Dance with My Father: a memoir – When Love and Hate Collide

When Love and Hate Collide

Dalam perjalanan di dalam angkot menuju Malalayang saya mendapati kalau rute ini adalah rute Trans Sulawesi.
Saya tidak ingat sama sekali pernah melintasi jalanan ini. Hal terakhir yang saya ingat adalah ada di dalam angkot di jam 10 pagi. Setelah itu sampai hari ini masih merupakan teka-teki buat saya.

Kenyataan nya saat itu, saya merenungi apa yang saya lihat dalam perjalanan dalam angkot menuju Malalayang.
Jalanan ini adalah rute Trans Sulawesi di mana bus-bus trans Sulawesi melintas.
Di beberapa spot saya melihat perbatasan dengan lembah yang dalam karena beberapa spot berbatasan dengan laut.

Otak saya sudah mulai mampu diajak bekerja sama. Saya menganalisa hanya ada dua kemungkinan saya bisa sampai di tempat tadi: kalau tidak berjalan kaki, ya dengan naik angkot seperti ini.
Tapi melihat uang di dompet saya. Uang saya tidak berkurang sama sekali, saya menyimpulkan kalau saya berjalan kaki menuju tempat tadi.
Saat itu otak saya mulai melemparkan pertanyaan-pertanyaan:
Bagaimana kalau di tengah jalan saya tertabrak dengan bus trans yang melaju dengan begitu cepatnya di jalur ini?
Bagaimana kalau saya diperkosa di tengah jalan atau di tengah hutan-hutan ini?
Bagaimana kalau saya dirampok?
Bagaimana kalau dalam perjalanan saya jatuh ke lembah yang dalam itu…?
Bagaimana kalau…
Begitu banyak pertanyaan dan ketakutan timbul waktu saya melintasi jalan tersebut.

Tiba-tiba ada rasa marah yang kebencian yang meluap dalam hati saya.
Ini semua terjadi karena kesedihan yang saya alami.
Blame it to my ex boyfriend yang dengan alasan mulia kalau ia belum tentu bisa memberikan masa depan ke saya, mencampakkan saya begitu saja.
Blame it to my ‘so called’ best friend yang mengatakan ia mencintai saya, tetapi memutuskan untuk kembali ke mantan pacarnya.
Blame it to all men in my life! Karena semua laki-laki yang pernah hadir dalam hidup saya hanya bisa menggunakan, menyakiti, dan meninggalkan saya.
Saya marah kepada mereka.
Tetapi lebih dari pada itu… saya lebih marah kepada diri saya sendiri.
Saya marah karena saya mengijinkan mereka semua memperlakukan saya seperti itu.
Saya marah karena saya begitu menyedihkan, mengiba-iba ke pada para lelaki untuk dicintai.
Saya muak dengan diri saya sendiri.
Sesaaat saya seperti melihat begitu banyak belatung keluar dari setiap pori-pori saya.
Saya begitu menjijikkan!!!

Di dalam angkot saya kemudian menangis lagi.
Tetapi kali ini bukan tangis kesedihan.
Kali ini bukan tangisan ketidak-berdayaan.
Kali ini bukan tangis minta dikasihani.
It’s like my 2nd personality came out from the pieces of me.

love and hate.jpgAda satu kekuatan dalam diri saya yang keluar dan berjanji:
“Saya tidak akan pernah membiarkan siapapun memperlakukan saya seperti selama ini saya mengijinkan diri saya diperlakukan!!! You can have my words!!!”

Saya berjanji saya akan menunjukkan bahwa saya bisa hidup tanpa mereka.
Saya bisa hidup tanpa cinta.
Saya bisa berprestasi lebih dari pada mereka.
Saya bisa mendapatkan semua yang yang butuhkan dan saya mau tanpa mahkluk yang bernama lelaki.
Bukan hanya lelaki yang bisa menggunakan tubuh perempuan, sayapun – seorang perempuan, bisa menggunakan tubuh, keberadaan, perhatian lelaki.

Saya tidak akan membiarkan diri saya mencintai lagi karena saya yang akan mengendalikan semua yang terjadi dalam hidup saya.
I will not say I love you again. Never in my life!
Saya percaya adanya Tuhan, tetapi saya tidak akan membiarkan Tuhan semena-mena membiarkan saya mengalami semuanya ini.
Saya bertanggung-jawab penuh atas semua yang saya ijinkan terjadi dalam hidup saya.
Tuhan ada atau tidak dalam hidup saya, tidaklah terlalu penting saat ini.
Look what He’s done to me…?
I don’t think I can trust Him again.
Let God be God. But for others, not for me.
(Sebenarnya ada kata-kata yang saya ucapkan kepada Tuhan saat saya mendapati diri saya di pinggiran pantai tadi… tetapi demi kepentingan bersama… lebih baik saya sensor…)

I won’t let God take control of my life.

To be continued

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in SangPuteri and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Dance with My Father: a memoir – When Love and Hate Collide

  1. Dyon Harshanto says:

    Penasaran baca blog lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s