Seminggu yang lalu, tepatnya 13 Februarin 2011, saya kehilangan seseorang.
Seseorang yang secara fisik tidak terlalu dekat dengan saya, tetapi saya selalu tahu kapanpun saya membutuhkan dia, dia akan hadir secara fisik.
Sahabat yang memberi saya kemudahan dalam berteman. Bersahabat dengan nya terasa begitu mudah, aman, ngga pusing karena dia tidak pernah berprasangka dan tidak mudah tersinggung.
Sosok yang mengajari saya apa artinya berjuang dan mempersembahkann silih dalam senyum dan tutup mulutnya.
Pribadi yang mengingatkan saya akan arti memberi. Bahkan saat kesakitan dan nyeri nya ia tetap memberikan dirinya.
Ia tidak pernah menggembar-gemborkan hubungannya dengan Tuhan, karunia-karunianya, tetapi memancarkan kasih Tuhan lewat hidupnya, seberapapun ia disakiti dan dikecewakan.
Untuk semua itu, tidak mungkin saya tidak kehilangan.
Tetapi di balik semua itu, di saat ia sudah benar-benar tutup mulut, tutup mata. Waktu ia sudah menutup semua inderanya dan saat ini bersatu dengan plankton-plankton air laut mengarungi samudra ke seluruh dunia, ia masih terus mengajarkan saya.
Tidak ada alasan untuk tidak berbagi diri dengan orang lain. Tidak ada alasan untuk tidak belajar memberi. Bagaimanapun keadaanmu.
Siapa yang tahu beberapa hari sebelum kematiannya, ia masih membantu salah satu sahabat yang juga sedang berjuang melawan kanker untuk mendapatkan seorang Romo yang bisa memberikannya sakramen perminyakan.
Ia memberikan uang sumbangan yang tadinya ditujukan untuknya kepada seorang teman sekamar di RSCM yang tidak mampu.
Saat semuanya binasa, apa yang kau tinggalkan di dunia ini menjadi bukti jejas kehidupanmu.
Sahabatku ini telah pergi, tetapi dari waktu ke waktu sampai detik ini rasa kehilangan itu ada (paling tidak untuk ku). Selalu ada alasan untuk mengenangnya karena ia meninggalkan tapak jejaknya di dunia ini.
Saat kita terbujur kaku di peti mati kita, yang ada tinggal pertanyaan: “Seperti apa engkau mau dikenang?”
Bila ada sebaris kalimat yang akan dituliskan di nisan kita, kalimat seperti apa yang kita ingin dituliskan untuk kita.
Saya masih harus belajar banyak dari kehidupan. Saya bukan orang suci, biarpun saya bermimpi untuk hidup kudus dan mengejar kekudusan itu. Saya belajar dari sahabat ku ini untuk tidak menyerah. Saya memperjuangkan keselamatan dengan takut dan gentar dengan iman percaya belas kasihan Allah yang membuat saya berani melangkah dalam hidup ini.
“Sebab bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Thank you so much for every thing you teached me through your witness of life.
Good bye for real my dear sister and friend Mungky D.Kusuma.
See you in heaven.
-adik dan sahabatmu di peziarahan dunia-
