I’ll Find HIM Somewhere, Somehow

Saya ingat satu hari saat saya masih berumur belasan tahun – saya melamun. Bertanya. Wondering… how my wedding day will be.

Bertahun-tahun kemudian, on my late twenties, saya kembali mengungkapkan apa yang ada dalam hati saya  sambil nyanyiin lagunya Lisa Stanfield… “I don’t know where my baby is… But I’ll find him, somewhere, somehow” Desperado banget sih.

Ada masa-masa panik sebagai seorang perempuan yang saya ijinkan memainkan mood saya, naik dan turun… penuh harapan dan merasa akan mati berkarat sendirian.

Perjalanan sebagai seorang single bukanlah hal yang mudah. Saya pribadi mengalami masa-masa sulit yang membawa saya pada pacaran/persahabatan yang tidak sehat. Kalau sekarang ada istilah PHP, saya ‘menikmati’ diberi harapan palsu atau bahkan memberi harapan palsu…. 🙂 I was restless, unsecure, and desolate.

Sampai saat Saya memutuskan untuk mempercayakan hidup saya kepada Tuhan, that was the time when everything changed. I ‘met’ my husband (saya memberi tanda pada met karena sebetulnya he was there all the time… it was just not the time yet… hehehe… nyanyi-nyanyi all around the world padahal orangnya ada di depan muka gw)

2 Days... Get the ticket now!2 days from this day. 14 years from the day I sang All Around The World 🙂 by God’s grace and only by His mercy esp. for me, He trusts us with another life testimony event, wrap up with a big celebration organized by super dedicated and talented people I know in my life… Cordisians, we will invite young people around Jakarta to spend 1 day with us.      Once again we really hope they are reminded how God love them soooo much dan rancangan Allah dalam kehidupan kita adalah rancangan damai sejahtera. God just wants us to be happy.

Yes 14 years from that day, our story become His Story. Buat saya pribadi, semua kemuliaan hanya untuk Tuhan yang memberikan saya kesempatan demi kesempatan. Saya bukan orang suci. Saya melakukan banyak kesalahan dalam hidup saya. Tetapi itu cara Tuhan menunjukkan apa artinya HOPE dalam hidup setiap kita. Apapaun terjadi selalu ada harapan yang diwartakan saat kita belajar mempercayakan hidup kita kepada Tuhan. We wrote our story in this 1st baby of ours:

SEXYHOLYsquarecover

One thing I learn from my life: THERE ALWAYS HOPE in THE NAME OF THE LORD. Mungkin ada saatnya kita enggan memanggil nama itu karena banyak kali kita merasa kecewa dan berhenti berharap. Saya pernah merasakan itu. Tetapi hebatnya Allah kita, He never fail to find us. Where ever we are. What ever our condition is. Until one point, we are ready, then the best come one by one in our life.

Bila Allah saya, Tuhan saya, telah melakukan hal itu kepada saya, orang berdosa ini, Allah yang sama akan menggenapinya dalam hidup mu. And BTW, His name is JESUS. Ring a bell? 🙂

Come and join us 6December 2014 at Balai Sarbini. The best is yet to come in our life!

Advertisements

Pain In The @&$

Hidup ini fana. Hidup ini hanya sebentar. Buat yang masih di era 20-an, seakan-akan hidup masih demikian panjang sehingga banyak dari orang muda berpikir… “It’s time to party nowwww!!!” weeeeittsss… jangan senang dulu, karena waktu kita membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa terasa the next  20 years will come soon… like me today! (hhhmmm… Happy Birthday to me…!)

Apa hubungannya dengan bacaan hari ini? Ngga ada sih… hehehe… *becandaaa*

Tetapi saya tertarik untuk menggaris-bawahi ayat pertama dalam bacaan 1 di  bacaan liturgi hari ini: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”

Dari waktu ke waktu mari menyadari bahwa kita ini adalah bejana tanah liat, di mana segala hal baik yang mampu kita lakukan hari ini adalah semata-mata hanya karena kemurahan dan kasih Allah.

Dalam hidup kita, ada karakter atau masa lalu atau apapun yang menjadi seperti pain in the @&$ buat kita. That pain in the @&$ bukan berarti harus menyakitkan, tetapi mungkin adalah hal yang  menyenangkan dan kita nikmati. Tetapi dengan menikmati itu, tanpa sadar  hidup  kita ada dalam resiko  kita bisa meninggalkan Tuhan sewaktu-waktu karenanya.

It's all about JesusMisalnya: akhir-akhir ini saya tertarik pada banyak hal yang berbau new age. Mungkin karena pengaruh pergaulan.  Seseorang di kantor saya memberikan kartu Tarot. Sejak beberapa waktu yang lalu keingin tahuan saya tentang Pass Life Regration dan berbagai macam hal yang berbagu new age mempengaruhi saya dan berbuat saya berpikirrr… untuk mempelajari dan mencobanya. Tarikan ini terasa demikian kuatnya karena bicara soal ini seolah-olah membawa saya pada satu dunia baru yang demikian scientific, “masuk akal”, dan terkesan “gaul”, modern, dan pinter deh… Tetapi saya tahu… kalau saya meneruskannya, hal ini akan menjadi sesuatu yang mempengaruhi iman saya.

So.. seperti ayat dalam Injil hari ini: “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” Of course not literally you have to do that! Karena kalau iya, jangan-jangan banyak yang masuk surga dengan ngga ada bola matanya… Surga jadi horror banget ngga sihhhh 🙂

Tetapi tanyakan kepada dirimu, apa yang menjadi your pain in the @&$ now?…  Apa hal-hal yang membawa kita menjauh dari Tuhan, baik hal yang menyenangkan atau menyakitkan. Bejana tanah liat ini memang bejana tang rapuh dan mudah pecah, tetapi kekuatan yang melimpah-limpah yang akan memampukan kita melakukan hal yang benar di hadapan Allah.

Lepaskan itu dan teruslah berlari kepada satu tujuan yang utama dan selalu menjadi yang pertama… yaitu Yesus.

Believe me… you won’t regret that you spend your next 20 years… even your whole life to know Him, to love Him, and to serve Him. Because He is the center of our joy in this life on earth.

(LbA : welcoming the sexiest decade of my life with Jesus… yaayyyyy!!!)

Story of Faith: The Blessed Barren Woman

The writing below is a rewriting in English. So many feed back from this writing came and make me think that I have to make this one in English. Forgive my one two three English grammar ya.. As the writing said that nothing is impossible, I believe nothing is impossible for you to understand this one… hahaha…

——————————————————————————————————————

Unfruitful, Lack of LifeMy name is Lia Brasali Ariefano.
I was born with the name Elizabeth Lia Indahyani.
As I write this, I’ve been married for 8 years and 11 months.
To this day I have not had children.
In medical, this condition called infertility.
Or … The world says I am B A R R E N.

I understand why Sarah laughed when she heard God’s news through His angels told Abraham that she would conceive.
Luke tells us that Elizabet will also pregnant. Angel of the Lord also came to Elizabet’s husband Zakaria, and said that his wife who already had her menopause and in her old  age will get a son and they shall name him John.
No bitter words came out from their mouths. But I’m sure as a woman who understands the nature of womanhood,  they had an up and down feeling because of the label as infertile women. Sara and Elizabeth certainly had  the temptation to ask: “How is it possible?”  The nowdays language is: Mission Impossible hehe ..

Advent comes from the Latin Advenīre (ad-to + venīre to come) which means the coming or arrival, especially for someone that we look forward to.
More than 8 years my husband and I looking forward to the arrival of a child, the fruitful of our love. I am the type of woman who don’t like children. In fact there was a time I think I didn’t want to have children because they only giving me trouble and obstruct my freedom. And that’s not good for my career. But the grace of God brought me to the joy of the truth that makes me  willing to receive as many as what God’s wants to give us children. In fact I want children in our family at least 4 hehehhe
The reality today … not event 1 child ever present in my womb. Sometimes I think, is this a punishment for my sins because I’d promised myself not to have children?

Infertile or barren means unfruitful / unproductive means: lacking in liveliness or interest.
Hhhhmmmm … by definition, that’s my condition today. No wonder so many women are distressed by this situation.
No wonder Sara released permit to her husband to have a descent which is very important in their tradition.
Not told in detail what passed with Elizabeth’s struggles. But her position as a wife of a prominent priest, definitely gave her its own pressures.

Judged not to be able to bear fruit or unproductive as a woman,  make us feel that our existence as a women seems to be teared and  make us (or for me at least) think that we are “unuseful” wife.

But the mercy of the Most High God shaped my life in ways that I never thought and imagined. Because of the mercy, once again … only with compassion and mercy of the Lord, every day feels like Advent for me.
I missed the presence of children, just like other women, but today it no longer yearning painful, but actually freeing to know that my calling as a woman is not only determined by the body’s ability to conceive and bear a child.

My womanhood’s calling come to the fullest  when I able to receive the love of God, open my heart to the love God completely.
The calling of my womanhood became real, when I gave birth to the fruit of God’s love through my life’s mission (now I am preparing the 4th and another ‘solo’ book)
Womanhood for me is alive when I can give back the love that I receive from the Lord to the people around me in the form of a work.
If today I have not been blessed with a child, it was not because of sin / curse / reward for what I do. When I turn to God and ask forgiveness, I believe God He never remember my sins. My husband “fishing analogy” that  God  have thrown our sins away into the deepest ocean and provide the sign on that spot: ” No Fishing here!!! ”
I believe with a full heart (this is also the process yeee … hehehe) if today I do not have children who were born from my womb yet, I feel that I’ve had a lot of children.
Yes, for me I feel that the calling of motherhood is not just defined by the biological mother.

I feel alive and fruitful when I am in the middle of the community that God has given to me to be a place to share my life.  I’m so blessed to be in the midst of the people who continue to support me to pull out the best of me.
I feel so passionate and productive when I was there in the classroom, in the laboratory, in my study, or when I sit on my work desk also when I meet people outhere. My heart beat so loud… wants to give sign sooo vivid and alive of the  joy and hope I can pass on to humanity through medical science that I learned.
I feel so perfect every time God’s love touches me through the presence of my husband, my parents, my brother,sister, and niece,  the Cordisians, also so many friends who love me. For these blessings can I complain for more?

There is a saying: better to be loved than love someone without reciprocation. Is that so? Because not many women can accept love, even it sounds  so easy. You will never be satisfied to be loved until the heart first  being formed and restored by the grace and love of God.

Through whatever happen in my life today, there is no other word that I can say other than: Thanks be to God.
Infertility  makes everyday an Advent for me.
This situation shows me from time to time that the power of God is greater than our weakness. This “mission impossible” (ie: make me become pregnant hehehe …) taught me to be a woman of faith in God and work my faith without any back up plan. Yes, no back up plan!

Yes, again …

My name is Lia Brasali Ariefano.fruitful_pop
I was born with the name Elizabeth Lia Indahyani. While writing this, I’ve been married for 8 years and 11 months. By God’s mercy I receive His love. Through the grace of the Most High God, He changes me, and He renews my heart. Too often the world said I am stupid for choosing to follow God and His commandments of God through the teachings of the church.
I believe my faith in God  who keeps my hope alive will make the world someday call me: BLESSED.

Together in the Lord, He will make me like a tree planted by streams of water, which produces fruit and leaves that are not wilted. At that time the world will see the wonder and shouts of joy  and the Love of God will fill the hearts of many people because we know that infertility is not a mission impossible for our God.

“Happy Advent” to all ‘barren’ woman out there (I know today is not December of course hehehe…)
With the love of Jesus we are never barren on His sight.
We are woman with special plan from God. We are called to be fruitful in many ways.
With God nothin ‘such Mission Impossible, cause anything is possible!

-The blessed Lia-

yaayyyyy…

A Boy Who Knew How To Fight

Menjelang akhir tahun lalu, ada sebuah e-mail di sebuah milis yang bertemakan pro life. E-mail ini berasal dari seorang perempuan berusia sekitar 18tahun yang mengatakan dia hamil, dan sedang “galau” apakah dia akan mempertahankannya atau tidak. Saat saya membaca e-mail ini, hati saya tergelitik. Tugas saya sebagai salah satu bagian dari gerakan Youth Mission 4 Life (YM4L) menggerakkan saya untuk segera menghubungi alamat e-mail perempuan muda itu, tetapi di sisi lain saya bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan?” Kalau saya bilang jangan aborsi… terus apa? Saya mau adopsi gitu?

Setelah bergumul, saya menuliskan e-mail pribadi ke perempuan muda ini, mengajaknya untuk bertemu dll. Dia membalas e-mail saya sampai akhirnya saya merasa dia cukup comfortable dengan saya, sehingga dia memberikan kepada saya PIN BB nya.
Di situlah dimulai percakapan kami, yang membawa saya kepada pengenalan saya kepada seorang sosok yang mengubah hati saya.

Sebut saja perempuan muda ini Nina (bukan nama sesungguhnya). Nina cerita kalau dia sudah menegak beberapa pil yang dia tahu dapat meluruhkan janin yang ada dalam kandungannya. Ia tidak siap menerima janin ini karena pacaranya adalah suami orang dan kondisi ayah-ibunya juga sedang dalam keadaan yang tidak baik. Saay itu saya tidak tahu harus berkata apa, bahkan saya sendiri mempertanyakan ke diri saya, kalau saya ada di posisi Nina apa yang akan saya lakukan?
Tetapi saya teringat akan satu hal yang pasti, yang saya percayai, bahwa tidak ada kebetulan di dalam dunia ini. Bila seorang manusia tercipta oleh karena sebab apapun… Allah sang pencipta PASTI punya rencana besar atas kehidupan baru ini. Saya pernah merasakan diri saya sebuah kesalahan. Saya pernah hampir merasakan kematian. Bila saat ini saya masih hidup, this is my 2nd change and I won’t let one life pass away with no fight at all!!!
Selama 2 hari saya hanya menjadi teman bicara Nina di BB. Saya berusaha menjadi pendengar dan mengerti keadaannya, tetapi di sisi lain, saya berusaha menyampaikan ke Nina… “Aborsi bukan jalan keluar! karena saya membaca lebih banyak efek samping secara fisik dan psikologis yang akan dialami oleh sang Ibu seumur hidupnya dibandingkan mempertahankannya dan mencari jalan keluar untuk itu.” Tetapi Nina bersikeras untuk tidak memperhatikan janinnya.
Sampai suatu sore setelah saya agak memaksa dia untuk pergi ke dokter kebidanan, akhirnya Nina memutuskan pergi dengan pacaranya, dan melakukan USG pertamanya. Saat itu untuk pertama kalinya Nina melihat, anak dalam kandungannya. Jantung nya berderak, dan janin yang tadinya hanya terpikir ‘sesuatu’ oleh Nina berbentuk seorang manusia dengan jantung yang berdetak di dalamnya.
8 weeks - real sizePulang dari dokter Nina BBM saya… saya ingat malam itu adalah pembicaraan penuh derai air mata… (paling engga sih dari pihak saya heheheh…)… saya ingat waktu Nina berkata: “Ngga nyangka ya Mbak.. anak itu masih hidup, setelah apa yang saya lakukan ke dia.” dan waktu itu saya hanya menjawab: “Saya cuma merasa dia berjuang keras ingin melihat Ibunya. Dia ingin hadir ke dunia untuk melihat ibu bapaknya yang mencintai dia.”
Lalu Nina berkata: “Mencintai? Setelah apa yang saya lakukan ke janin ini?”
Saya hanya menjawab: “Anak ini belum mengerti apa namanya kebencian. Dia tercipta karena kehendak Allah, dan Allah adalah kasih, jadi yang dia tahu ya hanya kasih. Jadi rasanya dia berjuang untuk hidup, untuk bertemu dengan mamanya.”
Setelah kalimat itu, jawaban BBM Nina hanya icon orang menangis… dan pembicaraan kami terdiam lama.
Tetapi malam itu Nina akhirnya sampai pada keputusan, akan mempertahankan janin itu. Ia akan merawatnya dengan baik mulai saat itu.
Mempertahankan seorang anak dengan kondisi Nina saat itu adalah sesuatu yang benar, tetapi tidak mudah, sehigga saya terus menyemangati dia untuk mendekat kepada Allah. Sholat 5 waktu, sholat tahajud, ngaji, dan lakukan semua aktivitas yang mendekat kepada Allah… hanya itu yang bisa saya lakukan untuk menyemangati Nina dari jauh… Saya ingat hari itu hari Jumat malam.

footprints babySabtu siang, Nina BBM saya mengatakan dia flek dan perutnya terasa nyeri seperti orang mau menstruasi. Saya agak insist waktu itu untuk mendatangi rumahnya dan mengantarkan dia ke dokter, tetapi seperti biasa Nina menolak. Sampai akhirnya Sabtu sore Nina diantar pacaranya ke dokter, dan oleh dokter diberi obat penguat rahim dan diminta untuk bed rest. Ketika Sabtu malam Nina pulang ke rumah dan kami terus berhubungan melalui BBM, hati saya sedih mendengar semua cerita ini. Saya seorang dokter, tetapi di saat seperti ini saya merasa helpless… tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak mampu melawan kehendak bebas seseorang untuk mempertahankan atau membuang kehidupan. Saat itu saya kembali teringat bahwa I am not the savior of the world. Sepanjang malam saya menyemangati Nina untuk terus bertahan dan tidak putus asa akan kehidupan yang hadir di dalam rahimnya. Terus saya ingatkan Nina untuk tahajud, mohon ampunan dan minta Allah menunjukkan jalan untuk kebaikan dirinya. Sampai hari Minggu siang, Nina BBM saya lagi dan berkata: “Darah makin banyak keluar Mbak, perutku makin sakit, kayaknya ada yang ngga beres, aku mau ke dokter lagi.” Itu BBM terakhir Nina, sampai hari Minggu malam saya menerima kabar, bahwa janin itu sudah tidak ada. Kehidupan itu sudah pergi meninggalkan Nina. Malam itu setelah menerima BBM itu… saya menangis.
Saya merasa gagal. Saya merasa begitu kecil dan tidak berarti.

Kisah ini hanya satu kisah, diri begitu banyak kasus aborsi yang terjadi di Indonesia.
Angka aborsi di Indonesia menurut statistik 2010 adalah 2,5 juta kasus/ tahun. Artinya: sejak saya mulai menuliskan kisah ini sampai detik ini sekitar 10 menit, sudah ada 5 kasus x 10 menit. Sudah ada 50 pembunuhan janin yang tak bersalah di negara yang katanya beragama ini!
Bagi saya, yang saya ingat waktu mengucapkan sumpah Hipocrates adalah: saya bersumpah untuk mempertahankan kehidupan, bukan membunuh kehidupan. Tetapi angka statistik ini mengejutkan dan rasanya (bahkan pastinya!) kita harus berbuat sesuatu.
Malam itu… percakapan BBM saya dengan Nina setelah Nina pulang dikuret. Saya bertanya, bolehkan saya mendoakan anak ini? Malam ini Nina baru tahu kalau saya seorang Katolik, dan Nina agak terkejut karena menurut Nina saya cukup fasih saat menyemangati nya dengan terms yang banyak dipakai oleh agama Islam… hehehe… saya bilang Nop saya seorang Katolik, tetapi saya memang besar di lingkungan yang banyak berinteraksi dengan saudara-saudara dari Moeslim. Saya mengatakan bahwa di agama saya, kami mendoakan setiap kehidupan yang pernah hadir di dunia ini. Kami mendoakan arwah mereka dan meminta Allah mengasihani mereka dan membawa mereka kepada hadirat Allah sehingga mereka dapat hidup selama-lamanya dengan Allah. Saya menanyakan: “sebagai Ibunya, Nina merasa itu cowok atau cewek?”
Nina jawab: “Cowok Mbak, dan aku sudah punya nama buat dia… A**a. Mbak ada dari awal seluruh proses ini… apakah Mbak bersedia memberi last name pada anak ini?”
Saat membaca permintaan Nina itu… saya langsung mewek tingkat 7 hehehe… It is really a privilege for me diijinkan memberi nama kepada anak ini. Anak yang mengagumkan karena dia berjuang demikian keras untuk kehidupannya. Saya berpikir sejenak… dan kemudian saya berkata ke Nina: “Mercio… I will give him last name: Mercio.”
Saat memikirkan nama itu saya teringat akan belas kasihan Tuhan kepada anak ini, memberinya kehidupan dan kemudian anak ini bertahan demikian kerasnya sampai setelah beberapa upaya untuk mengugurkan dia, jantungnya masih berdetak dengan kencang di USG terakhir. Bagi saya tidak ada pernyataan lain bahwa itu adalah belas kasihan Tuhan terhadap anak ini dan Nina yang dapat melihat anaknya untuk terakhir kalinya.
Mercio juga berarti pejuang, dan tidak disangkal dia adalah seorang pejuang kehidupan. Dia boleh tidak diingat lagi, bahkan kehadirannya tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh kedua orang tua atau kakek neneknya, tetapi bagi saya A**a Mercio akan selalu hadir mengingatkan saya untuk terus berjuang bagi kehidupan.

Power-to-Save-a-Life-logo

Bagi saya seorang yang belum dikarunia anak ini, memberikan nama kepada Mercio adalah hal yang menghangkatkan hati saya. Dari waktu ke waktu Tuhan menyapa hati saya dengan kehangatan akan kehidupan baru. Mengingatkan saya akan harapan yang selalu ada bagi diri saya.
Bagi saya kehadiran Mercio memberikan saya arti… bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun yang bisa kita lakukan untuk memperjuangkan kehidupan… itu pasti akan berarti.
Seperti seorang anak laki-laki bertahun-tahun lalu, yang juga hampir diaborsi ibunya, dan dia menyelamatkan nyawa saya… Mercio yang telah kembali ke pangkuan Allah juga menyapa dan mengingatkan hati saya kembali akan makna kehidupan.
Mercio teaches me how to fight. He was a boy who knew how to fight!
Dengan semangat itu saya terus diingatkan untuk terus berjuang memperjuangkan kehidupan.

Save a life… one day at a time.
Hidup ini dari Tuhan untuk menghiasi dunia ini dengan kasih karena Allah adalah kasih.

Renungan Jumat di Radioterapi

Siang ini dengan badan yang sangat ngga enak saya nunggu di ruang radioterapi RSCM. Nungguin kuliah jam 12.30, sedangkan saya dtg kepagian 1 jam.

Duduk sambil manggut-manggut seakan setuju sama pembicaraan ibu2 di sebelah, saya menahan badan saya supaya ngga gabruk. Rasanya sulittttt bersyukur kl ud ngga enak badan gini.

Tapi sambil semilir, saya memperhatikan aktivitas pasien-pasien kanker yg sdg menunggu giliran buat disinar, serta keluarga yg mendampingi mereka. Ada yg jalan-jalan dgn belalainya (begitu istilah Mungky dulu ttg sondenya), ada yg sedang membaca, ada yg melamun, ada yang merem sambil megangin bengkak luka yang kayaknya berdarah.

Rasa syukur menyelip masuk perlahan dalam hati saya. Kekaguman yang tiada habisnya saya berikan untuk pasien kanker yang menghidupi arti pengharapan.
Awal saya duduk di sini, saya sempat terganggu dengan pemandangan duduk dengan kaki diangkat, ‘ngelosor’ di kursi panjang. Tdk ada yg duduk tidak angkat kaki (untung tdk ada yg meludah!), tetapi makin lama, curi dengar asal mereka yg dari kampung, bagaimana mrk berusaha menghargai hidup, saya terharu.

Orang sederhana sangat mudah berinteraksi satu sama lain. Mereka tdk pusing akan jabatan, image atau apapun. Mereka mensharingkan kehidupan dengan mudah, saling memeluk tanpa risi, berbagi makanan dari keterbatasan mereka, menghargai hidup dgn sangat sederhana. Kelihatannya mereka lebih mudah dibuat bahagia daripada saya seorang dokter, mahasiswi S2, yang katanya kaum intelektual. Kok ironis ya…?

Saya selalu menemukan Yesus di kalangan org sederhana. Yesus begitu mudah dijangkau lewat hidup mereka. Mungkin penderitaan mereka membuat Yesus lebih transparan dan mudah ditemui.

Oh Tuhan.. Oh Yesusku..
Beri aku rahmat untuk tetap sederhana. Hati yang mudah menampakkan kasih.
Jangan biarkan aku teralih dengan keegoisan ku. Ajarkan aku dapat berbagi hidup karena di situ aku menemukan Engkau yang juga dibagi-bagikan.

Jumat Pra Paskah ke berapa yaa…

*miss you Mungky*

Love Letter to My Hubby On a Cloudy Mid-Day

Di suatu perjalanan dengan bus menuju Tumpang untuk retreat, long-long ago in August 1995 I met him.

Waktu itu saya masih duduk berdampingan dengan mantan pacar saya (bener-bener mantan pacar yang tidak jadi suami :-p), dan dia duduk berdampingan dengan mantan pacar nya (yang juga bener-bener mantan pacar yang tidak jadi istri:-p).

Sembilan tahun kemudian di tahun 2004, setelah begitu banyak yang terjadi… ternyata dia (yang tadi duduk sama mantan pacarnya itu), benar-benar menjadi mantan pacar yang akhirnya jadi suami saya. (hhhmmm belibet ajeeee….) Bener-bener life is a mystery dahhhh 🙂

Seven years sevent months friendship, one year and two months courtship, and six years eight months in marriage life, he transforms from someone to dearest one for me.

Saya belajar untuk menuliskan kata-kata cinta. Karena begitu banyak luka membuat kata-kata cinta sepertinya tidak lagi berarti untuk dituliskan dan/atau dikatakan.
Hati ini kembali menjadi hati kecil yang kembali belajar berjalan seperti Celine (anak babtis kami). Belajar untuk kembali mampu merasa dicintai.
Seluruh raga memperbolehkan kembali diri ini untuk terluka karena mencintai. I let my heart fall in love again.

Yes, today I fall in love with the man I married 6 years and 8 months ago. It’s such a warm and secure feeling.

It’s an emotional feeling because in a second all the feeling can turn to a fuzzy feeling full with complaining.
It’s lebayyyy writing this (yes or no?)… because in a second this love letter can change to a demand letter full of ‘why’ and ‘when’ questions and list of target he has to achieve as my husband.
It’s impulsive to wanting you my darl (copyrite from Angie Sondakh gw pinjem dulu) because in a second I can make you feel unwanted and unneeded.
But it’s ok because I learn to give my self completely day by day. My emotional, lebay, and impulsive (in a good, charming way) feeling and also my weakness who’s make me so uncaptivating to you.

Thank you for being my hero since day 1 of our marriage by giving yourself to take the cross of life (who’s me as the cross of course! 😀 kok malah bangga? Hehehe…)
Thank you for the hard work you did (and do) all these times to fulfill my need and comfort (I’m such a high maintenance wife in terms of comfort and pleasure rite?)
Thank you for making my dreams become your dreams, holding my hands and keep whispering to me that we will make all our dreams come true. Together!

Thank you because you always put God as the center of your life. By doing that you sanctify me as your wife.

Sementara ini… itu dulu thank you yang tertulis… (Thank you for a million reasons deh, tapi ntar keburu ilfil bacanya :D)

Most of all… Thank you for loving me by giving yourself to me…
Free, total, faithful, and fruitful …. (ToB bangeeetttt hihihihi…)
I have to stop before 12AM, and this love letter change to a pumpkin of grumpiness 😀

And we live happily ever after (teteuuppp maksa kayak Cinderella)

Your lovely wife, (eheemm- eheemmm)
Lia (bukan Cinderella!)

Inspired by Angelina Sondakh… hehehee… Bukan nyumpahin suami gw kayak Adjie Marsaid (*amit-amit*!!!), tapi life is too short, so I better say (or write) a blessing words instead of anything unuseful.

Disclaimer:
Ini karya “sastra” tulisan gw lohhh… jadi bukan mau pamer perasaan cinta… hahaha… kalau merasa mual saat membaca ini silakan langsung dimatikan (mudah2an bukan my hubby yang doing it!… gagal deh love letter gw!).
Tapi kalau mau pindah bacaan lain… sorry it’s too late… because you’re at the end of this love letter hahaha…
Silakan memutuskan: mual-mual atauuuu  feel like Cinderella (in a real world!)
Yang pasti suami gw yang bakal geleng-geleng kepala baca tulisan istrinya yang sok Inggris dengan grammer berantakan dan sok PD pula! yayyyy that’s me 😀

Song of My Heart

Song of My Heart
Menanggapi e-mail Feli : RE: [DomusCordis] Indonesia Mengajar

hope will be the song that linger in my heart

Dulu… dulluuuuuuuuuuuuuuuuu sekali.

Saya pernah bermimpi masuk ke pedalaman untuk mengajar atau menjadi seorang dokter pengabdi masyarakat seperti Dr.Sartika (sinteron Dewi Yul jaman gw belum puber hehehe…)
Saya pernah bermimpi jadi duta WHO tinggal bersama orang-orang kelaparan dan memperbaiki kesehatan mereka.

Lalu makin besar, makin mengerti apa artinya kenyamanan dan kemampuan bertahan.
Bersamaan itu dengan penyadaran diri, dan ketidak percayaan akan mampunya meraih mimpi masa kecil, mimpi itu perlahan memudar.

Hari-hari ini, terutama sejak masuk dalam dunia mimpinya Domus Cordis:
Mengecap dipan dan senyum tulus embah-embah tua, serta senyum di wajah anak-anak saat menerima beasiswa di Manoreh.
Menatap dalam-dalam mata Herman dan melihat anak-anak bermain dengan sarana dan prasarana pendidikan yang ‘asal ada’.
Mengetahui ada seorang anak remaja punya mimpi dan ingin sekolah tinggi di satu daerah pinggiran Atambua.

Kenyataan-kenyataan ini menggetarkan hati dan mengusik rasa nyaman saya.
Lyrik lagu Anggun C.Samsi : Melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi, terlelap dalam lautan emosi. Setelah aku sadar diri, kau t’lah jauh pergi, tinggalkan mimpi yang tiada bertepi;
membuat hati ini lebih terusik lagi. (emang sih konteks lagunya berbeda, but still….)

Bila seorang saya (yang lahir, besar, dan tinggal di Jakarta pusat kepenuhan sarana, prasarana. Diberkati dengan rejeki, perhatian orang tua, dan saat ini menjadi seorang dokter) saja, mampu kehilangan mimpi,
apalagi mereka?
Mereka mungkin tidak pernah tahu apa definisi dari kata mimpi, bahkan jangan-jangan tidak ada yang pernah mengatakan bahwa harapan selalu ada dalam hidup mereka.

Saya setuju dengan Feli, anak-anak ini butuh role model. Generasi muda butuh figur.
Tidak pernah terlambat untuk membiarkan mimpi tiada bertepi, tetapi diiringi dengan kepercayaan bahwa sang pemimpilah yang membiarkan itu tiada bertepi karena ia telah meraihnya satu demi satu.

You are what you think you are!
You, fellow Cordisians, and me will be the witness of dreams.
Mari bersama merenggangkan kapasitas kita, because we are more than we think and He already (and always be) equiped us with everything we need to do this mission.

Herman and friends

Mari bersama punya mimpi buat sesama, punya mimpi melihat satu hari Herman(*) tersenyum dan membuat kita yang mengetahui latar belakang hidupnya lebih tersenyum lagi karena melihat kebesaran dan kemurahan Tuhan setia dalam hidup Herman-Herman di luar sana.
Kita akan memaknai senyum lebar kita, bila kita turut andil mengukir senyum itu.
Kita diberkati dengan pengetahuan mengenai mimpi, Let us be role model for each other with God as our center of role model.

Kalau ini adalah satu mimpi, saat ini saya seorang perempuan dewasa yang mampu memperjuangkan mimpi saya.
Kali ini.. saya tidak akan membiarkan mimpi saya pergi.

See hope in anyone’s eyes,
feel the air of hope in anyone’s heart,
and witnessing celebration of life from anyone I meet
will be song that linger in my heart.
This song is like voices of Angels calling out my name (and I hope yours too…)

Common Cordisians and everyone… Inspire the World with love!

(*) Herman adalah seorang lelaki anak usia 6 tahun yang telah ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya.
Anak yatim piatu ini diperlihara oleh neneknya, dan sering ada di gereja sehingga sangat dikenal oleh Romo2 dan lingkungan gereja.
Dia berkeliaran selama session di Lahurus. Buat saya pribadi yang tidak suka anak yang bandel, Herman sangat mengganggu.
Tapi saya spenuhnya  tahu di balik itu hanya jiwa seorang anak yang butuh perhatian, bimbingan, dan kasih sayang.
Hhhhhhh.. (*cumabisatariknapas*)

——————————————————————————————————–

From: domuscordis@yahoogroups.com [mailto:domuscordis@yahoogroups.com] On Behalf Of Kevin Darmawan
Sent: Tuesday, September 21, 2010 1:36 PM
To: domuscordis@yahoogroups.com
Subject: Re: [DomusCordis] Indonesia Mengajar

Sepertinya Laskar DC perlu segera memberi inspirasi ke anak-anak bangsa ini.  Mungkin bisa dimulai dengan memberi inspirasi supaya anak2 tsb bisa menjadi developer jalan raya dan jalan tol yg tidak Ambles.  =)

In Him,
Kevin

2010/9/21 Felicia Sidharta <felicia.sidharta@gmail.com>

Eh..
Gw baru tau ada gerakan Indonesia Mengajar. Telat banget ya??
http://indonesiamengajar.org/index.php?m=page.faq
hehehe.. Keren yaaaa…. Jadi lulus kuliah bisa ngajar anak kecil di pedalaman selama setahun.

Katanya sih kalo udah gitu cari kerja juga banyak koneksi sana sini dari program itu.. Bahkan bisa dapet link  ke beasiswa sana sini.
Mirip2 Peace Corp di Amrik.. (Dulu gw pengen banget ikut gituan tp kyknya kalo ga orang Amrik ga bisa)
Trus trus. katanya ya (ada temennya temen yang mo pegi jadi guru Indonesia Mengajar ke Halmahera)..
Nanti disana salah satu tugasnya mengajak anak SD untuk berani bermimpi!!

Katanya hasil riset beberapa tahun belakang itu.. anak kecil jaman sekarang kehilangan role models.
Jadi kalo jaman dulu masih ada yang berani mimpi mau jadi presiden, dokter, polisi atopun power rangers (hasil didikan Susan dan filem setengah jam sore sore) sekarang pada bingung.. mimpi jadi apa ya? OB gitu kadang. hais.
lagian anak kecil uda beken dapet waktu nyanyi di tipi nyanyinya lagi cinta.

Padahal dengan gosip2 jakarta akan tenggelam dalam 20 tahun.. akan dibutuhkan anak2 kecil yang berani bermimpi untuk menjadikan…. misalnya Garut atopun Puncak untuk jadi pusat bisnis selanjutnya.

Tapi ya.. pada intinya seiring makin kompleksnya masalah2 yang ada.. kalo ga bisa mimpi.. aga aga modyar juga. 😀

Demikian inspirasi hari ini. Yeay

Feli-

Things To Be Thanked for on 2009, Especially This Christmas!

The reflection of mine… This Christmas.

Kalau diingat-ingat kayaknya udah lama banget saya ngga merasakan apa yang namanya ‘The Spirit of Christmas”.

Seinget saya, terakhir saya merasa happy adalah waktu malam natal dibangunin papa-mama saya, dan mendapati sepatu saya yanga terisi rumput sudah habis dimakan Rudolph (itu kata papa saya!) dan sebuah hadiah besar ada di sebelah sepatu saya sebagai ganti rumput itu. It was a beautiful memory of childhood! (*love you papa-mama*)

Setelah itu begitu banyak hal terjadi di bulan Desember, ditambah hubungan saya dengan Tuhan yang tidak terlalu bagus, spirit itu rasanya hilang tak berbekas. Bahkan setelah semuanya membaik, the spirit of Christmas tetap sulit untuk saya rasakan lagi (read: https://whittulipe.wordpress.com/2008/12/).

Tapi tahun ini adalah tahun yang luar biasa buat saya. Film-film bertema Natal di TV yang biasanya pengen saya langsung matiin saat saya lihat, kali ini tidak. Lagu Natal yang rasanya menyayat hati biarpun itu lagu Jingle Bells, tidak lagi terdengar seperti Jungle Bells seperti biasanya.

Entah apa yang terjadi… padahal tahu ini bisa dibilang adalah tahun yang ‘sulit’ buat saya. Sulit on a positive way. Kerjaan yang lagi banyak-banyaknya, sekolah yang sampai tgl.23 Desember masih ujian, banyak penyangkalan diri dan perubahan yang saya lakukan tahun ini.

Tapi mungkin itu artinya Natal. Lahirnya seseorang yang memberi makna baru atas kehidupan kita. Seorang yang lahir ditengah kehinaan tetapi justru mendatangkan keselamatan.

I have so many things to thanked for this year:
1. I got a problem. A REAL problem di awal tahun. Tetapi hari ini masalah itu membuat saya menjadi seorang perempuan yang lebih baik.
2. My ‘little’ brother got married. I am so happy for him.
3. I got 1 semester scholarship! Sesuatu yang ngga pernah saya sangka, saya diterima di Program Biomedik FK UI bidang Onkology. Buat saya itu adalah one of my WOW moment (read: https://whittulipe.wordpress.com/2009/08/15/one-of-my-wow-moment/)
4. I was blessed with a beautiful trip to Austria (my dream land), and other countries on Central Europe. It was another blissful moment of my life.
5. Prepared a project called Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood with another 9 writers, and so many great women.
6. Start my school, lack of sleep, headache all day, and all the things i have to fight with the 36’s years old brain… gooosssshhhh :p
7. Met so many great people, priests, nuns at the Girisonta’s project, Perbukitan Manoreh.
8. Launching of Renungan Harian Wanita 2010, biarpun agak mepet, tapi rasanya ini salah satu faktor besar yang mempengaruhi my spirit of Christmas.
9. Celebrating the life of my parents, parents in law, my brother and his wife who’s expecting my nephew/niece to be, my friends, my new friends at Biomedik, my aunty Linda, my family, my community Domus Cordis, my work colleague, my patients, my Mindy.

10. Treasuring every moment with my hubby. He makes my days jingle all the way!  I love you more and more each day my love.

Last but of course not least: My Jesus who has a super duper truper druper patience and love to me.
To You my Lord and saviour, my Father, my beloved Holy spirit, my guardian angels, m

y saints: St.Elizabeth, St.Angela, beloved dad John Paul II, and all the saints and angels ‘up there’… Merry Christmas!

Without the presence of Jesus my life will not be the same. HE will make your life meaning

ful too… as HE already did (and always will do) it to me.

Merry Christmas every one!

Btw, I always dream of a white Christmas. 🙂

I am making my dreams come true… Proudly Present: My First ‘baby’

TELAH TERBIT:
Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood.
terbitan Domus Cordis Literature Apostolate, siap dipasarkan tanggal 10 Desember 2009…!!!

Harian Wanita (RHW) ini dibuat dengan harapan dapat menemani para perempuan Katolik dalam menemukan/meneguhkan jatidiri mereka, dan melalui hari-hari mereka.
Renungan ini ditulis oleh 10 perempuan dari latar belakang yang berbeda (keterangan penulis lebih lengkap di bawah), dengan Kata Pengantar dari Rm. Deshi Ramadhani SJ. Untuk itu, Domus Cordis (DC) Literature sangat berharap RHW ini dapat menjangkau dan memberkati perempuan Katolik sebanyak mungkin.
Partisipasi semua rekan-rekan dalam menyebarluaskan (memasarkan) RHW ini tentu akan sangat membantu tercapainya harapan ini.

Rencananya RHW ini akan dipasarkan melalui PD-PD dan atau komunitas/toko buku/ gereja/kategorial/kelompok Katolik yang ada di seluruh Indonesia.
Untuk itu, ada penawaran khusus dari DC:
1. Diskon 10% untuk setiap pembelian min 20 pcs.
2. Diskon 20% untuk pembelian min 50 pcs.
Harga: Rp.55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Selain itu, mohon info dari teman-teman sekalian jika memungkinkan/berkeinginan berjualan di gereja masing-masing. DC Literature akan menyiapkan surat pengantar/surat ijin ke Romo Paroki (mohon info nama Romo &Paroki-nya).

Sekian info dari DC Literature.

Apabila teman-teman punya info channel/cara lain untuk memasarkan RHW ini, please info ya. Pasti akan sangat membantu.

Info&Pemesanan, hubungi bagian pemesanan:
Thres (e_theresia@yahoo.com / 0815 1163 8288)

Para Penulis:
1. Anastasia Avi DT
Seorang istri dan marketing manager sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia, koordinator Literature Apostolate – Domus Cordis.
2. Angelin Savitrie
Single, mengajar di sebuah perusahaan penyedia pendidikan bahasa Inggris di Jakarta, koordinator Preaching Apostolate – Domus Cordis.
3. Annatasia Widiyanti
Seorang istri dan ibu dari 2 anak (sedang hamil anak ke-2), serta rekanan dari sebuah Kantor Akuntan Publik , bersama suaminya menjadi koordinator Formation Division – Domus Cordis.
4. Fonny Jodikin
Seorang istri dan ibu dari 1 anak, bermukim di Vietnam, dan mengabdikan diri sepenuhnya sebagai Ibu Rumah Tangga sambil terus menceritakan kebaikan Tuhan lewat tulisan-tulisannya.
5. Ika Sugianti
Single, psikolog anak dan remaja, koordinator Counseling Apostolate – Domus Cordis.
6. Dr.Lia Brasali Ariefano
Seorang istri dan dokter umum yang mendalami biophysics healthcare dan biomedics, pengajar Teologi Tubuh, serta bersama suaminya melayani di Domus Cordis.
7. Dr.Lucia Luliana SpRM
Single, dokter spesialis rehabilitasi medik, bekerja di 2 rumah sakit ternama di Jakarta, staf pengajar FK Atma Jaya, pengajar Teologi Tubuh, serta melayani di Domus Cordis.
8. Mungky Kusuma
Single, bekerja sebagai seorang profesional, terlibat aktif di berbagai kelompok kerasulan Gereja, penasehat Domus Cordis.
9. Sr. Amanda, OSU
Biarawati Ursulin, aktif dalam berbagai karya pendampingan dan pastoral di Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia.
10. Yurika Agustina
Single, pewarta Katolik full-time, koordinator bidang pembinaan orang muda BPK PKK KAJ, pengajar Teologi Tubuh, dan penasehat Domus Cordis.

(one of) My “WOW” Moment

Waktu saya membuat blog ini, saya memakai sub tema:  Life is Full of Surprises.

Saat itu saya tidak berpikir apa-apa. Saya hanya melihat ke belakang dan melihat betapa hidup saya adalah penyertaan dan belas kasihan Tuhan se mata-mata. Dari seorang anak wanita yang minder, (merasa) buruk rupa, (berpikir bahwa) dirinya bodoh, ngga mungkin ada lawan jenis yang ‘mau’ sama saya karena seluruh keberadaan saya. Tahun-tahun gelap dalam kehidupan saya berlalu, tanpa saya komunikasikan dengan siapapun. Ada masanya saya makin hari main mendekati jurang maut.

Satu persatu mimpi yang saya punya, hanya saya taruh di dalam kotak ketidak-mungkinan saya. Saya mengkotakan diri saya ke satu batas-batas yang saya ciptakan sendiri dan tidak mau saya buka karena itu akan mengganggu comfort zone saya.

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan mengalir deras dalam hidup saya. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bermula saat saya membaca satu buku yang kontroversial : The Secret. Waktu saya membaca buku itu entah mengapa saya merasa cinta Tuhanmengalir deras di hati saya, dan memulihkan beberapa bagian hati saya yang terluka. Cinta Tuhan yang mengalir melalui suami saya yang terus menyemangati saya, dan orang tua saya yang terus mendoakan saya, melengkapi proses itu. Kesempatan yang datang melalui orang-orang yang mengasihi saya juga mulai berdatangan, dan saya belajar untuk tidak melepas kesempatan itu begitu saja.

Salah satu mimpi saya, ingin jadi dokter yang ahli di bidang cancer. Tetapi banyak keadaan yang membuat saya tidak masuk dalam pendidikan spesialis membuat saya berpikir, mimpi itu sudah pupus. Tapi kenyataan nya: 31 Agustus besok adalah hari pertama saya kuliah lagi untuk program Magister Biomedik dengan kekhususan bidang Kanker.

Mimpi yang lain, saya pernah berusaha untuk masuk ke Bidang spesialisasi Paru untuk menjadi dokter spesialis paru. Tapi saya mengurungkan niat itu. Dan saat saya mengurungkan niat itu saya berpikir saya tidak mungkin bisa berhubungan lagi dengan dunia itu. Saya juga bermimpi ingin jadi pembicara seminar-seminar resmi untuk dokter-dokter, tetapi hanya dengan berbekal dokter umum, siapa yang mau pakai saya?
Tapi kenyataannya: hari ini saya bicara di depan 200 dokter umum dan spesialis di acara resmi PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia): Semarang Respiratory Update II. Ini adalah perhimpunan tempat di mana dulu saya pengeeennnn sekali jadi dokter Paru dan bisa bergabung di Perhimpunan ini.

Surprised by the amazing work of God in my life!
Surprised by the amazing work of God in my life!

Bila kulihat hidupku dan karya tanganMu, ku terkagum.

Ngga habis-habisnya saya terkagum-kagum tentang cara Tuhan mengejutkan saya. Saat saya mulai lupa akan mimpi dan keinginan saya, Ia Allah yang tidak pernah lupa. Ia mengejutkan dengan cara yang tidak pernah saya perkirakan. Siapa yang sangka saya diminta menggantikan salah satu senior saya bicara… eeehhh.. di depan satu simposium yang dibuat oleh bagian Paru lagi… 🙂 Bagi orang lain mungkin ngga berarti, tapi bagi saya, ini tanpa pembelaan Tuhan atas hidup saya.

For all woman out there, saya seorang ibu rumah tangga. Saya memang belum mempunyai anak, tetapi rasanya hidup saya juga cukup ‘seru’ dengan semua aktivitas saya. Jangan pernah berhenti bermimpi, jangan pernah putus harapan terutama akan Tuhan, karena saat kita terus berharap Ia Allah yang akan membuat kita terperangah dan ‘melongo’ melihat apa yang terjadi dalam hidup kita.

Pikirkan yang baik, yang indah, yang benar, yang mulia, yang memberkati. Bermimpi yang besar dan biarkan dirimu terbang tinggi dalam panggilan kewanitaanmu.

Wait for the WOW moment with God. You will understand, why I say life is full of surprises… 🙂

The best is yet to come!