The Roller Coaster Lifelogy (2)

Hari-hari setelah itu menjadi waktu-waktu yang penuh doa dan harapan.
Saya mendengar dari suami saya, betapa Bimo sang ayah yang saya tahu sangat doyan makan, berdoa puasa untuk keajaiban. For once, it’s a Miracle already (heee… *peace Bim!!!*)

Bagi seorang dokter, saya tahu persis bagaimana pergumulan menyikapi realita dan keajaiban (atau paling tidak mungkin hanya dr.Lia yang bergumul karena kurang iman hehehe…).

Tetapi bagaimana caranya menyikapi hasil USG yang jelas terlihat kondisi anencephali si janin, lalu membaca begitu banyak jurnal yang mengatakan 75% anak yang dilahirkan dengan kondisi ini akan langsung meninggal saat dilahirkan.
Bagaimana caranya percaya bahwa akan terbentuk lagi jeringan otak dan tempurung kepala yang tadinya tidak terbentuk setelah minggu ke 12 yang secara kedokteran diketahui proses pembentukan sudah selesai di minggu-minggu itu.
Bagaimana caranya menetapkan posisi hati sebagai ayah dan ibu, yang juga seorang dokter, yang begitu bahagia saat janin bergerak menyapa mereka dengan sebuah rasa yang kuat di rahim ibunya, tetapi di sisi lain dengan pengetahuan di dunia kedokteran ingin menjaga hati untuk tidak terlalu berharap dan terluka karena kehilangan.
Bagaimana caranya bersikap, apakah harus belanja barang keperluan bayi seperti yang dilakukan calon-calon orang tua pada umumnya dengan pengetahuan bahwa kemungkinan besar itu tidak terpakai, tetapi di sisi lain bila itu tidak disiapkan, apakah itu artinya kita sebagai umat beriman tidak mempunyai harapan dan tidak percaya akan kuasa Allah yang mampu menyelenggarakan mujizat?
Mungkin inilah yang menyebabkan orang-orang yang sederhana dan bodoh lebih mudah percaya dan dengan itu mereka melihat Tuhan.

Kadang-kadang atau bahkan sering kali iman dan kenyataan membawa kita pada pertanyaan yang sepertinya valid dan realistis.
Saat pasangan suami istri ini menghadapi kenyataan bahwa anak mereka mengalami hal yang mereka tidak sangka-sangka, tidak sedikit yang mempertanyakan, kenapa mereka harus mempertahankan anak ini? Aborsi menjadi sebuah ‘penyelesaian’ yang dianggap dunia bijaksana dan ‘manusiawi’ karena dengan keadaan janin, anak yang dilahirkan nanti akan mempunyai kualitas hidup yang buruk.

Yang menyedihkan adalah sugestión ini datang dari dokter yang mengucapkan sumpah: Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Bahkan di sumpah asli Hipócrates tertulis:
I will give no deadly medicine to any one if asked, nor suggest any such counsel; and similarly I will not give a woman a pessary to cause an abortion.

Seperti Paus Benediktus ke XVI mengatakan bahwa saat ini kita seperti sedang membangun kediktatoran dari relatifism yang tidak mengakui apapun yang definitive dan yang tujuan yang utama hanya terdiri dari ego dan keinginan diri sendiri. (http://www.lst.edu/academics/landas-archives/373-dictatorship-of-relativism).
Hal ini juga masuk ke dalam dunia kedokteran dan begitu pandainya tipu muslihat iblis memanfaatkan kelemahan ego manusia sehingga akhirnya penghargaan terhadap kehidupan menjadi hal yang tidak terlalu penting, bahkan dianggap bodoh saat kehidupan dianggap tidak layak dilahirkan karena berbagai kondisinya.

Bagi saya roller coaster kehidupan ini menjadi begitu nyata saat melihat bagaimana calon ayah dan ibu dari seorang anak yang mengalami kondisi anencephali ‘berdiri tegak’ dan memperjuangkan kehidupan.
Mereka berdua memilih untuk percaya, melebih segala fakta statistik dan ilmu kedokteran yang mereka pelajari.
Mereka berdua memilih mempertahankan janin yang dianggap dunia tidak sempurna ini. Bagi mereka janin ini adalah kesempurnaan cinta mereka, dan untuk itulah dia sangat layak untuk dilahirkan.
Bimo dan Ninu memilih untuk menjadi saksi hidup yang menanti-nantikan menjalani hari-hari roller coaster ini dengan satu pilihan sikap: percaya pada penyelenggaraan Allah sang pemberi hidup.
Saat Allah memberi hidup, Allah pula yang akan menjaga dan menyelesaikan semuanya.
Bagi saya kesediaan mereka menjadi sebuah harapan, bahwa sekali lagi saya akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan.
Keberanian mereka menjadi sebuah tanda betapa Allah selalu menyediakan rahmat yang cukup di setiap keadaan dalam kehidupan kita, bahkan yang tersulit sekalipun.

It’s really privilege for us to be at their side in the 4 months roller coaster of life. When you are in the roller coaster ‘lifelogy’ just believe that the truth which is God’s love and grace is poured out in a way that we never imagined.

Saat itu saya menunggu-nunggu waktu di mana para pembela kehidupan dapat berdiri tegak dan berkata: “Maut… di manakah sengatmu?”

To be continued:  It’s Not The End… It’s A Beginning

Advertisements

About whittulipe

Lia adalah seorang Dokter dan saat ini Ia bekerja di sebuah perusahaan teknologi medis. Passionnya adalah mewartakan harapan yang terpancar melalui anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran serta penghayatan hidup sebagai seorang perempuan. Ia adalah kontributor Buku Renungan Harian Wanita “Treasuring Womanhood” selama 8 tahun belakangan ini, juga penulis buku “You Deserve The Truth”, “Sexy and Holy”, “Wake up Princess”. Lia sangat passionate melayani kaum muda. Bersama suaminya Riko Ariefano dan komunitasnya Domus Cordis, ia banyak melayani di berbagai negara dan daerah di Indonesia, khususnya dalam mewartakan kabar sukacita tentang teologi tubuh (TOBIT), anugrah kehidupan, dan panggilan keperempuan-an. Lewat Inspire Group, sebuah kerasulan media sosial dalam Komunitas Domus Cordis, Lia dan Riko juga sering membawakan vlog dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kaum muda dengan berbagai perjuangan dan pergumulannya, serta bagaimana untuk selalu melibatkan Kristus dalam kehidupan mereka. Topik-topik yang dibawa termasuk tentang relationship, adiksi, potensi kaum muda, hubungan dengan orang tua, sampai current issues di Indonesia. She is a proud wife and blessed daughter. She is a writer and traveller who loves coffee, bakmi, and dogs! Lia bersama suaminya Riko Ariefano, dan kedua ekor anjingnya saat ini berdomisili di Jakarta. Blog: https://whittulipe.wordpress.com IG: whittulipe Vlog: Youtube: Inspire Group
This entry was posted in articles and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to The Roller Coaster Lifelogy (2)

  1. lucy says:

    Semoga Tuhan juga memberikan dan melimpakan mukzizatnya kepadaku. Mohon dukungan doa untuk di berikan pasangan hidup yang seiman, seimbang dan berkenan di hadapan ortu & Tuhan.

    Thanks, crtnya sungguh memberikan saya harapan dan semangat untuk lebih percaya lagi kasih-NYA.

    GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s