Dance with My Father: a memoir – An Afternoon at Mangrove Forest

Suatu Sore di Hutan Bakau

Angin sejuk menerpa wajah Saya.
Air dingin terasa di pergelangan kaki Saya.
Saya seakan terjaga dari tidur yang panjang.
Dada Saya terasa sesak, rasa nyeri yang tidak tertahankan seperti menusuk dan menekan dada Saya.
Kepala saya juga terasa sakit dan pandangan Saya berputar.
Mual dan ingin memuntahkan semua isi perut keluar.
Saya berpikir saya
sedang bermimpi buruk.
Tetapi tidak… ini alam nyata.

Ada di mana saya?

Berikutnya yang Saya rasakan adalah rasa takut karena melihat sekeliling yang tidak Saya kenal.
Pepohonan bakau, celana panjang yang basah hingga ke paha.
Saya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri Saya… 4.17 sore.
Saya berusaha mengingat apa yang terjadi pada diri Saya, tetapi tidak mampu rasanya otak ini diajak berpikir.
Setelah mengatur nafas dan berusaha meredakan tangis, akhirnya saya memutuskan berjalan ke jalan setapak yang terlihat di belakang saya.

Melalui semak-semak yang membuat saya demikian ketakutan dan terus bertanya: “Bagaimana saya bisa sampai di sini? Apa yang terjadi dengan saya? Apa saya sudah gila? Mengapa hati ini terasa sakit sekali? Apa yang terjadi….???”

Kemudian saya kembali menangis histeris sendirian…
ketakutan…
kesepian…
dan merasa terbuang.

Saya berjalan terus dan menemukan sebuah rumah.
Ada seorang Bapak tua yang sedang duduk di teras rumahnya sambil merokok.
Sambil melewati rumahnya, saya hanya tersenyum dan mengangguk.
Karena kebingungan, saya bahkan tidak berpikir untuk bertanya kepada Bapak itu tentang di mana saya berada saat itu.
Saya hanya berjalan seperti mayat hidup. Linglung dan tanpa arah tujuan.
Tetapi mungkin Bapak itu melihat wajah saya yang berantakan… mata saya yang bengkak, dan terlebih wajah raut wajah saya yang kebingungan. Seperti zombie berjalan di sore hari bolong
Bapak itu menyapa saya:
“Nona… mau ke mana?” (dia berbicara dengan bahasa Manado yang saya bisa mengerti, tetapi tidak bisa jawab balik dengan bahasa Manado)
Saya menjawab:
“Oh Oom… maaf numpang lewat. Saya tidak tahu mau ke mana. Ini di mana?”

Bapak itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri saya.
Saya ingat waktu itu saya memaksa otak saya untuk berusaha berpikir dan memutuskan apakah mendingan saya tetap diam di sini, atau kabur?
Siapa tahu dia bermaksud jahat ke saya.
Tetapi ada dorongan hati untuk tetap tinggal di situ dan menunggu.
Bapak itu bertanya kepada saya:
“Nona tidak tahu ini di mana? Bagaimana Nona bisa sampai di sini?” si Bapak mulai berbicara dengan Bahasa Indonesia, mungkin karena dia mendengar jawaban saya yang sama sekali bukan jawaban seorang lokal.
Pertanyaan Bapak tadi menghentak saya. Iya ya… Bagaimana saya bisa sampai di sini?
Saya mulai menangis lagi karena kebingungan dan ketakutan. Saya hanya bisa menjawab lirih:
”Saya juga tidak tahu Oom… Bisa Oom tolong saya?”

guardian angel in a forestLalu Bapak itu menyuruh saya duduk supaya saya agak tenang, dan mulai menanyakan apa yang saya ingat.
Saya berusaha keras mengingat, dan akhirnya saya mengatakan hal yang terakhir yang saya ingat:
“Saya naik angkot dari Jl. Sudirman, depan Gelael di kota Manado”
Kemudian Bapak menanyakan:
“Nona mau pulang sekarang?”
Saya menjawab sambil sudah setengah mau menangis lagi:
“Iya Oom… tolong saya…” sambil berkata dalam hati: ya iya lah saya mau pulang… siapa yang mau nginap di tengah hutan seperti ini… 😑

Lalu Bapak tersebut menyuruh saya untuk mengikuti dia.
Kami berjalan kira-kira 10 menit melewati jalan setapak dengan kiri kanan kami alamg-alang dan rerumputan.
Sambil berjalan, begitu banyak hal berkecamuk dalam pikiran saya. Salah satunya, karena saya adalah seseorang penyuka film horror, dan ini beneran seperti salah satu scene di film horror yang pernah saya tonton.
Melewati jalan seperti ini setapak dengan kiri dan kanan saya alang-alang dan rerumputan, lalu ujung-ujungnya adalah tempat pengorbanan dari satu sekte iblis.
Akkhh… saya tepis pikiran itu… and wallaaaa… kita sampai di pinggir jalan besar. Puji Tuhan!!!

Kami menunggu… tidak lama kemudian sebuah angkot berwarna biru melintas.
Si Bapak menghentikan angkot itu,dan berbicara sebentar kepada sang supir.
Saya tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan tetapi saya hanya menangkap kata: Malalayang dalam pembicaraan mereka. Saya merasa aman… karena kata Malalayang itu saya kenal dan saya sudah pernah 1x ke stasion Malalayang dan saya tahu ada angkot dari stasion itu menuju ke tempat kos saya.

Bapak berpaling kepada saya dan berkata:
“Nona naik, nanti akan diantar ke Stasion Malalayang, nanti Oom supir akan kasih tahu arah berikutnya.”
Saya tersenyum dan berkata ke Bapak:
“Terima kasih Oom, kalau sampai Malalayang saya sudah tahu…”
Bapak itu tersenyum dan berkata kembali:
“Nona ada uang?”
Saya tersentak dan reflex langsung melihat ke ransel, saya tidak tahu apa yang terjadi sebelumya, jangan-jangan saya sudah dirampok dan tidak ada uang lagi.
Tetapi saya melihat dompet saya dalam tas saya dan masih tersimpan uang di situ.
Dengan lega saya berkata:
“Ada Oom… terima kasih.”
Lalu saya naik ke atas angkot dan melambaikan tangan ke Bapak itu.

Dari kaca belakang angkot saya melihat Bapak itu masih ada di jalanan sampai saya tidak dapat melihat dia lagi.
Hari ini saya berpikir ke belakang dan menyesal. Kalau waktu itu saya tidak sedang linglung, saya harusnya memeluk Bapak itu dan berterima kasih.
Saya sempat berpikir, jangan-jangan Bapak itu adalah jelmaan malaikat.
Siapa yang punya rumah di tengah daerah ngga jelas begitu, dan waktu Saya berbicara dengan dia, rumah kosong tidak ada orang satupun.
Apa dia hidup sebatang kara?

Di dalam angkot Oom Supir bertanya kepada saya, di mana kos saya dan apa saya tahu jalan pulang dari Malalayang.
Saya menjawab kalau saya tahu jalan pulang dan berterima kasih atas pertolongan Oom Supir.

Saya kembali termenung dan meneteskan air mata. Tetapi kali ini bukan air mata kesedihan. Tetapi air mata kebencian yang membawa saya kepada episode berikutnya dari perjalanan keperempuanan saya.

to be continued

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in SangPuteri and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dance with My Father: a memoir – An Afternoon at Mangrove Forest

  1. Bernard says:

    Encouraging story Li, I will follow this until the end. You should write more books, so talented

    • whittulipe says:

      Thanks for the confirmation Pi… Can’t take it for my pride because I live my 2nd chance.
      God entrusted us with life stories. Sayang kalau ngga dipake🙂
      Banyak ngga nyangka hidup gw juga up and down krn kelihatannya ‘aman2’ saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s