Triduum: From Suffering to Victory (4)

Hari Kamis putih saat Yesus ada di perjamuan terakhir dan membasuh kaki murid-muridnya dan memberikan amanah suci: “Lakukanlah ini demi mengenangkan daku.” Saat itu Grace seperti berkata kepada saya melalui perjuangan hidupnya: “Setiap kali engkau melihat kehidupan baru, kenanglah perjuangan hidupku, dan lakukanlah seperti yang telah orang tuaku lakukan. Membela kehidupanku dan mencintai aku.”

Waktu saya merasa Grace meninggalkan pesan dan kesan itu, saya tersenyum. Satu lagi pengertian saya dapatkan. Terkadang banyak orang tua yang mendapati bahwa anak dalam kandungan ibunya terbentuk tidak sempurna, memutuskan untuk melakukan terminasi kehamilan (read: aborsi). Mereka memutuskan dengan alas an yang sangat bijaksana: “Kasian anak itu. Daripada punya hidup yang menderita.”
Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar daripada alas an ini: yang kasihan itu siapa? Apakah benar anak itu? Atau calon orang tua itu lebih tepatnya mengasihani dirinya sendiri atau tidak sanggup menahan malu karena membayangkan seumur hidup akan ‘terbeban’ dengan anak yang sehat secara fisik/mental.
Apakah benar keputusan terminasi itu diputuskan karena benar-benar yakin 100% bahwa anak ini tidak pernah akan merasa bahagia bila dia hidup di dunia? Apakah benar kita/ calon orang tua siap menjadi Tuhan dan mengadili hidup dengan ‘kebijaksanaannya’ sendiri?
Padahal kalau melihat kondisi Grace, seorang anak belum tahu apa-apa. Saat dia dilahirkan ia begitu polosnya, dan ia hanya bisa merasakan ia diharapkan/dicintai atau tidak. Dan bila orang tuanya memutuskan mencintai dia dan berjuang untuk kehidupan anak ini, rasanya anak ini mampu mengatasi segala macam masalah yang akan menerpa hidupnya. Yaaa.. saya melihat beberapa kasus seperti ini. Grace Gloria salah satunya.

Jumat Agung, hari Tuhan Yesus tergantung di atas kayu salib. Setelah misa Jumat Agung, saya dan Riko suami saya kembali menemui Grace dan kedua orang tuanya. Malam itu Grace terlihat makin mengurus dibandingkan saat dia lahir. Ini hari ke 3 kehidupannya, dan kami merayakan setiap hari bersama Grace dengan rasa syukur. Hari ini Grace seolah benar-benar mendampingi Tuhan Yesus di jalan salibnya. Saat saya memasukkan tangan saya ke dalam incubator dan menyapa: “Hai Grace!!! Lagi ngapain kamu…?” saya seperti melihat Grace kecil tersenyum di bawah Salib Tuhan Yesus dalam gendongan Ibu Maria. Saat itu saya tidak kuasa menahan air mata saya. I know it for sure, Grace is very save and happy, what ever her condition is.

Dunia boleh mengatakan dia seorang bayi yang lahir dengan anencephali.
Dunia boleh mengatakan bahwa ia tidak punya harapan hidup.
Dunia boleh mengatakan orang tuanya bodoh karena memutuskan melahirkan Grace. Tetapi apapun yang dunia katakan, apapun kebohongan yang ditaburkan iblis tentang pembelaan terhadap kehidupan, tidak dapat menghapuskan kenyataan bahwa cinta akan selalu menang mengalahkan keadaan apapun dalam kehidupan kita.

Grace tidak tersenyum karena Tuhan Yesus mati dan kalah. Tapi saya merasa, Grace adalah seorang anak yang mengerti apa arti tenderita, dan dia tersenyum karena dia tahu, it’s time to fight and with God’s grace, we always win the fight.
Grace tersenyum karena tahu penderitaannya akan menjadi silih bagi dosa-dosa orang tuanya dan keluarga besarnya.

It’s easter vigil. Yesus telah bangkit. Haleluya!
Misa malam Paskah tahun ini saya rasakan begitu indah. Tahun-tahun lalu juga indah sih, tetapi saya tidak tahu kenapa, tahun ini menjadi misa yang memberikan deep meaning ke saya secara pribadi.

Saya tersenyum saat pujian Paskah dinyanyikan (saya lupa kalimat aslinya), pokoknya intinya: betapa beruntungnya dosa Adam, sehingga dengan begitu kita menerima penyelamatan dari Yesus.
Buat saya setiap tahun, pujian Paskah, bacaan Paskah, sejak masa penciptaan, terbebasnya bangsa Israel dari cengkraman bangsa Mesir, dan bacaan-bacaan selanjutnya menjadikan sorak kemenangan. Betapa terbukti kesetiaan Allah, melewati kondisi apapun dalam setiap fase kehidupan manusia.. sekali lagi Allah mau meningatkan bahwa kesetiaanNya tinggal tetap, kasih setianya menyertai turun temurun bagi orang yang takut akan Tuhan.

Hari itu ada berita yang masuk bahwa Grace menurun keadaannya. Susu sudah tidak bisa masuk banyak karena muntah dan gumoh, dia terkadang berhenti bernafas. Hati saya berdebar setiap kali ada berita masuk dari papa atau mamanya Grace.
Malam itu, segera setelah misa malam Paskah selesai kami langsung ke Carolus lagi. Malam itu saya dan Ninu menyanyikan lagu-lagu untuk Grace sambil memegang tangan Grace di dalam inkubatornya. Refleks menggenggamnya sudah mulai hilang, padahal refleks ini adalah satu tanda bahwa sistem motoriknya berfungsi secara baik.

Kami menyanyikan lagu S’mua Baik dan Erat dengan HatiMu buat Grace.

Dari semula tlah Kau tetapkan, hidup Grace dalam tanganMu, dalam rencanaMu Tuhan.
Rancangan indah tlah Kau siapkan, bagi masa depan Grace yang penuh harapan.
S’mua baik, s’mua baik, apa yang tlah Kau perbuat di dalam hidup Grace.
S’mua baik, s’mua baik, Kau jadikan hidup Grace berarti.

Air mata mengalir saat saya menyanyikan lagu ini bersama dengan papa dan mama Grace.
Lalu kembali kami mengulang lagu favorit Grace (ngga tahu sih bener apa engga, sok yakin aja hehehe…)
Betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadian Grace
Kau menenun diri Grace, serupa gambaranMu ooohhh..
Sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupan Grace
Kau membawa hati Grace mendekat erat dengan hatiMu

Saat itu entah mengapa, saya merasa Grace kecil ikut bersama kami menyembah Tuhan. Ninu mengangkat tangan kecil Grace saat bait:
… dan kuangkat tanganku ke tahta kasih dan karuniaMu…
tak sekalipun Kau tinggalkanku, Yesus sahabatku.

Berkali-kali saya berusaha mengeluarkan suara saya karena leher saya penuh dengan lendir karena air mata yang banjir membasahi wajah saya. Yang saya tahu pasti, ini bukan air mata kesedihan, ini air mata permohonan dan perjuangan bersama dengan Grace dan kedua orang tuanya.
Terkadang saya malu dengan diri saya, melihat anak berusia 4 hari saja mampu berjuang keras dan memaknai hidupnya di semua mungkin.
Betapa saya berterima kasih kepada Grace dan kedua orang tuanya yang telah mengingatkan saya sekali lagi akan betapa berarti dan berharganya setiap detik dalam kehidupan kita.

To be continued: GG’s Love and Life Celebration

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s