Motherhood… Brain Damage? (a reflection)


Beberapa minggu yang lalu, gw kumpul2 sama teman2 SMP yang udah 20 tahun ngga ketemu (gooossshhh… sound so olddd… 20 years… 20 tahun yang lalu ud bisa pacaran… hehehe…), lucu juga sih… ketemu-ketemu lagi semuanya ud berwajah lebih hhhhmmm… ‘bijaksana’ di bandingkan 20 tahun yang lalu… ya iya laaahhh… (masa ya iya dong.. hihihihi… *garing*)

Beberapa di antara kami sudah punya anak2 yang sebentar lagi ABG. Dari percakapan di antara kami, ada satu kalimat yang dilontarkan salah satu teman gw soal kehidupannya sekarang… 20tahun sejak lulus SMP, dan mungkin 10 tahun motherhood. Kata dia, “Sekarang gw ud susah mikir, mertua gw kadang suka godain.. 2+8 berapa? (sambil dia ekspresiin ngitung pake jarinya), gw ud bingung jawabnya…” hehehehe… Saat itu gw ketawa kenceng…
Tapi dalam hati gw mikir… Aduuuhh.. sampai segitunyakah kehidupan istri-istri yang hanya di rumah urus suami dan anak?
Sampai segitukah kehidupan motherhood yang ‘jauh’ dari kegiatan-kegiatan yang bersifat sosialisasi produktif dan ngga cuma gosip dan ngomongin hari2 doang?

Banyak diantara teman-teman gw, ibu-ibu muda yang sangat produktif. Temen gw Anast misalnya, dia bekerja dari pagi sampai sore, tapi masih bisa atur waktu buat suami, anak, ortu, mertua, dan kadang pelayanan. Dan ngobrol sama dia ngga melulu soal anak dan suaminya (biarpun memang dominasi pasti soal itu… ya pastilah… org itu hidupnya dia…)
Tapi ada teman gw satu lagi yang stay di rumah tetapi akhirnya menjadi seseorang yang jauuuuhhhh… sekali dari teman yang gw kenal semasa dia belum menikah. Dari hamil dia sudah sering bilang, “Sejak hamil otak gw jadi bego… kayaknya semua diserap anak gw…”
Hhhhhmmm… sejak itu memang dia stay at home mom, tetapi dipenuhi dengan kekhawatiran akan anak-anaknya, sangat labil, dan mungkiiiinnnn… dia mempercayai apa yang dikatakannya… dan jadi ‘bego’ beneran…🙂

Semuanya itu membuat gw berpikir… hidup kita selalu berubah. Sebagai wanita, kadang perubahan itu demikian drastisnya… sehinggga yang terjadi bukan hanya perubahan keadaan, tetapi juga perubahan fisik dan mental. Yang kadang terjadi di luar yang kita bayangkan.
Tetapi itu hebatnya seorang wanita… Mereka mampu bertahan melalui itu semua. Dan dari waktu ke waktu begitu semua wanita yang ‘pass on’ the legacy ke anak-anak mereka atau ke generasi yang ada di bawah mereka. Dan apa yang mereka percayai, itulah yang mereka turunkan sebagai legacy ke anak-anak mereka.

So… mothers… women… friends of life… my sisters…
Lets make a history of our life. Lets make a great legacy to our next generation.
Ada satu ayat dalam Kitab Suci yang berkata: “Terjadilah sesuai imanmu…!”
Apa yang kita imani akan diri kita saat ini?
Bagaimana kita memandang diri kita saat ini?
Percayalah… its not only about yourself, because we live to share.
Dan apa yang kita bagi, adalah apa yang kita percayai.
Its really a one find day when God created us. Not only fine, but great and perfect day…! So.. we are perfect friends..🙂
Dan gw percaya, ke ‘perfect’an itu akan menjadi tambah sempurna saat kita membagikannya kepada sekeliling kita.
Don’t ruin your perfectness by believing something thats not real.
Karena semua kesempurnaan tinggal tetap sampai hari kita menghadap kembali ke pencipta kita. Dan motherhood tidak merampas itu semua… bahkan menambahkan semuanya itu…

Motherhood memberikan kesempurnaan atas jati diri wanita
Motherhood memberikan kesempatan untuk berbagi kesempurnaan
Motherhood memberikan privilage untuk justru mempercayai bahwa makin hari kita makin sempurna karena diberi kesempatan untuk meneruskan legacy kita di dunia ini.

So.. Mothers… celebrate your days…
Celebrate your calling
Celebrate your body, mind, and spirit
Celebrate love and life!

PS. I am not a mother yet… but the spirit of motherhood stays in me. And I am happy with this spirit whos nurture me with so many great things that will happend to me. Amen.

Di bawah ini ada satu artikel yang menarik. Please enjoy your reading:

Kapasitas Otak Kita Hanya Dipakai 1 Persen

Drektur Brainic Institute yang juga pengarang buku Be an Absolute Genius, Sutanto Windura mengatakan, potensi dan kemampuan otak manusia pada dasarnya sama. Bahkan, semua anak adalah genius absolut.

“Tidak ada anak yang bodoh, hanya sebagian besar otak kita tidak terlatih. Bayangkan, pada umumnya potensi dan kapasitas otak manusia hanya dipakai kurang dari 1 persen, sisanya tidak pernah dipakai dan dilatih dengan baik,” kata Sutanto dalam diskusi dan bedah buku terbatas Be an Absolute Genius di Toko Buku Gramedia, Jln. Merdeka Bandung, Sabtu (24/5).

Menurut Sutanto, jika saja manusia menggunakan 8 persen kapasitas dan potensi otaknya, dia akan menjadi profesor dan ahli dalam berbagai bidang. Dia pun akan mampu menguasai sedikitnya 18 bahasa asing.

Sutanto yang kerap disebut sebagai pelatih otak ini menuturkan, kecerdasan seseorang sebenarnya tidak ditentukan oleh IQ yang tinggi. Salah besar jika hanya anak ber-IQ tinggi yang dikatakan genius.

“Apakah dengan IQ tinggi dia bisa berhasil dalam hidupnya? Berhasil dalam hal akademik mungkin sebab IQ hanya ditentukan oleh dua elemen kecerdasan di dalam otak, yakni bahasa dan logika. Sementara secara keseluruhan, otak memiliki 8 elemen kecerdasan, termasuk kecerdasan bergaul, bergerak, dan lain-lain,” tuturnya.

Menurut Sutanto, semua orang bisa menjadi genius asalkan otaknya dikelola dengan baik. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri harus dijaga agar keduanya bisa bekerja secara seimbang. Otak pun harus dibiarkan bekerja secara alami sesuai dengan fungsi otak sebagaimana mestinya.

“Sistem pembelajaran di sekolah yang konvensional mayoritas hanya mengoptimalkan kerja otak kiri dengan menjejali materi pembelajaran tanpa diberi tahu bagaimana cara belajar,” ungkapnya.

Padahal, kata Sutanto dengan menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri maka hasil pembelajaran yang diperoleh akan maksimal. Keseimbangan antara kemampuan otak kiri dalam mengenal tulisan, bahasa, angka, menganalisis, logika, dan hitungan, dengan kemampuan kerja otak kanan yang mengatur konseptual, seni/musik, gambar, warna, emosi, imajinasi, dimensi, sampai melamun akan menghasilkan manusia genius.

“Tidak perlu terus memberikan materi pelajaran yang berjubel dan hanya menyuruh siswa untuk mencatat. Sesekali biarkan daya imajinasi anak berkembang. Lakukan berbagai cara pengajaran dan diselingi dengan praktik,” katanya.

Kendati demikian, Sutanto mengaku cukup sulit mengubah cara belajar konvensional di sekolah. Solusinya adalah orang tua harus tahu dan paham bagaimana mengoptimalkan kemampuan anak dalam belajar di rumah. Bagaimana agar anak menyukai belajar seperti halnya mereka menyukai Play Station dan nonton kartun.

“Libatkan selalu otak kanan dalam setiap pembelajaran anak. Analogkan dengan gambar, warna, dimensi, atau ruang sehingga lebih mudah diingat. Tekankan juga mengenai manfaat satu mata pelajaran jika anak sudah tidak suka dengan mata pelajaran tersebut. Ciptakan suasana positif dalam belajar, jadikan belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan,” tuturnya.

(A-157) pikiran Rakyat

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Motherhood… Brain Damage? (a reflection)

  1. A&DMom says:

    Hello Doc Lia, what an intresting writings. Thank you udah diingetin ttg terjadilah apa yg kita imani, kebetulan kog pas banget, ‘kena’ deh gw. TQ, GBU!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s