My Life as A "CHUTZPAH AWARD"

Mendapati diri saya termenung pagi ini, teringat akan satu scene cerita dari film “Beyond the Borders” yang saya tonton bersama suami dan beberapa teman beberapa hari yang lalu. Film itu mengambil setting waktu kira-kira 10 tahun lalu, saat dunia begitu gencar-gencarnya mengangkat Afrika, khususnya Ethiopia sebagai satu negara yang dilanda kelaparan.

Melihat betapa orang-orang jatuh dalam bencana kelaparan, karena kemiskinan, gagalnya panen, tidak adanya air, dan sarana kesehatan… betapa satu per satu dari mereka berjuang demi hidup, hidup yang ingin mereka pertahankan diantara seluruh bencana itu. Hidup yang banyak di sia-siakan oleh orang-orang yang bergelimangan makanan di sekelilingnya. Saat itu saya benar-benar merasa… menjadi orang yang gagal dan tidak mempunyai arti hidup. Saya penuh dengan kecukupan, tapi tidak mengerti arti hidup dengan tidak bersyukur atas apa yang ada.

And today… I watched one witness of life again. Meet a 20 years old young girl with an unbelievable childhood, yet she survived and cherish her life now. Ia lahir dengan orang tua yang drug addict, selama masa kecilnya, ia tidak pernah mendapat kasih sayang dan perawatan dari orang tuanya. Rumahnya penuh dengan sampah, dan kotoran makanan dan manusia yang tidak pernah dibersihkan. Ia hidup sendirian, dengan orang tua yang setiap hari ada dalam dunianya sendiri, terbaring di tempat tidur, kadang dalam keadaan yang menyedihkan karena ‘sakauw’.

Dalam kesehariannya, pernah ia merasakan pahitnya kokain di ujung sendok makanannya, karena tidak pernah dibersihkan. Saat umur 8 tahun, ia beberapa kali tertusuk jarum suntik bekas pakai dari orang tuanya. Yang membuat ia harus menjalani HIV test pada umur 11 tahun.

Saat ia berumur 12 tahun, ayahnya meninggalkan ia dan ibunya, dalam keadaan ibunya begitu ketagihan dengan AIDS yang dideritanya dan menderita schizophrenia (arti: penyakit jiwa/ gangguan mental). Umur 15 tahun ia mendapati ibunya meninggal dan tidak mempunyai uang sepeserpun untuk menguburkan ibunya.

Setelah itu, jalanan menjadi rumahnya, dan satu hari, ia terbangun di pinggir jalan, dengan menyadari ia harus melanjutkan sekolahnya. Dibantu oleh pemerintah dengan nilai akhir dari sekolahnya yang begitu baik, ia menghabiskan 4 tahun Senior High School dalam waktu 2 tahun dengan mengambil sekolah pagi dan sore. Ia bekerja diantara waktu itu, memakai lorong-lorong kereta sebagai tempat belajarnya, dan memakai pinggiran jalan sebagai tenpat tidurnya. Setalah 2 tahun dilalui, ia diterima di Harvard dengan beasiswa penuh dan sekarang sedang menjalani pendidikan, dengan tak henti-hentinya bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya.

Kedua peristiwa di atas membuat saya merenungkan hidup saya, dan mengajak anda semua juga merenungkan hidup anda. And really… Jesus makes my life and theirs as a “CHUTZPAH AWARD” from Him. Chutzpah berasal dari bahasa Ibrani yang berarti: nerve (keberanian), courage (keberanian, keteguhan hati), Bravery (keberanian, daya juang). Mungkin kehidupan orang-orang kelaparan diEthiopia itu berakhir dengan kematian, tetapi salah satu kata-kata di film Patch Adam yang begitu disukai oleh suami saya mengatakan,”Kematian bukan kekalahan, tetapi bagaimana kita membuat hidup kita berarti itu menjadi satu kemenangan hidup.”

Yesus membuat hidup kita berarti. Melewati apapun yang saya dan anda alami saat ini. Mari kita bersama belajar, untuk membuat hidup yang singkat ini berarti. Mungkin kita sedang berjalan melalui lembah dengan air mata, atau terbang diantara bintang-bintang dengan tersenyum gembira. Mungkin ada di dasar jurang dengan kegagalan dan rasa malu yang mendalam, atau seperti berdiri tegak dengan kebanggaan penuh sambil memegang bendera kemenangan di puncak Mount Everest…

Apapun yang terjadi saat ini…

Let’s cherish the love, and celebrate the life we have… because He already gave HIS life and makes our life as a CHUTZPAH AWARD…

November 10, 2005
(lia b.ariefano)

About whittulipe

A woman, happy wife, daughter, sister, friend, medical doctor who have a passion to proclaim hope that radiates from the gift of life through writings, medical science & living the true calling of womanhood. Brasali is my surname. Ariefano is given name from my hubby. whittulipe is my nick name on virtual world. You can call me: l i a. I am an ordinary woman with an extraordinary life. I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull. I believe that every single event in life happens in an opportunity to choose love over fear. Happiness keeps me sweet. Trials keep me strong. Sorrows keep me human. Failures keep me humble. And the best of my life I have God that keeps me going! My life mission: Mewartakan pengharapan yang memancar dari anugrah kehidupan melalui tulisan, ilmu kedokteran, dan penghayatan hidup sebagai perempuan. My value in life: hope, courage, aunthenticity, generosity. So help me God!
This entry was posted in articles. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s