Fly With Your Wings Grace Gloria. Pray for Us! (6)

Kami sampai di rumah duka Carolus di ruang singgah Dorothea. Suami saya yang juga menuliskan perjalanan refleksi dia bersama dengan Grace menuliskan sebuah refleksi yang indah tentang ruang singgah ini (please visit: http://vitaapostolica.wordpress.com).

Waktu saya masuk ke ruang Dorothea, terlihat mama Grace sedang duduk di samping kotak tempat menaruh tubuh Grace karena peti belum datang.
Saya tersenyum dan memeluk Ninu, dia bercerita bagaimana Grace benar-benar berjuang untuk hidup di detik-detik terakhir. Berkali-kali kejang, lalu berhenti nafas dan membiru, lalu bernafas lagi. Kejang, henti nafas, lalu berusaha untuk bernafas lagi sampai akhirnya makin lama semua tanda-tanda hidup menghilang dan Grace benar-benar tidur lelap untuk selamanya.

Saya menarik nafas dan menitikkan air mata waktu mendengar cerita ini, saya mengagumi ketangguhan papa dan mama Grace yang mau terluka memilih melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.
Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat kondisi anaknya seperti itu, dan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mampu memegang tangan Grace dan terus berdoa.
Hati Bim dan Ninu  begitu besar untuk cinta Tuhan yang mau dicurahkan melalui hidup Grace. Dan Grace sendiri benar-benar anak baik yang tahu balas budi orang tua.
Grace tahu benar betapa ia dikasihi, dia diperjuangkan, dia diharapkan sehingga Grace pun berjuang tidak setengah-setengah dalam mempertahankan kehidupannya. Grace pun berjuang sampai akhir.

Saya memandang wajah Grace yang terbalut selimut warna kuning yang adalah selimut yang dipakai mama Grace waktu ia bayi, wajahnya begitu damai dan tersenyum dan saya berkata kepada Grace dalam hati: “Good job warrior princess, it was a good fight! Fly with your wings little angel!”

Kembali seperti sebelum-sebelumnya saya merasa Grace berbisik ke saya dan kali ini ia seakan menitipkan kedua orang tuanya kepada kami, saya seperti teringat akan satu refleksi: begitu lahir Grace langsung dimenangkan melalui air pembabtisan, dengan iman kita menyakini, Grace sudah menjadi milik Tuhan. Selama 6 hari kehidupannya, rasanya Grace tidak mampu untuk berbuat dosa, sehingga dengan pasti Grace sudah berada di surga bersama dengan Tuhan Yesus dan Ibu Maria. Siapa lagi yang lebih pantas menjadi pendoa kedua orang tuanya selain Grace sendiri?  Grace pasti berdoa untuk kedua orang tuanya, dan entah kenapa saya percaya Grace juga pasti akan menjadi pendoa kekal bagi Youth Mission 4 Life (YM4L).
Bukan tanpa maksud Grace tercipta dan lahir di awal gerakan YM4L ini. Grace bahkan menyiapkan kedua orang tuanya sehingga mereka juga menjadi pilar-pilar pendukung YM4L ini.

Setiap dari kita dilahirkan dengan misi ke dunia ini. Siapapun itu, tanpa terkecuali, demikian juga Grace… and you accomplished your misión my little angel Grace Gloria.
You are a living proof of God’s might power, to change all the hopeless situation to a victory.You turn the bad news to good news. The story of how faithful, and big is our God!
You were born after all the people shout Gloria… Gloria… Hosanna.. Hosanna… and you’re back you where you belong one day after a victorious day… Jesus who’s risen from the death… all of our being in this world is always God’s grace.

Malam itu saya dan Riko pulang ke rumah dan menyiapkan lagu untuk misa requiem untuk Grace yang akan dilakukan hanya beberapa jam lagi. Sebelum tidur, saya menuliskan pesan di whats app ke Ninu:
Nu, FYI, besok gw akan pake baju warna merah ya. It’s a sign of salutation for Grace, you and Bim.

Saya memutuskan hal itu karena pembelajaran saya dari semua peristiwa ini tidak dapat membuat saya bungkam dan tidak mengekspresikan betapa berharganya sebuah kehidupan, dan saya ingin menunjukan hal itu melalui hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang-orang saat menghadiri acara kematian, yaitu menggunakan baju berwarna merah.

Keesokan harinya Rm.Deshi mempersembahkan Misa Requiem untuk Grace. Kami semua membuka dengan lagu: Amazing Grace.

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me.
I once was lost but now am found,
Was blind, but now I see.

T’was Grace that taught my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear
The hour I first believed.

The Lord has promised good to me.
His word my hope secures.
He will my shield and portion be,
As long as life endures.

Suara saya tercekat di saat saya menyanyikan bait kedua lagu ini:
T’was Grace that taught my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear
The hour I first believed.

Kata-kata lagu ini benar-benar menggambarkan perasaan saya sejak di hari pertama saya mendengar kondisi Grace yang masih dalam kandungan mamanya, sampai di detik saya menyanyikan lagu ini. Sungguh, how precious did that Grace appear, ohh how great is our God who give us amazing Grace to stand and fight for life. It’s really a privilege for me and YM4L. Saat itu kembali Grace seperti berkata kepada saya sebuah ayat favorit saya, ayat yang sama yang terukir di nisan adik kandung saya yang juga meninggal saat bayi: “Tangan Tuhan telah berlaku baik atasku.” (Nehemia 2:8b) (*Please hug Tia for me Grace…*)

Rm.Deshi memberikan khotbah yang sangat indah pagi itu. Khotbah yang sekali lagi meningatkan kita untuk terus mendukung kehidupan. Apa yang dikatakan bodoh di mata dunia adalah kemenangan karena membela kebenaran Allah. Misa pagi itu biarpun singkat tetapi saya merasakan kasih dari surga yang memenuhi hati saya.

Epilog
 
I live for 39 years this year.
I met so many great people.
Sometimes the acquaintance happens so short even for only 6 days, I have not even have time to breathe perfectly.
This is the story of my encounter with one warrior little angel, that the world sees her not perfect not even perfect being born.
But she teached me something about how precious life is. She is now in heaven and she won’t be forgotten.
Her name is Grace Gloria.

Melalui seluruh rangkaian peristiwa kehidupan ini, satu episode berlalu dari kehidupan pernikahan Bimo dan Ninu.
Satu episode juga berlalu bagi kehidupan Riko (yang adalah bapak babtis Grace) dan saya.
Satu pembelajaran akan kehidupan diberikan kepada seluruh teman-teman yang ada di dalam Youth Mission 4 Life (YM4L) yang akan segera meluncurkan produk pertamanya untuk membela kehidupan yaitu sebuah web bernama http://sayahidup.com.

Melalui semuanya ini, mari sekali lagi percaya bahwa Cinta Tuhan selalu menang melalui berbagai macam kebohongan yang ditaburkan dunia untuk menghancurkan hidup anak-anak Allah.
Diberanikan oleh rahmat cinta dan belas kasihan Tuhan, kita semua, tanpa terkecuali, apapun kondisi kita, bagaimanapun latar belakang dan masa lalu kita, saat kita bersama membela kehidupan, saya percaya kita akan dapat bersama-sama berdiri atas nama cinta kasih Allah berkata sekali lagi dengan kepala tegak dan suara lantang berteriak:
“Maut di manakah sengatmu?”
 
Until we meet again Grace Gloria.
Thank you for all the lessons lifelogy.
Please pray for us (and YM4L) our dearest little angel.

Jakarta, Oktaf Paskah 2012

Dedicated this writing to:
1. Bimo Ninu: No other words I can express except: Thank you!
My pray be with you selama masa-masa kehilangan ini. Setelah ini jalan tidak mudah, tetapi seperti Tuhan telah memberi kalian berdua kekuatan menghadapi semuanya ini, kekuatan yang sama, bahkan yang lebih besar dari pada sebelumnya akan menyertai kalian berdua.
2. YM4L: let’s fight together with the grace of the lord and for the glory of God.
3. 6 episodes, for 6 days of your life on earth Grace Gloria.
Happy all day playing in heaven. Don’t forget to pray for us ya dear… 🙂 please hugs everyone I know there for me.

Advertisements

GG’s Love and Life Celebration (5)

Minggu Paskah, minggu yang mendung.

Saya ingat hari itu hujan deras, dan siang ke sore itu kami berdua berkumpul bersama dengan beberapa teman dekat sambil ngopi. Lalu ada berita lagi yang mengatakan Grace kondisinya makin menurun. Kami kembali mampir ke Carolus, dan menemui kedua orang tua Grace, dan tentu saja Grace. Malam ini keluarga besar mama nya Grace juga ada di situ menemani.
Rm. Deshi Ramadhani SJ juga datang mampir dan malam ini kami semua berdoa bersama di sekitar inkubator Grace. Dalam doa, sekali lagi Grace menyapa saya dengan pengertian bahwa perjuangan dan sakit bukan suatu kekalahan, tetapi perjuangan. Dan siapapun kita bahkan yang kita pikir terlemah sekalipun mampu untuk berjuang.
Kembali saya teringat pada janin-janin yang digugurkan dengan alasan apapun, betapa janin-janin ini berharap bisa punya kesempatan untuk hidup, dan membuktikan betapa mereka mempunyai kekuatan untuk hidup bila saja diberi kesempatan, dan kembali hati saya terasa begitu sakit dan merasakan betapa Grace juga bersyafaat untuk teman-temannya, para janin yang tidak punya kesempatan untuk hidup.

Senin pagi, saya sudah sibuk dengan rutinintas kantor. Menjelang makan siang, sebuah foto masuk ke whatsapp saya, foto Grace dengan topi putih sedang tersenyum. Tanpa sadar air mata saya menetes di tengah keramaian teman-teman kerja saya yang sedang berdiskusi. Waktu mereka bertanya kenapa, saya hanya berkata: ”Terharu atas semangat hidup seseorang yang dunia pikir tidak layak hidup.“
Setelah itu saya tidak terpikir Grace sama sekali karena hari itu sibuk luar biasa. Tetapi sekitar jam 18 dalam perjalanan menuju kelas Donum Certum yang hari itu membahas Humanae Vitae, sebuah ensilkik gereja yang membahas soal kehidupan, ada whatsapp masuk dari papa Grace yang berkata: “Grace menurun terus.“
Saya cuma menanggapi: “Ahhh si Grace mah biasa, kalau malam suka menurun, ntar juga baik lagi.“

Tetapi di tengah meeting, sekita jam 22.30 malam, ada berita dari papa Grace: “Grace sudah pergi, pulang ke rumah Bapa di Surga.”

Saya hanya bisa menarik nafas waktu itu dan rasanya ingin segera bergegas pergi ke Carolus untuk melihat Grace, tetapi karena rapat belum selesai, saya berusaha duduk manis biarpun sudah sangat gelisah.

When it comes to the end of a journey, I am wondering… what should I say? Is it the end?

For me it is not the end.
It’s a beginning.
It’s a strong statement of God’s inclusion and faithfulness in this family.

It’s a love and love celebration of GG: Grace Gloria.

To be continued: Fly with Your Wings Little Angel Grace Gloria

Triduum: From Suffering to Victory (4)

Hari Kamis putih saat Yesus ada di perjamuan terakhir dan membasuh kaki murid-muridnya dan memberikan amanah suci: “Lakukanlah ini demi mengenangkan daku.” Saat itu Grace seperti berkata kepada saya melalui perjuangan hidupnya: “Setiap kali engkau melihat kehidupan baru, kenanglah perjuangan hidupku, dan lakukanlah seperti yang telah orang tuaku lakukan. Membela kehidupanku dan mencintai aku.”

Waktu saya merasa Grace meninggalkan pesan dan kesan itu, saya tersenyum. Satu lagi pengertian saya dapatkan. Terkadang banyak orang tua yang mendapati bahwa anak dalam kandungan ibunya terbentuk tidak sempurna, memutuskan untuk melakukan terminasi kehamilan (read: aborsi). Mereka memutuskan dengan alas an yang sangat bijaksana: “Kasian anak itu. Daripada punya hidup yang menderita.”
Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar daripada alas an ini: yang kasihan itu siapa? Apakah benar anak itu? Atau calon orang tua itu lebih tepatnya mengasihani dirinya sendiri atau tidak sanggup menahan malu karena membayangkan seumur hidup akan ‘terbeban’ dengan anak yang sehat secara fisik/mental.
Apakah benar keputusan terminasi itu diputuskan karena benar-benar yakin 100% bahwa anak ini tidak pernah akan merasa bahagia bila dia hidup di dunia? Apakah benar kita/ calon orang tua siap menjadi Tuhan dan mengadili hidup dengan ‘kebijaksanaannya’ sendiri?
Padahal kalau melihat kondisi Grace, seorang anak belum tahu apa-apa. Saat dia dilahirkan ia begitu polosnya, dan ia hanya bisa merasakan ia diharapkan/dicintai atau tidak. Dan bila orang tuanya memutuskan mencintai dia dan berjuang untuk kehidupan anak ini, rasanya anak ini mampu mengatasi segala macam masalah yang akan menerpa hidupnya. Yaaa.. saya melihat beberapa kasus seperti ini. Grace Gloria salah satunya.

Jumat Agung, hari Tuhan Yesus tergantung di atas kayu salib. Setelah misa Jumat Agung, saya dan Riko suami saya kembali menemui Grace dan kedua orang tuanya. Malam itu Grace terlihat makin mengurus dibandingkan saat dia lahir. Ini hari ke 3 kehidupannya, dan kami merayakan setiap hari bersama Grace dengan rasa syukur. Hari ini Grace seolah benar-benar mendampingi Tuhan Yesus di jalan salibnya. Saat saya memasukkan tangan saya ke dalam incubator dan menyapa: “Hai Grace!!! Lagi ngapain kamu…?” saya seperti melihat Grace kecil tersenyum di bawah Salib Tuhan Yesus dalam gendongan Ibu Maria. Saat itu saya tidak kuasa menahan air mata saya. I know it for sure, Grace is very save and happy, what ever her condition is.

Dunia boleh mengatakan dia seorang bayi yang lahir dengan anencephali.
Dunia boleh mengatakan bahwa ia tidak punya harapan hidup.
Dunia boleh mengatakan orang tuanya bodoh karena memutuskan melahirkan Grace. Tetapi apapun yang dunia katakan, apapun kebohongan yang ditaburkan iblis tentang pembelaan terhadap kehidupan, tidak dapat menghapuskan kenyataan bahwa cinta akan selalu menang mengalahkan keadaan apapun dalam kehidupan kita.

Grace tidak tersenyum karena Tuhan Yesus mati dan kalah. Tapi saya merasa, Grace adalah seorang anak yang mengerti apa arti tenderita, dan dia tersenyum karena dia tahu, it’s time to fight and with God’s grace, we always win the fight.
Grace tersenyum karena tahu penderitaannya akan menjadi silih bagi dosa-dosa orang tuanya dan keluarga besarnya.

It’s easter vigil. Yesus telah bangkit. Haleluya!
Misa malam Paskah tahun ini saya rasakan begitu indah. Tahun-tahun lalu juga indah sih, tetapi saya tidak tahu kenapa, tahun ini menjadi misa yang memberikan deep meaning ke saya secara pribadi.

Saya tersenyum saat pujian Paskah dinyanyikan (saya lupa kalimat aslinya), pokoknya intinya: betapa beruntungnya dosa Adam, sehingga dengan begitu kita menerima penyelamatan dari Yesus.
Buat saya setiap tahun, pujian Paskah, bacaan Paskah, sejak masa penciptaan, terbebasnya bangsa Israel dari cengkraman bangsa Mesir, dan bacaan-bacaan selanjutnya menjadikan sorak kemenangan. Betapa terbukti kesetiaan Allah, melewati kondisi apapun dalam setiap fase kehidupan manusia.. sekali lagi Allah mau meningatkan bahwa kesetiaanNya tinggal tetap, kasih setianya menyertai turun temurun bagi orang yang takut akan Tuhan.

Hari itu ada berita yang masuk bahwa Grace menurun keadaannya. Susu sudah tidak bisa masuk banyak karena muntah dan gumoh, dia terkadang berhenti bernafas. Hati saya berdebar setiap kali ada berita masuk dari papa atau mamanya Grace.
Malam itu, segera setelah misa malam Paskah selesai kami langsung ke Carolus lagi. Malam itu saya dan Ninu menyanyikan lagu-lagu untuk Grace sambil memegang tangan Grace di dalam inkubatornya. Refleks menggenggamnya sudah mulai hilang, padahal refleks ini adalah satu tanda bahwa sistem motoriknya berfungsi secara baik.

Kami menyanyikan lagu S’mua Baik dan Erat dengan HatiMu buat Grace.

Dari semula tlah Kau tetapkan, hidup Grace dalam tanganMu, dalam rencanaMu Tuhan.
Rancangan indah tlah Kau siapkan, bagi masa depan Grace yang penuh harapan.
S’mua baik, s’mua baik, apa yang tlah Kau perbuat di dalam hidup Grace.
S’mua baik, s’mua baik, Kau jadikan hidup Grace berarti.

Air mata mengalir saat saya menyanyikan lagu ini bersama dengan papa dan mama Grace.
Lalu kembali kami mengulang lagu favorit Grace (ngga tahu sih bener apa engga, sok yakin aja hehehe…)
Betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadian Grace
Kau menenun diri Grace, serupa gambaranMu ooohhh..
Sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupan Grace
Kau membawa hati Grace mendekat erat dengan hatiMu

Saat itu entah mengapa, saya merasa Grace kecil ikut bersama kami menyembah Tuhan. Ninu mengangkat tangan kecil Grace saat bait:
… dan kuangkat tanganku ke tahta kasih dan karuniaMu…
tak sekalipun Kau tinggalkanku, Yesus sahabatku.

Berkali-kali saya berusaha mengeluarkan suara saya karena leher saya penuh dengan lendir karena air mata yang banjir membasahi wajah saya. Yang saya tahu pasti, ini bukan air mata kesedihan, ini air mata permohonan dan perjuangan bersama dengan Grace dan kedua orang tuanya.
Terkadang saya malu dengan diri saya, melihat anak berusia 4 hari saja mampu berjuang keras dan memaknai hidupnya di semua mungkin.
Betapa saya berterima kasih kepada Grace dan kedua orang tuanya yang telah mengingatkan saya sekali lagi akan betapa berarti dan berharganya setiap detik dalam kehidupan kita.

To be continued: GG’s Love and Life Celebration

It’s Not The End… It’s A Beginning (3)

Perkiraan lahir janin ini adalah 20 Maret 2012. Ninu berharap anak yang dinantikan ini lahir di tanggal 13 Maret karena itu akan sesuai dengan nama Santa pelindungnya.
Yessss… seorang Santa, karena anak ini adalah seorang perempuan. Another warrior princess will come to the world in the world will coming in a matter of days.

Waktu perkiraan lahir lewat, dan belum ada tanda-tanda mules sedikitpun, saya mulai kuatir dan terus bertanya pada Ninu: “Lu ngga cek?” atau “Belum mules juga?”
Sempat terbersit dalam pikiran saya, mungkin memang Ninu tidak terlalu mengharapkan terjadi proses melahirkan yang cepat karena dengan begitu ia tahu ia punya waktu lebih banyak lagi bersama dengan anak ini. Entar benar atau tidak, tapi kalau saya ada di dalam posisinya, mungkin saya akan melakukan hal itu.

Sampai saatnya benar-benar tiba, begitu cepat karena diputuskan untuk melakukan operasi Caesar karena sudah melewati 42 minggu kehamilan dan anak ini masih dalam posisi melintang. Malam itu kami mengajak Rm.Nugie SJ untuk berdoa bersama, memberikan kekuatan dan bersatu hati memohon kekuatan dan rahmat Tuhan. Sebelum pulang saya memeluk Ninu dan berkata: “Besok, satu tahap lagi dalam hidup elo akan elo alami. Welcome to motherhood”

Keesokan harinya, 3 April 2012,  saya dan suami menunggui Ninu menjalani operasi Caesar bersama seluruh keluarga besar Bim dan Ninu serta seorang sahabat Ninu. Tidak lama setelah operasi dimulai, terdengarlah suara tangisan bayi yang keras. Suara tangisan seorang bayi yang keras, terdengar sampai ruang tunggu, tangisan ini seolah ingin mengatakan lepada dunia: “Heyyyyy… saya hiduppppp!!!”

Segera setelah bayi ini disiapkan dan dimasukkan ke dalam inkubator, Rm. Nugie langsung mengadakan upacara pembabtisan, sebuah upacara yang mengklaim anak ini sebagai anggota kerajaan Surga. Saat Romo berkata: “Grace Gloria, aku membabtis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.” Saat air pembabtisak diteteteskan di dahi bayi mungil ini, tidak ada satupun, baik malaikat maupun penguasa, baik ancaman sekarang ini maupun ancaman di masa yang akan datang, baik yang di langit maupun di bumi, baik kematian maupun kehidupan, semuanya itu tidak dapat mencegah Allah untuk mengasihi anak ini, dan air pembabtisan membuat anak ini tidak terpisah dari cinta kasih Allah. (Roma 8:38-39).

Betapa seluruh isi Surga bersuka-cita atas peristiwa ini. Yes, her name is Grace Gloria. Hellooowww every one… please welcome Grace Gloria (*yaaayyyyyyyy*) : a warrior princess who were born from a warrior mom, and has a dad with a brave heart. From God Grace comes and to God be the Glory. So proud for the three of you!

Ini adalah tanggapan saya terhadap pengumuman kelahiran yang di posting sang Papa di FB nya: “Hari ini telah lahir Grace Gloria. Seorang anak pejuang kehidupan. Karena berkatNya kami dikuatkan. Dan untuk kemuliaan Tuhan-lah ia hadir.”

Grace Gloria adalah seorang bayi yang sangat cantik, kulitnya putih dan mulus, bibirnya merah merona, tubuh kecilnya gempal menunjukkan jelas dia putri siapa (hehehe… tanpa bermaksud fisikkk lho yaaa…) hanya kepalanya saya tertutup oleh kain putih steril untuk melindungi bagian kepalanya yang terbuka. Dengan kondisi seperti ini, siapa yang menyangka dia adalah seorang bayi dengan kondisi anencephaly? Dia begitu cantik. Bagi saya… dia sempurna!

Di tempat yang lain, Ninu sang Mama sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Ninu menggigil kedinginan sampai ia harus memakai selimut penghangat dan masih terlihat lemah saat saya masuk. Tetapi di mata yang sayu saya melihat pancaran lain dari mata itu. Pancaran kemenangan dan kekuatan dari cinta yang mengalahkan teori apapun yang dikatakan,  bahkan mengalahkan maut. I don’t know, maybe it’s just me, tetapi kenyataan bahwa bayi perempuan ini hidup adalah sebuah tanda kemenangan.

Melihat kondisi Ninu, saya kembali merefleksikan panggilan saya sebagai seorang perempuan. Siapa yang berani mengatakan perempuan lebih lemah dari pada lelaki saat melihat kondisi seperti Ninu saat ini. Tetapi hal ini juga meningatkan saya akan pengertian yang saya dapatkan, yang membebaskan saya dari kebohongan feminisme.
Why woman have to fight for equal right with man? Apa yang mau disamakan? Perempuan dan laki-laki adalah dua jenis manusia yang berbeda dan unik, dengan panggilannya masing-masing. Di atas meja operasi, di saat seorang perempuan menyabung nyawa untuk kehidupan, memberikan rahimnya sebagai tempat kehidupan, memberikan payudaranya untuk mempertahankan kehidupan, atau memberikan seluruh hari, hati, dan perhatiannya untuk membesarkan manusia-manusia yang lebih baik daripada dirinya sendiri… di situlah letak kekuatan seorang perempuan yang tidak dapat dipertanyakan apalagi diragukan lagi.
Melihat Ninu hari itu membuat saya amat sangat bersyukur atas keberadaan saya sebagai seorang perempuan.
Yes, woman… we are the crown of creation. Don’t let the devil take away that truth from you!

Minggu itu adalah hari-hari dalam pekan suci. Hari-hari di mana kita sedang mempersiapkan diri turut berjalan bersama dengan Tuhan  Yesus di jalan salibNya. Bagi saya, Grace memberikan makna yang mendalam di pekan suci tahun ini.

Setelah mulai libur hampir tiap hari saya dan suami saya mampir ke RS untuk melihat perkembangan Grace. Ninu dengan senang bercerita kalau Grace minumnya banyak. Bimo dengan bangga bercerita bagaimana Grace tidak bereaksi dengan baik saat diputarkan lagu anak-anak seperti Twinkle-Twinkle Little Star, tetapi saat dipasangkan lagu Erat Dengan HatiMu yang kata-katanya:

“Betapa ajaib dan dahsyatnya Tuhan kejadianku.
Kau menenun diriku serupa gambaranMu.
Sungguh berharga di mataMu Tuhan kehidupanku.
Kau membawa hatiku mendekat, erat dengan hatiMu.”

Saat lagu ini dipasang, Grace bereaksi dengan baik, kadang kepalanya mengangguk-angguk seperti meng-amin-kan kata-kata lagu ini.
Oh Grace… I learn a lot from you.
Bagaimana bersuka-cita dan bersyukur apapun keadaanmu.

A big (and old *sighhhh*) girl like me has to learn how to have a simple heart like you.

It’s definitively not the end… It’s a beginning of a life’ celebration

To be continued: Triduum: From Suffering to Victory

The Roller Coaster Lifelogy (2)

Hari-hari setelah itu menjadi waktu-waktu yang penuh doa dan harapan.
Saya mendengar dari suami saya, betapa Bimo sang ayah yang saya tahu sangat doyan makan, berdoa puasa untuk keajaiban. For once, it’s a Miracle already (heee… *peace Bim!!!*)

Bagi seorang dokter, saya tahu persis bagaimana pergumulan menyikapi realita dan keajaiban (atau paling tidak mungkin hanya dr.Lia yang bergumul karena kurang iman hehehe…).

Tetapi bagaimana caranya menyikapi hasil USG yang jelas terlihat kondisi anencephali si janin, lalu membaca begitu banyak jurnal yang mengatakan 75% anak yang dilahirkan dengan kondisi ini akan langsung meninggal saat dilahirkan.
Bagaimana caranya percaya bahwa akan terbentuk lagi jeringan otak dan tempurung kepala yang tadinya tidak terbentuk setelah minggu ke 12 yang secara kedokteran diketahui proses pembentukan sudah selesai di minggu-minggu itu.
Bagaimana caranya menetapkan posisi hati sebagai ayah dan ibu, yang juga seorang dokter, yang begitu bahagia saat janin bergerak menyapa mereka dengan sebuah rasa yang kuat di rahim ibunya, tetapi di sisi lain dengan pengetahuan di dunia kedokteran ingin menjaga hati untuk tidak terlalu berharap dan terluka karena kehilangan.
Bagaimana caranya bersikap, apakah harus belanja barang keperluan bayi seperti yang dilakukan calon-calon orang tua pada umumnya dengan pengetahuan bahwa kemungkinan besar itu tidak terpakai, tetapi di sisi lain bila itu tidak disiapkan, apakah itu artinya kita sebagai umat beriman tidak mempunyai harapan dan tidak percaya akan kuasa Allah yang mampu menyelenggarakan mujizat?
Mungkin inilah yang menyebabkan orang-orang yang sederhana dan bodoh lebih mudah percaya dan dengan itu mereka melihat Tuhan.

Kadang-kadang atau bahkan sering kali iman dan kenyataan membawa kita pada pertanyaan yang sepertinya valid dan realistis.
Saat pasangan suami istri ini menghadapi kenyataan bahwa anak mereka mengalami hal yang mereka tidak sangka-sangka, tidak sedikit yang mempertanyakan, kenapa mereka harus mempertahankan anak ini? Aborsi menjadi sebuah ‘penyelesaian’ yang dianggap dunia bijaksana dan ‘manusiawi’ karena dengan keadaan janin, anak yang dilahirkan nanti akan mempunyai kualitas hidup yang buruk.

Yang menyedihkan adalah sugestión ini datang dari dokter yang mengucapkan sumpah: Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Bahkan di sumpah asli Hipócrates tertulis:
I will give no deadly medicine to any one if asked, nor suggest any such counsel; and similarly I will not give a woman a pessary to cause an abortion.

Seperti Paus Benediktus ke XVI mengatakan bahwa saat ini kita seperti sedang membangun kediktatoran dari relatifism yang tidak mengakui apapun yang definitive dan yang tujuan yang utama hanya terdiri dari ego dan keinginan diri sendiri. (http://www.lst.edu/academics/landas-archives/373-dictatorship-of-relativism).
Hal ini juga masuk ke dalam dunia kedokteran dan begitu pandainya tipu muslihat iblis memanfaatkan kelemahan ego manusia sehingga akhirnya penghargaan terhadap kehidupan menjadi hal yang tidak terlalu penting, bahkan dianggap bodoh saat kehidupan dianggap tidak layak dilahirkan karena berbagai kondisinya.

Bagi saya roller coaster kehidupan ini menjadi begitu nyata saat melihat bagaimana calon ayah dan ibu dari seorang anak yang mengalami kondisi anencephali ‘berdiri tegak’ dan memperjuangkan kehidupan.
Mereka berdua memilih untuk percaya, melebih segala fakta statistik dan ilmu kedokteran yang mereka pelajari.
Mereka berdua memilih mempertahankan janin yang dianggap dunia tidak sempurna ini. Bagi mereka janin ini adalah kesempurnaan cinta mereka, dan untuk itulah dia sangat layak untuk dilahirkan.
Bimo dan Ninu memilih untuk menjadi saksi hidup yang menanti-nantikan menjalani hari-hari roller coaster ini dengan satu pilihan sikap: percaya pada penyelenggaraan Allah sang pemberi hidup.
Saat Allah memberi hidup, Allah pula yang akan menjaga dan menyelesaikan semuanya.
Bagi saya kesediaan mereka menjadi sebuah harapan, bahwa sekali lagi saya akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan.
Keberanian mereka menjadi sebuah tanda betapa Allah selalu menyediakan rahmat yang cukup di setiap keadaan dalam kehidupan kita, bahkan yang tersulit sekalipun.

It’s really privilege for us to be at their side in the 4 months roller coaster of life. When you are in the roller coaster ‘lifelogy’ just believe that the truth which is God’s love and grace is poured out in a way that we never imagined.

Saat itu saya menunggu-nunggu waktu di mana para pembela kehidupan dapat berdiri tegak dan berkata: “Maut… di manakah sengatmu?”

To be continued:  It’s Not The End… It’s A Beginning

Let Go The Need to Know Why… But… WHY??? (1)

I live for 39 years this year.
I met so many great people.
Sometimes the acquaintance happens so short, I have not even have time to breathe perfectly.
This is the story of my encounter with one tiny little girl, that the world sees her not perfect not even perfect being born.
Yes, this is the story of my encounter of one great person.

Saya ingat di suatu malam, saya sedang beristirahat di kamar. Suami saya Riko pulang dari pertemuan dengan sepasang suami istri sahabat kami, yang juga partner bisnis suami saya. Waktu itu saya menolak ikut karena badan rasanya tidak bisa diajak kompromi untuk berbagi waktu dengan mereka.
Begitu masuk kamar, suami saya berkata bahwa Bimo dan Ninu, nama pasangan suami istri itu akan segera punya anak. Ninu sedang hamil di sekitar minggu ke-20. Saat itu saya kaget, kok saya ngga tahu… tapi melihat karakter saya, kadang semua berlalu tanpa sempat saya perhatikan dan cerna. Ahhh… Lord have mercy on me… kadang saya putus asa dengan sifat cuek saya yang kadang keterlaluan.

Tetapi yang membuat saya terdiam saat itu adalah kenyataan bahwa sepasang sahabat kami itu menceritakan, bahwa anak dalam kandungan Ninu mengalami satu keadaan yang dinamakan: anencephali. Anencephali adalah keadaan di mana janin mengalami gangguan pertumbuhan organ otak sehingga sebagian besar jaringan otak dan tempurung kepala janin tidak terbentuk. (http://www.anencephaly.net/).

Mengenal Bimo dan Ninu, yang juga adik kelas saya di Fakultas Kedokteran, saya langsung bertanya dalam hati saya: “Why them Lord? Why?” dan setelah itu saya Cuma bisa terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak menyangka dengan sifat ke-cuek-an saya, informasi seperti ini bisa menimbulkan dampak yang besar sehingga saya sulit sekali rasanya mencerna berita ini. Boro-boro mengunyah, menggigit saja rasanya tidak mampu karena kenyataan yang begitu keras dan tidak adil.


Saya melihat ke diri saya yang sampai hari ini belum dikaruniai anak (read: https://whittulipe.wordpress.com/2011/12/21/with-god-nothing-such-mission-impossible-a-reflection-of-one-barren-woman/), dan saya sedikit banyak mengetahui kehidupan sepasang suami istri ini, kami belum jadi orang-orang suci, kami bukan orang sempurna, tetapi kami juga bukan penjahat/ pembunuh. What have we done so we deserve this? It’s really unfair! Sedang saya mengingat orang lain yang pernah melakukan aborsi karena hamil sebelum menikah, sekarang sudah mempunyai anak yang lucu dan sehat. Dengan pengetahuan dan otak saya, dengan pengertian dan niat saya selama ini, I learn to let go the need to know why, especially things like this. But really, I was really so tempted to ask, even to shout protest. Saya benar-benar perlu belas kasihan Tuhan untuk bisa mengerti semuanya ini.

Malam itu saya mengakhiri hari dengan menuliskan e-mail kepada Bimo dan Ninu. Saya menuliskan e-mail ini untuk mereka:
Dear Bim and Ninu,
Gw baru dapat kabar dari riko 2 hal.
1. Gw baru tahu… Sumpehhhh… Kl Ninu udah hamil bahkan sudah cukup lama kayaknya. Mohon maappp gw bukan org yang perhatian hehehe… Jd gw baru tahu kalau Ninu hamil.
2. Tapi agak kaget juga pas beritanya adlh anak kalian diagnosa anencephaly.
Salut mendengar kalian begitu ‘tenangnya’ sdgkan gw yg mendengarkan saja sudah berurai air mata dan speechless… And yes… Berasa ngga adil.
Anyway gw msh mengolah berita ini juga sambil coba browsing.

Segini dulu, yang pasti doaku bersama kalian.
Ntar sambung lagi ya kl ud bisa mencerna dgn lebih benar.

 
Ketika kita mendengar sesuatu terjadi di luar kuasa kita, dan kemudian kita tahu bahwa kita tidak bisa apa-apa, bahkan Bim dan Ninu yang dua-duanya dokter tidak bisa mengubah keadaan anencephali ini,  rasanya kata-kata penyemangatan seperti: It’s ok everything’s gonna be okay, atau Tuhan akan membuat sesuatu indah pada waktuNya, atau jangan takut Tuhan bersama kita tidak bisa keluar dari mulut ini. Kebenaran yang telah teruji selama ribuan tahun bahkan tidak mampu saya katakan karena misteri yang tidak bisa saya mengerti.

Life is a mystery, everyone must stand alone. I really want to know what’s God’s plan right away, but I know it for sure all I have to do was get down on my knees and pray.

Katanya… Tuhan hanya sejauh doa!

To be continued: The Roller Coaster Lifelogy