It’s Not The End… It’s A Beginning (3)

Perkiraan lahir janin ini adalah 20 Maret 2012. Ninu berharap anak yang dinantikan ini lahir di tanggal 13 Maret karena itu akan sesuai dengan nama Santa pelindungnya.
Yessss… seorang Santa, karena anak ini adalah seorang perempuan. Another warrior princess will come to the world in the world will coming in a matter of days.

Waktu perkiraan lahir lewat, dan belum ada tanda-tanda mules sedikitpun, saya mulai kuatir dan terus bertanya pada Ninu: “Lu ngga cek?” atau “Belum mules juga?”
Sempat terbersit dalam pikiran saya, mungkin memang Ninu tidak terlalu mengharapkan terjadi proses melahirkan yang cepat karena dengan begitu ia tahu ia punya waktu lebih banyak lagi bersama dengan anak ini. Entar benar atau tidak, tapi kalau saya ada di dalam posisinya, mungkin saya akan melakukan hal itu.

Sampai saatnya benar-benar tiba, begitu cepat karena diputuskan untuk melakukan operasi Caesar karena sudah melewati 42 minggu kehamilan dan anak ini masih dalam posisi melintang. Malam itu kami mengajak Rm.Nugie SJ untuk berdoa bersama, memberikan kekuatan dan bersatu hati memohon kekuatan dan rahmat Tuhan. Sebelum pulang saya memeluk Ninu dan berkata: “Besok, satu tahap lagi dalam hidup elo akan elo alami. Welcome to motherhood”

Keesokan harinya, 3 April 2012,  saya dan suami menunggui Ninu menjalani operasi Caesar bersama seluruh keluarga besar Bim dan Ninu serta seorang sahabat Ninu. Tidak lama setelah operasi dimulai, terdengarlah suara tangisan bayi yang keras. Suara tangisan seorang bayi yang keras, terdengar sampai ruang tunggu, tangisan ini seolah ingin mengatakan lepada dunia: “Heyyyyy… saya hiduppppp!!!”

Segera setelah bayi ini disiapkan dan dimasukkan ke dalam inkubator, Rm. Nugie langsung mengadakan upacara pembabtisan, sebuah upacara yang mengklaim anak ini sebagai anggota kerajaan Surga. Saat Romo berkata: “Grace Gloria, aku membabtis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.” Saat air pembabtisak diteteteskan di dahi bayi mungil ini, tidak ada satupun, baik malaikat maupun penguasa, baik ancaman sekarang ini maupun ancaman di masa yang akan datang, baik yang di langit maupun di bumi, baik kematian maupun kehidupan, semuanya itu tidak dapat mencegah Allah untuk mengasihi anak ini, dan air pembabtisan membuat anak ini tidak terpisah dari cinta kasih Allah. (Roma 8:38-39).

Betapa seluruh isi Surga bersuka-cita atas peristiwa ini. Yes, her name is Grace Gloria. Hellooowww every one… please welcome Grace Gloria (*yaaayyyyyyyy*) : a warrior princess who were born from a warrior mom, and has a dad with a brave heart. From God Grace comes and to God be the Glory. So proud for the three of you!

Ini adalah tanggapan saya terhadap pengumuman kelahiran yang di posting sang Papa di FB nya: “Hari ini telah lahir Grace Gloria. Seorang anak pejuang kehidupan. Karena berkatNya kami dikuatkan. Dan untuk kemuliaan Tuhan-lah ia hadir.”

Grace Gloria adalah seorang bayi yang sangat cantik, kulitnya putih dan mulus, bibirnya merah merona, tubuh kecilnya gempal menunjukkan jelas dia putri siapa (hehehe… tanpa bermaksud fisikkk lho yaaa…) hanya kepalanya saya tertutup oleh kain putih steril untuk melindungi bagian kepalanya yang terbuka. Dengan kondisi seperti ini, siapa yang menyangka dia adalah seorang bayi dengan kondisi anencephaly? Dia begitu cantik. Bagi saya… dia sempurna!

Di tempat yang lain, Ninu sang Mama sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Ninu menggigil kedinginan sampai ia harus memakai selimut penghangat dan masih terlihat lemah saat saya masuk. Tetapi di mata yang sayu saya melihat pancaran lain dari mata itu. Pancaran kemenangan dan kekuatan dari cinta yang mengalahkan teori apapun yang dikatakan,  bahkan mengalahkan maut. I don’t know, maybe it’s just me, tetapi kenyataan bahwa bayi perempuan ini hidup adalah sebuah tanda kemenangan.

Melihat kondisi Ninu, saya kembali merefleksikan panggilan saya sebagai seorang perempuan. Siapa yang berani mengatakan perempuan lebih lemah dari pada lelaki saat melihat kondisi seperti Ninu saat ini. Tetapi hal ini juga meningatkan saya akan pengertian yang saya dapatkan, yang membebaskan saya dari kebohongan feminisme.
Why woman have to fight for equal right with man? Apa yang mau disamakan? Perempuan dan laki-laki adalah dua jenis manusia yang berbeda dan unik, dengan panggilannya masing-masing. Di atas meja operasi, di saat seorang perempuan menyabung nyawa untuk kehidupan, memberikan rahimnya sebagai tempat kehidupan, memberikan payudaranya untuk mempertahankan kehidupan, atau memberikan seluruh hari, hati, dan perhatiannya untuk membesarkan manusia-manusia yang lebih baik daripada dirinya sendiri… di situlah letak kekuatan seorang perempuan yang tidak dapat dipertanyakan apalagi diragukan lagi.
Melihat Ninu hari itu membuat saya amat sangat bersyukur atas keberadaan saya sebagai seorang perempuan.
Yes, woman… we are the crown of creation. Don’t let the devil take away that truth from you!

Minggu itu adalah hari-hari dalam pekan suci. Hari-hari di mana kita sedang mempersiapkan diri turut berjalan bersama dengan Tuhan  Yesus di jalan salibNya. Bagi saya, Grace memberikan makna yang mendalam di pekan suci tahun ini.

Setelah mulai libur hampir tiap hari saya dan suami saya mampir ke RS untuk melihat perkembangan Grace. Ninu dengan senang bercerita kalau Grace minumnya banyak. Bimo dengan bangga bercerita bagaimana Grace tidak bereaksi dengan baik saat diputarkan lagu anak-anak seperti Twinkle-Twinkle Little Star, tetapi saat dipasangkan lagu Erat Dengan HatiMu yang kata-katanya:

“Betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadianku.
Kau menenun diriku serupa gambaranMu.
Sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku.
Kau membawa hatiku mendekat, erat dengan hatiMu.”

Saat lagu ini dipasang, Grace bereaksi dengan baik, kadang kepalanya mengangguk-angguk seperti meng-amin-kan kata-kata lagu ini.
Oh Grace… I learn a lot from you.
Bagaimana bersuka-cita dan bersyukur apapun keadaanmu.

A big (and old *sighhhh*) girl like me has to learn how to have a simple heart like you.

It’s definitively not the end… It’s a beginning of a life’ celebration

To be continued: Triduum: From Suffering to Victory

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s