhal tadi sebelum pergi dan dinner di rumah T.Mei) di Uncle Billys’ di Chinatown Northbridge. Kali ini cari bubur… eehhh… end up nya dasar pemakan bakmi… gw pesen bakmi dan wonton soup. Dasar cina! Hehehhe…

Kamisnya kami ada janji makan siang sama ketua CCR (Catholic Charismatic Renewal) nya Perth yang namanya Dan Hewitt. Kita makan Fish and Chips di Joe’s Fish Sack di Fremantle. Dijemput Oom Adri jam 11.30, langsung meluncur ke tempat makan.
Ngobrol2, makan kekenyangan… gw pesen Sea Food Platter dan Riko pesen Fish and Chips nya… gila pas keluar menunnya segambreng. Tapi ya… selalu menyenangkan mencoba hal baru.

Abis dari situ kita diputerin sama Oom Adri buat liat penjara di Fremantle dan pesisir pantai yang namanya Coteslaw Foto-foto lah kita di sana.

Malamnya di rumah Tante Mei ada pengisian lagi (they call it pengisian, hehehe… mereka pengisian, gw dan riko pengisian juga… makanan mksdnya hehhe…) buat seluruh anak sel TOM. Riko lanjutin dari ayat yg kmrn. Kali ini sola kehidupan berkomunitas dan berani reach their dream. Hhhhmmm… typically my hubby! Hahhaa…
Malam itu gw bener2 ngga enak badan. Meriang banget… Jadi pas Maria nanya mau keluar apa kagak, mala mini gw nyerah dah… mana dingin banget! Tidur pagiiiiiiiiiii…

Ini hari terakhir jalan2… This was a looongggg fun day!
Kevin pagi2 ud nongol di rumah. Gosshhh… anak2 ini baik2 banget ya. Ngga abis pikir gw hehhehe…
Kita ke Fremantle Traditional Market ( I love this place!) dan gw mulai belanja-belanji (again!).. abis gw puas muter2, kita lunch di outdoor food court sambil jemuran (uuuhhh… gaya… heheh).


Di sana gw kegilaan satu minuman yang namanya Bundasberg Ginger Beer… jadi tiap kali gw gelegek itu minuman!
Sambil nungguin Lisa pulang sekolah.
Setelah itu kita ber 5 meluncur kembali ke Koorong Bookshop, dan di sanalah kita nge borong.. kali ini bener2 kalap! Hehehe… Di sana ampir 2 jam kali…
Sekarang…? Apa yang kurang…? Lunch… and then…? Of course COFFEE!

We went to the city and duduk di tengah area kayak pasar baru deketnya pos office… di satu outdoor coffee shop namanya BOCELI. Ngga tahu kenapa dinamain begitu. Tapi ada gambarnya karyawan sama si Andre Bocelli sih… Jangan2 punya dia… Anyway… ngga penting juga… coffeenya quite good but the cake… hmmmmm.. out lah…
Ngobrol2 bareng Maria, Lisa, Kevin, lalu Willian dan Mariska joined us. Jadi rame dehhhh…

Perut keroncongan? Solusinya…? Ya makaaannnn hehehe.. Abis beli kue di Miss Maud buat temen di TOM yang mau di surprise in bdaynya, Maria, Lisa dan her boyfriend Christ ajak kita makan di CAPPRICIO Italian Restaurant di city juga.
Hhhhmmm… Ariefanos’ fav food! Yummy!



You know what… kita dipesenin Lage Chilli Mussel sama Maria… yang gilaaaa enak bangetttttttt!!!
Belum lagi pasta2nya… belum pernah gw makan pasta, yang ngga perlu gw bumbuin lagi… semua ud PASSSSSS! Hhhhmmm.. kenyangnya dan enaknyaaaa…
Pulang ke Jakarta gw niat mau bikin Chili Mussel… Doain ya… biar kejadian! Hehehe…
Hari ini pembukaan olympiade Beijing, niatnya pulang mau nonton… eh malah molor kekenyangan.

Today is the last day jalan2. Mulai besok, riko akan bawain seminar lagi. Kali ini sama Rm.Ari soal Kekayaan Gereja Katolik. Hhhmmm what a week full of adventure. Gw selalu punya konsep yang seperti ini kalau bepergian. Stay in one city and ikutin ritme hidup di sana… dan Puji Tuhan… Dia selalu memberikannya kepada gw.
Lebih dari segalanya… gw menikmati banyak berkat yang tidak pernah gw pikirkan sebelumnya.

Thank God for these 5 days. Kemarin kebayang… mau ngapain ya 1 mgg ke depan… ternyata waktu emang berdetik dan matahari memang timbul tenggelam… 5 hari berlalu.
Tomorrow… back to the Seminar!

to be continued..
Notes from Perth: It Will Never be The Same (part 3 – the end)

Notes from Perth: Things Will Never be The Same (part 3)

Bangun pagi dengan penuh semangat siap2 ke seminar.
Pagi sampe sore dan besok seharian riko dan Rm.Ari akan bawain soal Kekayaan Gereja Katolik.

Ini topic yang selalu jadi passion my hubby… jadi ya… he will do it very well with Gods grace for sure.

Gw pergi sebentar ama Tante dan iicha ke toko sosis buat bawa pulang sosis dan bumbu Bim Bim Bap. Yippppiiii! Senangnya…
Abis dari situ nyusul ke ruang pertemuan tempat seminar CLL minggu lalu diadakan, looohhh acara baru mulai… ngaret nih… ngga di Jakarta ngga di Perth, sami mawon!
Session I dimulai dengan Talk Show iman Katolik yang pertanyaannya meliputi sekitar patung, Bunda Maria, ngaku dosa, ekaristi, dan the fullness of the truth. Sessi ini selalu menarik di manapun di buat. Pasti seru!


Setelah itu Session 2 riko lagi bawain… basicly soal To know, to love, to serve sih…
Lalu sessi 3 dan 4 Rm Ari soal Maria dan Sakramen. Rm.Ari hebat lho… satu satu dia persiapin, jadinya jelas banget. Keliatan banget dia ekstra efford buat siapin semuanya. Good job Mo!
Hari itu berakhir dan menurut rencana, malam itu emang kita akan dinner bareng2 sama anak2 TOM di satu tempat namanya Mundaring. 1 hour dari kota Perth, buat makan Pizza yang katanya menang kontes… dan diproklamirkan (waduhhh… salah bahasa nih hehehe…) jadi The Best Pizza in The World.
Who am I deserve it… hiihihihii… Best Pizza booo… tetep aje… krn gw ngga terlalu doyan pizza, Cuma curious aja ama bentuknya.

Jam 6.45 kita rame2 berangkat dari rumah Tante Mei. Satu mobil sama Maria, Lisa, dan Mr.Rio from the city of Jember yeaaahhhh… ketawa-ketawa terus aja dalam mobil nggodain si Rio yang lagi ‘berusaha’ sesuatu ehem ehem… hehehe…

Sampe di sana, ternyata bagian dalam sudah penuh. Karena kita ber 27, duduk lah kit adi pinggir jalan (hhhmmm… jadi inget Pecenongan), dengan udara yaaaanggg… dingiiin nya luar binasa! Angin boooo…


Kita beli wine, beer, liquor buat ngangetin badan…
Pesen punya pesen… keluar lah sang Pizza. Ngga tahu si Maria pesen berapa, yang pasti penuh dari ujung meja satu ke pojok lainnya. Gilaaa… pizza semua segede apaan tau! Gw sih konsisten ama pasta hehehe… tapi sempet nyobain juga. Enak sih… gw suka yang sarden, riko suka yang fettucini.



Senang lah nyoba makanan baru. Kita seru foto-foto di situ… Segala pose deh pokoknya. Ada foto kawinan juga heheh.. secara fotonya sel demi sel… ud kayak org kawin aja.






Kita pulang ke rumah, dan tidur dalam damai malam itu… dengan senyum ‘kepizzaan’ tersimpul di bibir… hehehe…

Besok paginya kita pergi misa ama Tante Mei dan iicha, secara gw dan riko diberikan privilege buat bacain bacaan 1 dan 2 minggu itu. Waduhhh… jauh2 ke Perth bisa berdiri di salah satu bagian altar dan jadi pembaca firman. Buat gw… seneng banget!

Lalu dimulailah seminar hari ke 2. Hari ini penuh euyyy… mungkin abis dari misa, sekalian mampir ikut seminar. Riko bawain soal Footsteps of Sainthood. Puji Tuhan riko bawain dengan sangat baik (menurut gw lho… soalnya gw merasa disemangati lagi juga). Setelah itu session Q&A yang juga seru, dibawaka bergantian oleh Romo dan Riko.
Romo menutup seminar 2 hari itu dengan session The Mission: The New Springtime (hhhmmmm.. riko banget sih… hehehe) dengan sangat bagus!

Gw amazed sama semua yang romo siapkan. Detail dan dia bawain dengan penuh passion.
Setelah acara berakhir, kita foto2 sama semua panitia. Secara malam itu adalah malam terakhir kita di Perth dan besok kita ud pulang. Beberapa teman memang besok ketemu lagi krn ud janji mau antar, tetapi kan sebagian besar ngga. Jadi malam itu jadi malam terakhir kita ketemuan. Ya ud pamit sana pamit sini.

Tapi ngga tahu kenapa, gw ngga sedih tuh… bukan karena mereka ngga berarti, tetapi gw yakin kita masih akan terus kontak2, jadi ya this is not good bye!

Malam itu kita diajak dinner sama Oom Budi dan Tante Mel, juga Tante Mei, dan Tante Elvi (yg ulang tahun tgl.8 kmrn, selamat ya Tant!),Romo Ari, dan Adi. Kita makan di Pizza Bellaroma di Fremantle. I love Fremantle! Kayaknya dari semua bagian Perth yg gw liat, gw paling suka Fremantle.
Oom Budi pesen makan banyak banget! Gila bener deh… gw makan chili mussle lagi, dan pesen my fav spagettos… Aglio O’lio yang keluarnya buanyak banget! Padahal gw pesen porsi entrée.. alias kecil!


Di situ Oom Budi dan Tante Mel banyak sharing soal perjalanan kehidupan mereka… dan sangat menginspirasi kami berdua.
Malam berakhir, judulnya malam itu PACKING! Dan ngga nyangka…koper kita beranak booo! Minta ampun… padahal niatnya ke Perth kagak mau belanja sama sekali… hehehe… Berkat Tuhan melimpah!

Pagi-pagi kami ud bangun, Oom Adri datang nganterin coffee liquor buat kami.
Kita bener-bener belajar banyak hal dari semua orang yang kita temui di sini:

1. TanteMei dan Oom Christ (yang Cuma kita dengar namanya karena Oom Christ lagi di Indo), luar biasa semangat mereka dalam melayani dan berbagi berkat. Tante Mei cerita gimana usaha mereka dulu dari 0 sampai hari ini berkat begitu melimpah.
Oom Christ yang diceritakan Tante Mei sebagai sosok suami yang sangat melindungi keluarganya in a very positive way! Sangat dekat dengan Eka, Lya, Erlin, dan Iicha, juga Surya yang adalah keponakan Tante Mei dan tinggal di situ untuk sekolah. Anak-anak mereka juga tumbuh jadi anak-anak yang sangat ramah dan caring dengan sekelilingnya.
Gw liat sebagai seorang istri, gimana Tante Mei belajar tunduk pada suami, melayani keluarga, dan banyak berkorban untuk anak-anaknya. What a mom and a wife in God! She’s really a woman of God!
Tante Mei selalu percaya berkat Tuhan dan penyertaan Tuhan akan selalu ada dalam hidupnya. Jujurnya… dia tipe ibu rumah tangga yang gw mau sih… Tinggal di rumah urus anak, dan masih bisa sibuk urus apa yang jadi passion dia.

2. Oom Budi dan Tante Mel
Kita belajar gimana mereka bener-bener menyadarkan semuanya kepada Tuhan. Percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada mereka. Dan berani melangkah! Kita Cuma bisa ngobrol banyak pas makan malam di hari terakhir, tetapi itu bener2 menjadi penyemangatan buat kami berdua.

3. Oom Adri dan Tante Yunita
Kita belajar gimana pasangan ini mempunyai hati yang sangat besar untuk menolong orang lain. Tante Yunita bekerja di RS, mendengarkan keluh kesah dari pasien-pasiennya. Mereka sangat punya hati juga untuk pelayanan dan mewartakan Kristus.

4. Seluruh teman-teman muda yang ada di sana
Ngga bisa gw sebutin satu2, krn banyak banget… dari Maria and Lisa yang nemenin kita dari awal sampe akhir.
Bryan yang ternyata anaknya Ci Ros, yang gw kenal di Manado…
Icha, Anita, dan masih banyak lagi anak2 Gading hahaha… Kelapa Gading tanah air beta deh!
Semuanya mengingatkan kita akan teman2 kita yang juga ada di Jakarta. Gimana kita saling menjaga dan hidup berkomunitas.
Gimana semangat dan hati mereka yang sangat haus akan Tuhan dan kebenaran.
You’re all amazing guys!

Saat kepulangan tiba… kita naik Qantas ke Singapore dulu. Pesawat jam 12. Kita diantar sama Tante Mei, Lisa, Maria, Mariska, Wiiliam, dan Victor. What an honour… dianterin pulang segambreng gitu hehehe…
Kita final ngopi sama2 di DOME rport sambil nunggu boarding time, sambil deg2kan takut cabin koper kita kelebihan beratnya hehehe…

Tapi semua berjalan baik dan Puji Tuhan kami sampai di Jakarta… dan kembali melihat muka-muka saudara-saudari kami di Jakarta… teman2 yang berbagi hidup dengan kami. Bukan Cuma hidup, kadang juga rumah hehhe… Thanks to our sist Yuli and Avi, juga Mas Ton yang ud jemput kita. (katanya mau pake Tanjidor dan ondel2 Mike… manaaaaaa…? Mike ingkar janji…)

Yes… as I said Things will never be the same.
Gw ngga pernah pengen menginjakkan kaki ke benua Ausralia. Makanya kemarin WYD, gw juga ngga napsu2 banget.. mau paus ke yang datang… kl di tempat lain, mgkn gw mau hehhee…
Ngga ada faktor yang membuat gw pengen ke Aussie, sama sekali.
Hari2 pertama pun gw mikir… gw ngga akan balik lagi ke Perth. Ngga terlalu suka… kurang bule menurut gw masih ada bau2 asia nya hehehe… sok ya gw! 
Tapi setelah ini, semuanya ngga akan sama.
Mungkinnn satu hari nanti gw akan balik ke sana. Terutama karena begitu banyak hati-hati yang memberikan kesan dalam diri kami.
Teman baru, pengalaman baru, dan semua hal yang mengajarkan kami untuk menghargai setiap yang terjadi dalam diri kami berdua.

Thanks for everything Lord… semua privilege yang Kau berikan pada kami berdua untuk melayani Engkau. Its always You yang bekerja dan berkarya. Tetapi kami selalu kecipratan sukacita dan berkatNya… Thanks God!

Yes guysss… all of you… Things will never be the same.
Thanks for everything.

Meeting New People… Friends are like Stars… They’re Everywhere!

Kepulangan kita dari Perth membawa berkat baru dalam kehidupan kita berdua.
New Friends! (both of us always cherish friendship)
They are like stars… They are everywhere!
Mereka memberkati kita berdua dengan banyak hal baru, petualangan baru, dan pengertian baru dalam kehidupan pernikahan kami berdua.
Thank God for the blessings! And also the weight gain! Yeaaahhhh…
Cerita lengkap menyusul ya! (lagi nulis cerita panjang nih… hehehe…)


Take a pic, on one cold and windy night… di tempat yang katanya the best pizza in the world. Mundaring.


with Oom dan Tante yang banyak mengajarkan kita tentang kehidupan, the wisdom of life.

housemates selama 11 hari 🙂 (minus Erlin, lupa take a pic with her… itu foto colongan dari facebook Erlin haha…)

to be continued…

Come and Go

Semuanya datang dan pergi dalam kehidupan kita.
Saat kelahiran kita merayakan kedatangan, saat pernikahan kita merayakan satu moment baru kehidupan, dan saat kematian kita melepaskan kepergian.

Begitu juga orang-orang dalam kehidupan kita.
Hanya beberapa orang yang tidak mungkin pergi dalam kenyataan keberadaan kita di dunia ini…
1. Parents (di manapun/ sampai kapanpun mereka ada, tidak pernah dapat memungkiri kenyataan dari mana kita berasal)
2. Siblings (iya kl punya, nah kl kagak…? tetapi siblings juga akhirnya datang dan pergi, apalgi setelah beranjak dewasa dan punya kehidupan masing-masing)
3. Relatives (ini apalagi… kadang ngga ada bedanya ama strangers, tapi kadang bisa sangat dekat ..:p)
4. Friends (ngga ada bedanya sama relative, bedanya cuma hubungan darah… yg hari gini menurut gw ngga terlalu penting)

Dalam kehidupan gw, dari waktu ke waktu gw mulai mengalami kedatangan dan kepergian, dan kadang… itu sangat melelahkan.
Like the picture says, it’s a ‘Dramaticule’ alias… a drama in my life.
Orang-orang yang dulu dekat… tiba-tiba terasa jauh dan tidak terjangkau lagi. Orang yang jauh tiba-tiba datang dan memberi arti dalam kehidupan hari ini.
Gw percaya satu hal… tidak ada satupun… yang datang dalam kehidupan kita dan tidak memberi arti dalam kehidupan kita. Sekecil apapun itu…!
Jadi… hargai setiap perjumpaan, syukuri setiap kesempatan, dan cintai setiap sapaan karena itu akan memberkati kehidupan kita. With its’ own way…

Akhir-akhir ini gw memilih untuk menghargai semuanya itu. Memang gw juga mengurangi frekwensi pertemuan dengan teman-teman/saudara/ siapapun yang akan mewarnai hari gw dengan gerutuan (kadang ketemu sama orang yang complaiiiiiinnnnnn terus, membuat kita jadi ikutan negative terus…), salah satu quotes Oprah bilang: “Surround yourself with only people who are going to lift you higher.” karena itu emang berarti besar dalam keseharian kita…

Tetapi gw tetap mencari satu makna, yang mungkin ingin disampaikan lewat setiap kesempatan yang ada.
Salah satu sahabat gw dan suami (dr.Welly) pernah berkata, dari setiap orang yang ditemui… ia selalu berusaha menangkap, apa yang Allah ingin sampaikan kepada dia… (pastinya yang positive dong…) artinya… siapapun itu… mau orangnya laki/wanita, kaya/miskin, positive/negative, dll.. pasti ada yang akan disampaikan lewat semua itu.

People come and people go
And still it gives meaning in my days
I will always remember