Love Letter to My Hubby On a Cloudy Mid-Day

Di suatu perjalanan dengan bus menuju Tumpang untuk retreat, long-long ago in August 1995 I met him.

Waktu itu saya masih duduk berdampingan dengan mantan pacar saya (bener-bener mantan pacar yang tidak jadi suami :-p), dan dia duduk berdampingan dengan mantan pacar nya (yang juga bener-bener mantan pacar yang tidak jadi istri:-p).

Sembilan tahun kemudian di tahun 2004, setelah begitu banyak yang terjadi… ternyata dia (yang tadi duduk sama mantan pacarnya itu), benar-benar menjadi mantan pacar yang akhirnya jadi suami saya. (hhhmmm belibet ajeeee….) Bener-bener life is a mystery dahhhh 🙂

Seven years sevent months friendship, one year and two months courtship, and six years eight months in marriage life, he transforms from someone to dearest one for me.

Saya belajar untuk menuliskan kata-kata cinta. Karena begitu banyak luka membuat kata-kata cinta sepertinya tidak lagi berarti untuk dituliskan dan/atau dikatakan.
Hati ini kembali menjadi hati kecil yang kembali belajar berjalan seperti Celine (anak babtis kami). Belajar untuk kembali mampu merasa dicintai.
Seluruh raga memperbolehkan kembali diri ini untuk terluka karena mencintai. I let my heart fall in love again.

Yes, today I fall in love with the man I married 6 years and 8 months ago. It’s such a warm and secure feeling.

It’s an emotional feeling because in a second all the feeling can turn to a fuzzy feeling full with complaining.
It’s lebayyyy writing this (yes or no?)… because in a second this love letter can change to a demand letter full of ‘why’ and ‘when’ questions and list of target he has to achieve as my husband.
It’s impulsive to wanting you my darl (copyrite from Angie Sondakh gw pinjem dulu) because in a second I can make you feel unwanted and unneeded.
But it’s ok because I learn to give my self completely day by day. My emotional, lebay, and impulsive (in a good, charming way) feeling and also my weakness who’s make me so uncaptivating to you.

Thank you for being my hero since day 1 of our marriage by giving yourself to take the cross of life (who’s me as the cross of course! 😀 kok malah bangga? Hehehe…)
Thank you for the hard work you did (and do) all these times to fulfill my need and comfort (I’m such a high maintenance wife in terms of comfort and pleasure rite?)
Thank you for making my dreams become your dreams, holding my hands and keep whispering to me that we will make all our dreams come true. Together!

Thank you because you always put God as the center of your life. By doing that you sanctify me as your wife.

Sementara ini… itu dulu thank you yang tertulis… (Thank you for a million reasons deh, tapi ntar keburu ilfil bacanya :D)

Most of all… Thank you for loving me by giving yourself to me…
Free, total, faithful, and fruitful …. (ToB bangeeetttt hihihihi…)
I have to stop before 12AM, and this love letter change to a pumpkin of grumpiness 😀

And we live happily ever after (teteuuppp maksa kayak Cinderella)

Your lovely wife, (eheemm- eheemmm)
Lia (bukan Cinderella!)

Inspired by Angelina Sondakh… hehehee… Bukan nyumpahin suami gw kayak Adjie Marsaid (*amit-amit*!!!), tapi life is too short, so I better say (or write) a blessing words instead of anything unuseful.

Disclaimer:
Ini karya “sastra” tulisan gw lohhh… jadi bukan mau pamer perasaan cinta… hahaha… kalau merasa mual saat membaca ini silakan langsung dimatikan (mudah2an bukan my hubby yang doing it!… gagal deh love letter gw!).
Tapi kalau mau pindah bacaan lain… sorry it’s too late… because you’re at the end of this love letter hahaha…
Silakan memutuskan: mual-mual atauuuu  feel like Cinderella (in a real world!)
Yang pasti suami gw yang bakal geleng-geleng kepala baca tulisan istrinya yang sok Inggris dengan grammer berantakan dan sok PD pula! yayyyy that’s me 😀

Advertisements

Celebration of Life in True Meaning

Seminggu yang lalu, tepatnya 13 Februarin 2011, saya kehilangan seseorang.

Seseorang yang secara fisik tidak terlalu dekat dengan saya, tetapi saya selalu tahu kapanpun saya membutuhkan dia, dia akan hadir secara fisik.
Sahabat yang memberi saya  kemudahan dalam berteman. Bersahabat dengan nya terasa begitu mudah, aman, ngga pusing karena dia tidak pernah berprasangka dan tidak mudah tersinggung.
Sosok yang mengajari saya apa artinya berjuang dan mempersembahkann silih dalam senyum dan tutup mulutnya.
Pribadi yang mengingatkan saya akan arti memberi. Bahkan saat kesakitan dan nyeri nya ia tetap memberikan dirinya.
Ia tidak pernah menggembar-gemborkan hubungannya dengan Tuhan, karunia-karunianya, tetapi memancarkan kasih Tuhan lewat hidupnya, seberapapun ia disakiti dan dikecewakan.

Untuk semua itu, tidak mungkin saya tidak kehilangan.

Tetapi di balik semua itu, di saat ia sudah benar-benar tutup mulut, tutup mata. Waktu ia sudah menutup semua inderanya dan saat ini bersatu dengan plankton-plankton air laut mengarungi samudra ke seluruh dunia, ia masih terus mengajarkan saya.

Tidak ada alasan untuk tidak berbagi diri dengan orang lain. Tidak ada alasan untuk tidak belajar memberi. Bagaimanapun keadaanmu.
Siapa yang tahu beberapa hari sebelum kematiannya, ia masih membantu salah satu sahabat yang juga sedang berjuang melawan kanker untuk mendapatkan seorang Romo yang bisa memberikannya sakramen perminyakan.
Ia memberikan uang sumbangan yang tadinya ditujukan untuknya kepada seorang teman sekamar di RSCM yang tidak mampu.

Saat semuanya binasa, apa yang kau tinggalkan di dunia ini menjadi bukti jejas kehidupanmu.
Sahabatku ini telah pergi, tetapi dari waktu ke waktu sampai detik ini rasa kehilangan itu ada (paling tidak untuk ku). Selalu ada alasan untuk mengenangnya karena ia meninggalkan tapak jejaknya di dunia ini.

Saat kita terbujur kaku di peti mati kita, yang ada tinggal pertanyaan: “Seperti apa engkau mau dikenang?”
Bila ada sebaris kalimat yang akan dituliskan di nisan kita, kalimat seperti apa yang kita ingin dituliskan untuk kita.

Saya masih harus belajar banyak dari kehidupan. Saya bukan orang suci, biarpun saya bermimpi untuk hidup kudus dan mengejar kekudusan itu. Saya belajar dari sahabat ku ini untuk tidak menyerah. Saya memperjuangkan keselamatan dengan takut dan gentar dengan iman percaya belas kasihan Allah yang membuat saya berani melangkah dalam hidup ini.

“Sebab bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Thank you so much for every thing you teached me through your witness of life.
Good bye for real my dear sister and friend Mungky D.Kusuma.
See you in heaven.

-adik dan sahabatmu di peziarahan dunia-