amazed by the power of a dream…

Hari Sabtu dan Minggu lalu, seorang pembicara yang sangat memberikan inspirasi : Bo Sanchez mengatakan sesuatu:
“Saat kita berjalan menapaki visi dan mimpi kita, tanpa kita sadari dunia membukakan pintu kepada itu semua…”

Yes… having a husband who’s a dreamer, seorang yang hari demi hari bicara visi demi visi dalam kehidupannya… dan seakan-akan kadang gw mempertanyakan… apakah gw ini istri yang cukup kompatibel untuk dia… tapi mendengar kata-kata itu dan kemudian memandang ke belakang rasanya itu ada benarnya.
Sejak di masa akhir sekolah gw… di medical school… gw mulai bermimpi… satu hari nanti:
gw pengen punya satu klinik, yang isinya penuh dengan tawa dan harapan. Mungkin isinya boleh orang-orang sakit… tetapi mereka bersuka cita karena hatinya dipenuhi dengan harapan.
gw pengen punya satu tempat.. di mana gw bisa membagi hidup dengan pasien-pasien gw… membagi kualitas-kualitas yang sekarang sangat jarang didapatkan di dunia kedokteran.
Dibandingkan dengan sahabat-sahabat gw di kedokteran yang sekarang sukses meniti kariernya, mgkn mimpi ini menjadi sangat ‘pesimis’ dan seperti tidak ada gunanya.
Tapi itulah yang ada di dalam hati gw…

Dan setelah melihat ke belakang… gimana Tuhan menyertai gw… dari gw selesai kuliah, kerja, PTT, sampai sekarang bisa dapat tempat praktek rumahan, kecil-kecilan… yang masih belum terlalu banyak pasiennya…
tapi sampai hari ini bisa terjadi dalam hidup gw… rasanya gw sudah terkagum-kagum.
Melihat benar apa yang dikatakan Bo… mimpi itu tetap dalam hati gw… dan biarpun dengan tertatih-tatih gw menjalaninya… gw tetap memimpikan itu.
Dan memang Tuhan berkarya lewat orang-orang di sekitar gw… dengan sangat luar biasa.

Hidup bersama dengan suami gw, tempat gw belajar untuk tetap menggantungkan impian gw setinggi langit, juga membuat hidup ini makin hari… makin penuh dengan kejutan-kejutan.
Kejutan-kejutan yang tidak pernah gw pikirkan dalam hidup gw…
Kejutan-kejutan yang gw percaya tidak akan mencelakakan kami berdua krn kami menyandarkan semuanya kepada kemurahan Tuhan.
Kejutan-kejutan yang membawa kebaikan bagi diri kami… 🙂

Advertisements

after 9 years… He still remember

Sudah jam setengah 2 pagi, riko masih ngobrol sama satu sahabat lamanya dari Amrik yang lagi stay overnight di rumah kita… Chanuka.
Gw ud di atas tempat tidur, cape… baru pulang dari makan2, setelah KRK Novena ke 7 di STC.
Tadi kami… sempet nyanyi 2 lagu untuk memperkenalkan Album The New Springtime yang akan keluar bulan depan.

Ngomong2 soal Album… yes… after 9 years.. HE still remember!!!
Dulu gw dan teman2 di tahun 1997an pernah punya mimpi untuk punya album sendiri dan life recording…
Tapi begitu banyak hal terjadi… yang membuat gw… berharap pun rasanya ud ngga berani lagi.
Tapi Tuhan ku memang Tuhan yang setia, 9 tahun waktu2 itu berlalu, sahabat2 yang dulu gw harapkan ada bersama dengan gw di panggung tadi pun ud ngga tahu ada di mana semua.
Tapi Tuhan gantikan dengan sahabat-sahabat baru yg merupakan uluran tangan Tuhan untuk menggenapi janjiNya.

Kl hari ini ada, dan rasanya sangat berati… rasnya gw memuji Tuhan buat semua ketidak-mudahan yang terjadi.
Kl semuanya begitu mudah terjadi, mgkn rasa berarti hari ini tidak akan demikian berartinya…
Hari ini menjadi hari yang membuat gw… satu kali lagi melihat diri gw dan berkata… yes… this is one of my journey of life… and how He makes everything beautiful according to His time…

Praise the Lord!!!

September 23, 2006

Lord, please give me Your grace to walk in faith

Dear all my friends of life…

Acara KRK Novena ke-8 telah berakhir Sabtu kemarin (Thanks to Ririn, Ko Alip, dan teman2 dari KTM yang membuat semuanya begitu indah)

Hadirat Tuhan terasa begitu nyata ada bersama kita di keseluruhan acara.

Hhhhmmm… keingat rasanya waktu KRK baru di mulai, di NAM Center. Setelah acara selesai, gw dan Rika berpelukan dan gw ingat mengatakan ini ke Rika: “Yes… 8 more to go…”

Dan kemarin tak terasa, tinggal 1 lagi KRK akan kita lalui bersama.

KRK Novena ini rasanya memberkati banyak orang. Bukan saja orang muda Jakarta, tetapi gw percaya satu persatu dari kita. Tentu saja dengan caranya masing-masing.

KRK ini memberkati kehidupan pernikahan gw dan Riko dengan dinamika dan pembelajaran akan kesetiaan Tuhan yang tak ada habisnya.
Terlahir di keluarga yang dari kecil mencukupkan gw, biarpun tidak berkelimpahan, tetapi gw ngga terbiasa dengan keadaan ‘kurang’ atau ‘diambang ketidak-punyaan’.
Lalu kemudian… kehidupan pernikahan yang mengajarkan gw untuk belajar beriman.

Setelah menikah, gw berubah jadi orang yang sangat khawatir akan financial keluarga gw, yang belum harus dikahwatirkan hari ini dan sebetulnya Tuhan cukupi lewat hasil usaha suami gw.
Tapi hati ini ngga habis-habisnya resah dan tidak percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Khawatir akan hidup gw dan Riko dan mgkn anak2 yang Tuhan berikan… yang sebetulnya… udah Tuhan bilang.. “Kesusahan sehari cukup untuk sehari…” tapi rasanya gw ngga mampu menahan ketakutan gw itu.

Lalu tahun lalu… suami gw yang ‘pemimpi’ itu (‘coz he’s name is: Josef… right Tere..? J) mulai mengeluarkan ide ‘gila’ nya soal KRK Novena 9 bulan yang pada awalnya diragukan banyak orang.
Gw pribadi… sebagai istri… ada dalam kondisi di mana jujurnya… gw bergumul dalam hati… tapi gw tahu… tugas gw adalah mendukung semua yang menjadi mimpi dan visinya… sehingga gw mendampinginya melangkah dan menjalaninya.. tentu saja dengan takut dan genta
r.

8 bulan kita lalui bersama dengan penyertaan Tuhan. Dan 8 bulan ini… menjadi satu tanda kesetiaan Tuhan terhadap pernikahan kami… di mana Tuhan menunjukkan kesetiaanNya terhadap acara ini.

Dengan uang di kas kita yang Cuma 10-15 juta per bulan… rasanya… ngga mgkn bisa menyelenggarakan acara ini dari bulan ke bulan dengan begitu megahnya.
Belum lagi proses pembuatan recording Album The New Springtime yang penuh dengan lika-liku dan masalah. Penundaan, konflik, kebingungan, kekhawatiran, dsbnya.

Tapi semangat teman2 di KRK 8 kemarin membasahi hati ini dengan kehangatan. Di tengah gw menulis e-mail ini, ada seorang sahabat dari panitia Springtime yang menelpon, memberi-tahu kabar gembira dalam kehidupan pribadinya yang juga sebetulnya tidak disangka-sangka akan selesai dengan begitu cepat dan indahnya, dan waktu dia cerita tanpa sadar gw meneteskan air mata, belum lagi Jovan (anak Kusno dan Anast) yang lahir di antara kita… memenuhi seluruh kepanitiaan kita dengan suka-cita kelahiran tunas baru kehidupan bagi gereja, belum lagi sahabat-sahabat baru yang di awal Springtime tidak pernah get in touch satu sama lain… hari ini… semuanya bisa kenal.
Rasanya hidup ini dipenuhi oleh begitu banyak sahabat di sekeliling kami berdua. Teman satu peziarahan di dalam Tuhan, yang memberkati satu sama lain dengan kehidupannya masing-masing.

Waktu tinggal sekitar 3 minggu lagi… dan masih ada 350 juta yang harus dikumpulkan.
Project acara The New Springtime dari awalnya adalah sebuah proyek yang tidak mungkin, dan diragukan. Tapi hari ini sudah ada 8 KRK novena yang telah dilangsungkan.
Pembuatan flyers kemarin juga merupakan satu peristiwa mujizat di mana semua percetakan telah tutup menjelang lebaran… tetapi flyers bisa selesai dan dibagikan di tgl.28 kmrn.

Dengan semuanya ini… masakan kita tidak percaya akan penyelenggaraan Tuhan.

Semalam saat gw makan malam dengan riko dan mike… riko sempat bilang… “Kapan lagi elu ada dalam pelayanan mega proyek Tuhan, di mana kita harus kumpulin 350jt dalam 3 mgg? Adrenalin pasti naik..!” gw ketawa kecut sih… krn kl mau jujur gw prefer hidup tenang dan damai.
Tapi hal-hal seperti ini pasti akan kita rindukan tahun depan, di saat semuanya ini sdh selesai.
Tuhan rasanya memberi pengertian ke diri gw… kl peristiwa ini akan membuat gw menjadi seorang yang belajar lagi akan penyertaan Tuhan… terutama untuk bekal gw menjalani kehidupan pernikahan gw yang selama ini tidak bisa gw lepaskan dari kekhawatiran gw…. Acara ini akan memberkati kita semua dengan makna yang dalam. Pembelajaran, terutama beriman kepada Tuhan dengan sepenuhnya dan belajar mempercayakan semuanya ke dalam kehendakNya.

Kalau sampai ini semua tercapai… rasanya bukan hanya iman kita sebagai panitia yang terbangun, tetapi juga iman seluruh orang muda di Jakarta yang telah juga banyak menabur untuk acara ini.

Can’t wait to see that moment…

But… Lord… Please give me (us) Your super duper grace… to walk in faith. Your wisdom to find the way… to 350 juta! Hehehehe…

So Friends… mari saling menyemangati satu sama lain! Di saat seperti ini Iblis pasti akan mengganggu kita dengan berbagai macam keraguan, kelesuan, kemalasan, keputus-asaan, dan terutama ketidak-percayaan akan penyertaan Tuhan.

Let’s walk hand in hand… With Him nothing is impossible…
(ini gw nulis untuk menyemangati diri gw sendiri juga nihhhhh!!!….)

Let’s pray for riko juga biar dia bisa ambil keputusan yang benar dan bijaksana supaya semuanya bisa dicapai dengan baik. Let’s pray for each other supaya di jagain sama Malaikat Tuhan dan terutama… kita musti doa yang kuat dari sekarang! Untuk doa, acara, persiapan, gedung, perlengkapan, umat, semuanya dehhhh!!!

Kita kurang doa nih… kebanyakan ngopi!!! Hehehe…

________________________________________________
Best Wishes,
Lia Brasali Ariefano
“Every woman has her own legacy. Nothing she could do to change it…
But she can decide how to live her legacy, then pass on her legacy to bless the world… through herself and the next generation of hers.”

my heart singing…

Saat teringat perasaan cinta itu
Rasanya hati ini menderu

Saat membaca kembali tulisan cinta lewat sahabat
Seakan hati ini melumat

Tapi kadang rasa itu tidak lagi nyata
Semua seakan menjadi maya
Dan saat itu… rasanya hati ini lelah berkelana

Jauh dalam lubuk hati yang terdalam, aku tahu Bahwa cintaNya tinggal tetap
Jauh dalam relung hatiku, aku tahu Kadang aku yang meninggalkanNya meratap
Karena Ia selalu setia dan aku seringkali pergi dariNya

Jika boleh aku berucap,
Aaahhh… rasanya tidak ada kata yang dapat terucap Oleh kesetiaan dan cintaNya

Bila debu ini memegahkan diri
Rasanya tak layak aku dipandang Oleh kasihNya yang membuat debu ini ada

Yes, through everything in my life…
HE is my one and all HE is my strength and my hope, my love and my Prince
The only Prince who save me from my prison of sins

With HIM I can fly like eagle, through every battle in my life.
With this present of my womanhood, I love him more each day…
Praising Him for what I am, and Thank Him for who I am…

-lia b.ariefano-

Printing a Galley of Blessing from The Poor

Mendulang Berkat lewat Kepapaan

Dua kosa kata yang sangat berlawanan satu sama lain. Berkat dan ‘Papa’ (baca: kemiskinan/ ketidak-punyaan).

Tetapi saya mengalami 2 kata yang berlawanan ini sebagai satu kesatuan yang memberkati hari-hari saya secara luar biasa.

Tidak heran, kalau gereja Katolik kita tercinta, selalu berpihak pada kaum miskin dan papa, serta ada dalam spiritualitas yang mau hidup sederhana.

Rasanya memang lebih mudah ‘menemukan Tuhan’ di tengah keadaan seperti itu, dari pada di tengah kehidupan metropolitan.

Di mana suara Tuhan tertutup oleh bunyi klakson mobil, suara TV di rumah, bahkan suara manusia yang lebih keras dari pada suara penciptanya.

Atau sosok Tuhan tertutup oleh ambisi, kecemburuan, ketamakan, dan hedonisme…

Tgl.1-3 Juli kemarin, saya diberkati Tuhan dengan kesempatan pergi bersama satu rombongan dari Paroki St.Theresia yang diprakarsai oleh P’Muljono.

Seorang Bapak berusia 70 tahun yang sederhana, tetapi setelah saya mengikuti perjalanannya, saya melihat kekuatan hatinya untuk berkarya di kebun anggur Tuhan dan Tuhan berkarya luar biasa melalui hidupnya.

Kami pergi ke Sendangsono. Tempat ziarah umat Katolik yang pasti tidak asing lagi di telinga kita semua. Tetapi ternyata, di balik bukit-bukit, dan gunung yang ad adi sekitar Sendangsomo. tersimpan kemiskinan yang membuat mereka sulit untuk hidup,

Saat ini saya mengajak anda semua membayangkan, bagaimana hidup yang paling sederhana yang bisa kita lakukan saat ini…?

Percayalah… mereka jauh jauh jauh jauh jauh ada dibawah dari yang kita bayangkan saat ini!!! (Saya yakin, anda semua pasti tidak membayangkan harus berjalan selama 2 jam melintasi gunung-gunung hanya untuk mengambil uang Rp.15.000,- atau harus mengangkat kayu dipunggung untuk kehidupan sehari-hari dan berjalan melintasi gunung-gunung khan?)

Saya sendiri sudah pernah masuk ke tempat-tempat seperti ini. Tapi tidak lebih dari hitungan jari-jari di 1 tangan saya. Mungkin kesempatan ini menggenapi keseluruhan hitungan jari pada 1 tangan tadi. Sehingga tidak heran, saat saya pergi rasanya semua barang mau saya bawa. Ketakutan saya pada kebersihan toilet, kekhawatiran saya terhadap bagaimana saya tidur, bahkan kepusingan saya… apakan ada listrik untuk men-charge hp (bahkan saya sempat terpikir lap top!!) saya.

Dari Autan semprot, pembersih toilet seat, tissue kering sd. anti septic, bahkan aqua sepertinya ingin saya bawa semua untuk menentramkan hati saya.

Sampai akhirnya saat saya dan suami membongkar kembali tas yang harus saya bawa (krn tidak mungkin membawa 2 tas untuk perjalanan sulit yang hanya 2 hari!), saya memutuskan (dengan sangat berat hati) untuk tidak membawa sebagian barang-barang tadi.

Saat saya sempat merefleksikan situasi ini… saya berpikir… betapa semua kemudahan Jakarta membuat saya menjadi orang yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Sampai pada tahap… uang saja tidak cukup membuat hidup kita tenteram. Memang uang… tidak bisa membeli segalanya.

Saat perjalanan ke Bandara, tidak habis-habisnya hati ini berkata, ”Aduh malasnya… aduh malasnya…” berkali-kali…

Terus mempertanyakan,”kenapa ya kemarin gue ambil tawaran ini? Kenapa ya… kenapa ya…?” dstnya…

Membayangkan bagaimana saya harus menghabiskan week end saya dengan bersusah-payah, sedangkan di sini, saya bisa ada bersama suami dan teman-teman… hang out di mal… dan Ngopi! J

Kira-kira 5 hari sebelum keberangkatan, saya hampir membatalkan karena kekhawatiran2 tadi terus menghinggapi saya.

Luar biasa… bagaimana kemudahan dan kenikmatan dunia menjerat hati saya. Sampai pada akhirnya mungkin kita tidak sadar, hati yang harusnya berbelas-kasih dibuat buta oleh semua yang kita rasa benar dan sudah seharusnya kita dapatkan.

Kekhawatiran saya, hampir menghalangi saya menerima berkat, yang tidak saya sangka-sangka…!!!

Tiba waktunya kamipun berangkat. 2 dokter (saya dan dr.Welly Kwangtana), 3 paramedis, 1 relawan (Feni), P’Mul, M’Nita, dan P’Herman.

Senang sekali rasanya bertemu dengan dr.Welly krn dia adalah kakak kelas saya semasa kuliah. Dan jujurnya, dari dia saya banyak belajar mengenai kecintaan melayani orang miskin dari sejak saya masih kuliah dan bersama dengannya berkarya di kampung nelayan di daerah Cilincing.

Rasa kagum saya tidak putus kepada dia, melihat ia yang pertama kali membentuk pelayanan kesehatan di Cilincing bersama dengan suster-suster Puteri Kasih di pertengahan tahun 1990an, dan hari ini pelayanan kesehatan itu masih ada di sana, berkarya dan memberkati para nelayan miskin di daerah Cilincing, bahkan dari ceritanya saya mendengar ia telah membuka 2 pos baru di daerah Warakas.

Saya mengagumi visi yang Tuhan taruh dalam hatinya, yang membuat dr.Welly masih ada di sana dan berkarya di sana. Itulah kekuatan visi…

Sedangkan saya… sudah menghilang entah kemana…

Visi itu juga yang saya lihat di diri P’Muljono. Menurut ceritanya… ia memulai karya pelayanan ini sejak tahun 1994-an. Ketika ia datang ke Sendangsono, dan tergerak melihat kemiskinan di sana. Terutama hatinya tergerak melihat anak-anak yang putus sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah. Akhirnya ia mulai dengan 2-3 anak yang ia biayai sendiri. Tetapi hatinya merasa resah… sesampainya di Jakarta, ia mulai mengetuk hati para penderma. Dari penderma yang mudah, sampai penderma yang membuat ia merasa harus ‘menebalkan’ mukanya untuk menutupi harga diri/ malunya untuk meminta bantuan. Sedikit demi sedikit penderma terkumpul dari tahun ke tahun. Sampai hari ini, kita-kira 12 tahun ia menjalani ini… sudah ada lebih dari 600 anak, yang merasakan bantuan beasiswa sehingga dapat terus bersekolah.

Sesampainya di Jogja, setelah melalui landing pesawat yang seperti ada di dalam bus kota, dengan menaiki mobil sewaan kami pergi ke temmpat lokasi di Sendangsono yang jaraknya kira-kira 11/2 jam dari kota Jogja. Melalui jalanan yang lumayan berputar-putar naik dan turun, saya mulai khawatir kalau saya merepotkan teman-teman saya denga mabok dan muntah. Tetapi Puji Tuhan saya baik-baik saja, bahkan menikmati perjalanan itu biarpun gelap gulita dan terkantuk-kantuk di bangku paling belakang panther (krn di mobil itu saya salah satu yang paling muda, jadi yaaa… saya harus memberikan tempat duduk yang lebih enak kepada yang lebih tua.. J)

Kami disambut dengan ramahnya oleh pemilik rumah dan penduduk sekitar Goa Sendansono (kami tinggal persis di belakang area doa Sendangsono)… Malam itu kami tutup dengan ibadat bersama.

Ada 20 frater yang sedang belajar di seminari. Dari seminari menengah, tinggi, dan yang paling senior adalah frater yang akan melaksanakan tahun pastoral parokinya (saya tidak tahu, itu tahun keberapa). Yang mencengangkan adalah… semua frater tersebut berasal dari daerah Sendangsono dan sekitarnya… dan SEMUANYA menikmati berkat beasiswa yang diberikan lewat tangan P’Mul.

Saya membayangkan… apa rasanya menjadi seseorang yang satu hari nanti (mudah-mudahan) melihat 20 pastor yang bisa berkarya lewat kerja kerasnya… pasti rasa itu tidak terbayarkan oleh apapun juga. 20 frater yang sedang berlibur itu datang dari penjuru kota Jawa untuk membantu membagikan beasiswa bagi adik-adik mereka, seperti dahulu mereka juga mengalaminya.


Akhirnya hari pertama saya hampir berlalu. Perlahan kekhawatiran mulai menyusup pergi.
Melihat semua kenyataan yang ada, tidak seperti yang saya takutkan. Saya mendapat kamar yang isinya hanya berdua dengan Feni dan dialasi kasur (super duper) tipis, tetapi cukup nyaman. Dialasi sleeping bag yang saya pinjam dari Rika, Puji Tuhan saya dapat tidur (biarpun kami baru bisa tidur jam 1 pagi setelah breafing dan parahnya itu jam ayam jago di sana mulai berkokok! Minta ampun berisiknya, dari yang bass sampe yang suaranya seperti ayam tercekik!) biarpun dengan diiringin musik alam yang membuat saya terus menerus terbangun. Lalu toilet yang biarpun membuat semprotan toilet seat saya jadi tidak berguna (krn toilet ‘super seat’ alias jongkok) tetapi semuanya dapat dikatakan cukup bersih dan layak untuk dibuat mandi dsbnya.

Tapi dalam doa malam saya bersyukur, hari ini saya bertemu dengan orang-orang baru dan kawan lama yang hebat. Sebagai seorang istri yang mempunyai suami yang juga seorang pembawa visi, saya mengetahui bagaimana perjuangan hidup mereka, dan bagaimana mereka melangkah memperjuangkan visi yang Tuhan taruh dalam hati mereka. Mereka membuat hidup mereka berarti. Bukan dengan kegemerlapan dunia, tetapi dengan membuat hidup orang lain juga berarti.

Dan sebelum saya terlelap, lintasan terakhir dalam benak saya adalah… “Apa yang ku ingini dalam hidup ini? Untuk membuat hidupku berarti? Apa aku sudah menjalaninya?”

Saya bangun pagi dengan bersyukur, semalam bisa beristirahat secukupnya (krn baru malam pertama, masih adaptasi dan SANGAT terganggu oleh suara ayam jago yang kemarin saya ceritakan!) dan pagi ini bisa memulai hari yang baru.

Kami bersama sarapan pagi seadanya (dan kembali kekahwatiran saya tidak beralasan krn saya cukup suka makananya hehee), dan berangkat ke satu stasi di salah satu bukit di daerah itu yang namanya… something like.. Nyumanis… (lupa euy…!).

Perjalanan ke sana memakan waktu 1 ½ jam, bukan karena jaraknya yang jauh, tapi krn medannya yang sulit. Pegangan did alam mobilpun rasanya tidak cukup, sampai saya harus duduk dengan tegak krn jalannya yang sangat berbatu.

Sesampainya di stasi itu, saya melihat sudah banyak orang yang menunggu. Kami disambut dengan begitu ramahnya oleh penduduk yang menunggu di situ. Dasar bukan artis, saya menjadi merasa risi mendapat sambutan yang seperti itu J

Kami menyiapkan tempat untuk bekerja… dan langsung memulai pemeriksaan ke pasien satu per satu setelah ibadat singkat bersama.

Pasien-pasien yang saya periksan hampir 75% adalah orang-orang tua. Biarpun ada yang usianya baru 50an tahun, tetapi wajah mereka mencerminkan kekerasan hidup. Tapi satu hal yang membuat saya jatuh hati ke mereka… mereka tetap tersenyum. Kalau pun ada yang malu-malu dan tertunduk, saya sulit menemukan kesedihan dan kepahitan di mata dan kata-kata mereka.

Sebagian bersar dari mereka mengalami 3 keluhan terbesar yang rata-rata sama.

  1. Pegal-pegal di seluruh badan atau terutama pinggang dan kaki.
  2. Sesak nafas, jantung berdebar-debar.
  3. Gatal-gatal pada tangan dan kaki.

Hhhhmmm… bagaimana tidak…? Kl mereka harus memanggul buah/kayu bakar/hasil tanaman mereka, berjalan naik turun gunung yang medannya berbatu-batu seperti tadi. Untuk sampai ke tempat pengobatanpun, ada yang berjalan 2 jam… dan harus kembali ke rumah mereka 2 jam perjalanan… BERJALAN KAKI!

Tidak heran kl semuanya merasakan keluhan yang sama.

Setelah dari Nyumanis, kami ke 1 SD untuk membagikan beasiswa plus pengobatan juga… dan malamnya saya dibonceng naik motor naik ke gunung-gunung di sekitar penginapan kami, untuk mengunjungi lansia yang tidak dapat berjalan ke tempat pengobatan krn sudah stroke dsbnya.

Keesokan harinya, kami pergi ke satu dusun bernama Samigaluh… disitu juga telah menunggu begitu banyak penduduk yang datang untuk pengobatan dan pengambilan beasiswa. Kami mulai dengan agak cepat pagi ini, krn siang nanti kami harus kembali ke Jogja untuk penerbangan pulang ke Jakarta. Karena ramainya antrian, ada mereka mendaftar dengan berdesak-desakan. Sehingga dr.Welly harus berteriak (dengan bahasa Jawanya yang fasih dan dengan nada yang sabar): “Mbah, sabar nggeh… jangan dorong-dorongan nanti jatuh, semua pasti diperiksa dan dapat obat…” Dan yang tidak disangka-sangka… ada seorang nenek yang membalas teriakan itu dengan jawaban (dengan bahasa Jawa pula tentunya tetapi dengan nada yang tak kalah halus dan penuh kepolosan): “Setiap hari kok disuruh sabarrrrr…”

Mendengar itu kami semua tertawa, tetapi di hati saya yang terdalam rasanya ada sesuatu yang menggores. Rasa pilu yang sudah menjadi kesehari-harian mereka. Mereka harus sabar menghadapi semuanya. Sabar antri pengobatan, sabar antri uang jatah orang miskin, sabar antri jatah beras, sabar antri jatah minyak, sabar, sabar, dan sabar… rasanya adalah sahabat mereka yang terbaik di hari-hari mereka.

Sedangkan saya… juga berkata sabar terhadap diri saya… sabar karena tidak bisa punya segala yang saya mau (mobil, rumah, HP baru, PDA, dsbnya), sabar karena rumah yang saya tinggali kadang suka bocor atapnya. Semuanya membuat saya bertanya… apakah saya layak untuk sabar? Sedangkan segala kemudahan ada terbentang di depan saya?

Saat memeriksa satu Mbah, sambil menasehati agar dia jangan terlalu sedih (dan tentu saja terus sabaarrrrrrr!), Mbah itu terus memandangi wajah saya dan menatap saya dalam-dalam sambil terseyum lebar dan penuh kasih. Kemudian ia memegangi tangan saya, dan memegang wajah saya dengan berkata, ”Dokter kok putih sekali…” Dia terus mengatakan itu sambil tersenyum lebar.

Saya sekuat tenaga menahan air mata keluar dari mata saya… melihat seorang nenek lemah yang sakit, menderitakan sakitnya, dan hanya sekejab bisa tertawa dengan bahagia melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum. Ia terus memegang wajah sayang dan kemudian waktu selesai dengan resep, ia memeluk saya dan menciumi muka saya. Saya hampir tidak kuasa menahan hati saya yang rasanya sudah jatuh menggelinding di lantai karena pelukan nenek itu yang penuh dengan kasih. Bukan lewat uang yang berkelimpahan saya merasa diberkati, tapi oleh pelukan seorang nenek yang sederhana dan polos. Yang dengan hatinya menyatakan terima kasihnya.

Mendapati mereka yang memegang tangan saya dan tersenyum lebar waktu saya ajak bicara membuat hati saya bergetar. Mendengar kata-kata mereka yang tidak diwarnai oleh keluhan sangat menceritakan keluhan sakit mereka… membuat saya rasanya ingin masuk ke bawah kolong meja, malu melihat diri saya sendiri.

Hari itu saya belajar dan kembali bertanya kepada diri sendiri… dari mana mereka mendapat rahmat sebesar itu? Mungkin ini arti yang mama saya sering katakan kepada saya… “Biar miskin, tetapi kaya…” Rasanya… saya menemukannya di sini.

Haripun beranjak siang. Tanpa terasa pengobatan yang terakhir telah selesai kami lakukan.

Kami bersama dijamu oleh makanan yang sudah disediakan oleh tuan rumah yang kebetulan adalah ketua stasi desa Samigaluh.

Nasi, sayur papaya, tahu, dan belut goreng.

Hhhhmmm… jujurnya… kalau saya ada di rumah, saya memilih untuk tidak memakan itu semua, dan buat Indomie goreng

Tetapi ‘terpapar’ oleh realita hidup yang demikian keras selama 2 hari membuat saya malu untuk bertingkah laku manja, dan tidak memakan berkat yang sudah disiapkan dengan penuh kasih dan berkelimpahan itu.

Akhirnya saya menelan setiap kunyahan daun papaya yang pahit itu dengan tidak berani complain! Hidup mereka mungkin lebih pahit daripada pahitnya daun papaya, dan mereka tidak complain, bahkan masih bisa tersenyum. Masakan saya harus membuang berkat ini hanya karena alasan saya tidak suka, dan complain akan berkat ini?!?

Setelah selesai makan dan berpamitan dengan semuanya, kami naik ke mobil untuk kembali ke Jakarta melalui Jogja.

Dalam mobil… kami semua baru merasakan kelelahan, dan semua terdiam dalam istirahat/ tidurnya masing-masing.

Saya sendiri tidak mampu tidur, yang ada dalam benak saya, hanya rekaman setiap kejadian dan wajah-wajah pasien yang saya periksa selam 2 hari ini.

Wajah setiap anak yang tersenyum memegang amplop beasiswa di tangan mereka, wajah para embah2 yang tersenyum sewaktu saya periksa dan mendapatkan obat, ucapan terima kasih yang diucapkan dan setiap kali itu seperti siraman air sejuk di hati saya.

Pasti menyenangkan menjadi seorang P’Mul yang bersusah-payah dan bertebal muka mencari bantuan donatur dan melihat setiap senyum yang terlukis di setiap wajah anak-anak dan orang-orang sakit itu.

Sesampainya di airport, kami harus menunggu 2 jam untuk keberangkatan kami. Saya ngobrol-ngobrol dengan dr.Welly. Dan ia menceritakan satu kejadian yang kembali membuat hati saya bergetar.

Dr.Welly menceritakan, di prakteknya di Warakas, ada seorang nenek yang sudah bertahun-tahun menderita stroke dan tidak bisa keluar rumah. Sehingga akhirnya Welly yang mendatangi rumah nenek itu secara rutin dan memeriksanya.

Pada kunjungan yang ke-3, sang nenek bertanya kepada Welly: “Dokter namanya siapa?” dan Welly menjawab: “Akkhh… buat apa sih nenek tahu nama saya segala… yang penting khan tiap kali saya datang kemari mengunjungi nenek. Ini sudah yang ketiga kalinya… Nama saya tidak penting lah. Tapi memangnya, bua tapa nenek mau tahu nama saya?”

Dan nenek itu menjawab dengan polosnya: “Supaya saya bisa menyebut nama dokter di setiap doa malam saya.”

Saya memandang wajah Wellly saat itu, kejadian itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu… tapi saat menceritakannya, ia masih penuh semangat dan mata yang agak memerah. Saya tahu… ia menahan rasa harunya, seperti saya juga terharu mendengar ceritanya.

Welly berkata,”Waktu mendengar itu gw rasanya malu banget. Bayangkan… seorang nenek yang tidak berpendidikan dan sederhana, menyebut gw dalam tiap doa malamnya! Gw yang berpendidikan, dan seorang dokter! Kadang tidak tahu terima kasih dan lupa menyebutkan nama orang yang menolong gw. Sejak saat itu rasanya… gw yang berhutang budi ke nenek itu!”

HHhhhhhh… saya mengerti perasaan itu. Dan itu benar-benar membuat diri kita dikasihi. Cara yang tidak terbayangkan untuk dikasihi. Tetapi Tuhan selalu memberkati kita dengan berkat-berkat kecil disekitar kita. Kalau saja…. Yaahhhh… kalah saja… kita mau sebentar menyadarinya dan bersyukur. Pasti dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Di dalam pesawat… saya teringat adik-adik Mudika yang selama ini ada bersama saya. Betapa mereka hidup dalam berkelimpahan. Betapa mereka tidak perlu berjalan 2 jam hanya untuk mengambil beasiswa yang ‘hanya’ seharga 70rb. Betapa mereka tidak perlu berjalan kaki untuk ke sekolah selama 4 jam pulang pergi. Betapa mereka tidak harus makan nasi yang hanya dengan kecap untuk sehari-hari mereka. Betapa mereka tidak perlu pusing akan apapun juga krn semua sudah disediakan oleh orang tua mereka. Dan lewat semua itu… saya masih sering mendengar mereka complain akan semua yang mereka dapatkan.

Rasanya mereka sekali-kali harus datang ke tempat seperti ini, di mana setiap tetes keringat sangat berarti, dan setiap butir nasi dapat menyambung nafas mereka.

Dan akhirnya saya sampai di Jakarta, kota tempat saya lahir dan dibesarkan. Kota yang membentuk saya menjadi seperti hari ini. Betapa hati ini bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepada saya. Sesampainya di airport langsung dijemput suami tercinta, dan langsung makan bakmi kesukaan saya!

Setelah melalui 2 hari… yang tadinya saya pikir menjadi ‘api penyucian’ bagi saya, rasanya saya malu untuk berkata… itu semua adalah api penyucian.

Mungkin saya adalah api penyucian mereka, karena tingkah laku saya yang mungkin menyebalkan (biarpun kayaknya tidak)….

Betapa Tuhan mengasihiku… aku pergi dengan maksud untuk memberkati orang lain. Tetapi aku pulang dengan keadaan… AKU DIBERKATI!!!

Saya lebih merasa diberkati daripada memberkati mereka.

Bukan dengan hotel bintang lima, makanan mewah, kamar mandi dengan bath up, dan semua keindahan… tetapi dengan hidup-hidup sederhana yang berjuang menjalani kehidupannya di dunia ini dengan penuh syukur dan suka cita.

Saya mendulang emas lewat kehidupan mereka. Saya mendulang berkat lewat kesederhanaan mereka.

Kepapaan mereka adalah kekayaan bagi saya. Pernyataan kasih dan perjuangan hidup mereka seperti emas yang saya dapat 2 hari kemarin.

Doakan saya… supaya saya tidak melupakan semua peristiwa ini…!

The End

Choose to be Chosen

Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, saya ada di depan PC saya di rumah saya. Setelah mengantar suami saya pergi bekerja, detik demi detik menjadi pilihan buat saya. Apa yang akan saya perbuat hari ini.

Dari hari ke hari, pasti anda juga mengalami, dalam hidup anda, setiap detik adalah pilihan yang harus anda pilih untuk meneruskan hidup anda.

Dari pilihan yang mungkin sederhana, tetapi sering memusingkan seperti: baju apa yang akan saya pakai hari ini? makan apa ya siang ini?, dsbnya… sampai memilih untuk keputusan-keputusan crutial yang mungkin anda harus buat untuk membuat hidup anda terus berjalan.

Ada seorang wanita, umurnya baru 28 tahun. Tetapi selama 28 tahun hidupnya, ia memutuskan untuk menjalani 26 kali operasi plastik. Baik untuk wajahya maupun tubuhnya. Sampai hari ini, ia tidak mengenali siapa dirinya dan ia begitu menyesal akan keputusan2nya.

Hari ini, tidak ada 1 bagianpun dari wajahnya yang masih asli krn semua sudah tersentuh oleh sisi pisau scalpel (Arti: pisau bedah, untuk membedah). Ia mengatakan, detik demi detik merupakan satu perjuangan, saat ia berdiri di depan kaca, dan melihat refleksi dirinya… selalu saja ia melihat ada bagian yang belum sempurna, dan ia memilih untuk menyempurnakan itu. Tetapi hari ini, setelah 26x tertoreh pisah bedah yang membuatnya ‘sempurna’, ribuan jam pula ia sesali akan hasil yang ia dapatkan. Sampai akhirnya hari ini, ia lelah terus berlari dan berhenti, memilih untuk berjuang untuk menyerah. Karena semuanya terasa hampa dan tidak ada ujungnya.

Dan kemudian, saya membandingkan dengan kisah hidup seorang wanita muda, yang mungkin di mata dunia memalukan, menyedihkan, dan diasingkan karena ‘kegilaan’nya.

Meet Emily Rose, 20 years old young girl, tokoh wanita di sebuah film berjudul EXORCISM. She was a sweet and smart girl, dengan begitu banyak pilihan yang terhampar di depannya untuk masa depannya. Keluarga yang mencintainya, beasiswa yang ia dapat dari universitas yang diinginkannya, dan seorang kekasih yang mengasihinya.Sampai satu malam, dalam tidurnya di kamar asramanya ia mulai diganggu oleh iblis. Setan-setan itu merasuki tubuhnya sehingga ia menjadi seperti orang dengan kelainan jiwa. Penuh dengan ketakutan, halusinasi, dan kecenderungan untuk menyakiti tubuhnya sendiri karena dorongan yang begitu kuat dari dalam tubuhnya.

Ia harus meninggalkan sekolahnya karena itu, dan membuat keluarganya begitu sedih dan ketakutan atas kejadian ini.

Yang menarik adalah… ada satu malam setelah ia mengalami manifestasi yang begitu dasyat dari 6 setan yang ada dalam tubuhnya, dalam tidurnya… ia seperti dibawa ke satu padang rumput. Ia melihat dirinya keluar dari tubuhnya yang sudah penuh luka dan begitu menyedihkan akibat luka-luka yang ada di tubuhnya. Ia melihat Bunda Maria, dan Emily bertanya apa maksud dari semua kejadian ini? Dan yang terlebih penting untuknya,”Why Me?”

Dan waktu itu Bunda berkata, supaya dunia percaya adanya dunia yang begitu gelap yaitu dunia setan, dan membawa dunia kepada Tuhan. Yang menarik adalah pertanyaan Bunda Maria,bahwa Emily boleh memilih, tetap ada dalam tubuhnya dengan setan-setan itu, tetap tersiksa dan sakit, tetapi menjadi berkat, atau ia bisa sembuh dan menjalani hidupnya secara normal seperti sedia kala…

Dan Emily memilih… tetap tinggal dalam tubuhnya, sampai kematiannya. Tetapi saya percaya Tuhan melihat sikap dan kerinduan hatinya untuk menjadi terang Tuhan ditengah kegelapan yang ada dalam tubuhnya.

Apapun fakta dari film ini, saya belajar satu hal… Begitu Allah mencintai manusia, sehingga Ia selalu memberikan pilihan kepada kita untuk menjalani hidup ini.

Emily meninggal dunia, tetapi ia memilih untuk menjadi berkat.

And here i am, with many good options in life (Thank God for that!)… dapatkan saya memilih satu keputusan yang baik dan benar untuk memenuhi rencana Allah dalam kehidupan saya?

Kadang pilihan mengikuti jalan Tuhan menjadi begitu berat dan tidak masuk akal. Tetapi hidup kita diselamatkan dari sesuatu yang tidak masuk akal manusia, dan tetap… Yesus memutuskan untuk disiksa, didera, dan disalibkan untuk kita karena cintaNya kepada kita. Satu keputusan yang juga tidak masuk akal.

Bila hidup anda saat ini ada di persimpangan, begitu banyak jalan yang dipilih… bersyukurlah… anda masih bisa memilih dan berdoalah supaya hanya keputusan yang sesuai dengan kehendakNya yang terjadi dalam kehidupan anda…

Bila hidup anda saat ini seperti buntu, dan tidak ada pilihan… bersyukurlah… hari ini anda masih kuat ‘berdiri’ dan berharap.

Dan bila hidup anda saat ini rasanya sudah tidak dapat diharapkan lagi,… tetaplah berharap…

PERCAYALAH… seperti Tuhan Yesus bangkit di hari ke 3 kematianNya, di saat semuanya sudah tidak mungkin dan tidak dapay diharapkan lagi, Ia tetap Allah yang bangkit dan menang atas kematianNya. Kegelapan tidak dapat menguasaiNya…

Karena Yesus kita bisa percaya, bahwa SELALU ADA hari ke 3 untuk anak-anak yang menggantungkan harapannya kepada Tuhan.

Selalu ada berkat atas pilihan-pilihan ketaatan yang kita buat untuk menyenangkan hati Tuhan.

Dan selalu ada rahmat kekuatan yang menyertai setiap keputusan hidup kita, bila kita membawa keputusan itu hari demi hari ke dalam penyelenggaraan kasih Tuhan.

And I choose to be chosen as a winner… in this battle of life… Only for His Glory

“Cause all things work for good for those who love God, who are called according to His purpose…” (Roma 8:28)

(lia b.ariefano)

A Woman without a Face

Berhadapan dengan begitu banyak wanita akhir-akhir ini, mendengar kehidupan mereka, ada dalam hari-hari mereka, dan terlebih dari itu… kehidupan saya sendiri sebagai seorang wanita, membawa saya pada banyak hal yang mencengangkan.

Latar belakang saya pribadi, sebagai seorang anak wanita yang memiliki ‘self esteem’ yang sangat rendah… membuat cerita dibawah ini seperti membuat hati ini bersyukur… bahwa saya hidup mengenal dan menyadari kehadiran Allah dalam hidup saya.

Seorang wanita bernama Carolyn Thomas. Ia dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa saja. Ayah ibunya tidak berpisah, tetapi juga ada dalam rumah tangga yang tidak terlalu harmonis. Ia memiliki teman-teman, tetapi bukan tipe seorang wanita yang ‘gaul’ dan punya kerpercayaan diri yang tinggi.

Ia mendambakan cinta dari lawan jenisnya, seperti remaja-remaja lainnya. Tetapi ia tidak mendapatkannya di usia remajanya. Ini membuat dia tambah merasa rendah diri (padahal waktu saya lihat fotonya, dia cukup cantik dan punya senyum yang bagus!!!)

Sampai di pertengahan masa kuliahnya ia bertemu dengan seorang lelaki yang membuat hatinya bergetar. Mereka saling jatuh cinta, kemudian memutuskan untuk berpacaran, tidak lama kemudian, sang pria pindah ke rumah Carolyn. Semua terasa indah waktu itu, biarpun Carolyn menyadari… pria yang ia cintai ini sangat cemburuan, banyak melarang aktivitasnya, tidak memperbolehkan ia tampil dengan busana yang biasa ia kenakan, tidak memperbolehkan ia bertemu dengan orang lain kecuali keluarga intinya.

Tetapi cinta dan rasa takut kehilangan pria, membuat Carolyn ‘membaca’ seluruh sikap ini… sebagai Bahasa Kasih dari kekasihnya yang takut kehilangan dirinya. Biarpun ia merasa terkekang dengan semua ini, tapi ia menjalaninya… karena merasa ‘this is the best she got!’

Sampai pada satu malam, sepulang dari kerja, kekasih Carolyn masuk ke dalam apartemen mereka dengan kalap. Ia berprasangka… ada lelaki lain yang ad adi dalam apartemen itu. Carolyn bersikukuh, tidak ada orang lain dalam apartemen itu selain ia dan ibunya yang waktu itu tinggal di situ bersama dengan mereka.

Tetapi kekasih Carolyn tidak percaya, menggeledah seluruh rumah dengan kalap, dan akhirnya… karena ia tidak menemukan siapapun… ia mengambil pistol, dan mengarahkannya kepada Carolyn dan ibunya. Mereka sempat bergelut untuk melawan, sampai akhirnya pistol tertembak ke arah Carolyn, dan tak lama kemudian letusan berikutnya menumbangkan ibu Carolyn yang waktu itu juga berusaha menolong anaknya.

3 hari kemudian, di Rumah Sakit… Carolyn sadar, dan menanyakan ibunya… yang sudah meninggal. Ia begitu hancur… mengetahui orang yang ia cintai membunuh seseorang yang menjadi hidupnya. Tetapi penyadaran berikutnya… membuat ia dikenal sebagai Woman with No Face.

Setengah dari tulang wajahnya remuk. Hidungnya hancur, rahang atasnya ‘kosong’ 1 bola matanya hancur sehingga kelopak matanya harus dirapatkan satu sama lain, tulang wajah sisi kanannya remuk sehingga membuat ia tampil hanya dengan tutupan kulit. Ia harus bernafas dari lubang yang dibuat di lehernya, dan makan dari infus yang dipasangkan di klep yang ditanam di pusarnya. Carolyn begitu menyukai anak-anak, tetapi hal yang paling menyedihkan baginya sekarang adalah… saat anak-anak itu berlari ke ibu mereka dan mengatakan bahwa Carolyn menakut-nakuti mereka.

Cerita di atas saya dapatkan dari Oprah Winfrey Show pagi ini. Dalam tayangan persidangan kekasih Carolyn yang mengundang carolyn sebagai saksi, Carolyn sempat membacakan statement yang ia berikan untuk ‘mantan’ kekasihnya itu. Bahwa ia… mengampuni kekasihnya itu. Dalam kata-katanya… ada satu kalimat yang sangat menyemangati, ‘The world can know me as a woman without a face, but i know in my heart… I am a survivor’

Di sisi lain, saya melihat… Oprah selalu mengundang orang-orang yang dia anggap cerita hidupnya dapat menjadi pelajaran bagi orang lain (khususnya sesama wanita). Dan saat itu adalah penampilan Carolyn yang pertama di depan publik. Carolyn mengatakan ia mau melakukan ini karena percaya bahwa Tuhan memberinya waktu lebih lama untuk hidup dan memberkati orang lain.

Pribadi Carolyn dari seseorang yang sangat rendah diri, memiliki gambar diri yang buruk… berubah menjadi seoranga Carolyn dengan sosok tak berwajah… tetapi lewat keputusannya untuk bangkit, ia menunjukkan kepada dunia, bukan dunia yang memberikan harga atas hidupnya, tetapi Tuhan yang memberikan harga dan makna dalam hidupnya.

Kadang kita hidup ada dalam lumpur gambar diri, penerimaan diri yang begitu buruk, tanpa menyadari bahwa setiap saat dalam hidup kita berarti untuk menjadi pelajaran bagi orang lain. Kita berpegang pada sesuatu di dunia ini yang kita anggap penyelamat kita, sesuatu/seseorang yang dapat memuaskan diri kita, begitu terikatnya kita kepada hal-hal/sosok itu… sehingga kita melupakan bahwa tanpa semuanya itu… diri ini tetap berharga.

Kadang sesuatu yang begitu berat harus datang menghampiri hidup kita (seperti peristiwa penembakan atas Carolyn dan ibunya), untuk membuat kita sadar akan keterikatan-keterikatan kita selama ini.

Mari bersama, kita menyadari… lumpur apapun yang menarik kita ke dalam kehidupan yang lebih parah, menarik kita menjauh dari cinta Allah… membuat kita binasa. Tetapi mari berjuang… keluar dari lumpur ketakutan, kekhawatiran, keterikatan (baik terhadap materi, pekerjaan, sex, pasangan, apapun itu..), dan memberanikan diri melangkah dengan percaya bahwa hidup ini diciptakan bukan tanpa alasan, kejadian hidup kita terjadi bukan tanpa maksud… dan semuanya itu akan menjadi baik… bila kita membawanya bersama Tuhan.

Maybe we are women without ‘a face’ in the world’s point of view,
… but we are women with amazing gift of love and life from God.
We are The Women of God’s survivors.

_________________________________________________________

Best Wishes,

Lia Brasali Ariefano

I am not the savior of the world…

Saya beranjak dari depan TV setelah nonton satu film seri yang STRONG MEDICINE. Nonton adalah hobby saya, dan kita musti pakai semua hobby kita jadi berkat buat sesama khan…? Right girls…?

Film seri ini menceritakan tentang hari-hari 2 dokter wanita dalam pekerjaannya, terutama hubungannya dengan pasien-pasiennya.

Banyak sekali kasus wanita diangkat dalam seri ini. Ini yang membuat saya berusaha tidak melewatkan 2 hal yang menjadi passion dalam hati saya… dunia kedokteran dan wanita…

Dalam seri ini diceritakan salah satu pemeran utamanya bernama dr.Lou, mendapati seorang wanita gelandangan yang sedang berteriak-teriak di pinggir jalan dengan mata kiri yang terlihat merah, basah, dan sudah seperti bernanah karena terinfeksi sesuatu.

Dr.Lou digambarkan sebagai seorang dokter yang sangat mempunyai hati terhadap banyak kaum miskin dan yang lemah.

Dia membawa wanita muda yang malang ini masuk ke dalam RS dan memberikan terapi yang terbaik baik wanita gelandangan ini.

Tetapi dr.Lou mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan wanita ini, karena wanita ini sangat gelisah, ketakutan, dan sangat curiga akan setiap tindakan yang ingin dilakukan terhadapnya. Dalam pemeriksaan lanjutan didapati bahwa wanita ini menderita Schizophrenic (arti: gangguan mental), dan dr.Lou memberikan pengobatan terbaik untuk pasiennya itu.

Karena alasan biaya, pihak management RS tidak mengijinkan pemberian obat itu dan menggantinya dengan obat yang lain. Perjuangan dr.Lou ditentang oleh banyak pihak di RS tersebut, sampai akhirnya perjuangan ini terhenti ketika mendapati pasien wanita dr.Lou ini harus dipindahkan dari shelter tempat ia ditampung ke dalam sel penjara karena mengamuk dan membunuh teman yang tinggal 1 shelter dengannya.

Rasa putus asa dan penyesalan membuat dr.Lou begitu hancur merasa dirinya tidak dapat menyelamatkan 1 jiwa.

Bahkan ketika dr.Lou mengunjunginya di dalam sel penjara atas ijin pengacaranya, dan membujuk wanita ini untuk memulai lagi pengobatannya, wanita ini sudah tidak dapat diajak berkomunikasi sama sekali dan jatuh dalam tingkat gangguan mental yang lebih dalam.

Saat itu dr.Lou sadar… Ia tidak dapat menyelamatkan seluruh dunia !

Mungkin anda pernah ada dalam situasi ini. Di mana hati rasanya begitu ingin menjangkau seseorang/ memperbaiki sebuah situasi atau keadaan.

Tapi kenyataan yang ada membuat kita harus menyadari kelemahan dan keterbatasan kita akan banyak hal dan menelan semuanya dengan hati yang hancur.

Saya teringat perasaan itu, saat saya harus mendapati beberapa pasien meninggal dalam perawatan saya saat saya sedang dalam masa belajar saya di RS dulu. Dan rasa itu membekas dalam hati saya. Di mana kita ngga dapat berbuat apa-apa saat maut datang menjemput, atau bahkan saat pilihan orang itu membuat kita tidak dapat melakukan apa yang ingin kita coba lakukan…

Saya teringat waktu saya harus menghadapi satu kenyataan, di mana ada teman di sekitar saya hamil sebelum waktunya, tanpa pernikahan, dan tanpa masa depan karena keadaan hubungan dengan pasangannya yang sangat labil. Saat itu rasanya ingin menyediakan diri, untuk mengadopsi anak yang ia kandung, sehingga ia tidak perlu berjauhan dengan anaknya. Tetapi saat ia melahirkan usia pernikahan saya dan suami saya belum genap 1 minggu, dan masih begitu banyak hal yang harus dibereskan sebelum mengambil tanggung jawab besar seperti itu.

Saya teringat harus mendapati seorang adik dari komunitas kami meninggal karena drugs… dan saya ada di sana, hanya bisa terdiam dan memegang tangannya sampai hembusan nafasnya yang terakhir.

Saat itu saya sadar… Saya tidak dapat menyelamatkan seluruh dunia !

Apa rasa hati Tuhan… saat ia mendapati pengorbananNya di atas kayu salib di pertanyakan dan di tolak ?
I can not save the whole world… but HE CAN !

Saya saja yang tidak bisa menyelamatkan dunia merasa terluka bila ada yang tidak dapat terjangkau oleh kelemahan saya… apalagi DIA.

Tuhan yang sebenarnya sanggup, tidak memiliki kelemahan dan kedosaan, mampu berbuat apapun, tapi kadang tertolak oleh kehendak bebas manusia, yang berpikir… bahwa ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan ia lebih tahu apa yang terbaik bagi dirinya.

Dear CatWoGers…

Bila saat ini anda dalam keadaan di mana semuanya terasa begitu tidak mungkin di selamatkan.

Anda berjuang dan anda tahu… anda akan mendekati garis batas kekuatan anda dan saat itu rasanya tidak ada lagi kekuatan berlari… karena anda sudah sampai di garis batas kekuatan terakhir…

Apapun garis batas itu… garis batas kekuatan, garis batas iman, garis batas kesabaran, garis batas pengharapan, garis batas penantian, garis batas apapun itu…

And you are ready say ‘Enough is enough !’ or “I can’t do this anymore!’ or anything…

Remember one thing… Jesus is the savior of the World. Not you are…! J

So… let Him do HIS job. He already did it 2000 years ago.. and let HIM do it once again today!

Give Him a change… you’ll never know how much it means to Him.

Let Him fix your life or some one’s life you care about…

Cause one more time… HE is the savior of the world. He is the savior of my life, your life, our love one’s life, and every one’s life in this world.

“For God so loved the world that HE gave HIS only Son, so that everyone who believes in Him may not perish but may have eternal life.” (John 3:16)

(lia b.ariefano)

What If HE Stops?

Kemarin baru saja saya mem posting artikel… bagaimana memaafkan dan kelupakan.

Baru-baru ini saya teringat satu konflik yang ada di dalam hati saya, yang membuat saya begitu bergumul, dan merasa lelah sekali karena perasaan sulit mengampuni yang ada di dalam hati saya. Perasaan ini sudah bernanah dan membusuk dalam hati saya bertahun-tahun yang lalu.

Rahmat Tuhan memulihkan hati saya 2 tahun yang lalu. Tapi proses penyembuhan dari luka yang sudah bernanah bertahun-tahun, belum dapat pulih dengan sempurna begitu saja. Rasa nyeri nya kadang masih terasa sampai hari ini. Dan efeknya hari ini, setelah saya menikah, efek luka itu juga menyakiti orang disekitar saya, terutama suami saya.

Pagi ini, saya melihat beberapa cerita kehidupan. Seorang suami dan ayah dari 2 anak yang hidup berbahagia selama ini. Seorang anak wanita yang berusia 4 tahun dan seorang anak laki-laki bernama Tyler yang berusia 6 bulan. Tyler begitu lucu dan mirip dengan ayahnya. Tyler sangat disayangi oleh orang tua dan kakak perempuannya.

Setiap pagi sang ayah bertugas mengantarkan anak perempuannya ke Day Care, sedang anak laki-lakinya bersama ibunya. Setiap pagi menjadi pagi yang selalu hectic bagi pasangan muda ini. Sampai satu pagi di hari Senin, sang ayah bertukar tugas dengan istrinya, ia bertugas membawa bayi laki-lakinya untuk di drop di rumah ibunya karena sang istri harus menemani anak perempuannya ke sekolah. Sang ayah menaruh Tyler di kursi belakang dengan kursi bayinya dan segera bergegas ke kantor karena presentasi dan meeting klien yang sudah menunggunya. It will be long busy day for him.

Kemudian ia segera menuju ke kantornya, turun dari mobilnya dan langsung mengerjakan tugasnya. Sampai 3 jam kemudian, seseorang masuk ke dalam kantor sambil berteriak-teriak memanggilnya, dan berkata,”Your baby… your baby…!!!” Sesaat sang ayah belum mengerti maksudnya, sampai orang ini berkata lagi… “TylerTyler…!”

Dalam sekejab ia langsung berlari menuju mobilnya, dan mendapati Tyler masih ada di kursi belakangnya, terlihat tidur seperti boneka, tetapi berwarna kebiruan. Tyler ada di jok belakang mobil, dengan jendela tertutup, terikat di seat belt kursi bayinya, dibawah sengatan matahati musin panas yang mencapai 40C.

Sampai hari ini sang ayah belum dapat memaafkan dirinya. Sang istri mengampuninya, tetapi pria ini belum dapat memaafkan dirinya. Memang kadang lebih sulit memaafkan diri sendiri, dari pada memaafkan orang lain…

And again… one young woman from Venuzuela, berumur 20 tahun. Cantik, berwajah khas Venuzuela, meninggalkan Negara nya untuk belajar di Amerika. Ia menikmati masa sekolahnya, sampai satu malam… dalam perjalanan ke sebuah pesta bersama 2 sahabat wanitanya, mereka tertabrak sebuah mobil dengan pengendara muda yang setengah mabuk. Mobil mereka terbakar, 2 sahabatnya tewas seketika, dan ia terjebak dalam kobaran api yang membakar mobil tersebut.

Seluruh tubuhnya terbakar. 10 bulan ia ada dalam keadaan koma, dan setelah itu menjalani lebih dari 50 operasi karena ia kehilangan telinga, seluruh kulit kepala yang rusak sehingga tidak ada satu sel rambutpun yang mampu bertahan hidup. Mata yang rusak, yang kemudian bisa melihat lagi denga transplantasi kornea yang dilakukannya. 2 lubang hidung yang mirip seperti gorilla dan tidak sama besar. Ia menjadi seorang monster… Anak-anak berlari saat melihatnya, dan orang-orang di sekelilingnya menjauhi dia.

Tapi yang mengangumkan dari wanita muda ini adalah… kemampuannya untuk mengampuni dan mensyukuri keberadaannya. Dalam interview itu, ibu dari anak muda yang menabrak dia hadir, dan saat diberi waktu untuk mengatakan sesuatu kepadanya, ibu ini tidak dapat berkata-kata kecuali menangis dan meminta maaf. Dan ‘monster’ wanita itu memeluk ibu dari orang yang menabraknya dengan berkata,”It’s okay… It’s really okay…” disertai dengan tepukan tangan seluruh penonton yang hadir di studio itu, dan cucuran air mata haru melihat sebuat hati yang mau memaafkan menyembuhkan seseorang.

Saat ditanya kenapa wanita ini mau memaafkan penabrak nya yang setengah mabuk itu… karena itu adalah tindakan yang bertanggung jawab… Wanita muda ini hanya mengatakan,” I am happy I can life, and forgiving is good for the soul.”

What an amazing lady…

Dear all Catholic Women of God out there,

Forgiving is good for the soul. Kadang hal ini tidak terpikirkan oleh kita. Kalau memaafkan kadang diperlukan bukan untuk kebaikan orang yang menyakiti kita, tetapi kebaikan diri kita sendiri. Tetapi rasanya pergumulan menuju ke arah sana tidak kunjung henti.

Kadang saya bertanya, apa jadinya kalau Tuhan kita berhenti memaafkan kita? Apa jadinya hidup kita kalau pada saat jalan salibnya Tuhan Yesus ‘mogok’ jalan di tengah jalan dan berkata,”Udahan ahhh… cukup sampe di sini… Saya sudah cape dengan ini semua…” Apa jadinya dunia ini, kalau Allah Bapa di surga berhenti mengalirkan belas kasihaaNya atas bumi ini?

Yes… What If He Stops…?

Berita buruknya adalah… kita sering gagal untuk melangkah dalam pengampunan. Saya pribadi gagal berkali-kali.

Tapi berita bainya adalah… HE NEVER FAILS! Seperti Dia berhasil sampai di atas kayu salib dan membayar lunas semuanya, Dia tidak pernah gagal mengampuni kita, seberapapun beratnya dosa kita.

Menjadi seorang istri, ibu, atau apapun keadaan kita saat ini rasanya tidak akan lepas dari keputusan ini. Karena pada akhirnya mengampuni menjadi sebuah keputusan. Konskwensi dari cinta, dan tanda nyata dari cinta. Dan tidak ada jalan lain, untuk menimba kekuatan selain kepada sang empunya Kasih dan Pengampunan. Ia yang selalu mengampuni dan memberi kesempatan baru…

Let’s bless others with our forgiveness, let’s love others with our decision…

(lia b.ariefano)

My Life as A "CHUTZPAH AWARD"

Mendapati diri saya termenung pagi ini, teringat akan satu scene cerita dari film “Beyond the Borders” yang saya tonton bersama suami dan beberapa teman beberapa hari yang lalu. Film itu mengambil setting waktu kira-kira 10 tahun lalu, saat dunia begitu gencar-gencarnya mengangkat Afrika, khususnya Ethiopia sebagai satu negara yang dilanda kelaparan.

Melihat betapa orang-orang jatuh dalam bencana kelaparan, karena kemiskinan, gagalnya panen, tidak adanya air, dan sarana kesehatan… betapa satu per satu dari mereka berjuang demi hidup, hidup yang ingin mereka pertahankan diantara seluruh bencana itu. Hidup yang banyak di sia-siakan oleh orang-orang yang bergelimangan makanan di sekelilingnya. Saat itu saya benar-benar merasa… menjadi orang yang gagal dan tidak mempunyai arti hidup. Saya penuh dengan kecukupan, tapi tidak mengerti arti hidup dengan tidak bersyukur atas apa yang ada.

And today… I watched one witness of life again. Meet a 20 years old young girl with an unbelievable childhood, yet she survived and cherish her life now. Ia lahir dengan orang tua yang drug addict, selama masa kecilnya, ia tidak pernah mendapat kasih sayang dan perawatan dari orang tuanya. Rumahnya penuh dengan sampah, dan kotoran makanan dan manusia yang tidak pernah dibersihkan. Ia hidup sendirian, dengan orang tua yang setiap hari ada dalam dunianya sendiri, terbaring di tempat tidur, kadang dalam keadaan yang menyedihkan karena ‘sakauw’.

Dalam kesehariannya, pernah ia merasakan pahitnya kokain di ujung sendok makanannya, karena tidak pernah dibersihkan. Saat umur 8 tahun, ia beberapa kali tertusuk jarum suntik bekas pakai dari orang tuanya. Yang membuat ia harus menjalani HIV test pada umur 11 tahun.

Saat ia berumur 12 tahun, ayahnya meninggalkan ia dan ibunya, dalam keadaan ibunya begitu ketagihan dengan AIDS yang dideritanya dan menderita schizophrenia (arti: penyakit jiwa/ gangguan mental). Umur 15 tahun ia mendapati ibunya meninggal dan tidak mempunyai uang sepeserpun untuk menguburkan ibunya.

Setelah itu, jalanan menjadi rumahnya, dan satu hari, ia terbangun di pinggir jalan, dengan menyadari ia harus melanjutkan sekolahnya. Dibantu oleh pemerintah dengan nilai akhir dari sekolahnya yang begitu baik, ia menghabiskan 4 tahun Senior High School dalam waktu 2 tahun dengan mengambil sekolah pagi dan sore. Ia bekerja diantara waktu itu, memakai lorong-lorong kereta sebagai tempat belajarnya, dan memakai pinggiran jalan sebagai tenpat tidurnya. Setalah 2 tahun dilalui, ia diterima di Harvard dengan beasiswa penuh dan sekarang sedang menjalani pendidikan, dengan tak henti-hentinya bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya.

Kedua peristiwa di atas membuat saya merenungkan hidup saya, dan mengajak anda semua juga merenungkan hidup anda. And really… Jesus makes my life and theirs as a “CHUTZPAH AWARD” from Him. Chutzpah berasal dari bahasa Ibrani yang berarti: nerve (keberanian), courage (keberanian, keteguhan hati), Bravery (keberanian, daya juang). Mungkin kehidupan orang-orang kelaparan diEthiopia itu berakhir dengan kematian, tetapi salah satu kata-kata di film Patch Adam yang begitu disukai oleh suami saya mengatakan,”Kematian bukan kekalahan, tetapi bagaimana kita membuat hidup kita berarti itu menjadi satu kemenangan hidup.”

Yesus membuat hidup kita berarti. Melewati apapun yang saya dan anda alami saat ini. Mari kita bersama belajar, untuk membuat hidup yang singkat ini berarti. Mungkin kita sedang berjalan melalui lembah dengan air mata, atau terbang diantara bintang-bintang dengan tersenyum gembira. Mungkin ada di dasar jurang dengan kegagalan dan rasa malu yang mendalam, atau seperti berdiri tegak dengan kebanggaan penuh sambil memegang bendera kemenangan di puncak Mount Everest…

Apapun yang terjadi saat ini…

Let’s cherish the love, and celebrate the life we have… because He already gave HIS life and makes our life as a CHUTZPAH AWARD…

November 10, 2005
(lia b.ariefano)