From My Closet: I Wish for Four, now I still have Zero

Waktu saya di bangku SMA, saya pernah berjanji dalam hati, saya tidak mau hidup saya dibebani dengan makhluk-makhluk kecil yang bernama: A N A K. Buat saya (saat itu), anak hanya menghalangi langkah saya untuk mencapai apa yang saya mau dalam hidup saya. Kebetulan saya juga bukan tipe perempuan yang suka akan anak dan mau dinilai orang keibuan.

Ini berlangsung sampai masa saya bekerja. Hati saya selalu berontak bila melihat kenyataan perempuan seakan-akan tidak punya pilihan. Semua kesialan, ketidak-beruntungan, bahkan ketidak-enakan selalu harus dijalani oleh perempuan. Saya percaya akan kontrasepsi, saya percaya akan pilihan-pilihan yang harus dibuat oleh perempuan, saya percaya kita perempuan bisa hidup tanpa lelaki. Satu-satunya yang belum bisa saya terima waktu itu adalah aborsi, karena biar bagaimanapun saya tahu itu adalah pembunuhan. Tapi…  kalau waktu itu saya mengalami kehamilan yang tidak saya inginkan, jangan-jangan… saya akan melakukannya juga! Who know’s…?

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan tercurah deras atas hidup saya. Lewat sebuah buku yang ditulis oleh Kimberly Hahn: Live Giving Love, pandangan saya berubah 180°, dari seseorang yang menggunakan hidup, menjadi seseorang yang belajar mencintai kehidupan.

Sejak itu ada kerinduan untuk memeluk anak-anak saya. Sampai sekarang saya masih belum bisa tahan kalau melihat anak-anak berlarian dan teriak-teriak, rasanya saya pengen menghampiri mereka dan menaruh plakban di mulut mereka dan mengikat kaki mereka (eehhh… *cartoon mode*) tetapi saya harus mengakui.. setiap kali memeluk Jovan dan Celine (anak2 dari pasangan Kusno&Anast dari komunitas kami) saya tidak bisa membohongi, ada kehangatan yang menyelimuti hati saya dan kadang tidak mau melepaskan mereka. Sejak membaca buku itu, saya selalu memimpikan 4 orang anak hadir dalam pernikahan kami.

Tahun ini kami melewati tahun ke 6 pernikahan kami. Seperti judul tulisan ini, I wish for 4 (children), tapi saat ini kami masih bertahan di angka Zero (atau nol!). Saya pernah melewati masa-masa sedih setiap kali mendengar seseorang hamil. Duluuuuu setiap kali saya bertemu dengan orang yang baru menikah, kalau ketemu kata basa-basi saya adalah: “Gimana? Sudah isi?”.. sampai saya mendapati pertanyaan itu begitu menyakitkan dan semua mata dan telunjuk seakan tertuju kepada saya dan mengatakan: “Kamu bukan perempuan krn kami tidak bisa mempunyai anak!”

Rasanya saya mulai mengerti bagaimana perasaan St.Elisabet sebelum akhirnya ia mendapatkan Yohanes.

Tetapi saya memutuskan untuk tidak menjadi pahit dengan semua ini. Saya bersyukur dengan setiap pengalaman yang boleh saya jalani. Cara pandang saya sebagai seseorang yang dulunya adalah Pro Choice, justru membuat saya hari ini makin mencintai kehidupan dan keperempuanan saya.

Kalau saya membuka diri saya buat kehidupan, saya memilih untuk terbuka pada cinta, bukan kepahitan dan kebencian.

Kalau saya memilih untuk terbuka akan berapapun jumlah anak yang Tuhan berikan kepada kami, itu karena Ia mempercayakan kehidupan yang Ia ciptakan dengan sempurna, dan Ia sumber kehidupan dan kelimpahan akan memberikan dan mencukupi segala keperluan kami.

Kalau kami hari ini belum diberi satupun kehidupan, saya percaya ada hal lain yang harus kami kerjakan, dan membuat cinta kami tetap berbuah, berkelimpahan, dan menjadi berkat buat siapapun yang ada di sekeliling kami.

Beberapa waktu lalu saya nonton acara Oprah dengan The big family of Osmond.  Dari sepasang George dan Olive Osmond, mereka terbuka pada 9 anak yang diberikan kepada mereka, dari 9 anak, hari ini ada 55 cucu dan 48 (dan terus bertambah) cicit. Mereka berhasil mendidik anak-anak mereka dengan cinta dan terus hidup rukun sampai sekarang.

Waktu saya mendengar cerita ini, hati saya diliputi kehangatan, betapa cinta lebih besar dari apapun dan mampu mengalahkan apapun.

So, I was living my pro choice life with many (individual, egoist, and full of hate) choices.

I wish for four and we still have zero now! But we never doubt of whatever God has plan for us.

As we open ourselves to life He will create, we believe He will open the heaven’s door for us. Assuring that we will have the strength, the love, the blessing, the wisdom, happiness and everything we’ll need.

Yes I wish for Four and yet we still have Zero, but we believe if we generous enough to give our life, HE will give fo(u)rever generosity to us and you!

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s