Printing a Galley of Blessing from The Poor

Mendulang Berkat lewat Kepapaan

Dua kosa kata yang sangat berlawanan satu sama lain. Berkat dan ‘Papa’ (baca: kemiskinan/ ketidak-punyaan).

Tetapi saya mengalami 2 kata yang berlawanan ini sebagai satu kesatuan yang memberkati hari-hari saya secara luar biasa.

Tidak heran, kalau gereja Katolik kita tercinta, selalu berpihak pada kaum miskin dan papa, serta ada dalam spiritualitas yang mau hidup sederhana.

Rasanya memang lebih mudah ‘menemukan Tuhan’ di tengah keadaan seperti itu, dari pada di tengah kehidupan metropolitan.

Di mana suara Tuhan tertutup oleh bunyi klakson mobil, suara TV di rumah, bahkan suara manusia yang lebih keras dari pada suara penciptanya.

Atau sosok Tuhan tertutup oleh ambisi, kecemburuan, ketamakan, dan hedonisme…

Tgl.1-3 Juli kemarin, saya diberkati Tuhan dengan kesempatan pergi bersama satu rombongan dari Paroki St.Theresia yang diprakarsai oleh P’Muljono.

Seorang Bapak berusia 70 tahun yang sederhana, tetapi setelah saya mengikuti perjalanannya, saya melihat kekuatan hatinya untuk berkarya di kebun anggur Tuhan dan Tuhan berkarya luar biasa melalui hidupnya.

Kami pergi ke Sendangsono. Tempat ziarah umat Katolik yang pasti tidak asing lagi di telinga kita semua. Tetapi ternyata, di balik bukit-bukit, dan gunung yang ad adi sekitar Sendangsomo. tersimpan kemiskinan yang membuat mereka sulit untuk hidup,

Saat ini saya mengajak anda semua membayangkan, bagaimana hidup yang paling sederhana yang bisa kita lakukan saat ini…?

Percayalah… mereka jauh jauh jauh jauh jauh ada dibawah dari yang kita bayangkan saat ini!!! (Saya yakin, anda semua pasti tidak membayangkan harus berjalan selama 2 jam melintasi gunung-gunung hanya untuk mengambil uang Rp.15.000,- atau harus mengangkat kayu dipunggung untuk kehidupan sehari-hari dan berjalan melintasi gunung-gunung khan?)

Saya sendiri sudah pernah masuk ke tempat-tempat seperti ini. Tapi tidak lebih dari hitungan jari-jari di 1 tangan saya. Mungkin kesempatan ini menggenapi keseluruhan hitungan jari pada 1 tangan tadi. Sehingga tidak heran, saat saya pergi rasanya semua barang mau saya bawa. Ketakutan saya pada kebersihan toilet, kekhawatiran saya terhadap bagaimana saya tidur, bahkan kepusingan saya… apakan ada listrik untuk men-charge hp (bahkan saya sempat terpikir lap top!!) saya.

Dari Autan semprot, pembersih toilet seat, tissue kering sd. anti septic, bahkan aqua sepertinya ingin saya bawa semua untuk menentramkan hati saya.

Sampai akhirnya saat saya dan suami membongkar kembali tas yang harus saya bawa (krn tidak mungkin membawa 2 tas untuk perjalanan sulit yang hanya 2 hari!), saya memutuskan (dengan sangat berat hati) untuk tidak membawa sebagian barang-barang tadi.

Saat saya sempat merefleksikan situasi ini… saya berpikir… betapa semua kemudahan Jakarta membuat saya menjadi orang yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Sampai pada tahap… uang saja tidak cukup membuat hidup kita tenteram. Memang uang… tidak bisa membeli segalanya.

Saat perjalanan ke Bandara, tidak habis-habisnya hati ini berkata, ”Aduh malasnya… aduh malasnya…” berkali-kali…

Terus mempertanyakan,”kenapa ya kemarin gue ambil tawaran ini? Kenapa ya… kenapa ya…?” dstnya…

Membayangkan bagaimana saya harus menghabiskan week end saya dengan bersusah-payah, sedangkan di sini, saya bisa ada bersama suami dan teman-teman… hang out di mal… dan Ngopi! J

Kira-kira 5 hari sebelum keberangkatan, saya hampir membatalkan karena kekhawatiran2 tadi terus menghinggapi saya.

Luar biasa… bagaimana kemudahan dan kenikmatan dunia menjerat hati saya. Sampai pada akhirnya mungkin kita tidak sadar, hati yang harusnya berbelas-kasih dibuat buta oleh semua yang kita rasa benar dan sudah seharusnya kita dapatkan.

Kekhawatiran saya, hampir menghalangi saya menerima berkat, yang tidak saya sangka-sangka…!!!

Tiba waktunya kamipun berangkat. 2 dokter (saya dan dr.Welly Kwangtana), 3 paramedis, 1 relawan (Feni), P’Mul, M’Nita, dan P’Herman.

Senang sekali rasanya bertemu dengan dr.Welly krn dia adalah kakak kelas saya semasa kuliah. Dan jujurnya, dari dia saya banyak belajar mengenai kecintaan melayani orang miskin dari sejak saya masih kuliah dan bersama dengannya berkarya di kampung nelayan di daerah Cilincing.

Rasa kagum saya tidak putus kepada dia, melihat ia yang pertama kali membentuk pelayanan kesehatan di Cilincing bersama dengan suster-suster Puteri Kasih di pertengahan tahun 1990an, dan hari ini pelayanan kesehatan itu masih ada di sana, berkarya dan memberkati para nelayan miskin di daerah Cilincing, bahkan dari ceritanya saya mendengar ia telah membuka 2 pos baru di daerah Warakas.

Saya mengagumi visi yang Tuhan taruh dalam hatinya, yang membuat dr.Welly masih ada di sana dan berkarya di sana. Itulah kekuatan visi…

Sedangkan saya… sudah menghilang entah kemana…

Visi itu juga yang saya lihat di diri P’Muljono. Menurut ceritanya… ia memulai karya pelayanan ini sejak tahun 1994-an. Ketika ia datang ke Sendangsono, dan tergerak melihat kemiskinan di sana. Terutama hatinya tergerak melihat anak-anak yang putus sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah. Akhirnya ia mulai dengan 2-3 anak yang ia biayai sendiri. Tetapi hatinya merasa resah… sesampainya di Jakarta, ia mulai mengetuk hati para penderma. Dari penderma yang mudah, sampai penderma yang membuat ia merasa harus ‘menebalkan’ mukanya untuk menutupi harga diri/ malunya untuk meminta bantuan. Sedikit demi sedikit penderma terkumpul dari tahun ke tahun. Sampai hari ini, kita-kira 12 tahun ia menjalani ini… sudah ada lebih dari 600 anak, yang merasakan bantuan beasiswa sehingga dapat terus bersekolah.

Sesampainya di Jogja, setelah melalui landing pesawat yang seperti ada di dalam bus kota, dengan menaiki mobil sewaan kami pergi ke temmpat lokasi di Sendangsono yang jaraknya kira-kira 11/2 jam dari kota Jogja. Melalui jalanan yang lumayan berputar-putar naik dan turun, saya mulai khawatir kalau saya merepotkan teman-teman saya denga mabok dan muntah. Tetapi Puji Tuhan saya baik-baik saja, bahkan menikmati perjalanan itu biarpun gelap gulita dan terkantuk-kantuk di bangku paling belakang panther (krn di mobil itu saya salah satu yang paling muda, jadi yaaa… saya harus memberikan tempat duduk yang lebih enak kepada yang lebih tua.. J)

Kami disambut dengan ramahnya oleh pemilik rumah dan penduduk sekitar Goa Sendansono (kami tinggal persis di belakang area doa Sendangsono)… Malam itu kami tutup dengan ibadat bersama.

Ada 20 frater yang sedang belajar di seminari. Dari seminari menengah, tinggi, dan yang paling senior adalah frater yang akan melaksanakan tahun pastoral parokinya (saya tidak tahu, itu tahun keberapa). Yang mencengangkan adalah… semua frater tersebut berasal dari daerah Sendangsono dan sekitarnya… dan SEMUANYA menikmati berkat beasiswa yang diberikan lewat tangan P’Mul.

Saya membayangkan… apa rasanya menjadi seseorang yang satu hari nanti (mudah-mudahan) melihat 20 pastor yang bisa berkarya lewat kerja kerasnya… pasti rasa itu tidak terbayarkan oleh apapun juga. 20 frater yang sedang berlibur itu datang dari penjuru kota Jawa untuk membantu membagikan beasiswa bagi adik-adik mereka, seperti dahulu mereka juga mengalaminya.


Akhirnya hari pertama saya hampir berlalu. Perlahan kekhawatiran mulai menyusup pergi.
Melihat semua kenyataan yang ada, tidak seperti yang saya takutkan. Saya mendapat kamar yang isinya hanya berdua dengan Feni dan dialasi kasur (super duper) tipis, tetapi cukup nyaman. Dialasi sleeping bag yang saya pinjam dari Rika, Puji Tuhan saya dapat tidur (biarpun kami baru bisa tidur jam 1 pagi setelah breafing dan parahnya itu jam ayam jago di sana mulai berkokok! Minta ampun berisiknya, dari yang bass sampe yang suaranya seperti ayam tercekik!) biarpun dengan diiringin musik alam yang membuat saya terus menerus terbangun. Lalu toilet yang biarpun membuat semprotan toilet seat saya jadi tidak berguna (krn toilet ‘super seat’ alias jongkok) tetapi semuanya dapat dikatakan cukup bersih dan layak untuk dibuat mandi dsbnya.

Tapi dalam doa malam saya bersyukur, hari ini saya bertemu dengan orang-orang baru dan kawan lama yang hebat. Sebagai seorang istri yang mempunyai suami yang juga seorang pembawa visi, saya mengetahui bagaimana perjuangan hidup mereka, dan bagaimana mereka melangkah memperjuangkan visi yang Tuhan taruh dalam hati mereka. Mereka membuat hidup mereka berarti. Bukan dengan kegemerlapan dunia, tetapi dengan membuat hidup orang lain juga berarti.

Dan sebelum saya terlelap, lintasan terakhir dalam benak saya adalah… “Apa yang ku ingini dalam hidup ini? Untuk membuat hidupku berarti? Apa aku sudah menjalaninya?”

Saya bangun pagi dengan bersyukur, semalam bisa beristirahat secukupnya (krn baru malam pertama, masih adaptasi dan SANGAT terganggu oleh suara ayam jago yang kemarin saya ceritakan!) dan pagi ini bisa memulai hari yang baru.

Kami bersama sarapan pagi seadanya (dan kembali kekahwatiran saya tidak beralasan krn saya cukup suka makananya hehee), dan berangkat ke satu stasi di salah satu bukit di daerah itu yang namanya… something like.. Nyumanis… (lupa euy…!).

Perjalanan ke sana memakan waktu 1 ½ jam, bukan karena jaraknya yang jauh, tapi krn medannya yang sulit. Pegangan did alam mobilpun rasanya tidak cukup, sampai saya harus duduk dengan tegak krn jalannya yang sangat berbatu.

Sesampainya di stasi itu, saya melihat sudah banyak orang yang menunggu. Kami disambut dengan begitu ramahnya oleh penduduk yang menunggu di situ. Dasar bukan artis, saya menjadi merasa risi mendapat sambutan yang seperti itu J

Kami menyiapkan tempat untuk bekerja… dan langsung memulai pemeriksaan ke pasien satu per satu setelah ibadat singkat bersama.

Pasien-pasien yang saya periksan hampir 75% adalah orang-orang tua. Biarpun ada yang usianya baru 50an tahun, tetapi wajah mereka mencerminkan kekerasan hidup. Tapi satu hal yang membuat saya jatuh hati ke mereka… mereka tetap tersenyum. Kalau pun ada yang malu-malu dan tertunduk, saya sulit menemukan kesedihan dan kepahitan di mata dan kata-kata mereka.

Sebagian bersar dari mereka mengalami 3 keluhan terbesar yang rata-rata sama.

  1. Pegal-pegal di seluruh badan atau terutama pinggang dan kaki.
  2. Sesak nafas, jantung berdebar-debar.
  3. Gatal-gatal pada tangan dan kaki.

Hhhhmmm… bagaimana tidak…? Kl mereka harus memanggul buah/kayu bakar/hasil tanaman mereka, berjalan naik turun gunung yang medannya berbatu-batu seperti tadi. Untuk sampai ke tempat pengobatanpun, ada yang berjalan 2 jam… dan harus kembali ke rumah mereka 2 jam perjalanan… BERJALAN KAKI!

Tidak heran kl semuanya merasakan keluhan yang sama.

Setelah dari Nyumanis, kami ke 1 SD untuk membagikan beasiswa plus pengobatan juga… dan malamnya saya dibonceng naik motor naik ke gunung-gunung di sekitar penginapan kami, untuk mengunjungi lansia yang tidak dapat berjalan ke tempat pengobatan krn sudah stroke dsbnya.

Keesokan harinya, kami pergi ke satu dusun bernama Samigaluh… disitu juga telah menunggu begitu banyak penduduk yang datang untuk pengobatan dan pengambilan beasiswa. Kami mulai dengan agak cepat pagi ini, krn siang nanti kami harus kembali ke Jogja untuk penerbangan pulang ke Jakarta. Karena ramainya antrian, ada mereka mendaftar dengan berdesak-desakan. Sehingga dr.Welly harus berteriak (dengan bahasa Jawanya yang fasih dan dengan nada yang sabar): “Mbah, sabar nggeh… jangan dorong-dorongan nanti jatuh, semua pasti diperiksa dan dapat obat…” Dan yang tidak disangka-sangka… ada seorang nenek yang membalas teriakan itu dengan jawaban (dengan bahasa Jawa pula tentunya tetapi dengan nada yang tak kalah halus dan penuh kepolosan): “Setiap hari kok disuruh sabarrrrr…”

Mendengar itu kami semua tertawa, tetapi di hati saya yang terdalam rasanya ada sesuatu yang menggores. Rasa pilu yang sudah menjadi kesehari-harian mereka. Mereka harus sabar menghadapi semuanya. Sabar antri pengobatan, sabar antri uang jatah orang miskin, sabar antri jatah beras, sabar antri jatah minyak, sabar, sabar, dan sabar… rasanya adalah sahabat mereka yang terbaik di hari-hari mereka.

Sedangkan saya… juga berkata sabar terhadap diri saya… sabar karena tidak bisa punya segala yang saya mau (mobil, rumah, HP baru, PDA, dsbnya), sabar karena rumah yang saya tinggali kadang suka bocor atapnya. Semuanya membuat saya bertanya… apakah saya layak untuk sabar? Sedangkan segala kemudahan ada terbentang di depan saya?

Saat memeriksa satu Mbah, sambil menasehati agar dia jangan terlalu sedih (dan tentu saja terus sabaarrrrrrr!), Mbah itu terus memandangi wajah saya dan menatap saya dalam-dalam sambil terseyum lebar dan penuh kasih. Kemudian ia memegangi tangan saya, dan memegang wajah saya dengan berkata, ”Dokter kok putih sekali…” Dia terus mengatakan itu sambil tersenyum lebar.

Saya sekuat tenaga menahan air mata keluar dari mata saya… melihat seorang nenek lemah yang sakit, menderitakan sakitnya, dan hanya sekejab bisa tertawa dengan bahagia melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum. Ia terus memegang wajah sayang dan kemudian waktu selesai dengan resep, ia memeluk saya dan menciumi muka saya. Saya hampir tidak kuasa menahan hati saya yang rasanya sudah jatuh menggelinding di lantai karena pelukan nenek itu yang penuh dengan kasih. Bukan lewat uang yang berkelimpahan saya merasa diberkati, tapi oleh pelukan seorang nenek yang sederhana dan polos. Yang dengan hatinya menyatakan terima kasihnya.

Mendapati mereka yang memegang tangan saya dan tersenyum lebar waktu saya ajak bicara membuat hati saya bergetar. Mendengar kata-kata mereka yang tidak diwarnai oleh keluhan sangat menceritakan keluhan sakit mereka… membuat saya rasanya ingin masuk ke bawah kolong meja, malu melihat diri saya sendiri.

Hari itu saya belajar dan kembali bertanya kepada diri sendiri… dari mana mereka mendapat rahmat sebesar itu? Mungkin ini arti yang mama saya sering katakan kepada saya… “Biar miskin, tetapi kaya…” Rasanya… saya menemukannya di sini.

Haripun beranjak siang. Tanpa terasa pengobatan yang terakhir telah selesai kami lakukan.

Kami bersama dijamu oleh makanan yang sudah disediakan oleh tuan rumah yang kebetulan adalah ketua stasi desa Samigaluh.

Nasi, sayur papaya, tahu, dan belut goreng.

Hhhhmmm… jujurnya… kalau saya ada di rumah, saya memilih untuk tidak memakan itu semua, dan buat Indomie goreng

Tetapi ‘terpapar’ oleh realita hidup yang demikian keras selama 2 hari membuat saya malu untuk bertingkah laku manja, dan tidak memakan berkat yang sudah disiapkan dengan penuh kasih dan berkelimpahan itu.

Akhirnya saya menelan setiap kunyahan daun papaya yang pahit itu dengan tidak berani complain! Hidup mereka mungkin lebih pahit daripada pahitnya daun papaya, dan mereka tidak complain, bahkan masih bisa tersenyum. Masakan saya harus membuang berkat ini hanya karena alasan saya tidak suka, dan complain akan berkat ini?!?

Setelah selesai makan dan berpamitan dengan semuanya, kami naik ke mobil untuk kembali ke Jakarta melalui Jogja.

Dalam mobil… kami semua baru merasakan kelelahan, dan semua terdiam dalam istirahat/ tidurnya masing-masing.

Saya sendiri tidak mampu tidur, yang ada dalam benak saya, hanya rekaman setiap kejadian dan wajah-wajah pasien yang saya periksa selam 2 hari ini.

Wajah setiap anak yang tersenyum memegang amplop beasiswa di tangan mereka, wajah para embah2 yang tersenyum sewaktu saya periksa dan mendapatkan obat, ucapan terima kasih yang diucapkan dan setiap kali itu seperti siraman air sejuk di hati saya.

Pasti menyenangkan menjadi seorang P’Mul yang bersusah-payah dan bertebal muka mencari bantuan donatur dan melihat setiap senyum yang terlukis di setiap wajah anak-anak dan orang-orang sakit itu.

Sesampainya di airport, kami harus menunggu 2 jam untuk keberangkatan kami. Saya ngobrol-ngobrol dengan dr.Welly. Dan ia menceritakan satu kejadian yang kembali membuat hati saya bergetar.

Dr.Welly menceritakan, di prakteknya di Warakas, ada seorang nenek yang sudah bertahun-tahun menderita stroke dan tidak bisa keluar rumah. Sehingga akhirnya Welly yang mendatangi rumah nenek itu secara rutin dan memeriksanya.

Pada kunjungan yang ke-3, sang nenek bertanya kepada Welly: “Dokter namanya siapa?” dan Welly menjawab: “Akkhh… buat apa sih nenek tahu nama saya segala… yang penting khan tiap kali saya datang kemari mengunjungi nenek. Ini sudah yang ketiga kalinya… Nama saya tidak penting lah. Tapi memangnya, bua tapa nenek mau tahu nama saya?”

Dan nenek itu menjawab dengan polosnya: “Supaya saya bisa menyebut nama dokter di setiap doa malam saya.”

Saya memandang wajah Wellly saat itu, kejadian itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu… tapi saat menceritakannya, ia masih penuh semangat dan mata yang agak memerah. Saya tahu… ia menahan rasa harunya, seperti saya juga terharu mendengar ceritanya.

Welly berkata,”Waktu mendengar itu gw rasanya malu banget. Bayangkan… seorang nenek yang tidak berpendidikan dan sederhana, menyebut gw dalam tiap doa malamnya! Gw yang berpendidikan, dan seorang dokter! Kadang tidak tahu terima kasih dan lupa menyebutkan nama orang yang menolong gw. Sejak saat itu rasanya… gw yang berhutang budi ke nenek itu!”

HHhhhhhh… saya mengerti perasaan itu. Dan itu benar-benar membuat diri kita dikasihi. Cara yang tidak terbayangkan untuk dikasihi. Tetapi Tuhan selalu memberkati kita dengan berkat-berkat kecil disekitar kita. Kalau saja…. Yaahhhh… kalah saja… kita mau sebentar menyadarinya dan bersyukur. Pasti dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Di dalam pesawat… saya teringat adik-adik Mudika yang selama ini ada bersama saya. Betapa mereka hidup dalam berkelimpahan. Betapa mereka tidak perlu berjalan 2 jam hanya untuk mengambil beasiswa yang ‘hanya’ seharga 70rb. Betapa mereka tidak perlu berjalan kaki untuk ke sekolah selama 4 jam pulang pergi. Betapa mereka tidak harus makan nasi yang hanya dengan kecap untuk sehari-hari mereka. Betapa mereka tidak perlu pusing akan apapun juga krn semua sudah disediakan oleh orang tua mereka. Dan lewat semua itu… saya masih sering mendengar mereka complain akan semua yang mereka dapatkan.

Rasanya mereka sekali-kali harus datang ke tempat seperti ini, di mana setiap tetes keringat sangat berarti, dan setiap butir nasi dapat menyambung nafas mereka.

Dan akhirnya saya sampai di Jakarta, kota tempat saya lahir dan dibesarkan. Kota yang membentuk saya menjadi seperti hari ini. Betapa hati ini bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepada saya. Sesampainya di airport langsung dijemput suami tercinta, dan langsung makan bakmi kesukaan saya!

Setelah melalui 2 hari… yang tadinya saya pikir menjadi ‘api penyucian’ bagi saya, rasanya saya malu untuk berkata… itu semua adalah api penyucian.

Mungkin saya adalah api penyucian mereka, karena tingkah laku saya yang mungkin menyebalkan (biarpun kayaknya tidak)….

Betapa Tuhan mengasihiku… aku pergi dengan maksud untuk memberkati orang lain. Tetapi aku pulang dengan keadaan… AKU DIBERKATI!!!

Saya lebih merasa diberkati daripada memberkati mereka.

Bukan dengan hotel bintang lima, makanan mewah, kamar mandi dengan bath up, dan semua keindahan… tetapi dengan hidup-hidup sederhana yang berjuang menjalani kehidupannya di dunia ini dengan penuh syukur dan suka cita.

Saya mendulang emas lewat kehidupan mereka. Saya mendulang berkat lewat kesederhanaan mereka.

Kepapaan mereka adalah kekayaan bagi saya. Pernyataan kasih dan perjuangan hidup mereka seperti emas yang saya dapat 2 hari kemarin.

Doakan saya… supaya saya tidak melupakan semua peristiwa ini…!

The End

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s