Things To Be Thanked for on 2009, Especially This Christmas!

22 12 2009

The reflection of mine… This Christmas.

Kalau diingat-ingat kayaknya udah lama banget saya ngga merasakan apa yang namanya ‘The Spirit of Christmas”.

Seinget saya, terakhir saya merasa happy adalah waktu malam natal dibangunin papa-mama saya, dan mendapati sepatu saya yanga terisi rumput sudah habis dimakan Rudolph (itu kata papa saya!) dan sebuah hadiah besar ada di sebelah sepatu saya sebagai ganti rumput itu. It was a beautiful memory of childhood! (*love you papa-mama*)

Setelah itu begitu banyak hal terjadi di bulan Desember, ditambah hubungan saya dengan Tuhan yang tidak terlalu bagus, spirit itu rasanya hilang tak berbekas. Bahkan setelah semuanya membaik, the spirit of Christmas tetap sulit untuk saya rasakan lagi (read: http://whittulipe.wordpress.com/2008/12/).

Tapi tahun ini adalah tahun yang luar biasa buat saya. Film-film bertema Natal di TV yang biasanya pengen saya langsung matiin saat saya lihat, kali ini tidak. Lagu Natal yang rasanya menyayat hati biarpun itu lagu Jingle Bells, tidak lagi terdengar seperti Jungle Bells seperti biasanya.

Entah apa yang terjadi… padahal tahu ini bisa dibilang adalah tahun yang ’sulit’ buat saya. Sulit on a positive way. Kerjaan yang lagi banyak-banyaknya, sekolah yang sampai tgl.23 Desember masih ujian, banyak penyangkalan diri dan perubahan yang saya lakukan tahun ini.

Tapi mungkin itu artinya Natal. Lahirnya seseorang yang memberi makna baru atas kehidupan kita. Seorang yang lahir ditengah kehinaan tetapi justru mendatangkan keselamatan.

I have so many things to thanked for this year:
1. I got a problem. A REAL problem di awal tahun. Tetapi hari ini masalah itu membuat saya menjadi seorang perempuan yang lebih baik.
2. My ‘little’ brother got married. I am so happy for him.
3. I got 1 semester scholarship! Sesuatu yang ngga pernah saya sangka, saya diterima di Program Biomedik FK UI bidang Onkology. Buat saya itu adalah one of my WOW moment (read: http://whittulipe.wordpress.com/2009/08/15/one-of-my-wow-moment/)
4. I was blessed with a beautiful trip to Austria (my dream land), and other countries on Central Europe. It was another blissful moment of my life.
5. Prepared a project called Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood with another 9 writers, and so many great women.
6. Start my school, lack of sleep, headache all day, and all the things i have to fight with the 36’s years old brain… gooosssshhhh :p
7. Met so many great people, priests, nuns at the Girisonta’s project, Perbukitan Manoreh.
8. Launching of Renungan Harian Wanita 2010, biarpun agak mepet, tapi rasanya ini salah satu faktor besar yang mempengaruhi my spirit of Christmas.
9. Celebrating the life of my parents, parents in law, my brother and his wife who’s expecting my nephew/niece to be, my friends, my new friends at Biomedik, my aunty Linda, my family, my community Domus Cordis, my work colleague, my patients, my Mindy.

10. Treasuring every moment with my hubby. He makes my days jingle all the way!  I love you more and more each day my love.

Last but of course not least: My Jesus who has a super duper truper druper patience and love to me.
To You my Lord and saviour, my Father, my beloved Holy spirit, my guardian angels, m

y saints: St.Elizabeth, St.Angela, beloved dad John Paul II, and all the saints and angels ‘up there’… Merry Christmas!

Without the presence of Jesus my life will not be the same. HE will make your life meaning

ful too… as HE already did (and always will do) it to me.

Merry Christmas every one!

Btw, I always dream of a white Christmas. :-)





You are What YOU ARE

20 12 2009

Karena aktifitas Renungan Harian Wanita (RHW) setahun belakangan ini, dan akhir-akhir ini makin di pertajam dengan sharing iman tentang keperempuanan dengan beberapa sahabat wanita (dan pria juga), saya kembali merefleksikan keberadaan saya di dunia ini.

Saya lahir di keluarga yang mencintai saya. Saya anak pertama yang pasti dinanti-nanti. Papa saya bisa dikatakan setengah ‘adore’ anak perempuannya. Dia adalah pria pertama dalam kehidupan saya yang membuat saya mengerti akan arti cinta seorang pria.

Mama saya adalah seorang perempuan hebat di mata saya. Mama dan papa saya berjuang dari bawah bersama-sama. Mereka jualan bakmi dipinggir jalan Rp.50,- semangkok untuk menghidupi mereka dan saya. Mama selalu mendampingi papa saya yang saat mudanya punya karakter sangat keras. Dengan segala kelemahanannya sebagai manusia, mama tetap seorang yang luar biasa. Dari muda ia selalu bicara soal makna perempuan dan panggilan sebagai seorang istri untuk jemaatnya (karena ia dulu adalah seorang pendeta di sebuah gereja Pentakosta). Setiap Rabu sore jam 4, saya selalu ‘ditenteng’ mama saya ke persekutuan kaum ibu di gerejanya, melihat begitu banyak wanita berkumpul, berdoa, dan berlutut menyembah Tuhan mohon kekuatan.

Warna itu yang menghiasi hari-hari seorang lia kecil.

Tetapi saat saya remaja, saya kehilangan jati diri saya karena dimakan rendah diri akan penampilan saya, merasa tidak berarti karena kebodohan saya di sekolah. Semuanya itu menghancurkan saya perlahan.Dari awal saya mulai mengerti soal perbedaan laki dan perempuan, saya mulai mempertanyakan: “Kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan?”

Proses itu berlanjut dengan mengutuki hari-hari menstruasi saya dan berontak bila mama membelikan dan menyuruh saya pakai rok. Saya tidak pernah punya rambut yang panjang, dan sebel banget waktu mama ajak saya ke dokter kulit hanya untuk ngurusin muka saya yang penuh dengan freckles.

Berlanjut akhirnya ada seseorang yang ‘mau’ sama saya (dan saya mengganggap itu keajaiban! padahal waktu itu usia saya baru 15 tahun tetapi sudah desperado :p), saya kembali tidak menghargai tubuh saya, dan pernah berjanji untuk tidak mau punya anak karena anak hanya akan memperlambat langkah saya.

Begitu banyak hal terjadi, yang membuat saya makin yakin. Bahwa hidup sebagai perempuan itu merugikan, saya ingin membalaskan banyak dendam dan luka hati saya pada lelaki. Saya benci akan dominasi mereka dan saya berjanji satu hari saya akan lebih dari mereka. Saat itu saya masuk dalam banyak pembenaran-pembenaran diri saya. Sangat sinis, dan sukar diajak berelasi. Saya merasa tidak memerlukan satu hubungan karena saya bisa melakukan semuanya sendiri. Saya berhasil sampai pada jabatan manager di satu perusahaan besar di usia 27 tahun. Mungkin itu biasa buat sebagian orang, tetapi buat saya yang selalu merasa diri saya bodoh, itu pencapaian yang luar biasa.

Sampai akhirnya… saya menyerah karena lelah. Saya lari dari satu pembenaran ke pembenaran berikutnya dan mendapati ternyata saya hanya berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan berikutnya.

Saat itu pertolongan datang…

Hari ini saya melihat ke belakang dan mendapati konsistensi, banyak titik terendah dalam kehidupan saya, berhasil dipulihkan oleh Tuhan lewat bantuan buku. Saat itu saya membaca sebuah buku berjudul: Life Giving Love yang ditulis oleh Kimberly Hahn. Entah mengapa, rahmat Tuhan mengalir deras melalui buku itu dan menyelamatkan saya. Terutama menyelamatkan keperempuanan saya.

Hari ini saya bersuka-cita untuk apa yang ada. Saya beralih dari seorang feminis menjadi seorang femina dalam arti kata sesungguhnya.

Saya mensyukuri keperempuanan saya hari ini. Saat saya pulih dari luka-luka hati saya, saya dimampukan melihat gambar besar kenapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan.

Saya sadar, tidak ada yang harus saya perjuangkan sebagai perempuan untuk sama dengan laki-laki. Sampai kapanpun seorang perempuan berjuang, tidak akan pernah cukup dan habisnya, karena perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Karena perbedaan itulah perjuangan feminis hari ini seakan tidak pernah usai dan tidak pernah sampai pada hasil yang diinginkan, karena memang laki-laki dan perempuan berbeda!

Dan perbedaan itu bukanlah perbedaan siapa yang lebih baik atau siapa yang lebih buruk. Perbedaan itu adalah perbedaan yang bila disatukan akan menciptakan sesuatu yang luar biasa. Persatuan yang akan mengalahkan iblis dan persatuan yang akan memenangkan dunia demi kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu iblis terus menebarkan luka dan kebohongan pada banyak perempuan supaya pengertiaan akan perbedaan ini tidak pernah sampai dan kebencian terus hidup diantara para perempuan terhadap keberadaan keperempuanannya.

Untuk itu semua… yang harus diperjuangkan hanya satu hal: bagaimana saya sebagai perempuan mampu memaknai arti keperempuanan saya, memberi makna bagi kehidupan, dan menjadi berkat buat kemanusiaan di dunia ini. Sehingga lewat itu dunia melihat dan memuji Tuhan… bahwa Ia juga menciptakan perempuan sama indahnya dengan laki-laki.

Jawabannya adalah Yesus! Karena Dia yang telah tersalib untuk menebus semua kebencian dan kebohongan itu.

Jawaban berikutnya adalah Ibu Maria yang telah dengan setia dan sempurna menjalani keperempuanan nya dan menang sampai akhir.

So.. woman of God…

Celebrate our womanhood! Celebrate our life.

We have a great mission on earth.

And as Mother Mary… let’s bring the joy of our womanhood to fill the world with love.

You are what YOU ARE.

Be proud of it… :-)





Terima Kasih Seribu

16 12 2009

Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood sudah terbit!

Tengah malam 12 Desember 2009, kita bersama-sama berkumpul, menumpangkan tangan atas buku2 keluaran pertama dari pabrik, 200 eksemplar pertama. Tangan terulur dan doa dinaikan oleh Rika, meminta Tuhan menjamah setiap perempuan yang membaca RHW ini.

Ini bukan karya saya pribadi, ini karya bersama, dan saya mensyukuri lahirnya buku ini sebagai ‘buku pertama’ saya.

Ini adalah tanda kesetiaan Tuhan kembali atas hidup saya.

Hidup yang banyak rusak, berdosa, dan terus terjatuh, tetapi lewat itu semua dapat menghasilkan sesuatu yang (mudah2an) baik.

Sejujurnya, ada kebanggaan yang terselip di hati. Pastinyaaa.. karena saya seorang manusia.. (punya karakter sombong pula! Hehehe..) dan saya mulai mengerti mengapa ini menjadi buku pertama saya. Supaya saya tidak memegahkan diri sendiri atas apa yang saya buat melalui talenta yang Tuhan berikan.

Tetapi kemudian saya berpikir… apalah arti kebanggaan tersebut, saat saya menyadari hanya kemurahan dan belas kasihan Tuhan terhadap hidup saya yang membuat ini semua terjadi.

Untuk semuanya ini terima kasih seribu!

Buku ini lahir dari semangat terus menerus Mbak Avi yang mengingatkan saya terus untuk mewujudkan salah satu mimpi saya (thanks for that Mbak!)

Buku ini lahir dari kerja keras Ika bikin table, Edith yang luar biasa talented dan kerja keras bikin design dan kemudian malaikat Monic datang membantu.

Buku ini lahir dari hidup 10 wanita yang masih compang-camping tetapi diberi privilege untuk bersaksi.

Buku ini lahir dari Buqe dan teman-teman pembaca awal yang menyempurnakan dan memberi wawasan ‘kesempurnaan’ dari segala sudut pandang.

Buku ini lahir dari doa-doa yang dipanjatkan oleh mama-mama kita semua, untuk anak-anak perempuannya, dan contoh hidup keperempuanan mereka.

Buku ini lahir dari rasa dicinta oleh papa dan saudara-saudari dalam panggilan awal kita sebagai anak perempuan di satu keluarga.

Buat saya pribadi, buku ini juga lahir dari cinta suami saya yang terus mengingatkan saya akan cinta Tuhan kepada saya.

Dan buat semuanya itu terima kasih seribu!

Saya (berusaha) bersyukur untuk hidup saya.

Saya (berusaha) berdiri di atas luka hati saya.

Saya (berusaha) menikmati kegagalan saya.

Saya (berusaha) ‘mentertawakan’ hidup saya.

Saya merayakan keperempuan- an saya.

Semuanya itu karena Tuhan yang memberi rahmat tuntunan untuk kehendak bebas saya dan kekuatan untuk menjalaninya.

Tidak dapat saya curi kenyataan itu dari yang EmpuNya.

Tidak dapat saya rampas kemuliaan Tuhan.

Sehingga tidak ada  alasan untuk tidak mengucapkan terima kasih seribu!

Trima kasih seribu, pada Tuhan Allahku.

Aku bahagia, karena dicinta, terima kasih.





I am making my dreams come true… Proudly Present: My First ‘baby’

8 12 2009

TELAH TERBIT:
Renungan Harian Wanita 2010 – Treasuring Womanhood.
terbitan Domus Cordis Literature Apostolate, siap dipasarkan tanggal 10 Desember 2009…!!!

Harian Wanita (RHW) ini dibuat dengan harapan dapat menemani para perempuan Katolik dalam menemukan/meneguhkan jatidiri mereka, dan melalui hari-hari mereka.
Renungan ini ditulis oleh 10 perempuan dari latar belakang yang berbeda (keterangan penulis lebih lengkap di bawah), dengan Kata Pengantar dari Rm. Deshi Ramadhani SJ. Untuk itu, Domus Cordis (DC) Literature sangat berharap RHW ini dapat menjangkau dan memberkati perempuan Katolik sebanyak mungkin.
Partisipasi semua rekan-rekan dalam menyebarluaskan (memasarkan) RHW ini tentu akan sangat membantu tercapainya harapan ini.

Rencananya RHW ini akan dipasarkan melalui PD-PD dan atau komunitas/toko buku/ gereja/kategorial/kelompok Katolik yang ada di seluruh Indonesia.
Untuk itu, ada penawaran khusus dari DC:
1. Diskon 10% untuk setiap pembelian min 20 pcs.
2. Diskon 20% untuk pembelian min 50 pcs.
Harga: Rp.55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Selain itu, mohon info dari teman-teman sekalian jika memungkinkan/berkeinginan berjualan di gereja masing-masing. DC Literature akan menyiapkan surat pengantar/surat ijin ke Romo Paroki (mohon info nama Romo &Paroki-nya).

Sekian info dari DC Literature.

Apabila teman-teman punya info channel/cara lain untuk memasarkan RHW ini, please info ya. Pasti akan sangat membantu.

Info&Pemesanan, hubungi bagian pemesanan:
Thres (e_theresia@yahoo.com / 0815 1163 8288)

Para Penulis:
1. Anastasia Avi DT
Seorang istri dan marketing manager sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia, koordinator Literature Apostolate – Domus Cordis.
2. Angelin Savitrie
Single, mengajar di sebuah perusahaan penyedia pendidikan bahasa Inggris di Jakarta, koordinator Preaching Apostolate – Domus Cordis.
3. Annatasia Widiyanti
Seorang istri dan ibu dari 2 anak (sedang hamil anak ke-2), serta rekanan dari sebuah Kantor Akuntan Publik , bersama suaminya menjadi koordinator Formation Division – Domus Cordis.
4. Fonny Jodikin
Seorang istri dan ibu dari 1 anak, bermukim di Vietnam, dan mengabdikan diri sepenuhnya sebagai Ibu Rumah Tangga sambil terus menceritakan kebaikan Tuhan lewat tulisan-tulisannya.
5. Ika Sugianti
Single, psikolog anak dan remaja, koordinator Counseling Apostolate – Domus Cordis.
6. Dr.Lia Brasali Ariefano
Seorang istri dan dokter umum yang mendalami biophysics healthcare dan biomedics, pengajar Teologi Tubuh, serta bersama suaminya melayani di Domus Cordis.
7. Dr.Lucia Luliana SpRM
Single, dokter spesialis rehabilitasi medik, bekerja di 2 rumah sakit ternama di Jakarta, staf pengajar FK Atma Jaya, pengajar Teologi Tubuh, serta melayani di Domus Cordis.
8. Mungky Kusuma
Single, bekerja sebagai seorang profesional, terlibat aktif di berbagai kelompok kerasulan Gereja, penasehat Domus Cordis.
9. Sr. Amanda, OSU
Biarawati Ursulin, aktif dalam berbagai karya pendampingan dan pastoral di Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia.
10. Yurika Agustina
Single, pewarta Katolik full-time, koordinator bidang pembinaan orang muda BPK PKK KAJ, pengajar Teologi Tubuh, dan penasehat Domus Cordis.





Woman to woman: It hurts me to see them left behind!

19 11 2009

Education is a gift!

Hari ini, di hari istirahat gw (krn kuliah meliburkan gw 1 hari ini), I have my coffee and as always.. watching the Oprah show.

Hari ini membahas tentang kehidupan-kehidupan wanita di Congo, Somalia, bahkan Kamboja yang ditindas dalam arti kata apapun. Mereka diperkosa, dipaksa menikah bahkan sejak usia 11 tahun, dan membuat perempuan menjadi under educated dan akhirnya dipandang menjadi ‘beban’ dalam masyarakat.

Seorang wanita bernama Tara. Dia tidak bisa mendapatkan pendidikan karena keluarganya sangat miskin. Kakak laki-lakinya mendapat prioritas pendidikan, tetapi setiap hari dia minta kakaknya untuk mengajarkan apa yang diperolehnya disekolah. Di usia 11 tahun ia dinikahkan dan kemudian harus merawat suaminya yang ternyata penderita AIDS. Mimpinya seakan terkubur dan ia menjalankan kesehariannya dengan mimpi dan harapan-harapan yang terus menyala di hatinya. 

Buat saya pribadi, yang punya kesempatan untuk sekolah lagi, mengejar mimpi saya, cerita ini menyakitkan buat saya. Kata pertama di atas: Education is a gift adalah kata-kata dari ibu Tara yang juga mengetahui hasrat hati anak wanitanya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kemiskinan dan budaya mereka. But it’s true indeed… education is a gift. Saat saya ada di kelas dan mendegarkan setiap pengetahuan yang membuat saya membuka mulut saya dan kadang lupa menutupnya lagi, kadang-kadang ada desiran dalam hati saya yang mengharapkan setiap wanita mendapatkan apa yang saya dapatkan! Tentu saja bukan ilmu yang sama, tapi kesempatan yang sama!

Tara akhirnya mengejar cita-citanya setelah suaminya meninggal. Dia usia yang tidak lagi muda, ia akhirnya mengejar pendidikannya sampai ke US dan akhirnya mendapatkan gelar Doktoral nya di sana. Di akhir interviewnya, ia menunjukkan sebuah kotak seperti kotak permen, di mana di dalamnya ada sebuah kertas kumal yang merupakan tulisan mimpinya yang terus ia genggam selama ini. Tidak ada yang menyangka (bahkan dirinya sendiri), suatu hari ia akan mendapatkan gelar pendidikan tertinggi, dan ia akan pulang ke kampung halamannya, untuk menguburkan kotak itu di kuburan ibunya yang menjadi semangat buat Tara untuk terus mengejar apa yang ia impikan.

Saya teringat kepada Rama (seorang adik wanita yang dibimbing oleh teman2 dari Spes Cordis), saya teringat kepada adik-adik di Perbukitan Manoreh, saya teringat kepada begitu banyak wanita di luar sana yang kehilangan hak ini. Setiap saya melihat mata mereka saya melihat kerlip harapan dan wajah mereka tidak hilang dari ingatan saya. Setiap sentuhan, sapaan, dan cerita dari perempuan yang saya temui meninggalkan bekas yang mendalam dalam hati dan pikiran saya.

Education girl change the world! Ada sebuah quote yang selama ini saya selalu pasang di dinding utama milis CatWoG (Catholic Woman of God):

If you educate a boy,
you educate a man. 
If you educate a girl,
you educate a family.
And a family passes on what it learns to the next generation.

Tanpa sedikitpun menghilangkan penghormatan akan peran pria dalam dunia ini, tetapi kenyataan sehari-hari menempatkan perempuan sebagai hati dari sebuah keluarga. Waktu yang lebih banyak dipunyai perempuan untuk keluarga membuat ia menjadi penerus pendidikan yang dominan dalam keluarganya. It will change the world.

Bukan hanya pendidikan formal, tetapi juga pendidikan dan pengetahuan bagaimana mereka berharga dan mereka selalu mempunyai harapan.  Memberitahukan kabar gembira bahwa mereka punya seseorang sumber harapan yang akan mengangkat mereka tinggi-tinggi bila mereka menggantungkan harapan kepadaNya. And he’s nama is Jesus.

If a person give us hope, we can live, we can survive!

Let’s change our life by changinging others life. Let’s treasure our womanhood by treasuring the journey of other women’s life.

Mid day of Nov’09 … let’s do something?





Can My Prince in Shining Armour (read: hubby) Makes Me Happy?

23 08 2009

Di lokakarya ‘Membebaskan Tubuh Selibat” bulan Juli lalu, Kak Rika memberikan satu cerita yang menarik.

John Maxwell (seorang pendeta, juga penulis buku leadership dan motivasi terkenal) mendapat pertanyaan dari seorang peserta seminarnya.

Seorang peserta bertanya: “Pertanyaan ini saya mau tujukan kepada istri dari Bapak Maxwell. Dari semua pengajaran, motivasi, dan teori yang diberikan oleh Bapak  Maxwell, apakah anda bahagia menjadi istri seorang John Maxwell?”

Pertanyaan itu pastinya membuat banyak nafas berhenti selama beberapa detik, kalau saya ad adi ruangan itu pasti saya juga akan dagdigdug menunggu jawaban sang Nyonya. Mata Bp.Maxwell tertuju pada istrinya, menunggu jawaban istri yang selama ini setia mendampinginya.

Ny. John Maxwell berdiri dan menjawab pertanyaan itu dengan senyum dan kata-kata yang sangat tenang: “Tidak ada satupun di dunia ini mampu membuat saya bahagia. Tidak juga suami saya, karena apapun yang dia usaha lakukan buat saya, adalah keputusan saya untuk menjadi bahagia. Hanya saya yang mampu mengambil keputusan untuk membuat diri saya bahagia.”

Cerita ini mengingatkan saya pada kehidupan pernikahan saya.

Beberapa wanita muda pernah datang kepada saya mempertanyakan hal yang sama: “Apa Ci Lia bahagia jadi istri Ko Riko?”

Jujurnya… waktu ditanya pertanyaan itu, saya tidak menjawab apa-apa, Cuma cengar-cengir doang. Kebijaksanaan saya belum mencapai kebijaksanaan Ny.Maxwell saat itu hehehe… tetapi mendengar apa yang dikatakan Ny.Maxwell mengingatkan saya kembali akan hal kebahagiaan itu.

Tidak satupun di dunia ini mampu membahagiakan saya. Suami saya berusaha membahagiakan saya, tetapi kadang selalu adaaaaa saja yang kurang. Saya juga berusaha membahagiakan suami saya, tetapi kok saya merasa selaluuuu saja ada yang salah. Tidak ada cinta manapun di dunia ini yang mampu memenuhi semua kebutuhan cinta kita, bahkan dari orang yang dulu kita pikir sempurna, tetapi setelah tahun-tahun pernikahan dijalani, kesempurnaan itu menjadi kenangan masa lalu.

Kalaupun ada cinta Tuhan yang sebenarnya mampu membuah kita penuh, apakah kita mau menerimanya? Semua berbalik kepada kehendak bebas kita juga untuk mau menerimanya.

This is my life and I choose to be happy. Please help me God...

This is my life and I choose to be happy. Please help me God...

Di tahun ke 5 pernikahan, saya membuat keputusan bagi diri saya.

Saya  memilih untuk bahagia, apapun yang terjadi dalam hidup pernikahan kami.  Saya memilih untuk berharap akan cinta Tuhan lebih dari cinta suami saya, orang tua saya, teman2 saya, atau siapapun yang ada di dunia ini.

Perasaan dapat datang dan pergi. Sesaat kita bisa merasa jatuh cinta, tetapi semenit kemudian dapat berganti menjadi jatuh benci. Satu moment kita bisa merasa begitu bahagia, ngga lama tiba-tiba kita merasa sedih.

Kita sebagai wanita kemudian menggunakan senjata-senjata ampuh excuse kita, hormonal lah, PMS lah, luka-luka kita lah, emansipasi lah… atau apapun. Tetapi jujurlah pada diri kita sendiri… apakah semua itu menjawab pertanyaan mengapa kita tidak bahagia? Apakah semua alas an ini menyelesaikan masalah… mengapa kita tidak bahagia.

Dapatkah suami saya (my love darling hunny bunny sweetie, my prince in shining armour!) membahagiakan saya?

Saya mengutip cara pandang dari Ny.Maxwell dengan kata-kata saya: “Saya bersyukur atas berkat cinta Tuhan melalui suami saya, melalui kerapuhannya dia adalah  suami yang berusaha membahagiakan saya dengan caranya. Tetapi lebih dari itu saya memohonkan rahmat Tuhan yang sebesar-besarnya atas diri saya, supaya melalui apapun yang terjadi, naik turunnya kehidupan pernikahan kami, saya selalu dapat menjadi istri yang bahagia, karena hanya saya yang dapat membuat diri saya bahagia, melalui keputusan untuk memilih setiap hari. And I choose to be happy!”

So help me God!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)





(one of) My “WOW” Moment

15 08 2009

Waktu saya membuat blog ini, saya memakai sub tema:  Life is Full of Surprises.

Saat itu saya tidak berpikir apa-apa. Saya hanya melihat ke belakang dan melihat betapa hidup saya adalah penyertaan dan belas kasihan Tuhan se mata-mata. Dari seorang anak wanita yang minder, (merasa) buruk rupa, (berpikir bahwa) dirinya bodoh, ngga mungkin ada lawan jenis yang ‘mau’ sama saya karena seluruh keberadaan saya. Tahun-tahun gelap dalam kehidupan saya berlalu, tanpa saya komunikasikan dengan siapapun. Ada masanya saya makin hari main mendekati jurang maut.

Satu persatu mimpi yang saya punya, hanya saya taruh di dalam kotak ketidak-mungkinan saya. Saya mengkotakan diri saya ke satu batas-batas yang saya ciptakan sendiri dan tidak mau saya buka karena itu akan mengganggu comfort zone saya.

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan mengalir deras dalam hidup saya. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bermula saat saya membaca satu buku yang kontroversial : The Secret. Waktu saya membaca buku itu entah mengapa saya merasa cinta Tuhanmengalir deras di hati saya, dan memulihkan beberapa bagian hati saya yang terluka. Cinta Tuhan yang mengalir melalui suami saya yang terus menyemangati saya, dan orang tua saya yang terus mendoakan saya, melengkapi proses itu. Kesempatan yang datang melalui orang-orang yang mengasihi saya juga mulai berdatangan, dan saya belajar untuk tidak melepas kesempatan itu begitu saja.

Salah satu mimpi saya, ingin jadi dokter yang ahli di bidang cancer. Tetapi banyak keadaan yang membuat saya tidak masuk dalam pendidikan spesialis membuat saya berpikir, mimpi itu sudah pupus. Tapi kenyataan nya: 31 Agustus besok adalah hari pertama saya kuliah lagi untuk program Magister Biomedik dengan kekhususan bidang Kanker.

Mimpi yang lain, saya pernah berusaha untuk masuk ke Bidang spesialisasi Paru untuk menjadi dokter spesialis paru. Tapi saya mengurungkan niat itu. Dan saat saya mengurungkan niat itu saya berpikir saya tidak mungkin bisa berhubungan lagi dengan dunia itu. Saya juga bermimpi ingin jadi pembicara seminar-seminar resmi untuk dokter-dokter, tetapi hanya dengan berbekal dokter umum, siapa yang mau pakai saya?
Tapi kenyataannya: hari ini saya bicara di depan 200 dokter umum dan spesialis di acara resmi PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia): Semarang Respiratory Update II. Ini adalah perhimpunan tempat di mana dulu saya pengeeennnn sekali jadi dokter Paru dan bisa bergabung di Perhimpunan ini.

Surprised by the amazing work of God in my life!

Surprised by the amazing work of God in my life!

Bila kulihat hidupku dan karya tanganMu, ku terkagum.

Ngga habis-habisnya saya terkagum-kagum tentang cara Tuhan mengejutkan saya. Saat saya mulai lupa akan mimpi dan keinginan saya, Ia Allah yang tidak pernah lupa. Ia mengejutkan dengan cara yang tidak pernah saya perkirakan. Siapa yang sangka saya diminta menggantikan salah satu senior saya bicara… eeehhh.. di depan satu simposium yang dibuat oleh bagian Paru lagi… :-) Bagi orang lain mungkin ngga berarti, tapi bagi saya, ini tanpa pembelaan Tuhan atas hidup saya.

For all woman out there, saya seorang ibu rumah tangga. Saya memang belum mempunyai anak, tetapi rasanya hidup saya juga cukup ’seru’ dengan semua aktivitas saya. Jangan pernah berhenti bermimpi, jangan pernah putus harapan terutama akan Tuhan, karena saat kita terus berharap Ia Allah yang akan membuat kita terperangah dan ‘melongo’ melihat apa yang terjadi dalam hidup kita.

Pikirkan yang baik, yang indah, yang benar, yang mulia, yang memberkati. Bermimpi yang besar dan biarkan dirimu terbang tinggi dalam panggilan kewanitaanmu.

Wait for the WOW moment with God. You will understand, why I say life is full of surprises… :-)

The best is yet to come!





Apa Artinya Sebuah Nama (part 2 – end)

11 08 2009

My Womanhood Journey with St. Angela (Merici)
(the meaning of Serviam in my life)

Di tulisan yang lalu, saya menceritakan perjalanan saya bersama dengan St.Elizabeth, dan tanpa pernah disangka, perjalanan berikutnya dalam kehidupan saya mempertemukan saya dengan St.Angela (please read: http://www.esatclear.ie/~anneharte/stangela.htm)

Waktu saya akan dibabtis di tahun 1988, saya sibuk membuka Ensiklopedia Orang Kudus. Entah kenapa, mata saya terpaku pada seorang Santa. Angela Merici namanya. Entah karena namanya, atau latar belakang dari masa kecil saya yang sering mendapatkan peran malaikat, akhirnya saya menggunakan nama Angelika sebagai nama babtis saya. Saya mengambilnya dari St.Angela Merici.

Setelah itu? Apa artinya sebuah nama? Angelika hanya menambah panjang deretan nama saya. Saya tidak pernah merasa dekat dengan St.Angela, yang ada saya menjadi makin jauh dari hubungan kehidupan dengan St.Angela karena saya tidak diterima di SMA.Ursula.
Saya merasa tidak mengenal dan salah memilih nama. Saya tidak pernah suka anak kecil (seperti yang diceritakan di eksiklopedia), saya tidak pernah bercita-cita berhubungan dengan dunia pendidikan. Tidak satupun membawa saya pada pengertian akan St.Angela.

Sampai akhirnya…

Saya mulai melihat ke belakang, dan mencari arti kata Angela. Angela berasal dari bahasa Yunani yang berarti Pembawa Pesan Tuhan! (The messenger of God). Kata Angel juga dipakai sebagai kiasan kata seorang anak wanita yang baik dan cantik.
Saya mulai berkenalan dengan seorang suster dari ordo Ursulin yang kemudian memberikan saya banyak informasi mengenai St.Angela.

st.angela mericiHari ini saya bersyukur, bahwa tidak ada satupun yang berlalu sia-sia dari hidup kita. Not even a name! Saya disemangati oleh semangat kasih dan pelayanan St.Angela. Saya tidak pernah menjadi seorang siswi yang mengenakan seragam Serviam. Tetapi belajar dari St.Angela, saya mengerti apa artinya dan mengapa St.Angela menghembuskan Serviam untuk misi hidupnya.
Angela says ‘be gentle and compassionate…for you will achieve more with loving kindness and gentleness than with harshness and rebukes’. Angela urges ‘if you see one faint-hearted and timid and inclined to despondency, comfort her, encourage her…lift her heart with every consolation.’

Saya ada di dunia ini untuk melayani.
Hati saya ada untuk bersama sahabat-sahabat wanita, memaknai hidup ini dengan menghargai panggilan kewanitaan kita.
Saya dilahirkan sebagai seorang wanita bukan tanpa maksud.
Saya belajar menerima cinta Tuhan, memenuhi hati dan hidup saya sepenuh-penuhnya dengan cinta Tuhan, dan kemudian menunjukkan kepada dunia… saya memberi dengan melayani dengan sukacita karena janji Tuhan telah berlaku baik atasku.

Serviam!





Apa Artinya Sebuah Nama (part 1)

11 08 2009

My Womanhood Journey with St.Elizabeth
(an Understanding of God’s Promises in me)

Ada pepatah yang mengatakan: “Apalah artinya sebuah nama…”

Saya dahulu adalah salah satu penganut pepatah itu. Apalah arti sebuah nama. Yang penting adalah karakter dan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Sampai di satu titik dalam kehidupan saya, makna dari sebuah nama ternyata membawa kekuatan pada perjalanan kehidupan saya.

Orang tua saya menamai saya Elizabeth Lia Indahyani. Di masa kecil saya, nama Elizabeth sangat mengganggu telinga saya. Saya malu bernamakan Elizabeth. Kesannya tua, ngga ‘gaul’ dan saya merasa seperti nenek-nenek.Saya sering dipanggil orang Elizabeth karena itu adalah nama awal saya. Lia yang menjadi nama panggilan saya adalah nama tengah saya. Jadi wajar kalau banyak orang pikir,saya dipanggil Elizabeth. Mama saya bilang, saya tidak pernah mau menoleh apabila dipanggil Elizabeth.

Tahun 1988, saya dibabtis di gereja Katolik. Bersama pembabtisan itu saya memilih nama Angelika (dari asal nama St.Angela Merici ). Saya memilih sendiri nama iu, tetapi kalau ditanya kenapa? Saya tidak tahu. Mungkin karena waktu kecil saya bayak berperan sebagai malaikat dalam drama-drama sekolah minggu yang saya mainkan. Itu sebabnya saya mempercayai… apalah arti sebuah nama.

Tetapi ada hal yang saya pelajari sebagai anak Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan sedikitpun kebaikan yang ada dalam hidp kita menjadi nyata. Orang tua saya memberikan nama Elizabeth untuk satu tujuan baik. Juga nama Angelika saya pilih bukan karena satu kebetulan. Tuhan mampu membuat hal-hal kecil yang sepertinya tidak penting menjadi kekuatan bagi perjalanan hidup saya.

Ada masa dalam hidup saya, saya mempertanyakan banyak hal tentang peran Allah dalam hidup saya. Saya meragukan cinta kasih Allah, saya marah karena merasa ‘dikhianati’ oleh Yesus, dan hidup saya terlihat begitu kuat tapi sebenarnya demikian rapuh karena saya kehilangan pegangan hidup.

StElizabeth2Tetapi saat itu seorang sahabat (yang kemudian menjadi suami saya), menceritakan arti nama Eizabeth ke saya. Tidak banyak yang kita ketahui mengenaik kehidupan St.Elizabeth, selain ia adalah ibu dari St.Yohannes pembabtis, bersuamikan Zakharia, saudara dari Bunda Maria dan ia pernah dikunjungi oleh Bunda Maria. Elizabeth berasal dari bahasa Hebrew yang berati Janji Tuhan atau Allah bersumpah. Di satu sumber dikatakan: Allah bersumpah (untuk) menggenapi janjiNya. Saat itu saya terperangah akan arti nama saya sendiri, dan kemudian melihat perjalanan hidup saya. Tanpa saya sadari… sebagian luka saya disembuhkan oleh pengertian akan nama saya sendiri.

Sejak itu St.Elizabeth menjadi hidup dalam hari-hari saya. Bila saya ada dalam keadaan terdesak atau merasa sedih… saya panggil namanya bersama dengan nama Yesus dan Bunda Maria. Saya minta ia untuk mendoakan saya. Tanpa saya sadari pengertian akan arti nama Elizabeth menja rhema dalam kehidupan saya.

Apapun yang terjadi saya percaya, Allah Tuhan yang telah menciptakan saya, mendampingi kehidupan saya dengan janji-janjiNya. Seperti kepada St.Elizabeth, Ia akan menggenapi janji-janjiNya dalam kehidupan saya, bila saya hidup benar dan takut akan Tuhan. Tidak ada satupun yang mustahil dalam kehidupan ini  bila saya menggantungkan harapan saya kepada janji Tuhan. Seperti air hujan yang turun membasahi bumi, demikian pula janji Tuhan tidak akan pernah kembali sia-sia.
I am standing on the promises of God.

St. Elizabeth doakanlah kami…

to be continued:

Part 2 : My journey with St. Angela
(the meaning of Serviam in my life)





Womanhood: The Magnificent Power of Giving

17 06 2009

Dear Woman of God,
Especially Mothers out there

silhouette-woman-on-grunge-splatter-thumb4609404Beberapa minggu lalu saya menghadiri misa 40 hari kepulangan adik Maria Skolastika Dewi Kinanti yang meninggal dalam kandungan ibunya, hanya 1 mgg sebelum kelahirannya di dunia (menurut jadwal).

Adik ini bernama Dewi Kinanti, karena ia adalah seorang Dewi kecil yang dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga, ayah bundanya dan ke 4 kakak lelakinya, karena ia akan menjadi ratu kecil dalam keluarga setelah bertahun-tahun bundanya menjadi satu-satunya ratu dalam keluarga. Ayah Bunda adik Maria kembali mensharingkan pengalamannya, dan saya masih meneteskan air mata.

Air mata sedih? Mungkin ya, tetapi lebih banyak air mata luapan hati saat menyadari kewanitaan saya dan menyadari arti menjadi Ibu.

Saya belum menjadi Ibu, saya tidak tahu kapan saya diberkati rahmat bisa menjadi ibu, tapi saya tahu satu hal ada kekuatan cinta yang tidak terbendung saat seorang wanita menjadi seorang Ibu. Wanita menjadi wanita yang sangat kuat saat ia menjadi seorang Ibu. Kekuatan yang mampu mengalahkan dunia dan si jahat karena cinta yang begitu besarnya.

Wanita berasal dari kata latin femina, yang berasal dari akar kata yang mengacu pada kata ‘breastfeeding’ atau menyusui. Menyusui adalah satu proses nurturing yang dilakukan secara alamiah oleh sang ibu sejak hari pertama kelahiran anaknya. Menyusui selalu menjadi aktivitas pemberian diri untuk hidup sang anak. Hari gini emang sudah banyak susu botol, tapi itu tetap susu sapi, dan susu ibu adalah yang terbaik.

Wanita tercipta dari menerima. Sehingga hakekat awal kewanitaan adalah menerima. Wanita tercipta dari daging dari daging ku dan tulang dari tulang ku kata Kitab Suci, dan karena kemampuan wanita menerima cinta inilah, ia kemudian dapat memberikan keseluruhan dirinya untuk kembali mencintai.

Masalahnya… si jahat selalu memakai segala cara untuk menggoda wanita, dari sejak awal penciptaan melalui ular yang menggoda Hawa. Si jahat tahu bahwa dari wanita yang mampu menerima kasih Allah secara utuh akan tercipta kekuatan yang luar biasa karena lewat menerima ia akan memberi dan menciptakan manusia-manusia baru yang mengerti arti kasih dan mampu mencintai kembali.

Hati manusia selalu rindu diisi oleh cinta. Tetapi luka, dosa, trauma, kegagalan dan banyak masalah yang menimpa hidup, membuat hati manusia menjadi banyak bocor di sana-sini. Sehingga berapapun cinta yang masuk ke dalam hati itu rasanya tidak pernah cukup karena hati itu bocor di sana-sini.

Wanita membutuhkan hati yang penuh dengan kasih karena ia harus memberikan dirinya kepada sekelilingnya, sehingga hati wanita harus penuh oleh cinta supaya ia bisa melakukan dan menghayati panggilan kewanitaannya dengan suka cita dan memuliakan Tuhan.

Rahim hanya ada di tubuh wanita. Sehingga panggilan untuk melahirkan anak hanya diberikan ekslusif kepada wanita.

Ini karena hakekat wanita yang sejak awalnya adalah menerima pembuahan, dan kemudian karena ia telah menerima cinta, ia mengandung buah cinta tersebut dan kemudian melahirkannya dan memberikan seluruh tubuh bahkan kehidupannya kepada anak yang dilahirkannya.

Mungkin ini yang disebut oleh kasih Ibu tiada batas.

Seharusnya bila hidup kita dipenuhi oleh cinta, tubuh ini siap untuk terus menerima cinta Tuhan dan terus mau member dan berbagi dengan kemurahan kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita.

Dan saat itu lah tubuh kita, hidup kita, seluruh keberadaan kewanitaan kita bukan milik kita lagi, tetapi menjadi milik sang pencipta yang telah memanggil kita menjadi wanita sejak awalnya.

Melihat sang bunda yang mensharingkan bagaimana melahirkan buah hatinya yang sudah ia ketahui meninggal, hanya 1 minggu sebelum kelahirannya membuat hati saya bergetar.

Saya pernah membantu kelahiran seorang ibu dengan anak yang meninggal di dalam kandungannya, dan saya membayangkan… bagaimana rasanya.

Tetapi dengan ketabahan dan cinta yang penuh sang bunda ini melahirkan cinta dan memberikan seluruh dirinya, melakukan yang terbaik sampai kapanpun ia bisa lakukan. Itulah arti seorang ibu.

Katanya anak adalah titipan Tuhan, itu sebabnya kita tidak bisa berbuat apa2 saat sang empuNya memanggil kembali seorang anak dengan 1 tujuan, mencintainya secara penuh dan dengan kasih yang sempurna.

Anak itu titipan Tuhan itu sebabnya kita sepertinya tidak mempunyai ‘hak’ atas seorang anak, tetapi punya kewajiban penuh untuk mendidiknya sebaik mungkin karena ia dititipkan sang pencipta dalam perlindungan kita di dunia.

Waktu saya melihat ini, saya memahami apa artinya “Mencintai sampai terasa sakit” seperti yang Ibu Teresa katakan.

Dan semua ini hanya bisa kita lakukan bila kita dipenuhi oleh cinta Tuhan.

Dengan ini semua, bersyukurlah karena kita semua diberkahi kekuatan yang luar biasa untuk menjadi seorang wanita. Kekuatan yang di luar apa yang kita bayangkan. Magnificent Power of Giving (=Loving).. that’s what we are!

Let’s rejoice for everything.

We are called to be a woman. And believe me… It’s not without a purpose.

Let’s celebrate our womanhood, let’s give and share the love we already received from Him.

Dedicated to all great women I know,
Esp: Mother Mary, Mbak Devi (thanks for your generosity to life), Mbak Sandra, Aunt Linda and My Mom(s)
Thanks for the inspiration of your womanhood to me
Witnessing your life makes me proud to be a woman!