Woman to woman: It hurts me to see them left behind!

Education is a gift!

Hari ini, di hari istirahat gw (krn kuliah meliburkan gw 1 hari ini), I have my coffee and as always.. watching the Oprah show.

Hari ini membahas tentang kehidupan-kehidupan wanita di Congo, Somalia, bahkan Kamboja yang ditindas dalam arti kata apapun. Mereka diperkosa, dipaksa menikah bahkan sejak usia 11 tahun, dan membuat perempuan menjadi under educated dan akhirnya dipandang menjadi ‘beban’ dalam masyarakat.

Seorang wanita bernama Tara. Dia tidak bisa mendapatkan pendidikan karena keluarganya sangat miskin. Kakak laki-lakinya mendapat prioritas pendidikan, tetapi setiap hari dia minta kakaknya untuk mengajarkan apa yang diperolehnya disekolah. Di usia 11 tahun ia dinikahkan dan kemudian harus merawat suaminya yang ternyata penderita AIDS. Mimpinya seakan terkubur dan ia menjalankan kesehariannya dengan mimpi dan harapan-harapan yang terus menyala di hatinya. 

Buat saya pribadi, yang punya kesempatan untuk sekolah lagi, mengejar mimpi saya, cerita ini menyakitkan buat saya. Kata pertama di atas: Education is a gift adalah kata-kata dari ibu Tara yang juga mengetahui hasrat hati anak wanitanya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kemiskinan dan budaya mereka. But it’s true indeed… education is a gift. Saat saya ada di kelas dan mendegarkan setiap pengetahuan yang membuat saya membuka mulut saya dan kadang lupa menutupnya lagi, kadang-kadang ada desiran dalam hati saya yang mengharapkan setiap wanita mendapatkan apa yang saya dapatkan! Tentu saja bukan ilmu yang sama, tapi kesempatan yang sama!

Tara akhirnya mengejar cita-citanya setelah suaminya meninggal. Dia usia yang tidak lagi muda, ia akhirnya mengejar pendidikannya sampai ke US dan akhirnya mendapatkan gelar Doktoral nya di sana. Di akhir interviewnya, ia menunjukkan sebuah kotak seperti kotak permen, di mana di dalamnya ada sebuah kertas kumal yang merupakan tulisan mimpinya yang terus ia genggam selama ini. Tidak ada yang menyangka (bahkan dirinya sendiri), suatu hari ia akan mendapatkan gelar pendidikan tertinggi, dan ia akan pulang ke kampung halamannya, untuk menguburkan kotak itu di kuburan ibunya yang menjadi semangat buat Tara untuk terus mengejar apa yang ia impikan.

Saya teringat kepada Rama (seorang adik wanita yang dibimbing oleh teman2 dari Spes Cordis), saya teringat kepada adik-adik di Perbukitan Manoreh, saya teringat kepada begitu banyak wanita di luar sana yang kehilangan hak ini. Setiap saya melihat mata mereka saya melihat kerlip harapan dan wajah mereka tidak hilang dari ingatan saya. Setiap sentuhan, sapaan, dan cerita dari perempuan yang saya temui meninggalkan bekas yang mendalam dalam hati dan pikiran saya.

Education girl change the world! Ada sebuah quote yang selama ini saya selalu pasang di dinding utama milis CatWoG (Catholic Woman of God):

If you educate a boy,
you educate a man. 
If you educate a girl,
you educate a family.
And a family passes on what it learns to the next generation.

Tanpa sedikitpun menghilangkan penghormatan akan peran pria dalam dunia ini, tetapi kenyataan sehari-hari menempatkan perempuan sebagai hati dari sebuah keluarga. Waktu yang lebih banyak dipunyai perempuan untuk keluarga membuat ia menjadi penerus pendidikan yang dominan dalam keluarganya. It will change the world.

Bukan hanya pendidikan formal, tetapi juga pendidikan dan pengetahuan bagaimana mereka berharga dan mereka selalu mempunyai harapan.  Memberitahukan kabar gembira bahwa mereka punya seseorang sumber harapan yang akan mengangkat mereka tinggi-tinggi bila mereka menggantungkan harapan kepadaNya. And he’s nama is Jesus.

If a person give us hope, we can live, we can survive!

Let’s change our life by changinging others life. Let’s treasure our womanhood by treasuring the journey of other women’s life.

Mid day of Nov’09 … let’s do something?

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s