My Privilege… Seeing God in you! (2) -Beautiful Moments with People from the Hills-

My Privilege… Seeing God in you! (2)

-Beautiful Moments with People from the Hills-


PREFACE

Tepat setahun yang lalu… saya pergi ke satu daerah yang mengubah banyak pandangan saya mengenai kehidupan.
Tahun lalu saya menuliskan pengalaman saya di satu tulisan yang berjudul “Printing a Galley of Blessing from the Poor” , dan tahun ini saya diberkati Tuhan karena saya dapat terus mendulang berkat itu.
Tahun ini saya pergi kembali bersama dengan P’Muljono, M’Nita, P’Herman, dan kakak kelas saya dr.Welly. Tetapi kali ini saya juga ditemani oleh suami tercinta, dan 12 orang sahabat dari kesehari-harian hidup saya di Jakarta. Keberadaan mereka membuat saya merasa… di mana-mana Tuhan memberkati saya dengan limpahnya. Kehadiran mereka (khususnya suami saya) membuat saya merasa setiap nafas saya, cinta Tuhan mengalir ingin memberkati saya.

Dengan rasa syukur itu… saya ingin kembali menulis lagi… memaparkan hal-hal yang tidak terlihat, terbayangkan oleh kehidupan kita di Jakarta yang serba gemerlap, di mana Tuhan rasanya sulit ditemukan karena kesibukan, kemudahan, segala yang instant, dan semua kecanggihan yang berlomba ingin melampaui Tuhan. Menara-menara Babel di bangun di setiap jengkal tanah dan di setiap sisi hati… membuat Tuhan menjadi begitu jauh.

Tetapi di Perbukitan Manoreh… tempat di mana tidak terlihat satupun bangunan tinggi, jarang terdengar dering telpon (apalagi bunyi HP), dan suara TV, di setiap pandangan yang saya lepas… hanya hijau menghampar dan di sana-sini selalu disuntingkan senyum dari orang-orang yang saya temui… tanpa pandangan takut dan curiga, tanpa prasangka dan … di sanalah saya merasakan kehadiran Tuhan… begitu dekat, begitu hangat, dan begitu nyata menyapa hati saya…

Dan inilah kisahnya…
_________________________________________________________

Best Wishes,
Lia Brasali Ariefano
Every woman has her own legacy. Nothing she could do to change it…
But she can decide how to live her legacy, and then pass on her legacy to bless the world… through the next generation of hers.”

PART II
THE JOURNEY OF OUR LIFE

Perjalanan kami di pesawat kami lalui dengan… what can I say… berisik?
5 tahun saya bekerja di satu perusahaan dengan load traveling yang sangat tinggi. Baru kali ini saya takut terbang.
Hal pertama yang membuat saya merinding adalah… saya masuk dari ‘pantat’ pesawat… woooahhhh… ini baru pertama kalinya… (mungkin norak ya buat yang sudah pernah), belum lagi suara pesawat yang sangat keras… membuat saya dan Vonny serta riko (suami saya) yang duduk bersebelahan… harus berteriak bila ingin bicara satu sama lain. Di saat akan take off saya melihat Vonny melipat tangannya dan ada dalam sikap doa… hehehe… saya tersenyum saat itu.

Saya berpikir… kalau terjadi ‘apa-apa’ dengan pesawat ini … lucu juga! Tapi ngga lah… Kita ingin memulai satu karya yang baik… masakan Tuhan tidak melindungi… kalaupun sampai itu terjadi… rasanya itu adalah tanda cinta Tuhan kepada kita…’memanggil’ kita lebih cepat supaya tidak lebih banyak lagi dosa yang kita lakukan dan kita meninggal dengan keadaan ingin berbuat baik hehehe… (kenapa jadi ngelantur gini ceritanya hehehe…)
Anywaaayyyyy…nama pesawat itu WING’S AIR… mungkin benar suara itu jadi begitu berisik karena pakai bahan bakar sabun (becandaan mike/riko tuhhh…) atau… pesawat itu berusaha mengepak-ngepakkan sayapnya hehhe…

Kami landing dengan sukses dan sampai di Jogja. Kami menyewa 2 mobil kijang untuk transpotasi kami.
Riko dan saya juga dijemput oleh seorang sahabat lama… Ignatius Sunandar. Kami berkenalan kira-kira 8 tahun yang lalu dengan cerita yang begitu unik.
Dan yang tidak pernah saya sangka-sangka adalah… kembali… tulisan saya tahun lalu mempertemukan kami dalam karya pelayanan bersama di Perbukitan Manoreh. Ia adalah salah seorang putra dari perbukitan itu. Ayahnya adalah kepala stasi desa Balong yang akan kami kunjungi juga.
Tulisan saya tahun lalu, membuat ia begitu excited. Then here we are… together in one mission. See how amazing our God is?

Satu lagi hal yang tidak pernah saya bayangkan terjadi.

Setelah memasukkan barang-barang ke mobil, kami berangkat untuk cari makan dulu. Akhirnya kami mendapati restoran padang di mana karena ke khawatiran teman-teman soal makanan… kita memborong 10 potong rendang dengan bumbu yang meluap seperti lumpur Lapindo

Kami langsung menyusuri kegelapan, masuk ke pedesaan… Jalanan sudah sangat gelap krn tidak adanya lampu penerangan jalan.

Dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan… Kami semua disambut dengan ramahnya oleh Pak Darto dan Bu Darto, lalu pemilik rumah yang kami tinggali bersama Pak dan Ibu Timan. P’Mul, M’Nita, dr.Welly yang sudah datang sejak siang nya pun menyambut kami (biarpun dengan muka ngantuk…).
Saya memperhatikan wajah teman-teman secara diam-diam… ada wajah lelah yang terlihat… tapi saya tahu mereka menantikan setiap moment yang akan mereka lalui…
Mungkin bertanya-tanya… Quo Vadis (hehehe… extreem ya?) melalui semua yang serba blur dan pasti tak disangka-sangka.

Setelah acara ’sungkeman’ selesai… seluruh pasukan langsung menyerbu masuk ke rumah barak tempat pos tidur kita.

Semuanya tampak cukup lega dengan adanya kasur setebal 5 cm yang sudah kempes pes pes pes… serta sarung bantal dan seprei kusam yang melapisinya.
Anak-anak kota ini sudah membawa sleeping bag sebagai solusi semuanya… hehehe…
Tour WC dimulai… dari WC di rumah P’Timan sampai WC yang agak jauh.. di bawah dekat Goa Maria.

Dan kembali… saya melihat tarikan nafas lega dari beberapa teman… yang mendapati… WC nya ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan… Bahkan jauuuuuuuuuhhh dari yang mereka sudah persiapkan untuk mereka dapati.
Dari Jakarta… saat semua sudah mulai terus bertanya-tanya, saya hanya menentramkan hati teman-teman dengan berkata,“ Kalau saya saja (yg sudah saya nilai cukup manja dan cerewet) tahan, teman-teman pasti tahan!“

Saya merenungkan sesuatu… kadang dalam kehidupan ini, seperti pergi ke Jogja dengan segala ketidak-jelasan yang akan bersama dalam kehidupan kita, hidup ini juga sama tidak jelasnya.
Seperti kita khawatir akan tempat tidur, WC, makanan, minuman… kita juga khawatir akan kehidupan kita sehari-hari.
Apa yang akan kita pakai hati ini, dapatkan kita mempertahankan life style kita hari ini, bagian dunia mana yang belum saya kunjungi.
Semua ketakutan itu membelenggu kita sehingga kita tidak dapat melangkah.
Saya dan teman-teman cuma segelintir yang kebetulan mempunyai waktu yang cocok untuk mau melangkah melawan ketakutan itu.
Dan ternyata… banyak dari ketakutan-ketakutan itu yang tidak terbukti.

Saat saya memikirkan kehidupan orang-orang di perbukitan itu… kalau kita saja yang berkecukupan begitu takut akan hari esok… saya bertanya-tanya… apalagi mereka ya?
Bagaimana perasaan mereka? Bagaimana mereka menjalani hari-hari mereka? Bagaimana mereka menghadapi kenyataan kelaparan, kesakitan, tidak mampu sekolah? Dan apa yang mereka bayangkan dalam kehidupan mereka di depan sana…

Gosshhhh… membayangkan saya ada dalam posisi mereka saja, saya sudah tak lagi mampu berkata-kata.
Dan rasanya badan terlalu penat untuk mengajak sang otak terus berpikir… tetapi udara terlalu panas untuk tidur…
Terus terbayang berbagai macam ketakutan yang pasti mereka hadapi setiap hari…
Betapa aku harus belajar banyak… kadang kesederhanaan adalah jawabannya…

Zzzzzzzzzzzzz…..

To be continued…

Advertisements

About whittulipe

Lia adalah seorang Dokter dan saat ini Ia bekerja di sebuah perusahaan teknologi medis. Passionnya adalah mewartakan harapan yang terpancar melalui anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran serta penghayatan hidup sebagai seorang perempuan. Ia adalah kontributor Buku Renungan Harian Wanita “Treasuring Womanhood” selama 8 tahun belakangan ini, juga penulis buku “You Deserve The Truth”, “Sexy and Holy”, “Wake up Princess”. Lia sangat passionate melayani kaum muda. Bersama suaminya Riko Ariefano dan komunitasnya Domus Cordis, ia banyak melayani di berbagai negara dan daerah di Indonesia, khususnya dalam mewartakan kabar sukacita tentang teologi tubuh (TOBIT), anugrah kehidupan, dan panggilan keperempuan-an. Lewat Inspire Group, sebuah kerasulan media sosial dalam Komunitas Domus Cordis, Lia dan Riko juga sering membawakan vlog dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kaum muda dengan berbagai perjuangan dan pergumulannya, serta bagaimana untuk selalu melibatkan Kristus dalam kehidupan mereka. Topik-topik yang dibawa termasuk tentang relationship, adiksi, potensi kaum muda, hubungan dengan orang tua, sampai current issues di Indonesia. She is a proud wife and blessed daughter. She is a writer and traveller who loves coffee, bakmi, and dogs! Lia bersama suaminya Riko Ariefano, dan kedua ekor anjingnya saat ini berdomisili di Jakarta. Blog: https://whittulipe.wordpress.com IG: whittulipe Vlog: Youtube: Inspire Group
This entry was posted in articles and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s