You are What YOU ARE

Karena aktifitas Renungan Harian Wanita (RHW) setahun belakangan ini, dan akhir-akhir ini makin di pertajam dengan sharing iman tentang keperempuanan dengan beberapa sahabat wanita (dan pria juga), saya kembali merefleksikan keberadaan saya di dunia ini.

Saya lahir di keluarga yang mencintai saya. Saya anak pertama yang pasti dinanti-nanti. Papa saya bisa dikatakan setengah ‘adore’ anak perempuannya. Dia adalah pria pertama dalam kehidupan saya yang membuat saya mengerti akan arti cinta seorang pria.

Mama saya adalah seorang perempuan hebat di mata saya. Mama dan papa saya berjuang dari bawah bersama-sama. Mereka jualan bakmi dipinggir jalan Rp.50,- semangkok untuk menghidupi mereka dan saya. Mama selalu mendampingi papa saya yang saat mudanya punya karakter sangat keras. Dengan segala kelemahanannya sebagai manusia, mama tetap seorang yang luar biasa. Dari muda ia selalu bicara soal makna perempuan dan panggilan sebagai seorang istri untuk jemaatnya (karena ia dulu adalah seorang pendeta di sebuah gereja Pentakosta). Setiap Rabu sore jam 4, saya selalu ‘ditenteng’ mama saya ke persekutuan kaum ibu di gerejanya, melihat begitu banyak wanita berkumpul, berdoa, dan berlutut menyembah Tuhan mohon kekuatan.

Warna itu yang menghiasi hari-hari seorang lia kecil.

Tetapi saat saya remaja, saya kehilangan jati diri saya karena dimakan rendah diri akan penampilan saya, merasa tidak berarti karena kebodohan saya di sekolah. Semuanya itu menghancurkan saya perlahan.Dari awal saya mulai mengerti soal perbedaan laki dan perempuan, saya mulai mempertanyakan: “Kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan?”

Proses itu berlanjut dengan mengutuki hari-hari menstruasi saya dan berontak bila mama membelikan dan menyuruh saya pakai rok. Saya tidak pernah punya rambut yang panjang, dan sebel banget waktu mama ajak saya ke dokter kulit hanya untuk ngurusin muka saya yang penuh dengan freckles.

Berlanjut akhirnya ada seseorang yang ‘mau’ sama saya (dan saya mengganggap itu keajaiban! padahal waktu itu usia saya baru 15 tahun tetapi sudah desperado :p), saya kembali tidak menghargai tubuh saya, dan pernah berjanji untuk tidak mau punya anak karena anak hanya akan memperlambat langkah saya.

Begitu banyak hal terjadi, yang membuat saya makin yakin. Bahwa hidup sebagai perempuan itu merugikan, saya ingin membalaskan banyak dendam dan luka hati saya pada lelaki. Saya benci akan dominasi mereka dan saya berjanji satu hari saya akan lebih dari mereka. Saat itu saya masuk dalam banyak pembenaran-pembenaran diri saya. Sangat sinis, dan sukar diajak berelasi. Saya merasa tidak memerlukan satu hubungan karena saya bisa melakukan semuanya sendiri. Saya berhasil sampai pada jabatan manager di satu perusahaan besar di usia 27 tahun. Mungkin itu biasa buat sebagian orang, tetapi buat saya yang selalu merasa diri saya bodoh, itu pencapaian yang luar biasa.

Sampai akhirnya… saya menyerah karena lelah. Saya lari dari satu pembenaran ke pembenaran berikutnya dan mendapati ternyata saya hanya berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan berikutnya.

Saat itu pertolongan datang…

Hari ini saya melihat ke belakang dan mendapati konsistensi, banyak titik terendah dalam kehidupan saya, berhasil dipulihkan oleh Tuhan lewat bantuan buku. Saat itu saya membaca sebuah buku berjudul: Life Giving Love yang ditulis oleh Kimberly Hahn. Entah mengapa, rahmat Tuhan mengalir deras melalui buku itu dan menyelamatkan saya. Terutama menyelamatkan keperempuanan saya.

Hari ini saya bersuka-cita untuk apa yang ada. Saya beralih dari seorang feminis menjadi seorang femina dalam arti kata sesungguhnya.

Saya mensyukuri keperempuanan saya hari ini. Saat saya pulih dari luka-luka hati saya, saya dimampukan melihat gambar besar kenapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan.

Saya sadar, tidak ada yang harus saya perjuangkan sebagai perempuan untuk sama dengan laki-laki. Sampai kapanpun seorang perempuan berjuang, tidak akan pernah cukup dan habisnya, karena perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Karena perbedaan itulah perjuangan feminis hari ini seakan tidak pernah usai dan tidak pernah sampai pada hasil yang diinginkan, karena memang laki-laki dan perempuan berbeda!

Dan perbedaan itu bukanlah perbedaan siapa yang lebih baik atau siapa yang lebih buruk. Perbedaan itu adalah perbedaan yang bila disatukan akan menciptakan sesuatu yang luar biasa. Persatuan yang akan mengalahkan iblis dan persatuan yang akan memenangkan dunia demi kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu iblis terus menebarkan luka dan kebohongan pada banyak perempuan supaya pengertiaan akan perbedaan ini tidak pernah sampai dan kebencian terus hidup diantara para perempuan terhadap keberadaan keperempuanannya.

Untuk itu semua… yang harus diperjuangkan hanya satu hal: bagaimana saya sebagai perempuan mampu memaknai arti keperempuanan saya, memberi makna bagi kehidupan, dan menjadi berkat buat kemanusiaan di dunia ini. Sehingga lewat itu dunia melihat dan memuji Tuhan… bahwa Ia juga menciptakan perempuan sama indahnya dengan laki-laki.

Jawabannya adalah Yesus! Karena Dia yang telah tersalib untuk menebus semua kebencian dan kebohongan itu.

Jawaban berikutnya adalah Ibu Maria yang telah dengan setia dan sempurna menjalani keperempuanan nya dan menang sampai akhir.

So.. woman of God…

Celebrate our womanhood! Celebrate our life.

We have a great mission on earth.

And as Mother Mary… let’s bring the joy of our womanhood to fill the world with love.

You are what YOU ARE.

Be proud of it…🙂

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s