Can My Prince in Shining Armour (read: hubby) Makes Me Happy?

Di lokakarya ‘Membebaskan Tubuh Selibat” bulan Juli lalu, Kak Rika memberikan satu cerita yang menarik.

John Maxwell (seorang pendeta, juga penulis buku leadership dan motivasi terkenal) mendapat pertanyaan dari seorang peserta seminarnya.

Seorang peserta bertanya: “Pertanyaan ini saya mau tujukan kepada istri dari Bapak Maxwell. Dari semua pengajaran, motivasi, dan teori yang diberikan oleh Bapak  Maxwell, apakah anda bahagia menjadi istri seorang John Maxwell?”

Pertanyaan itu pastinya membuat banyak nafas berhenti selama beberapa detik, kalau saya ad adi ruangan itu pasti saya juga akan dagdigdug menunggu jawaban sang Nyonya. Mata Bp.Maxwell tertuju pada istrinya, menunggu jawaban istri yang selama ini setia mendampinginya.

Ny. John Maxwell berdiri dan menjawab pertanyaan itu dengan senyum dan kata-kata yang sangat tenang: “Tidak ada satupun di dunia ini mampu membuat saya bahagia. Tidak juga suami saya, karena apapun yang dia usaha lakukan buat saya, adalah keputusan saya untuk menjadi bahagia. Hanya saya yang mampu mengambil keputusan untuk membuat diri saya bahagia.”

Cerita ini mengingatkan saya pada kehidupan pernikahan saya.

Beberapa wanita muda pernah datang kepada saya mempertanyakan hal yang sama: “Apa Ci Lia bahagia jadi istri Ko Riko?”

Jujurnya… waktu ditanya pertanyaan itu, saya tidak menjawab apa-apa, Cuma cengar-cengir doang. Kebijaksanaan saya belum mencapai kebijaksanaan Ny.Maxwell saat itu hehehe… tetapi mendengar apa yang dikatakan Ny.Maxwell mengingatkan saya kembali akan hal kebahagiaan itu.

Tidak satupun di dunia ini mampu membahagiakan saya. Suami saya berusaha membahagiakan saya, tetapi kadang selalu adaaaaa saja yang kurang. Saya juga berusaha membahagiakan suami saya, tetapi kok saya merasa selaluuuu saja ada yang salah. Tidak ada cinta manapun di dunia ini yang mampu memenuhi semua kebutuhan cinta kita, bahkan dari orang yang dulu kita pikir sempurna, tetapi setelah tahun-tahun pernikahan dijalani, kesempurnaan itu menjadi kenangan masa lalu.

Kalaupun ada cinta Tuhan yang sebenarnya mampu membuah kita penuh, apakah kita mau menerimanya? Semua berbalik kepada kehendak bebas kita juga untuk mau menerimanya.

This is my life and I choose to be happy. Please help me God...
This is my life and I choose to be happy. Please help me God…

Di tahun ke 5 pernikahan, saya membuat keputusan bagi diri saya.

Saya  memilih untuk bahagia, apapun yang terjadi dalam hidup pernikahan kami.  Saya memilih untuk berharap akan cinta Tuhan lebih dari cinta suami saya, orang tua saya, teman2 saya, atau siapapun yang ada di dunia ini.

Perasaan dapat datang dan pergi. Sesaat kita bisa merasa jatuh cinta, tetapi semenit kemudian dapat berganti menjadi jatuh benci. Satu moment kita bisa merasa begitu bahagia, ngga lama tiba-tiba kita merasa sedih.

Kita sebagai wanita kemudian menggunakan senjata-senjata ampuh excuse kita, hormonal lah, PMS lah, luka-luka kita lah, emansipasi lah… atau apapun. Tetapi jujurlah pada diri kita sendiri… apakah semua itu menjawab pertanyaan mengapa kita tidak bahagia? Apakah semua alas an ini menyelesaikan masalah… mengapa kita tidak bahagia.

Dapatkah suami saya (my love darling hunny bunny sweetie, my prince in shining armour!) membahagiakan saya?

Saya mengutip cara pandang dari Ny.Maxwell dengan kata-kata saya: “Saya bersyukur atas berkat cinta Tuhan melalui suami saya, melalui kerapuhannya dia adalah  suami yang berusaha membahagiakan saya dengan caranya. Tetapi lebih dari itu saya memohonkan rahmat Tuhan yang sebesar-besarnya atas diri saya, supaya melalui apapun yang terjadi, naik turunnya kehidupan pernikahan kami, saya selalu dapat menjadi istri yang bahagia, karena hanya saya yang dapat membuat diri saya bahagia, melalui keputusan untuk memilih setiap hari. And I choose to be happy!”

So help me God!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)

Advertisements

(one of) My “WOW” Moment

Waktu saya membuat blog ini, saya memakai sub tema:  Life is Full of Surprises.

Saat itu saya tidak berpikir apa-apa. Saya hanya melihat ke belakang dan melihat betapa hidup saya adalah penyertaan dan belas kasihan Tuhan se mata-mata. Dari seorang anak wanita yang minder, (merasa) buruk rupa, (berpikir bahwa) dirinya bodoh, ngga mungkin ada lawan jenis yang ‘mau’ sama saya karena seluruh keberadaan saya. Tahun-tahun gelap dalam kehidupan saya berlalu, tanpa saya komunikasikan dengan siapapun. Ada masanya saya makin hari main mendekati jurang maut.

Satu persatu mimpi yang saya punya, hanya saya taruh di dalam kotak ketidak-mungkinan saya. Saya mengkotakan diri saya ke satu batas-batas yang saya ciptakan sendiri dan tidak mau saya buka karena itu akan mengganggu comfort zone saya.

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan mengalir deras dalam hidup saya. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bermula saat saya membaca satu buku yang kontroversial : The Secret. Waktu saya membaca buku itu entah mengapa saya merasa cinta Tuhanmengalir deras di hati saya, dan memulihkan beberapa bagian hati saya yang terluka. Cinta Tuhan yang mengalir melalui suami saya yang terus menyemangati saya, dan orang tua saya yang terus mendoakan saya, melengkapi proses itu. Kesempatan yang datang melalui orang-orang yang mengasihi saya juga mulai berdatangan, dan saya belajar untuk tidak melepas kesempatan itu begitu saja.

Salah satu mimpi saya, ingin jadi dokter yang ahli di bidang cancer. Tetapi banyak keadaan yang membuat saya tidak masuk dalam pendidikan spesialis membuat saya berpikir, mimpi itu sudah pupus. Tapi kenyataan nya: 31 Agustus besok adalah hari pertama saya kuliah lagi untuk program Magister Biomedik dengan kekhususan bidang Kanker.

Mimpi yang lain, saya pernah berusaha untuk masuk ke Bidang spesialisasi Paru untuk menjadi dokter spesialis paru. Tapi saya mengurungkan niat itu. Dan saat saya mengurungkan niat itu saya berpikir saya tidak mungkin bisa berhubungan lagi dengan dunia itu. Saya juga bermimpi ingin jadi pembicara seminar-seminar resmi untuk dokter-dokter, tetapi hanya dengan berbekal dokter umum, siapa yang mau pakai saya?
Tapi kenyataannya: hari ini saya bicara di depan 200 dokter umum dan spesialis di acara resmi PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia): Semarang Respiratory Update II. Ini adalah perhimpunan tempat di mana dulu saya pengeeennnn sekali jadi dokter Paru dan bisa bergabung di Perhimpunan ini.

Surprised by the amazing work of God in my life!
Surprised by the amazing work of God in my life!

Bila kulihat hidupku dan karya tanganMu, ku terkagum.

Ngga habis-habisnya saya terkagum-kagum tentang cara Tuhan mengejutkan saya. Saat saya mulai lupa akan mimpi dan keinginan saya, Ia Allah yang tidak pernah lupa. Ia mengejutkan dengan cara yang tidak pernah saya perkirakan. Siapa yang sangka saya diminta menggantikan salah satu senior saya bicara… eeehhh.. di depan satu simposium yang dibuat oleh bagian Paru lagi… 🙂 Bagi orang lain mungkin ngga berarti, tapi bagi saya, ini tanpa pembelaan Tuhan atas hidup saya.

For all woman out there, saya seorang ibu rumah tangga. Saya memang belum mempunyai anak, tetapi rasanya hidup saya juga cukup ‘seru’ dengan semua aktivitas saya. Jangan pernah berhenti bermimpi, jangan pernah putus harapan terutama akan Tuhan, karena saat kita terus berharap Ia Allah yang akan membuat kita terperangah dan ‘melongo’ melihat apa yang terjadi dalam hidup kita.

Pikirkan yang baik, yang indah, yang benar, yang mulia, yang memberkati. Bermimpi yang besar dan biarkan dirimu terbang tinggi dalam panggilan kewanitaanmu.

Wait for the WOW moment with God. You will understand, why I say life is full of surprises… 🙂

The best is yet to come!

Apa Artinya Sebuah Nama (part 2 – end)

My Womanhood Journey with St. Angela (Merici)
(the meaning of Serviam in my life)

Di tulisan yang lalu, saya menceritakan perjalanan saya bersama dengan St.Elizabeth, dan tanpa pernah disangka, perjalanan berikutnya dalam kehidupan saya mempertemukan saya dengan St.Angela (please read: http://www.esatclear.ie/~anneharte/stangela.htm)

Waktu saya akan dibabtis di tahun 1988, saya sibuk membuka Ensiklopedia Orang Kudus. Entah kenapa, mata saya terpaku pada seorang Santa. Angela Merici namanya. Entah karena namanya, atau latar belakang dari masa kecil saya yang sering mendapatkan peran malaikat, akhirnya saya menggunakan nama Angelika sebagai nama babtis saya. Saya mengambilnya dari St.Angela Merici.

Setelah itu? Apa artinya sebuah nama? Angelika hanya menambah panjang deretan nama saya. Saya tidak pernah merasa dekat dengan St.Angela. Selama pendidikan saya dari SD sampai SMP, saya lebih dekat dengan CB daripada ‘kiblat’ Serviam. Yang ada saya menjadi makin jauh dari hubungan kehidupan dengan St.Angela karena saya tidak diterima di SMA.Ursula.
Saya merasa tidak mengenal dan salah memilih nama. Saya tidak pernah suka anak kecil (seperti yang diceritakan di eksiklopedia), saya tidak pernah bercita-cita berhubungan dengan dunia pendidikan. Tidak satupun membawa saya pada pengertian akan St.Angela.

Sampai akhirnya…

Saya mulai melihat ke belakang, dan mencari arti kata Angela. Angela berasal dari bahasa Yunani yang berarti Pembawa Pesan Tuhan! (The messenger of God). Kata Angel juga dipakai sebagai kiasan kata seorang anak wanita yang baik dan cantik.
Saya mulai berkenalan dengan seorang suster dari ordo Ursulin yang kemudian memberikan saya banyak informasi mengenai St.Angela.

st.angela mericiHari ini saya bersyukur, bahwa tidak ada satupun yang berlalu sia-sia dari hidup kita. Not even a name! Saya disemangati oleh semangat kasih dan pelayanan St.Angela. Saya tidak pernah menjadi seorang siswi yang mengenakan seragam Serviam. Tetapi belajar dari St.Angela, saya mengerti apa artinya dan mengapa St.Angela menghembuskan Serviam untuk misi hidupnya.
Angela says ‘be gentle and compassionate…for you will achieve more with loving kindness and gentleness than with harshness and rebukes’. Angela urges ‘if you see one faint-hearted and timid and inclined to despondency, comfort her, encourage her…lift her heart with every consolation.’

Sejak pengertian itu, setiap hari saya terus mengajak St.Angela untuk ada dalam hari-hari saya, saya mendaraskan doa ini untuk meminta doa-doanya bagi saya:

St.Angela, you were not afraid to change. You did  not let stereotypes keep you from serving. Help me to overcome my fear of change in order to follow God’s call and allow others to follow theirs.

Saya ada di dunia ini untuk melayani. Kehidupan saya hadir di dunia untuk sebuah peran.
Hati saya ada bersama sahabat-sahabat wanita, memaknai hidup ini dengan menghargai panggilan keperempuanan kita. Menghayati dan merayakan apa artinya menjadi seorang perempuan.
Saya dilahirkan sebagai seorang perempuan bukan tanpa maksud.
Saya belajar menerima cinta Tuhan, memenuhi hati dan hidup saya sepenuh-penuhnya dengan cinta Tuhan, dan kemudian menunjukkan kepada dunia… saya memberi dengan melayani dengan sukacita karena janji Tuhan telah berlaku baik atasku.

Serviam!

Apa Artinya Sebuah Nama (part 1)

My Womanhood Journey with St.Elizabeth
(an Understanding of God’s Promises in me)

Ada pepatah yang mengatakan: “Apalah artinya sebuah nama…”

Saya dahulu adalah salah satu penganut pepatah itu. Apalah arti sebuah nama. Yang penting adalah karakter dan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Sampai di satu titik dalam kehidupan saya, makna dari sebuah nama ternyata membawa kekuatan pada perjalanan kehidupan saya.

Orang tua saya menamai saya Elizabeth Lia Indahyani. Di masa kecil saya, nama Elizabeth sangat mengganggu telinga saya. Saya malu bernamakan Elizabeth. Kesannya tua, ngga ‘gaul’ dan saya merasa seperti nenek-nenek.Saya sering dipanggil orang Elizabeth karena itu adalah nama awal saya. Lia yang menjadi nama panggilan saya adalah nama tengah saya. Jadi wajar kalau banyak orang pikir,saya dipanggil Elizabeth. Mama saya bilang, saya tidak pernah mau menoleh apabila dipanggil Elizabeth.

Tahun 1988, saya dibabtis di gereja Katolik. Bersama pembabtisan itu saya memilih nama Angelika (dari asal nama St.Angela Merici ). Saya memilih sendiri nama iu, tetapi kalau ditanya kenapa? Saya tidak tahu. Mungkin karena waktu kecil saya bayak berperan sebagai malaikat dalam drama-drama sekolah minggu yang saya mainkan. Itu sebabnya saya mempercayai… apalah arti sebuah nama.

Tetapi ada hal yang saya pelajari sebagai anak Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan sedikitpun kebaikan yang ada dalam hidup kita menjadi nyata. Orang tua saya memberikan nama Elizabeth untuk satu tujuan baik. Juga nama Angelika saya pilih bukan karena satu kebetulan. Tuhan mampu membuat hal-hal kecil yang sepertinya tidak penting menjadi kekuatan bagi perjalanan hidup saya.

Ada masa dalam hidup saya, saya mempertanyakan banyak hal tentang peran Allah dalam hidup saya. Saya meragukan cinta kasih Allah, saya marah karena merasa ‘dikhianati’ oleh Yesus, dan hidup saya terlihat begitu kuat tapi sebenarnya demikian rapuh karena saya kehilangan pegangan hidup.

StElizabeth2Tetapi saat itu seorang sahabat (yang kemudian menjadi suami saya), menceritakan arti nama Eizabeth ke saya. Tidak banyak yang kita ketahui mengenai kehidupan St.Elizabeth, selain ia adalah ibu dari St.Yohannes pembabtis, bersuamikan Zakharia, saudara dari Bunda Maria dan ia pernah dikunjungi oleh Bunda Maria. Elizabeth berasal dari bahasa Hebrew yang berati Janji Tuhan atau Allah bersumpah. Di satu sumber dikatakan: Allah bersumpah (untuk) menggenapi janjiNya. Saat itu saya terperangah akan arti nama saya sendiri, dan kemudian melihat perjalanan hidup saya. Tanpa saya sadari… sebagian luka saya disembuhkan oleh pengertian akan nama saya sendiri.

Sejak itu St.Elizabeth menjadi hidup dalam hari-hari saya. Bila saya ada dalam keadaan terdesak atau merasa sedih… saya panggil namanya bersama dengan nama Yesus dan Bunda Maria. Saya minta ia untuk mendoakan saya. Tanpa saya sadari pengertian akan arti nama Elizabeth menjadi “rhema” dalam kehidupan saya.

Apapun yang terjadi saya percaya, Allah Tuhan yang telah menciptakan saya, mendampingi kehidupan saya dengan janji-janjiNya. Seperti kepada St.Elizabeth, Ia akan menggenapi janji-janjiNya dalam kehidupan saya, bila saya hidup benar dan takut akan Tuhan. Tidak ada satupun yang mustahil dalam kehidupan ini  bila saya menggantungkan harapan saya kepada janji Tuhan. Seperti air hujan yang turun membasahi bumi, demikian pula janji Tuhan tidak akan pernah kembali sia-sia.
I am standing on the promises of God.

St. Elizabeth doakanlah kami…

to be continued: Apa Artinya Sebuah Nama (part 2 – end)