The Role Model of my Womanhood Journey

Bunda Maria selalu menempati tempat yang khusus di hati saya.

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu… waktu saya sedang jatuh cinta, dia menjadi ibu yang mendengarkan lagu cinta saya.

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu… waktu saya sedang begitu marah kepada kakak sulung saya, Yesus… dia menjadi ibu tempat saya mengadu.

Dan sampai hari ini, ia tetap menjadi seorang ibu yang menyapa keseharian saya dengan nuansa yang berbeda. Yang memperlengkapi saya dengan teladan kewanitaannya.

Her tender eyes, full of love looking at Baby Jesus
Her eyes with full of love, her self giving to baby Jesus

Sejak awal, ia menjadi wanita yang sepenuhnya membiarkan dirinya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Kata wanita (=Female), diambil dari bahasa latin Femina yang berasal dari akar kata Fellare yang artinya ‘menyedot’ (=to suck), dan ini mengarahkan kepada kegiatan menyusui yang hanya dapat dilakukan oleh wanita. (http://en.wikipedia.org/wiki/Woman)

Satu keadaan lagi yang hanya dipunyai wanita adalah melahirkan anak yang ia kandung dalam rahimnya.

Saat seorang anak menyusu pada ibunya, yang ia lakukan adalah menyedot payudara ibunya. Dan saat itu air susu yang diproduksi oleh kelenjar yang ada dalam payudara ibunya tertarik keluar. Bukan hanya air susu, tetapi juga sel-sel yang ada dalam organ payudara tersebut mungkin tersedot keluar bersama dengan sang anak. Sehingga Ibu juga memberikan tubuhnya untuk memberi kehidupan kepada anak yang dilahirkannya.

Saat seorang anak ada dalam kandungan ibunya, selama 9 bulan ia ‘menyedot’ semua sari yang ada dalam tubuh ibunya. Banyak sekali para wanita sangat rentan terhadap kasus kekurangan darah, kekurangan kalsium, dan banyak vitamin… karena semua di supply untuk keperluan sebuah kehidupan yang akan hadir menikmati cinta Tuhan di dunia ini.

Kalau saja kita menyadari, betapa indahnya Allah menciptakan tubuh kita sebagai wanita, dengan segala kesiapan dan kesempurnaan untuk beranak cucu dan bertambah banyak serta memenuhi isi bumi (bdk: Kejadian 1:28), serta kemudian menjalankan fungsi kewanitaan kita untuk memberikan segalanya, rasanya dunia akan menjadi a better place.

Bagi saya, tiada yang lebih indah untuk merayakan kewanitaan saya, selain merayakannya dengan memandang keberadaan Bunda Maria dalam kehidupan saya. Seluruh hidupnya, ia merayakan kewanitaannya dengan terus memberi.

Memberi kesempatan bagi sang mesias hadir dalam rahimnya karena menyadari ia sendiri adalah the hand made of God… sehingga ia membiarkan kehendak Tuhan terjadi pada dirinya.

Menyusui dan merawat bayi Yesus dengan seluruh keberadaannya sebagai ibu.

Mencari kanak-kanak Yesus dengan sangat khawatir saat Dia menghilang di bait Allah dan menerima pertanyaan: “”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (bdk: Lukas 2:49), dan ia menjadi seorang ibu yang menyimpan semua perkara dalam hatinya.

Mendampingi Putranya at the first performance of miracle di pernikahan di Kana.

Dan terlebih dari segalanya… Ia ibu yang tidak sedetikpun meninggalkan Putranya di jalan salib menuju Golgota. Menatap setiap cambuk yang juga mencambuk hatinya, menuggui Putranya di bawah kaki salibya dan memelukNya saat jenazahNya diturunkan dari atas kayu salib.

Ia ibu yang juga menemani para rasul saat Pentakosta. Menemani para rasul menantikan janji Yesus yang akan mengutus roh Kudus dan tidak akan pernah meninggalkan umatNya sendirian.

Ia ibu yang selalu ada sejak hari pertama Yesus masuk dalam rahimnya dan tetap ada saat Yesus sudah naik ke surga.

Ia ibu yang selalu dapat menjadi tempat saya memandang, saat saya sedang menjalani masa sulit kewanitaan saya.

Saat saya menulis artikel ini, saya sedang ada di Biara Ursulin Wisma Samadi. Sayup-sayup terdengar lagu Bunda di telinga saya dinyanyikan oleh anak-anak SD yang sedang retreat….

(yang beberapa diantara mereka sedang seliweran sekarang nanya WC ada di mana dan manggil2 gw TANTE…! Gggggrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…! NGGA TERIMA!!!!!!!)

Tapi lagu itu menyentuh hati saya, dan saya merasa Bunda Maria sedang duduk di meja makan ini bersama saya, menemani saya menulis…

Bunda Maria mengajarkan banyak hal kepada saya. Menghargai setiap fungsi dari tubuh kewanitaan saya, dan terlebih dari segalanya…

She teaches me how to celebrate my womanhood, cherish every second of it…  and grateful with all I have in life.

She always be my role model of my womanhood journey.

Love you Mother Mary…

“Oh Bunda ada dan tiada, diri mu kan selalu ada di dalam hatiku!”

-hari terakhir di Bulan Maria, 31Oktober 2008-

dedicated to all moms I have… Mother Mary, my beloved mom and mom in law. 3 extra ordinary women, women of my life…. Thank you for sharing your womanhood. Love you all very-very much.

Advertisements