RSS

Monthly Archives: July 2008

Motherhood… Brain Damage? (a reflection)


Beberapa minggu yang lalu, gw kumpul2 sama teman2 SMP yang udah 20 tahun ngga ketemu (gooossshhh… sound so olddd… 20 years… 20 tahun yang lalu ud bisa pacaran… hehehe…), lucu juga sih… ketemu-ketemu lagi semuanya ud berwajah lebih hhhhmmm… ‘bijaksana’ di bandingkan 20 tahun yang lalu… ya iya laaahhh… (masa ya iya dong.. hihihihi… *garing*)

Beberapa di antara kami sudah punya anak2 yang sebentar lagi ABG. Dari percakapan di antara kami, ada satu kalimat yang dilontarkan salah satu teman gw soal kehidupannya sekarang… 20tahun sejak lulus SMP, dan mungkin 10 tahun motherhood. Kata dia, “Sekarang gw ud susah mikir, mertua gw kadang suka godain.. 2+8 berapa? (sambil dia ekspresiin ngitung pake jarinya), gw ud bingung jawabnya…” hehehehe… Saat itu gw ketawa kenceng…
Tapi dalam hati gw mikir… Aduuuhh.. sampai segitunyakah kehidupan istri-istri yang hanya di rumah urus suami dan anak?
Sampai segitukah kehidupan motherhood yang ‘jauh’ dari kegiatan-kegiatan yang bersifat sosialisasi produktif dan ngga cuma gosip dan ngomongin hari2 doang?

Banyak diantara teman-teman gw, ibu-ibu muda yang sangat produktif. Temen gw Anast misalnya, dia bekerja dari pagi sampai sore, tapi masih bisa atur waktu buat suami, anak, ortu, mertua, dan kadang pelayanan. Dan ngobrol sama dia ngga melulu soal anak dan suaminya (biarpun memang dominasi pasti soal itu… ya pastilah… org itu hidupnya dia…)
Tapi ada teman gw satu lagi yang stay di rumah tetapi akhirnya menjadi seseorang yang jauuuuhhhh… sekali dari teman yang gw kenal semasa dia belum menikah. Dari hamil dia sudah sering bilang, “Sejak hamil otak gw jadi bego… kayaknya semua diserap anak gw…”
Hhhhhmmm… sejak itu memang dia stay at home mom, tetapi dipenuhi dengan kekhawatiran akan anak-anaknya, sangat labil, dan mungkiiiinnnn… dia mempercayai apa yang dikatakannya… dan jadi ‘bego’ beneran… :-)

Semuanya itu membuat gw berpikir… hidup kita selalu berubah. Sebagai wanita, kadang perubahan itu demikian drastisnya… sehinggga yang terjadi bukan hanya perubahan keadaan, tetapi juga perubahan fisik dan mental. Yang kadang terjadi di luar yang kita bayangkan.
Tetapi itu hebatnya seorang wanita… Mereka mampu bertahan melalui itu semua. Dan dari waktu ke waktu begitu semua wanita yang ‘pass on’ the legacy ke anak-anak mereka atau ke generasi yang ada di bawah mereka. Dan apa yang mereka percayai, itulah yang mereka turunkan sebagai legacy ke anak-anak mereka.

So… mothers… women… friends of life… my sisters…
Lets make a history of our life. Lets make a great legacy to our next generation.
Ada satu ayat dalam Kitab Suci yang berkata: “Terjadilah sesuai imanmu…!”
Apa yang kita imani akan diri kita saat ini?
Bagaimana kita memandang diri kita saat ini?
Percayalah… its not only about yourself, because we live to share.
Dan apa yang kita bagi, adalah apa yang kita percayai.
Its really a one find day when God created us. Not only fine, but great and perfect day…! So.. we are perfect friends.. :-)
Dan gw percaya, ke ‘perfect’an itu akan menjadi tambah sempurna saat kita membagikannya kepada sekeliling kita.
Don’t ruin your perfectness by believing something thats not real.
Karena semua kesempurnaan tinggal tetap sampai hari kita menghadap kembali ke pencipta kita. Dan motherhood tidak merampas itu semua… bahkan menambahkan semuanya itu…

Motherhood memberikan kesempurnaan atas jati diri wanita
Motherhood memberikan kesempatan untuk berbagi kesempurnaan
Motherhood memberikan privilage untuk justru mempercayai bahwa makin hari kita makin sempurna karena diberi kesempatan untuk meneruskan legacy kita di dunia ini.

So.. Mothers… celebrate your days…
Celebrate your calling
Celebrate your body, mind, and spirit
Celebrate love and life!

PS. I am not a mother yet… but the spirit of motherhood stays in me. And I am happy with this spirit whos nurture me with so many great things that will happend to me. Amen.

Di bawah ini ada satu artikel yang menarik. Please enjoy your reading:

Kapasitas Otak Kita Hanya Dipakai 1 Persen

Drektur Brainic Institute yang juga pengarang buku Be an Absolute Genius, Sutanto Windura mengatakan, potensi dan kemampuan otak manusia pada dasarnya sama. Bahkan, semua anak adalah genius absolut.

“Tidak ada anak yang bodoh, hanya sebagian besar otak kita tidak terlatih. Bayangkan, pada umumnya potensi dan kapasitas otak manusia hanya dipakai kurang dari 1 persen, sisanya tidak pernah dipakai dan dilatih dengan baik,” kata Sutanto dalam diskusi dan bedah buku terbatas Be an Absolute Genius di Toko Buku Gramedia, Jln. Merdeka Bandung, Sabtu (24/5).

Menurut Sutanto, jika saja manusia menggunakan 8 persen kapasitas dan potensi otaknya, dia akan menjadi profesor dan ahli dalam berbagai bidang. Dia pun akan mampu menguasai sedikitnya 18 bahasa asing.

Sutanto yang kerap disebut sebagai pelatih otak ini menuturkan, kecerdasan seseorang sebenarnya tidak ditentukan oleh IQ yang tinggi. Salah besar jika hanya anak ber-IQ tinggi yang dikatakan genius.

“Apakah dengan IQ tinggi dia bisa berhasil dalam hidupnya? Berhasil dalam hal akademik mungkin sebab IQ hanya ditentukan oleh dua elemen kecerdasan di dalam otak, yakni bahasa dan logika. Sementara secara keseluruhan, otak memiliki 8 elemen kecerdasan, termasuk kecerdasan bergaul, bergerak, dan lain-lain,” tuturnya.

Menurut Sutanto, semua orang bisa menjadi genius asalkan otaknya dikelola dengan baik. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri harus dijaga agar keduanya bisa bekerja secara seimbang. Otak pun harus dibiarkan bekerja secara alami sesuai dengan fungsi otak sebagaimana mestinya.

“Sistem pembelajaran di sekolah yang konvensional mayoritas hanya mengoptimalkan kerja otak kiri dengan menjejali materi pembelajaran tanpa diberi tahu bagaimana cara belajar,” ungkapnya.

Padahal, kata Sutanto dengan menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri maka hasil pembelajaran yang diperoleh akan maksimal. Keseimbangan antara kemampuan otak kiri dalam mengenal tulisan, bahasa, angka, menganalisis, logika, dan hitungan, dengan kemampuan kerja otak kanan yang mengatur konseptual, seni/musik, gambar, warna, emosi, imajinasi, dimensi, sampai melamun akan menghasilkan manusia genius.

“Tidak perlu terus memberikan materi pelajaran yang berjubel dan hanya menyuruh siswa untuk mencatat. Sesekali biarkan daya imajinasi anak berkembang. Lakukan berbagai cara pengajaran dan diselingi dengan praktik,” katanya.

Kendati demikian, Sutanto mengaku cukup sulit mengubah cara belajar konvensional di sekolah. Solusinya adalah orang tua harus tahu dan paham bagaimana mengoptimalkan kemampuan anak dalam belajar di rumah. Bagaimana agar anak menyukai belajar seperti halnya mereka menyukai Play Station dan nonton kartun.

“Libatkan selalu otak kanan dalam setiap pembelajaran anak. Analogkan dengan gambar, warna, dimensi, atau ruang sehingga lebih mudah diingat. Tekankan juga mengenai manfaat satu mata pelajaran jika anak sudah tidak suka dengan mata pelajaran tersebut. Ciptakan suasana positif dalam belajar, jadikan belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan,” tuturnya.

(A-157) pikiran Rakyat

 
1 Comment

Posted by on July 24, 2008 in articles

 

Tags: , ,

Dare to Change?


Dari kecil gw selalu jadi orang yang pengenannya banyak… tapi yang ada kemudian bosen dan kagak pernah selesai.
Les piano berhenti di tengah-tengah, thanks to my mom yang ud ‘maksa’ gw ngelanjutin sampe 8 tahun itupun on and off tapi manfaatnya gw rasakan sekarang.
Les tennis berhenti di tengah-tengah krn males bangun tidur siang, semangatnya cuma 1 semester krn ada cowok yang gw taksir waktu ABG, dia pergi, tennis pun berlalu hihihihi…
Les ballet yang ada cuma nge gedein betis gw (yang id gede ini…), berhenti di tahun ke 3 gara2 berasa minder ama badan temen2 gw yang cenderung langsing dan badan gw yang cenderung ‘langsung’ (mksd gw besar dari atas ampe bwah di setiap sisinya hehe…)
Pokoknya banyak yang lain deh…
Main game juga ngga pernah ampe abis… susah dikit… ganti game lain. Dulu gw mikirnya.. mau maen aja kok dibikin susah… matiin aja hehehe…

Karakter ini yang membuat gw khawatir… gw bisa ngga ya gw jadi mommy? Ntar gw bosen lagi ama anak gw… kan kagak bisa tengah2 gw kasih org lain/ gw telantarkan/ gw matiin (hihihihi… ngeri amat! emang nyamuk!)
Dan semakin dewasa, kayaknya ngga mungkin mempertahankan sifat bosenan gw ini.
Masak.. gw bosen ama suami gw.. kan repot!

Lama-lama hari demi hari banyak banget ya yang musti di improve dari diri gw (hhhmmm *thinking mode* garuk-garuk)

So help me God! :-)
 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in articles

 

Tags: ,

SAVOR THE COFFEE



A group of alumni, highly established in their careers, were talking
at a reunion and decided to go visit their old university professor,
now retired. During their visit the conversation soon turned into
complaints about stress in their work and lives.

Offering his guests coffee, the professor went to the kitchen and
returned with a large pot of coffee and an assortment of cups-
porcelain, plastic, glass, crystal, some plain looking, some
expensive, some exquisite, telling them to help themselves to the coffee.

When all the alumni had a cup of coffee in hand, the professor said:
“Notice that all of the nice looking, expensive cups were taken up,
leaving behind the plain and cheap ones. While it normal for you to
want only the best for yourselves, that is the source of your problems
and stress. Be assured that the cup itself adds no quality to the
coffee. In most cases it is just more expensive and in some cases even
hides what we drink.

What all of you really wanted was coffee, not the cup, but you
consciously went for the best cups.and then you began eyeing each
other’s cups.

Now consider this: Life is the coffee; your job, money, and position
in society are the cups. They are just tools to hold and contain Life.
The type of cup one has does not define, nor change the quality of
Life a person lives. Sometimes, by concentrating only on the cup, we
fail to enjoy the coffee God has provided us.”

God makes the coffee, man chooses the cups. The happiest people don’t
have the best of everything. They just make the best of everything.
Live simply. Love generously. Care deeply. Speak kindly.

(Author Unknown)

 
Leave a comment

Posted by on July 13, 2008 in articles

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,399 other followers