Let Go The Need to Know Why… But… WHY??? (1)

I live for 39 years this year.
I met so many great people.
Sometimes the acquaintance happens so short, I have not even have time to breathe perfectly.
This is the story of my encounter with one tiny little girl, that the world sees her not perfect not even perfect being born.
Yes, this is the story of my encounter of one great person.

Saya ingat di suatu malam, saya sedang beristirahat di kamar. Suami saya Riko pulang dari pertemuan dengan sepasang suami istri sahabat kami, yang juga partner bisnis suami saya. Waktu itu saya menolak ikut karena badan rasanya tidak bisa diajak kompromi untuk berbagi waktu dengan mereka.
Begitu masuk kamar, suami saya berkata bahwa Bimo dan Ninu, nama pasangan suami istri itu akan segera punya anak. Ninu sedang hamil di sekitar minggu ke-20. Saat itu saya kaget, kok saya ngga tahu… tapi melihat karakter saya, kadang semua berlalu tanpa sempat saya perhatikan dan cerna. Ahhh… Lord have mercy on me… kadang saya putus asa dengan sifat cuek saya yang kadang keterlaluan.

Tetapi yang membuat saya terdiam saat itu adalah kenyataan bahwa sepasang sahabat kami itu menceritakan, bahwa anak dalam kandungan Ninu mengalami satu keadaan yang dinamakan: anencephali. Anencephali adalah keadaan di mana janin mengalami gangguan pertumbuhan organ otak sehingga sebagian besar jaringan otak dan tempurung kepala janin tidak terbentuk. (http://www.anencephaly.net/).

Mengenal Bimo dan Ninu, yang juga adik kelas saya di Fakultas Kedokteran, saya langsung bertanya dalam hati saya: “Why them Lord? Why?” dan setelah itu saya Cuma bisa terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak menyangka dengan sifat ke-cuek-an saya, informasi seperti ini bisa menimbulkan dampak yang besar sehingga saya sulit sekali rasanya mencerna berita ini. Boro-boro mengunyah, menggigit saja rasanya tidak mampu karena kenyataan yang begitu keras dan tidak adil.


Saya melihat ke diri saya yang sampai hari ini belum dikaruniai anak (read: https://whittulipe.wordpress.com/2011/12/21/with-god-nothing-such-mission-impossible-a-reflection-of-one-barren-woman/), dan saya sedikit banyak mengetahui kehidupan sepasang suami istri ini, kami belum jadi orang-orang suci, kami bukan orang sempurna, tetapi kami juga bukan penjahat/ pembunuh. What have we done so we deserve this? It’s really unfair! Sedang saya mengingat orang lain yang pernah melakukan aborsi karena hamil sebelum menikah, sekarang sudah mempunyai anak yang lucu dan sehat. Dengan pengetahuan dan otak saya, dengan pengertian dan niat saya selama ini, I learn to let go the need to know why, especially things like this. But really, I was really so tempted to ask, even to shout protest. Saya benar-benar perlu belas kasihan Tuhan untuk bisa mengerti semuanya ini.

Malam itu saya mengakhiri hari dengan menuliskan e-mail kepada Bimo dan Ninu. Saya menuliskan e-mail ini untuk mereka:
Dear Bim and Ninu,
Gw baru dapat kabar dari riko 2 hal.
1. Gw baru tahu… Sumpehhhh… Kl Ninu udah hamil bahkan sudah cukup lama kayaknya. Mohon maappp gw bukan org yang perhatian hehehe… Jd gw baru tahu kalau Ninu hamil.
2. Tapi agak kaget juga pas beritanya adlh anak kalian diagnosa anencephaly.
Salut mendengar kalian begitu ‘tenangnya’ sdgkan gw yg mendengarkan saja sudah berurai air mata dan speechless… And yes… Berasa ngga adil.
Anyway gw msh mengolah berita ini juga sambil coba browsing.

Segini dulu, yang pasti doaku bersama kalian.
Ntar sambung lagi ya kl ud bisa mencerna dgn lebih benar.

 
Ketika kita mendengar sesuatu terjadi di luar kuasa kita, dan kemudian kita tahu bahwa kita tidak bisa apa-apa, bahkan Bim dan Ninu yang dua-duanya dokter tidak bisa mengubah keadaan anencephali ini,  rasanya kata-kata penyemangatan seperti: It’s ok everything’s gonna be okay, atau Tuhan akan membuat sesuatu indah pada waktuNya, atau jangan takut Tuhan bersama kita tidak bisa keluar dari mulut ini. Kebenaran yang telah teruji selama ribuan tahun bahkan tidak mampu saya katakan karena misteri yang tidak bisa saya mengerti.

Life is a mystery, everyone must stand alone. I really want to know what’s God’s plan right away, but I know it for sure all I have to do was get down on my knees and pray.

Katanya… Tuhan hanya sejauh doa!

To be continued: The Roller Coaster Lifelogy

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s