A Boy Who Knew How To Fight

Menjelang akhir tahun lalu, ada sebuah e-mail di sebuah milis yang bertemakan pro life. E-mail ini berasal dari seorang perempuan berusia sekitar 18tahun yang mengatakan dia hamil, dan sedang “galau” apakah dia akan mempertahankannya atau tidak. Saat saya membaca e-mail ini, hati saya tergelitik. Tugas saya sebagai salah satu bagian dari gerakan Youth Mission 4 Life (YM4L) menggerakkan saya untuk segera menghubungi alamat e-mail perempuan muda itu, tetapi di sisi lain saya bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan?” Kalau saya bilang jangan aborsi… terus apa? Saya mau adopsi gitu?

Setelah bergumul, saya menuliskan e-mail pribadi ke perempuan muda ini, mengajaknya untuk bertemu dll. Dia membalas e-mail saya sampai akhirnya saya merasa dia cukup comfortable dengan saya, sehingga dia memberikan kepada saya PIN BB nya.
Di situlah dimulai percakapan kami, yang membawa saya kepada pengenalan saya kepada seorang sosok yang mengubah hati saya.

Sebut saja perempuan muda ini Nina (bukan nama sesungguhnya). Nina cerita kalau dia sudah menegak beberapa pil yang dia tahu dapat meluruhkan janin yang ada dalam kandungannya. Ia tidak siap menerima janin ini karena pacaranya adalah suami orang dan kondisi ayah-ibunya juga sedang dalam keadaan yang tidak baik. Saay itu saya tidak tahu harus berkata apa, bahkan saya sendiri mempertanyakan ke diri saya, kalau saya ada di posisi Nina apa yang akan saya lakukan?
Tetapi saya teringat akan satu hal yang pasti, yang saya percayai, bahwa tidak ada kebetulan di dalam dunia ini. Bila seorang manusia tercipta oleh karena sebab apapun… Allah sang pencipta PASTI punya rencana besar atas kehidupan baru ini. Saya pernah merasakan diri saya sebuah kesalahan. Saya pernah hampir merasakan kematian. Bila saat ini saya masih hidup, this is my 2nd change and I won’t let one life pass away with no fight at all!!!
Selama 2 hari saya hanya menjadi teman bicara Nina di BB. Saya berusaha menjadi pendengar dan mengerti keadaannya, tetapi di sisi lain, saya berusaha menyampaikan ke Nina… “Aborsi bukan jalan keluar! karena saya membaca lebih banyak efek samping secara fisik dan psikologis yang akan dialami oleh sang Ibu seumur hidupnya dibandingkan mempertahankannya dan mencari jalan keluar untuk itu.” Tetapi Nina bersikeras untuk tidak memperhatikan janinnya.
Sampai suatu sore setelah saya agak memaksa dia untuk pergi ke dokter kebidanan, akhirnya Nina memutuskan pergi dengan pacaranya, dan melakukan USG pertamanya. Saat itu untuk pertama kalinya Nina melihat, anak dalam kandungannya. Jantung nya berderak, dan janin yang tadinya hanya terpikir ‘sesuatu’ oleh Nina berbentuk seorang manusia dengan jantung yang berdetak di dalamnya.
8 weeks - real sizePulang dari dokter Nina BBM saya… saya ingat malam itu adalah pembicaraan penuh derai air mata… (paling engga sih dari pihak saya heheheh…)… saya ingat waktu Nina berkata: “Ngga nyangka ya Mbak.. anak itu masih hidup, setelah apa yang saya lakukan ke dia.” dan waktu itu saya hanya menjawab: “Saya cuma merasa dia berjuang keras ingin melihat Ibunya. Dia ingin hadir ke dunia untuk melihat ibu bapaknya yang mencintai dia.”
Lalu Nina berkata: “Mencintai? Setelah apa yang saya lakukan ke janin ini?”
Saya hanya menjawab: “Anak ini belum mengerti apa namanya kebencian. Dia tercipta karena kehendak Allah, dan Allah adalah kasih, jadi yang dia tahu ya hanya kasih. Jadi rasanya dia berjuang untuk hidup, untuk bertemu dengan mamanya.”
Setelah kalimat itu, jawaban BBM Nina hanya icon orang menangis… dan pembicaraan kami terdiam lama.
Tetapi malam itu Nina akhirnya sampai pada keputusan, akan mempertahankan janin itu. Ia akan merawatnya dengan baik mulai saat itu.
Mempertahankan seorang anak dengan kondisi Nina saat itu adalah sesuatu yang benar, tetapi tidak mudah, sehigga saya terus menyemangati dia untuk mendekat kepada Allah. Sholat 5 waktu, sholat tahajud, ngaji, dan lakukan semua aktivitas yang mendekat kepada Allah… hanya itu yang bisa saya lakukan untuk menyemangati Nina dari jauh… Saya ingat hari itu hari Jumat malam.

footprints babySabtu siang, Nina BBM saya mengatakan dia flek dan perutnya terasa nyeri seperti orang mau menstruasi. Saya agak insist waktu itu untuk mendatangi rumahnya dan mengantarkan dia ke dokter, tetapi seperti biasa Nina menolak. Sampai akhirnya Sabtu sore Nina diantar pacaranya ke dokter, dan oleh dokter diberi obat penguat rahim dan diminta untuk bed rest. Ketika Sabtu malam Nina pulang ke rumah dan kami terus berhubungan melalui BBM, hati saya sedih mendengar semua cerita ini. Saya seorang dokter, tetapi di saat seperti ini saya merasa helpless… tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak mampu melawan kehendak bebas seseorang untuk mempertahankan atau membuang kehidupan. Saat itu saya kembali teringat bahwa I am not the savior of the world. Sepanjang malam saya menyemangati Nina untuk terus bertahan dan tidak putus asa akan kehidupan yang hadir di dalam rahimnya. Terus saya ingatkan Nina untuk tahajud, mohon ampunan dan minta Allah menunjukkan jalan untuk kebaikan dirinya. Sampai hari Minggu siang, Nina BBM saya lagi dan berkata: “Darah makin banyak keluar Mbak, perutku makin sakit, kayaknya ada yang ngga beres, aku mau ke dokter lagi.” Itu BBM terakhir Nina, sampai hari Minggu malam saya menerima kabar, bahwa janin itu sudah tidak ada. Kehidupan itu sudah pergi meninggalkan Nina. Malam itu setelah menerima BBM itu… saya menangis.
Saya merasa gagal. Saya merasa begitu kecil dan tidak berarti.

Kisah ini hanya satu kisah, diri begitu banyak kasus aborsi yang terjadi di Indonesia.
Angka aborsi di Indonesia menurut statistik 2010 adalah 2,5 juta kasus/ tahun. Artinya: sejak saya mulai menuliskan kisah ini sampai detik ini sekitar 10 menit, sudah ada 5 kasus x 10 menit. Sudah ada 50 pembunuhan janin yang tak bersalah di negara yang katanya beragama ini!
Bagi saya, yang saya ingat waktu mengucapkan sumpah Hipocrates adalah: saya bersumpah untuk mempertahankan kehidupan, bukan membunuh kehidupan. Tetapi angka statistik ini mengejutkan dan rasanya (bahkan pastinya!) kita harus berbuat sesuatu.
Malam itu… percakapan BBM saya dengan Nina setelah Nina pulang dikuret. Saya bertanya, bolehkan saya mendoakan anak ini? Malam ini Nina baru tahu kalau saya seorang Katolik, dan Nina agak terkejut karena menurut Nina saya cukup fasih saat menyemangati nya dengan terms yang banyak dipakai oleh agama Islam… hehehe… saya bilang Nop saya seorang Katolik, tetapi saya memang besar di lingkungan yang banyak berinteraksi dengan saudara-saudara dari Moeslim. Saya mengatakan bahwa di agama saya, kami mendoakan setiap kehidupan yang pernah hadir di dunia ini. Kami mendoakan arwah mereka dan meminta Allah mengasihani mereka dan membawa mereka kepada hadirat Allah sehingga mereka dapat hidup selama-lamanya dengan Allah. Saya menanyakan: “sebagai Ibunya, Nina merasa itu cowok atau cewek?”
Nina jawab: “Cowok Mbak, dan aku sudah punya nama buat dia… A**a. Mbak ada dari awal seluruh proses ini… apakah Mbak bersedia memberi last name pada anak ini?”
Saat membaca permintaan Nina itu… saya langsung mewek tingkat 7 hehehe… It is really a privilege for me diijinkan memberi nama kepada anak ini. Anak yang mengagumkan karena dia berjuang demikian keras untuk kehidupannya. Saya berpikir sejenak… dan kemudian saya berkata ke Nina: “Mercio… I will give him last name: Mercio.”
Saat memikirkan nama itu saya teringat akan belas kasihan Tuhan kepada anak ini, memberinya kehidupan dan kemudian anak ini bertahan demikian kerasnya sampai setelah beberapa upaya untuk mengugurkan dia, jantungnya masih berdetak dengan kencang di USG terakhir. Bagi saya tidak ada pernyataan lain bahwa itu adalah belas kasihan Tuhan terhadap anak ini dan Nina yang dapat melihat anaknya untuk terakhir kalinya.
Mercio juga berarti pejuang, dan tidak disangkal dia adalah seorang pejuang kehidupan. Dia boleh tidak diingat lagi, bahkan kehadirannya tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh kedua orang tua atau kakek neneknya, tetapi bagi saya A**a Mercio akan selalu hadir mengingatkan saya untuk terus berjuang bagi kehidupan.

Power-to-Save-a-Life-logo

Bagi saya seorang yang belum dikarunia anak ini, memberikan nama kepada Mercio adalah hal yang menghangkatkan hati saya. Dari waktu ke waktu Tuhan menyapa hati saya dengan kehangatan akan kehidupan baru. Mengingatkan saya akan harapan yang selalu ada bagi diri saya.
Bagi saya kehadiran Mercio memberikan saya arti… bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun yang bisa kita lakukan untuk memperjuangkan kehidupan… itu pasti akan berarti.
Seperti seorang anak laki-laki bertahun-tahun lalu, yang juga hampir diaborsi ibunya, dan dia menyelamatkan nyawa saya… Mercio yang telah kembali ke pangkuan Allah juga menyapa dan mengingatkan hati saya kembali akan makna kehidupan.
Mercio teaches me how to fight. He was a boy who knew how to fight!
Dengan semangat itu saya terus diingatkan untuk terus berjuang memperjuangkan kehidupan.

Save a life… one day at a time.
Hidup ini dari Tuhan untuk menghiasi dunia ini dengan kasih karena Allah adalah kasih.

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s