Dance with My Father: a memoir – Two Days Before Mangrove Forest

Dua hari Sebelum Hutan Bakau

Saya menutup telpon.
Malam ini terasa dingin di kamar kos ini. Sedingin hati saya yang antara bisa dan tidak bisa merasakan.
Pain and numb.
Sad and couldn’t feel anything.
Ambigu.

Baru pertama kali saya pergi meninggalkan rumah. Jauh dari keluarga. Papa Mama saya sedang berlibur keluar negeri, dan saya mendapatkan kabar kalau saya harus berangkat ke satu tempat yang jauh di ujung Utara Sulawesi untuk melakukan Ujian Negara sebagai syarat kelulusan saya sebagai Dokter.
Tetapi hidup rasanya berantakan sekali saat itu, saya tidak tahu bagaimana caranya lulus dengan kondisi tubuh, jiwa dan raga saya yang kacau seperti ini.

1 tahun yang lalu saya memutuskan untuk mengakhiri pertunangan saya dengan kekasih dan calon suami (my fiancee) saya waktu itu.
Saat itu adalah tahun ke 10 hubungan kami.

2 bulan setelah putus, saya menjalin hubungan dengan seseorang yang berhasil membuat saya mengerti apa artinya “jatuh cinta”. Tetapi 10 bulan hubungan LDR berlangsung, dia memutuskan saya dengan alasan yang sangat mulia dan membuat saya tidak mampu marah karena ‘mengerti’.

Lalu sebelum saya berangkat ke Manado saya sempat dekat dengan seseorang yang saya percaya dengan sepenuh hati. Seorang yang saya anggap ‘sahabat’… yang baru putus juga dari pacarnya.
Yes… seperti yang bisa diprediksi bersama: we had a ‘bounce’ effect relationship sampai kemudian ia mengatakan bahwa ia masih mencintai mantannya dan akan mengejar untuk mendapatkan kekasihnya kembali.
He said he love me, and he said that I deserved someone better.
And the funny thing was my previous boy friend who dumped me before… said the same thing.
Ooohhh I must be sooo darn “precious”.

Setelah sahabat saya selesai mengucapkan kata-kata that I deserved someone better … saya malah merasa seperti seseorang yang tidak berharga.
Selama 10 tahun di hubungan saya yang pertama, saya mempunyai ketakutan. Ketakutan itu adalah: tidak akan ada lagi lelaki yang ‘mau’ sama saya yang bodoh, gendut, buruk rupa, tidak menyenangkan, dan lain sebagainya. Boro-boro jadiin istri, jadiin pacar aja pasti 1000 pangkat 1 juta mikirnya.
Hal inilah yang membuat saya mempertahankan hubungan saya sampai pada pertunangan, padahal saya tahu banyak ketidak-cocokan antara saya dan mantan tunangan saya waktu itu.
And walllaaa… the word: you deserve someone better seperti jawaban kebenaran atas ketakutan saya.
Saat ini saya merasa ditinggalkan. Oleh semua yang mengatakan menyanyangi dan mencintai saya.

Semua peristiwa itu membawa saya pada malam ini. Kebetulan FK  UnSrat Manado memanggil saya untuk ujian Negara sehingga saya bisa melarikan diri ke tempat ini.

Saya tidak dapat menahan kangen saya ke “sahabat” saya itu dan terus mencoba menghubunginya. Mendengar suaranya membuat rasa sakit dalam hati ini  terasa sedikit nyaman sebelum kemudian terasa sakit lagi seperti saat ini… sesaat setelah menutup telpon dengannya.

Saya mengutuki diri saya karena saya menjadi seorang perempuan yang menyedihkan.
Mengiba-iba perhatian dan cinta dari lelaki yang sudah jelas tidak membalas perasaan saya dan sedang berusaha mengejar kembali kekasihnya.
Tetapi bagi saya saat ini, terlalu muluk-muluk untuk mengharapkan dicintai.
Saya hanya berharap dia mau mengangkat telpon saya, mengasihani saya, dan berbohong kepada saya untuk membuat hati ini sedikit terasa nyaman.

I really unworthy of everything!
Saat ini kebohongan rasanya cukup dan terbaik buat saya, karena kebenaran terasa begitu sakit dan berbau busuk.
Rasa mual yang luar biasa karena mencium bau busuk dari tubuh saya sendiri membuat saya berlari ke kamar mandi dan muntah.
Ada bercak-bercak darah di sana dengan lambung saya karena sudah lebih dari satu hari saya tidak makan.

Saya kembali ke kamar… membuka sebuah plastic obat  yang saya beli tadi siang di apotik. Sebagian saya bawa dari Jakarta. Saya belum menjadi seorang dokter hari ini, tapi menjadi seorang calon dokter yang hampir lulus, membuat saya mempunyai akses untuk mengambil blanko resep kosong dan membeli obat yang harus dengan resep dokter sebanyak ini.
Sekali tegak rasanya cukup untuk membuat saya tidak bangun lagi selamanya.

Tidur selamanya.
Rasanya menjadi pilihan yang sangat masuk akal dan cerdas untuk keluar dari rasa sakit yang berkepanjangan dan tak tertahankan ini.

Saya memegang 20 butir obat itu di tangan saya, di kamar saya yang gelap.
Sudah 1 hari saya tidak keluar dari kamar ini, dan saya tidak punya rencana keluar dari sini selamanya. Semua harus berakhir ini sini.
Kalau orang bilang saya kalah, biarlah mereka berkata begitu… kalau saja mereka tahu bagaimana rasanya sakit di hati dan tubuh yang tidak tertahankan ini.
Terbayang oleh saya wajah mama dan papa saya tersenyum, lalu saya menangis sejadi-jadinya. Mereka pasti hancur dan sangat sedih. Dalam hati saya minta ampun kepada mereka berdua karena membesarkan seorang anak yang gagal seperti saya.
Saya berharap kepergiadance with darknessn saya juga tidak menjadikan pukulan untuk adik laki-laki saya.
Saya mencintai mereka, tetapi semua penolakan dan rasa sakit ini tidak mampu mempertahankan saya untuk tetap hidup.

Bayangan berikutnya yang hadir adalah saya sedang berdansa. Tetapi kali ini tidak jelas siapa partner dansa saya itu. Tubuhnya besar sekali, tetapi saya tidak bisa melihat wajahnya. Yang terasa hanya dingin, begitu dingin, masih teringat begitu jelas rasa dingin itu, biarpun kejadian ini sudah hampir 16 tahun yang lalu. Saya merasa ada tarikan kuat untuk masuk ke dalam jubah hitamnya sehingga saya rasanya tidak mampu bernafas.

Saat saya mengambil air putih untuk meminum obat itu, saya ingat saya berdiri dari tempat tidur saya, tempat saya hanya melamun dan menangis sepanjang hari.

Tiba-tiba… di tengah tarikan yang demikian kuat untuk masuk ke dalam jubah hitam itu, ada sebuah suara lembut yang seakan-akan bergema di kepala saya. Sangat lembut. Halus. Tidak memaksa. Hampir saja tidak terperhatikan oleh saya. Tetapi ada percikan-percikan kehangatan di tengah tubuh saya yang sudah hampir membeku.                                           Suara itu seperti mengatakan:
“Jangan sekarang minum nya.. Besok saja…”

Saya agak kaget waktu ‘mendengar’ suara itu.
Saya terduduk kembali di tempat tidur… dan menunggu beberapa saat, sambil menyadarkan kepala saya di bantal karena saya tidak mampu lagi menopang badan saya.
Sampai akhirnya… Saya tertidur tanpa saya sadari.

to be continued…

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in SangPuteri and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s