Dance with My Father: a memoir – The Fireworks in Me

The Fireworks in Me

Saya tiba di kamar kos saya.
Tidak ada yang berubah di dalam kamar kos saya tersebut. Semua masih sama.
Tetapi waktu saya melangkah masuk ke kamar saya itu, ada rasa berbeda.
Sangat berbeda.
Saya memandang tempat tidur saya yang masih berantakan.
Masih teringat jelas apa yang terjadi di atas tempat tidur itu.
Saya duduk di atas tempat tidur saya. Menghela nafas panjang sambil mengambil plastik obat yang menjadi pertarungan hidup saya selama 2 hari belakangan ini.
Saya rapikan tutup plastik obat itu, dan saya simpan di dalam lemari meja belajar.

Terdengar ketukan pintu. Ternyata Oom yang kemarin menyapa saya.
“Nona, dipanggil Oom dan Tante, diajak makan bersama. Nanti malam mau pasang kembang api.”
Saya sempat bengong sejenak – hah? Kembang api? Baru saya tersadar ini tanggal 31 Desember 1999.
Di mana-mana bakal jadi pesta besar bergantian tahun milenium ini.
Saya tersenyum. Ini Oom mantan pasien Rumah Sakit Jiwa. Artinya… dulu dia orang gila. Literally gila.
Tapi rasanya kok dia lebih waras dari laki-laki yang pada kenyataannya lulusan luar negeri. Paling tidak saya merasa diperhatikan oleh Oom ini…
*sigh*
Rasanya kemarahan di dada ini begitu besarnya, sampai apapun yang tidak ada hubungan nya saya hubung-hubungkan ke situ.
Saya menjawab: “Terima kasih Oom, bilang sama Oom dan Tante ya saya menyusul, saya mandi dulu.”
Saya menutup pintu. Tiba-tiba kembali rasa sakit, kesepian, dan sendirian seperti mencekam hati ini.
Rasanya ingin menangis, tetapi herannya tidak ada satu tetes air matapun yang keluar dari mata saya.
Air mata itu tidak mampu keluar sampai bertahun-tahun kemudian.
Saya baru saja lolos dari sebuah kematian.
Tetapi hati ini tidak luput dari kekerasan dan dinginnya hawa kematian.

Baru kali itu saya berkumpul dengan teman-teman kos saya. Dua teman ujian negara saya mendapatkan kos di tempat lain, sehingga saya hanya sendirian di situ.
Malam itu saya berkenalan dengan seseorang gadis Bali yang cantik, yang kemudian menjadi sahabat saya sampai hari ini.
Malam itu saya bertemu dengan banyak kehidupan yang membuat rasa sakit hari ini mampu teralihkan.
Kami makan malam bersama, dan menjelang jam 12 malam – kami mulai membakar stock kembang api yang Oom sudah siapkan untuk anak-anak kos nya.
Kami berkumpul sampai kira-kira 1 jam – menjelang jam 1 pagi atau jam 12 malam waktu Jakarta saya punya keinginan yang luar biasa untuk menelpon ke Jakarta. Tetapi semua ingatan akan perjalanan dari hutan bakau ke Malalayang tadi sore membuat saya berkata ke diri saya sendiri: “If you do that, you better get in to your room and eat all the pills. What a shame!”

Brokenheart1Tahun baru sudah lewat.
Ini tahun 2000 – saya berjanji saya juga akan menjadi perempuan yang baru.
Saya yang lama terbakar bersama kembang api yang sudah dibakar tadi.
Saya tidak akan mengijinkan diri saya, untuk mencintai lagi.

 

to be continued

Advertisements
Posted in SangPuteri | Tagged , , , , | Leave a comment

Dance with My Father: a memoir – When Love and Hate Collide

When Love and Hate Collide

Dalam perjalanan di dalam angkot menuju Malalayang saya mendapati kalau rute ini adalah rute Trans Sulawesi.
Saya tidak ingat sama sekali pernah melintasi jalanan ini. Hal terakhir yang saya ingat adalah ada di dalam angkot di jam 10 pagi. Setelah itu sampai hari ini masih merupakan teka-teki buat saya.

Kenyataan nya saat itu, saya merenungi apa yang saya lihat dalam perjalanan dalam angkot menuju Malalayang.
Jalanan ini adalah rute Trans Sulawesi di mana bus-bus trans Sulawesi melintas.
Di beberapa spot saya melihat perbatasan dengan lembah yang dalam karena beberapa spot berbatasan dengan laut.

Otak saya sudah mulai mampu diajak bekerja sama. Saya menganalisa hanya ada dua kemungkinan saya bisa sampai di tempat tadi: kalau tidak berjalan kaki, ya dengan naik angkot seperti ini.
Tapi melihat uang di dompet saya. Uang saya tidak berkurang sama sekali, saya menyimpulkan kalau saya berjalan kaki menuju tempat tadi.
Saat itu otak saya mulai melemparkan pertanyaan-pertanyaan:
Bagaimana kalau di tengah jalan saya tertabrak dengan bus trans yang melaju dengan begitu cepatnya di jalur ini?
Bagaimana kalau saya diperkosa di tengah jalan atau di tengah hutan-hutan ini?
Bagaimana kalau saya dirampok?
Bagaimana kalau dalam perjalanan saya jatuh ke lembah yang dalam itu…?
Bagaimana kalau…
Begitu banyak pertanyaan dan ketakutan timbul waktu saya melintasi jalan tersebut.

Tiba-tiba ada rasa marah yang kebencian yang meluap dalam hati saya.
Ini semua terjadi karena kesedihan yang saya alami.
Blame it to my ex boyfriend yang dengan alasan mulia kalau ia belum tentu bisa memberikan masa depan ke saya, mencampakkan saya begitu saja.
Blame it to my ‘so called’ best friend yang mengatakan ia mencintai saya, tetapi memutuskan untuk kembali ke mantan pacarnya.
Blame it to all men in my life! Karena semua laki-laki yang pernah hadir dalam hidup saya hanya bisa menggunakan, menyakiti, dan meninggalkan saya.
Saya marah kepada mereka.
Tetapi lebih dari pada itu… saya lebih marah kepada diri saya sendiri.
Saya marah karena saya mengijinkan mereka semua memperlakukan saya seperti itu.
Saya marah karena saya begitu menyedihkan, mengiba-iba ke pada para lelaki untuk dicintai.
Saya muak dengan diri saya sendiri.
Sesaaat saya seperti melihat begitu banyak belatung keluar dari setiap pori-pori saya.
Saya begitu menjijikkan!!!

Di dalam angkot saya kemudian menangis lagi.
Tetapi kali ini bukan tangis kesedihan.
Kali ini bukan tangisan ketidak-berdayaan.
Kali ini bukan tangis minta dikasihani.
It’s like my 2nd personality came out from the pieces of me.

love and hate.jpgAda satu kekuatan dalam diri saya yang keluar dan berjanji:
“Saya tidak akan pernah membiarkan siapapun memperlakukan saya seperti selama ini saya mengijinkan diri saya diperlakukan!!! You can have my words!!!”

Saya berjanji saya akan menunjukkan bahwa saya bisa hidup tanpa mereka.
Saya bisa hidup tanpa cinta.
Saya bisa berprestasi lebih dari pada mereka.
Saya bisa mendapatkan semua yang yang butuhkan dan saya mau tanpa mahkluk yang bernama lelaki.
Bukan hanya lelaki yang bisa menggunakan tubuh perempuan, sayapun – seorang perempuan, bisa menggunakan tubuh, keberadaan, perhatian lelaki.

Saya tidak akan membiarkan diri saya mencintai lagi karena saya yang akan mengendalikan semua yang terjadi dalam hidup saya.
I will not say I love you again. Never in my life!
Saya percaya adanya Tuhan, tetapi saya tidak akan membiarkan Tuhan semena-mena membiarkan saya mengalami semuanya ini.
Saya bertanggung-jawab penuh atas semua yang saya ijinkan terjadi dalam hidup saya.
Tuhan ada atau tidak dalam hidup saya, tidaklah terlalu penting saat ini.
Look what He’s done to me…?
I don’t think I can trust Him again.
Let God be God. But for others, not for me.
(Sebenarnya ada kata-kata yang saya ucapkan kepada Tuhan saat saya mendapati diri saya di pinggiran pantai tadi… tetapi demi kepentingan bersama… lebih baik saya sensor…)

I won’t let God take control of my life.

To be continued

Posted in SangPuteri | Tagged , , , , , | 1 Comment

Dance with My Father: a memoir – An Afternoon at Mangrove Forest

Suatu Sore di Hutan Bakau

Angin sejuk menerpa wajah Saya.
Air dingin terasa di pergelangan kaki Saya.
Saya seakan terjaga dari tidur yang panjang.
Dada Saya terasa sesak, rasa nyeri yang tidak tertahankan seperti menusuk dan menekan dada Saya.
Kepala saya juga terasa sakit dan pandangan Saya berputar.
Mual dan ingin memuntahkan semua isi perut keluar.
Saya berpikir saya
sedang bermimpi buruk.
Tetapi tidak… ini alam nyata.

Ada di mana saya?

Berikutnya yang Saya rasakan adalah rasa takut karena melihat sekeliling yang tidak Saya kenal.
Pepohonan bakau, celana panjang yang basah hingga ke paha.
Saya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri Saya… 4.17 sore.
Saya berusaha mengingat apa yang terjadi pada diri Saya, tetapi tidak mampu rasanya otak ini diajak berpikir.
Setelah mengatur nafas dan berusaha meredakan tangis, akhirnya saya memutuskan berjalan ke jalan setapak yang terlihat di belakang saya.

Melalui semak-semak yang membuat saya demikian ketakutan dan terus bertanya: “Bagaimana saya bisa sampai di sini? Apa yang terjadi dengan saya? Apa saya sudah gila? Mengapa hati ini terasa sakit sekali? Apa yang terjadi….???”

Kemudian saya kembali menangis histeris sendirian…
ketakutan…
kesepian…
dan merasa terbuang.

Saya berjalan terus dan menemukan sebuah rumah.
Ada seorang Bapak tua yang sedang duduk di teras rumahnya sambil merokok.
Sambil melewati rumahnya, saya hanya tersenyum dan mengangguk.
Karena kebingungan, saya bahkan tidak berpikir untuk bertanya kepada Bapak itu tentang di mana saya berada saat itu.
Saya hanya berjalan seperti mayat hidup. Linglung dan tanpa arah tujuan.
Tetapi mungkin Bapak itu melihat wajah saya yang berantakan… mata saya yang bengkak, dan terlebih wajah raut wajah saya yang kebingungan. Seperti zombie berjalan di sore hari bolong
Bapak itu menyapa saya:
“Nona… mau ke mana?” (dia berbicara dengan bahasa Manado yang saya bisa mengerti, tetapi tidak bisa jawab balik dengan bahasa Manado)
Saya menjawab:
“Oh Oom… maaf numpang lewat. Saya tidak tahu mau ke mana. Ini di mana?”

Bapak itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri saya.
Saya ingat waktu itu saya memaksa otak saya untuk berusaha berpikir dan memutuskan apakah mendingan saya tetap diam di sini, atau kabur?
Siapa tahu dia bermaksud jahat ke saya.
Tetapi ada dorongan hati untuk tetap tinggal di situ dan menunggu.
Bapak itu bertanya kepada saya:
“Nona tidak tahu ini di mana? Bagaimana Nona bisa sampai di sini?” si Bapak mulai berbicara dengan Bahasa Indonesia, mungkin karena dia mendengar jawaban saya yang sama sekali bukan jawaban seorang lokal.
Pertanyaan Bapak tadi menghentak saya. Iya ya… Bagaimana saya bisa sampai di sini?
Saya mulai menangis lagi karena kebingungan dan ketakutan. Saya hanya bisa menjawab lirih:
”Saya juga tidak tahu Oom… Bisa Oom tolong saya?”

guardian angel in a forestLalu Bapak itu menyuruh saya duduk supaya saya agak tenang, dan mulai menanyakan apa yang saya ingat.
Saya berusaha keras mengingat, dan akhirnya saya mengatakan hal yang terakhir yang saya ingat:
“Saya naik angkot dari Jl. Sudirman, depan Gelael di kota Manado”
Kemudian Bapak menanyakan:
“Nona mau pulang sekarang?”
Saya menjawab sambil sudah setengah mau menangis lagi:
“Iya Oom… tolong saya…” sambil berkata dalam hati: ya iya lah saya mau pulang… siapa yang mau nginap di tengah hutan seperti ini… 😑

Lalu Bapak tersebut menyuruh saya untuk mengikuti dia.
Kami berjalan kira-kira 10 menit melewati jalan setapak dengan kiri kanan kami alamg-alang dan rerumputan.
Sambil berjalan, begitu banyak hal berkecamuk dalam pikiran saya. Salah satunya, karena saya adalah seseorang penyuka film horror, dan ini beneran seperti salah satu scene di film horror yang pernah saya tonton.
Melewati jalan seperti ini setapak dengan kiri dan kanan saya alang-alang dan rerumputan, lalu ujung-ujungnya adalah tempat pengorbanan dari satu sekte iblis.
Akkhh… saya tepis pikiran itu… and wallaaaa… kita sampai di pinggir jalan besar. Puji Tuhan!!!

Kami menunggu… tidak lama kemudian sebuah angkot berwarna biru melintas.
Si Bapak menghentikan angkot itu,dan berbicara sebentar kepada sang supir.
Saya tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan tetapi saya hanya menangkap kata: Malalayang dalam pembicaraan mereka. Saya merasa aman… karena kata Malalayang itu saya kenal dan saya sudah pernah 1x ke stasion Malalayang dan saya tahu ada angkot dari stasion itu menuju ke tempat kos saya.

Bapak berpaling kepada saya dan berkata:
“Nona naik, nanti akan diantar ke Stasion Malalayang, nanti Oom supir akan kasih tahu arah berikutnya.”
Saya tersenyum dan berkata ke Bapak:
“Terima kasih Oom, kalau sampai Malalayang saya sudah tahu…”
Bapak itu tersenyum dan berkata kembali:
“Nona ada uang?”
Saya tersentak dan reflex langsung melihat ke ransel, saya tidak tahu apa yang terjadi sebelumya, jangan-jangan saya sudah dirampok dan tidak ada uang lagi.
Tetapi saya melihat dompet saya dalam tas saya dan masih tersimpan uang di situ.
Dengan lega saya berkata:
“Ada Oom… terima kasih.”
Lalu saya naik ke atas angkot dan melambaikan tangan ke Bapak itu.

Dari kaca belakang angkot saya melihat Bapak itu masih ada di jalanan sampai saya tidak dapat melihat dia lagi.
Hari ini saya berpikir ke belakang dan menyesal. Kalau waktu itu saya tidak sedang linglung, saya harusnya memeluk Bapak itu dan berterima kasih.
Saya sempat berpikir, jangan-jangan Bapak itu adalah jelmaan malaikat.
Siapa yang punya rumah di tengah daerah ngga jelas begitu, dan waktu Saya berbicara dengan dia, rumah kosong tidak ada orang satupun.
Apa dia hidup sebatang kara?

Di dalam angkot Oom Supir bertanya kepada saya, di mana kos saya dan apa saya tahu jalan pulang dari Malalayang.
Saya menjawab kalau saya tahu jalan pulang dan berterima kasih atas pertolongan Oom Supir.

Saya kembali termenung dan meneteskan air mata. Tetapi kali ini bukan air mata kesedihan. Tetapi air mata kebencian yang membawa saya kepada episode berikutnya dari perjalanan keperempuanan saya.

to be continued

Posted in SangPuteri | Tagged , , , , , | 2 Comments

Dance with My Father: a memoir – One Day Before Mangrove Forest

Satu Hari Sebelum Hutan Bakau

Saya terbangun dengan pil-pil berserakan di atas tempat tidur dan di lantai.
Saya memuguti satu persatu dan memasukan kembali ke dalam plastik.Saya kembali muntah-muntah pagi itu. Hanya cairan kuning dan bercak darah yang keluar dari episode muntah kali itu..

Hari sudah siang, matahari sudah tinggi.
Saat saya mau masuk ke kamar, Oom tukang kebun, seorang mantan pasien rumah sakit jiwa yang pernah dirawat oleh Ibu Kos saya memandang saya tersenyum, dan berteriak: “Tidak pernah kelihatan Nona… Jangan dikamar terus. Semua berkumpul di ruang makan…”

Ada rasa hangat yang mengalir dalam hati saya sejenak saat mendengar sapaan Oom, seperti ada bau kehidupan yang menyapa saya setelah beberapa hari ini saya sendirian. Saya hanya mampu menjawab lemah:
“Engga Oom… Makasi… Ngga enak badan.”

pillsSaya masuk ke kamar saya yang gelap seperti malam dan naik kembali ke atas tempat tidur. Kamar ini begitu lembab, dan ada sedikit bau asam. Tetapi saya tidak peduli.
Dalam waktu tidak lebih dari 1 menit, saya sudah menangis lagi. Sebenarnya saya tidak tahu apa yang tangisi. Semuanya perasaan sudah bercampur dan tidak bisa saya pilah-pilah lagi.
Saya menangis.
Berhenti.
Menangis lagi.
Berhenti.
Menangis lagi.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil plastik obat saya, berisi pil-pil penghantar tidur (selamanya) dan mempersiapkan diri saya kembali untuk meminum obat itu.

Tapi rasanya badan ini begitu lemas, untuk bangun mengambil air saja rasanya tidak sanggup.
Saya melihat ke handphone Nokia ‘pisang’ saya, ada dorongan kuat untuk kembali menelpon sahabat saya itu.
Tetapi bayangan dia sedang berusaha mendapatkan kembali mantan kekasihnya itu membuat saya seperti sesak nafas. Kembali pandangan mata saya tertuju pada pil-pil yang sudah saya letakkan begitu saja di atas meja.
Tetapi rasa lemas tidak mampu membuat saya terbangun dan saya hanya berpikir:
”Ahhh besok saja lah… “
dan kemudian saya tidak ingat lagi apa yang terjadi.

 

Saya terbangun oleh suara kencang dari mesin pemotong rumput.
Si Oom lagi motong rumput rupanya.
Dan saya…? Belum ada di neraka. Ternyata itu bukan suara gergaji untuk memotong kepala saya.
Sudah pagi lagi rupanya. Lebih dari 15 jam saya tertidur.

Entar kenapa tiba-tiba saya mengambil 2 keping biscuit Regal yang ada di lemari.
Hhhmmm… kemajuan… sudah memikirkan makan.
Tiba-tiba saya pingin sekali mandi, setelah mencium bau kamar yang tidak jelas dan bau badan saya yang cenderung ‘asam’ ini.

Saya mandi dan membersihkan kamar saya ala kadarnya. Lalu seperti robot saya berganti pakaian, mengambil ransel saya, dan turun ke jalan raya (karena kamar kos saya ada di ‘bukit’).

Saya menunggu angkot yang biasa saya naiki ke kampus.
Saat saya masuk ke dalam angkot dan saya duduk di sebelah seorang Bapak yang sedang merokok… sehingga asap rokok nya membuat saya terbatuk-batuk.
Saya melihat ke jam tangan saya… dan sempat berpikir: “Baru jam 10an… Masih terlalu pagi… mau ke mana saya?”
Saat itu saya ingat, ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dada saya. Rasanya sakittt sekali, saya pikir saya terkena serangan jantung saat itu.

Itu hal terakhir yang saya dapat ingat di moment itu.

to be continued

Posted in SangPuteri | Tagged , , , , , | Leave a comment

Dance with My Father: a memoir – Two Days Before Mangrove Forest

Dua hari Sebelum Hutan Bakau

Saya menutup telpon.
Malam ini terasa dingin di kamar kos ini. Sedingin hati saya yang antara bisa dan tidak bisa merasakan.
Pain and numb.
Sad and couldn’t feel anything.
Ambigu.

Baru pertama kali saya pergi meninggalkan rumah. Jauh dari keluarga. Papa Mama saya sedang berlibur keluar negeri, dan saya mendapatkan kabar kalau saya harus berangkat ke satu tempat yang jauh di ujung Utara Sulawesi untuk melakukan Ujian Negara sebagai syarat kelulusan saya sebagai Dokter.
Tetapi hidup rasanya berantakan sekali saat itu, saya tidak tahu bagaimana caranya lulus dengan kondisi tubuh, jiwa dan raga saya yang kacau seperti ini.

1 tahun yang lalu saya memutuskan untuk mengakhiri pertunangan saya dengan kekasih dan calon suami (my fiancee) saya waktu itu.
Saat itu adalah tahun ke 10 hubungan kami.

2 bulan setelah putus, saya menjalin hubungan dengan seseorang yang berhasil membuat saya mengerti apa artinya “jatuh cinta”. Tetapi 10 bulan hubungan LDR berlangsung, dia memutuskan saya dengan alasan yang sangat mulia dan membuat saya tidak mampu marah karena ‘mengerti’.

Lalu sebelum saya berangkat ke Manado saya sempat dekat dengan seseorang yang saya percaya dengan sepenuh hati. Seorang yang saya anggap ‘sahabat’… yang baru putus juga dari pacarnya.
Yes… seperti yang bisa diprediksi bersama: we had a ‘bounce’ effect relationship sampai kemudian ia mengatakan bahwa ia masih mencintai mantannya dan akan mengejar untuk mendapatkan kekasihnya kembali.
He said he love me, and he said that I deserved someone better.
And the funny thing was my previous boy friend who dumped me before… said the same thing.
Ooohhh I must be sooo darn “precious”.

Setelah sahabat saya selesai mengucapkan kata-kata that I deserved someone better … saya malah merasa seperti seseorang yang tidak berharga.
Selama 10 tahun di hubungan saya yang pertama, saya mempunyai ketakutan. Ketakutan itu adalah: tidak akan ada lagi lelaki yang ‘mau’ sama saya yang bodoh, gendut, buruk rupa, tidak menyenangkan, dan lain sebagainya. Boro-boro jadiin istri, jadiin pacar aja pasti 1000 pangkat 1 juta mikirnya.
Hal inilah yang membuat saya mempertahankan hubungan saya sampai pada pertunangan, padahal saya tahu banyak ketidak-cocokan antara saya dan mantan tunangan saya waktu itu.
And walllaaa… the word: you deserve someone better seperti jawaban kebenaran atas ketakutan saya.
Saat ini saya merasa ditinggalkan. Oleh semua yang mengatakan menyanyangi dan mencintai saya.

Semua peristiwa itu membawa saya pada malam ini. Kebetulan FK  UnSrat Manado memanggil saya untuk ujian Negara sehingga saya bisa melarikan diri ke tempat ini.

Saya tidak dapat menahan kangen saya ke “sahabat” saya itu dan terus mencoba menghubunginya. Mendengar suaranya membuat rasa sakit dalam hati ini  terasa sedikit nyaman sebelum kemudian terasa sakit lagi seperti saat ini… sesaat setelah menutup telpon dengannya.

Saya mengutuki diri saya karena saya menjadi seorang perempuan yang menyedihkan.
Mengiba-iba perhatian dan cinta dari lelaki yang sudah jelas tidak membalas perasaan saya dan sedang berusaha mengejar kembali kekasihnya.
Tetapi bagi saya saat ini, terlalu muluk-muluk untuk mengharapkan dicintai.
Saya hanya berharap dia mau mengangkat telpon saya, mengasihani saya, dan berbohong kepada saya untuk membuat hati ini sedikit terasa nyaman.

I really unworthy of everything!
Saat ini kebohongan rasanya cukup dan terbaik buat saya, karena kebenaran terasa begitu sakit dan berbau busuk.
Rasa mual yang luar biasa karena mencium bau busuk dari tubuh saya sendiri membuat saya berlari ke kamar mandi dan muntah.
Ada bercak-bercak darah di sana dengan lambung saya karena sudah lebih dari satu hari saya tidak makan.

Saya kembali ke kamar… membuka sebuah plastic obat  yang saya beli tadi siang di apotik. Sebagian saya bawa dari Jakarta. Saya belum menjadi seorang dokter hari ini, tapi menjadi seorang calon dokter yang hampir lulus, membuat saya mempunyai akses untuk mengambil blanko resep kosong dan membeli obat yang harus dengan resep dokter sebanyak ini.
Sekali tegak rasanya cukup untuk membuat saya tidak bangun lagi selamanya.

Tidur selamanya.
Rasanya menjadi pilihan yang sangat masuk akal dan cerdas untuk keluar dari rasa sakit yang berkepanjangan dan tak tertahankan ini.

Saya memegang 20 butir obat itu di tangan saya, di kamar saya yang gelap.
Sudah 1 hari saya tidak keluar dari kamar ini, dan saya tidak punya rencana keluar dari sini selamanya. Semua harus berakhir ini sini.
Kalau orang bilang saya kalah, biarlah mereka berkata begitu… kalau saja mereka tahu bagaimana rasanya sakit di hati dan tubuh yang tidak tertahankan ini.
Terbayang oleh saya wajah mama dan papa saya tersenyum, lalu saya menangis sejadi-jadinya. Mereka pasti hancur dan sangat sedih. Dalam hati saya minta ampun kepada mereka berdua karena membesarkan seorang anak yang gagal seperti saya.
Saya berharap kepergiadance with darknessn saya juga tidak menjadikan pukulan untuk adik laki-laki saya.
Saya mencintai mereka, tetapi semua penolakan dan rasa sakit ini tidak mampu mempertahankan saya untuk tetap hidup.

Bayangan berikutnya yang hadir adalah saya sedang berdansa. Tetapi kali ini tidak jelas siapa partner dansa saya itu. Tubuhnya besar sekali, tetapi saya tidak bisa melihat wajahnya. Yang terasa hanya dingin, begitu dingin, masih teringat begitu jelas rasa dingin itu, biarpun kejadian ini sudah hampir 16 tahun yang lalu. Saya merasa ada tarikan kuat untuk masuk ke dalam jubah hitamnya sehingga saya rasanya tidak mampu bernafas.

Saat saya mengambil air putih untuk meminum obat itu, saya ingat saya berdiri dari tempat tidur saya, tempat saya hanya melamun dan menangis sepanjang hari.

Tiba-tiba… di tengah tarikan yang demikian kuat untuk masuk ke dalam jubah hitam itu, ada sebuah suara lembut yang seakan-akan bergema di kepala saya. Sangat lembut. Halus. Tidak memaksa. Hampir saja tidak terperhatikan oleh saya. Tetapi ada percikan-percikan kehangatan di tengah tubuh saya yang sudah hampir membeku.                                           Suara itu seperti mengatakan:
“Jangan sekarang minum nya.. Besok saja…”

Saya agak kaget waktu ‘mendengar’ suara itu.
Saya terduduk kembali di tempat tidur… dan menunggu beberapa saat, sambil menyadarkan kepala saya di bantal karena saya tidak mampu lagi menopang badan saya.
Sampai akhirnya… Saya tertidur tanpa saya sadari.

to be continued…

Posted in SangPuteri | Tagged , , , , , | Leave a comment

Dance with My Father: a memoir – Prolog

PROLOG

A story of a little girl who always think she never has enough.

Tadinya Saya berpikir akan menjadikannya sebuah buku.
Tetapi dengan situasi dan workload saat ini, rasanya masih terlalu jauh mewujudkan nya. But it’s too precious to keep it for myself.

fatherdaughter dance2It is a story of a journey of life from a little girl who always think that she is a princess, but in her teenagers, youth, and young adult time, she did a lot of turn around, rock and roll, stepped on the foot, out of breath ~ while she dance with her Father, her creator, her King.
The consequences took her to an understanding that she was not (and never be) a princess. In fact she just a dumb, ugly, unloved, unseen, dirty, sinful young woman who never be wanted by anyone in this world.

It took me a lot of courage to share this with all of you.
But writing in this blog is one way to step out from my self, from my pride, and show the world how fragile woman I was.
Only by the mercy and grace of God I reach today. This will be a story of God’s mercy in my life on this extraordinary year of mercy.

This is a second chance of life I live and I won’t take it for granted.

And there goes my story:

Angin sejuk menerpa wajah Saya.
Air dingin terasa di pergelangan kaki Saya.
Saya seakan terjaga dari tidur yang panjang.
Dada Saya terasa sesak, rasa nyeri yang tidak tertahankan seperti menusuk dan menekan dada Saya.
Kepala saya juga terasa sakit dan pandangan Saya berputar.
Mual dan ingin memuntahkan semua isi perut keluar.
Saya berpikir saya
sedang bermimpi buruk.
Tetapi tidak… ini alam nyata.

Ada di mana saya?

Berikmangrove forestutnya yang Saya rasakan adalah rasa takut karena melihat sekeliling yang tidak Saya kenal.
Pepohonan bakau, celana panjang yang basah hingga ke paha.

Saya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri Saya… 4.17 sore.
Saya berusaha mengingat apa yang terjadi pada diri Saya, tetapi tidak mampu rasanya otak ini diajak berpikir.

Setelah mengatur nafas dan berusaha meredakan tangis, akhirnya saya memutuskan berjalan ke jalan setapak yang terlihat di belakang saya.

 

Melalui semak-semak yang membuat saya demikian ketakutan dan terus bertanya: “Bagaimana saya bisa sampai di sini? Apa yang terjadi dengan saya? Apa saya sudah gila? Mengapa hati ini terasa sakit sekali? Apa yang terjadi….???”

Kemudian saya kembali menangis histeris sendirian…
ketakutan…
kesepian…
dan merasa terbuang.

(to be continued)

Posted in SangPuteri | Tagged , , , , , | Leave a comment

Pain ~ Joy (my version)

From the beginning we women are so connected with something called pain.
Genesis chapter 3 give us the ‘clue’ what God said to woman:
“I will make your pains in childbearing very severe;
with painful labor you will give birth to children.
Your desire will be for your husband,
and he will rule over you.”

Along the way we become so cranky when we deal with the pain.
Every month woman use the hormonal thing called Pre Menstrual Syndrome (PMS).
“Don’t you dare come near me, I am having my PMS!”
“Why don’t you shut up and do what I told you. Don’t let my hormone shoot you!
“I don’t understand why you are so stupid. I don’t patience for waiting for your brain back to your head.”
You name it… I can understand every words of it. I did this too many years ago.I use my natural cycle in my body to be the ‘right’ and ‘can be understood’ as a reason so I can scold everyone and (never ending) wish that I can be understood because I have PMS!
Or…
“Do you know how to speak nice. I am woman.”
“I can show the world my feeling, I can do whatever I want, it’s my FB (or Profile status, or twitter, or whatever) anyway.”

Just like physical pain, emotional pain is a biofeedback system. It informs us about what we are thinking and doing – and about the quality of those thoughts and actions. If we experience sadness for instance, our sadness acts as a messenger telling us: “Hey! Right now you are thinking or doing something that is not serving you so you might want to change it!”
If you are dumped, you might be thinking: “I am not worthy of love.” Or you might punish yourself by shutting out the world. It is your thoughts and actions that trigger your sadness, not what happens to you. Imagine instead if you chose to think: “Well, time to make a new connection with me and God first”

So many time we hide behind something that the world see as a negative thing.
We feel that we so unlucky created as a woman because we have the physical pain every month and (more) sensitive to emotional pain. We can shout to the world: “I can not choose what I feel!”
But let see the pain as a strong way to show our strength as a woman.

If we don’t feel pain – your nerve is not functioning well.
If you don’t feel pain – you can not protect yourself.
If you don’t feel pain – you miss what a truly womanhood means.

image

Yes God said that we women will deal with pain. So much pain. But the beautiful thing is God know we can handle it with Him.
He show from time to time His faithfulness to women. Jesus came from a womb of a woman. He’s the one who crush the head of the serpent.
Our womb is the strength of our womanhood. That comes along with our ability to handle pain.
Yes we have the huge strength that we can not imagine.
A strong woman become strong not because her power to rule the world, but because her ability to trust in God and together with God she face all the pain ahead her and win!
“I will not cause pain without allowing something new to be born. If I cause you ·the pain, ·I will not stop you from giving birth to your new nation.” says your God in Isaiah 66:9.

So gals, if you can feel pain, be grateful. Be joyful. Be full hope, and wait for what God will show you.
Let’s wait for the best thing that will come to change your pain into the joyful sound.

Posted in articles | Leave a comment