Things To Be Thanked for on 2009, Especially This Christmas!

The reflection of mine… This Christmas.

Kalau diingat-ingat kayaknya udah lama banget saya ngga merasakan apa yang namanya ‘The Spirit of Christmas”.

Seinget saya, terakhir saya merasa happy adalah waktu malam natal dibangunin papa-mama saya, dan mendapati sepatu saya yanga terisi rumput sudah habis dimakan Rudolph (itu kata papa saya!) dan sebuah hadiah besar ada di sebelah sepatu saya sebagai ganti rumput itu. It was a beautiful memory of childhood! (*love you papa-mama*)

Setelah itu begitu banyak hal terjadi di bulan Desember, ditambah hubungan saya dengan Tuhan yang tidak terlalu bagus, spirit itu rasanya hilang tak berbekas. Bahkan setelah semuanya membaik, the spirit of Christmas tetap sulit untuk saya rasakan lagi (read: https://whittulipe.wordpress.com/2008/12/).

Tapi tahun ini adalah tahun yang luar biasa buat saya. Film-film bertema Natal di TV yang biasanya pengen saya langsung matiin saat saya lihat, kali ini tidak. Lagu Natal yang rasanya menyayat hati biarpun itu lagu Jingle Bells, tidak lagi terdengar seperti Jungle Bells seperti biasanya.

Entah apa yang terjadi… padahal tahu ini bisa dibilang adalah tahun yang ‘sulit’ buat saya. Sulit on a positive way. Kerjaan yang lagi banyak-banyaknya, sekolah yang sampai tgl.23 Desember masih ujian, banyak penyangkalan diri dan perubahan yang saya lakukan tahun ini.

Tapi mungkin itu artinya Natal. Lahirnya seseorang yang memberi makna baru atas kehidupan kita. Seorang yang lahir ditengah kehinaan tetapi justru mendatangkan keselamatan.

I have so many things to thanked for this year:
1. I got a problem. A REAL problem di awal tahun. Tetapi hari ini masalah itu membuat saya menjadi seorang perempuan yang lebih baik.
2. My ‘little’ brother got married. I am so happy for him.
3. I got 1 semester scholarship! Sesuatu yang ngga pernah saya sangka, saya diterima di Program Biomedik FK UI bidang Onkology. Buat saya itu adalah one of my WOW moment (read: https://whittulipe.wordpress.com/2009/08/15/one-of-my-wow-moment/)
4. I was blessed with a beautiful trip to Austria (my dream land), and other countries on Central Europe. It was another blissful moment of my life.
5. Prepared a project called Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood with another 9 writers, and so many great women.
6. Start my school, lack of sleep, headache all day, and all the things i have to fight with the 36’s years old brain… gooosssshhhh :p
7. Met so many great people, priests, nuns at the Girisonta’s project, Perbukitan Manoreh.
8. Launching of Renungan Harian Wanita 2010, biarpun agak mepet, tapi rasanya ini salah satu faktor besar yang mempengaruhi my spirit of Christmas.
9. Celebrating the life of my parents, parents in law, my brother and his wife who’s expecting my nephew/niece to be, my friends, my new friends at Biomedik, my aunty Linda, my family, my community Domus Cordis, my work colleague, my patients, my Mindy.

10. Treasuring every moment with my hubby. He makes my days jingle all the way!  I love you more and more each day my love.

Last but of course not least: My Jesus who has a super duper truper druper patience and love to me.
To You my Lord and saviour, my Father, my beloved Holy spirit, my guardian angels, m

y saints: St.Elizabeth, St.Angela, beloved dad John Paul II, and all the saints and angels ‘up there’… Merry Christmas!

Without the presence of Jesus my life will not be the same. HE will make your life meaning

ful too… as HE already did (and always will do) it to me.

Merry Christmas every one!

Btw, I always dream of a white Christmas. 🙂

Advertisements

You are What YOU ARE

Karena aktifitas Renungan Harian Wanita (RHW) setahun belakangan ini, dan akhir-akhir ini makin di pertajam dengan sharing iman tentang keperempuanan dengan beberapa sahabat wanita (dan pria juga), saya kembali merefleksikan keberadaan saya di dunia ini.

Saya lahir di keluarga yang mencintai saya. Saya anak pertama yang pasti dinanti-nanti. Papa saya bisa dikatakan setengah ‘adore’ anak perempuannya. Dia adalah pria pertama dalam kehidupan saya yang membuat saya mengerti akan arti cinta seorang pria.

Mama saya adalah seorang perempuan hebat di mata saya. Mama dan papa saya berjuang dari bawah bersama-sama. Mereka jualan bakmi dipinggir jalan Rp.50,- semangkok untuk menghidupi mereka dan saya. Mama selalu mendampingi papa saya yang saat mudanya punya karakter sangat keras. Dengan segala kelemahanannya sebagai manusia, mama tetap seorang yang luar biasa. Dari muda ia selalu bicara soal makna perempuan dan panggilan sebagai seorang istri untuk jemaatnya (karena ia dulu adalah seorang pendeta di sebuah gereja Pentakosta). Setiap Rabu sore jam 4, saya selalu ‘ditenteng’ mama saya ke persekutuan kaum ibu di gerejanya, melihat begitu banyak wanita berkumpul, berdoa, dan berlutut menyembah Tuhan mohon kekuatan.

Warna itu yang menghiasi hari-hari seorang lia kecil.

Tetapi saat saya remaja, saya kehilangan jati diri saya karena dimakan rendah diri akan penampilan saya, merasa tidak berarti karena kebodohan saya di sekolah. Semuanya itu menghancurkan saya perlahan.Dari awal saya mulai mengerti soal perbedaan laki dan perempuan, saya mulai mempertanyakan: “Kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan?”

Proses itu berlanjut dengan mengutuki hari-hari menstruasi saya dan berontak bila mama membelikan dan menyuruh saya pakai rok. Saya tidak pernah punya rambut yang panjang, dan sebel banget waktu mama ajak saya ke dokter kulit hanya untuk ngurusin muka saya yang penuh dengan freckles.

Berlanjut akhirnya ada seseorang yang ‘mau’ sama saya (dan saya mengganggap itu keajaiban! padahal waktu itu usia saya baru 15 tahun tetapi sudah desperado :p), saya kembali tidak menghargai tubuh saya, dan pernah berjanji untuk tidak mau punya anak karena anak hanya akan memperlambat langkah saya.

Begitu banyak hal terjadi, yang membuat saya makin yakin. Bahwa hidup sebagai perempuan itu merugikan, saya ingin membalaskan banyak dendam dan luka hati saya pada lelaki. Saya benci akan dominasi mereka dan saya berjanji satu hari saya akan lebih dari mereka. Saat itu saya masuk dalam banyak pembenaran-pembenaran diri saya. Sangat sinis, dan sukar diajak berelasi. Saya merasa tidak memerlukan satu hubungan karena saya bisa melakukan semuanya sendiri. Saya berhasil sampai pada jabatan manager di satu perusahaan besar di usia 27 tahun. Mungkin itu biasa buat sebagian orang, tetapi buat saya yang selalu merasa diri saya bodoh, itu pencapaian yang luar biasa.

Sampai akhirnya… saya menyerah karena lelah. Saya lari dari satu pembenaran ke pembenaran berikutnya dan mendapati ternyata saya hanya berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan berikutnya.

Saat itu pertolongan datang…

Hari ini saya melihat ke belakang dan mendapati konsistensi, banyak titik terendah dalam kehidupan saya, berhasil dipulihkan oleh Tuhan lewat bantuan buku. Saat itu saya membaca sebuah buku berjudul: Life Giving Love yang ditulis oleh Kimberly Hahn. Entah mengapa, rahmat Tuhan mengalir deras melalui buku itu dan menyelamatkan saya. Terutama menyelamatkan keperempuanan saya.

Hari ini saya bersuka-cita untuk apa yang ada. Saya beralih dari seorang feminis menjadi seorang femina dalam arti kata sesungguhnya.

Saya mensyukuri keperempuanan saya hari ini. Saat saya pulih dari luka-luka hati saya, saya dimampukan melihat gambar besar kenapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan.

Saya sadar, tidak ada yang harus saya perjuangkan sebagai perempuan untuk sama dengan laki-laki. Sampai kapanpun seorang perempuan berjuang, tidak akan pernah cukup dan habisnya, karena perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Karena perbedaan itulah perjuangan feminis hari ini seakan tidak pernah usai dan tidak pernah sampai pada hasil yang diinginkan, karena memang laki-laki dan perempuan berbeda!

Dan perbedaan itu bukanlah perbedaan siapa yang lebih baik atau siapa yang lebih buruk. Perbedaan itu adalah perbedaan yang bila disatukan akan menciptakan sesuatu yang luar biasa. Persatuan yang akan mengalahkan iblis dan persatuan yang akan memenangkan dunia demi kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu iblis terus menebarkan luka dan kebohongan pada banyak perempuan supaya pengertiaan akan perbedaan ini tidak pernah sampai dan kebencian terus hidup diantara para perempuan terhadap keberadaan keperempuanannya.

Untuk itu semua… yang harus diperjuangkan hanya satu hal: bagaimana saya sebagai perempuan mampu memaknai arti keperempuanan saya, memberi makna bagi kehidupan, dan menjadi berkat buat kemanusiaan di dunia ini. Sehingga lewat itu dunia melihat dan memuji Tuhan… bahwa Ia juga menciptakan perempuan sama indahnya dengan laki-laki.

Jawabannya adalah Yesus! Karena Dia yang telah tersalib untuk menebus semua kebencian dan kebohongan itu.

Jawaban berikutnya adalah Ibu Maria yang telah dengan setia dan sempurna menjalani keperempuanan nya dan menang sampai akhir.

So.. woman of God…

Celebrate our womanhood! Celebrate our life.

We have a great mission on earth.

And as Mother Mary… let’s bring the joy of our womanhood to fill the world with love.

You are what YOU ARE.

Be proud of it… 🙂

Terima Kasih Seribu

Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood sudah terbit!

Tengah malam 12 Desember 2009, kita bersama-sama berkumpul, menumpangkan tangan atas buku2 keluaran pertama dari pabrik, 200 eksemplar pertama. Tangan terulur dan doa dinaikan oleh Rika, meminta Tuhan menjamah setiap perempuan yang membaca RHW ini.

Ini bukan karya saya pribadi, ini karya bersama, dan saya mensyukuri lahirnya buku ini sebagai ‘buku pertama’ saya.

Ini adalah tanda kesetiaan Tuhan kembali atas hidup saya.

Hidup yang banyak rusak, berdosa, dan terus terjatuh, tetapi lewat itu semua dapat menghasilkan sesuatu yang (mudah2an) baik.

Sejujurnya, ada kebanggaan yang terselip di hati. Pastinyaaa.. karena saya seorang manusia.. (punya karakter sombong pula! Hehehe..) dan saya mulai mengerti mengapa ini menjadi buku pertama saya. Supaya saya tidak memegahkan diri sendiri atas apa yang saya buat melalui talenta yang Tuhan berikan.

Tetapi kemudian saya berpikir… apalah arti kebanggaan tersebut, saat saya menyadari hanya kemurahan dan belas kasihan Tuhan terhadap hidup saya yang membuat ini semua terjadi.

Untuk semuanya ini terima kasih seribu!

Buku ini lahir dari semangat terus menerus Mbak Avi yang mengingatkan saya terus untuk mewujudkan salah satu mimpi saya (thanks for that Mbak!)

Buku ini lahir dari kerja keras Ika bikin table, Edith yang luar biasa talented dan kerja keras bikin design dan kemudian malaikat Monic datang membantu.

Buku ini lahir dari hidup 10 wanita yang masih compang-camping tetapi diberi privilege untuk bersaksi.

Buku ini lahir dari Buqe dan teman-teman pembaca awal yang menyempurnakan dan memberi wawasan ‘kesempurnaan’ dari segala sudut pandang.

Buku ini lahir dari doa-doa yang dipanjatkan oleh mama-mama kita semua, untuk anak-anak perempuannya, dan contoh hidup keperempuanan mereka.

Buku ini lahir dari rasa dicinta oleh papa dan saudara-saudari dalam panggilan awal kita sebagai anak perempuan di satu keluarga.

Buat saya pribadi, buku ini juga lahir dari cinta suami saya yang terus mengingatkan saya akan cinta Tuhan kepada saya.

Dan buat semuanya itu terima kasih seribu!

Saya (berusaha) bersyukur untuk hidup saya.

Saya (berusaha) berdiri di atas luka hati saya.

Saya (berusaha) menikmati kegagalan saya.

Saya (berusaha) ‘mentertawakan’ hidup saya.

Saya merayakan keperempuan- an saya.

Semuanya itu karena Tuhan yang memberi rahmat tuntunan untuk kehendak bebas saya dan kekuatan untuk menjalaninya.

Tidak dapat saya curi kenyataan itu dari yang EmpuNya.

Tidak dapat saya rampas kemuliaan Tuhan.

Sehingga tidak ada  alasan untuk tidak mengucapkan terima kasih seribu!

Trima kasih seribu, pada Tuhan Allahku.

Aku bahagia, karena dicinta, terima kasih.

I am making my dreams come true… Proudly Present: My First ‘baby’

TELAH TERBIT:
Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood.
terbitan Domus Cordis Literature Apostolate, siap dipasarkan tanggal 10 Desember 2009…!!!

Harian Wanita (RHW) ini dibuat dengan harapan dapat menemani para perempuan Katolik dalam menemukan/meneguhkan jatidiri mereka, dan melalui hari-hari mereka.
Renungan ini ditulis oleh 10 perempuan dari latar belakang yang berbeda (keterangan penulis lebih lengkap di bawah), dengan Kata Pengantar dari Rm. Deshi Ramadhani SJ. Untuk itu, Domus Cordis (DC) Literature sangat berharap RHW ini dapat menjangkau dan memberkati perempuan Katolik sebanyak mungkin.
Partisipasi semua rekan-rekan dalam menyebarluaskan (memasarkan) RHW ini tentu akan sangat membantu tercapainya harapan ini.

Rencananya RHW ini akan dipasarkan melalui PD-PD dan atau komunitas/toko buku/ gereja/kategorial/kelompok Katolik yang ada di seluruh Indonesia.
Untuk itu, ada penawaran khusus dari DC:
1. Diskon 10% untuk setiap pembelian min 20 pcs.
2. Diskon 20% untuk pembelian min 50 pcs.
Harga: Rp.55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Selain itu, mohon info dari teman-teman sekalian jika memungkinkan/berkeinginan berjualan di gereja masing-masing. DC Literature akan menyiapkan surat pengantar/surat ijin ke Romo Paroki (mohon info nama Romo &Paroki-nya).

Sekian info dari DC Literature.

Apabila teman-teman punya info channel/cara lain untuk memasarkan RHW ini, please info ya. Pasti akan sangat membantu.

Info&Pemesanan, hubungi bagian pemesanan:
Thres (e_theresia@yahoo.com / 0815 1163 8288)

Para Penulis:
1. Anastasia Avi DT
Seorang istri dan marketing manager sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia, koordinator Literature Apostolate – Domus Cordis.
2. Angelin Savitrie
Single, mengajar di sebuah perusahaan penyedia pendidikan bahasa Inggris di Jakarta, koordinator Preaching Apostolate – Domus Cordis.
3. Annatasia Widiyanti
Seorang istri dan ibu dari 2 anak (sedang hamil anak ke-2), serta rekanan dari sebuah Kantor Akuntan Publik , bersama suaminya menjadi koordinator Formation Division – Domus Cordis.
4. Fonny Jodikin
Seorang istri dan ibu dari 1 anak, bermukim di Vietnam, dan mengabdikan diri sepenuhnya sebagai Ibu Rumah Tangga sambil terus menceritakan kebaikan Tuhan lewat tulisan-tulisannya.
5. Ika Sugianti
Single, psikolog anak dan remaja, koordinator Counseling Apostolate – Domus Cordis.
6. Dr.Lia Brasali Ariefano
Seorang istri dan dokter umum yang mendalami biophysics healthcare dan biomedics, pengajar Teologi Tubuh, serta bersama suaminya melayani di Domus Cordis.
7. Dr.Lucia Luliana SpRM
Single, dokter spesialis rehabilitasi medik, bekerja di 2 rumah sakit ternama di Jakarta, staf pengajar FK Atma Jaya, pengajar Teologi Tubuh, serta melayani di Domus Cordis.
8. Mungky Kusuma
Single, bekerja sebagai seorang profesional, terlibat aktif di berbagai kelompok kerasulan Gereja, penasehat Domus Cordis.
9. Sr. Amanda, OSU
Biarawati Ursulin, aktif dalam berbagai karya pendampingan dan pastoral di Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia.
10. Yurika Agustina
Single, pewarta Katolik full-time, koordinator bidang pembinaan orang muda BPK PKK KAJ, pengajar Teologi Tubuh, dan penasehat Domus Cordis.