With God Nothing Such Mission Impossible (A reflection of one barren woman)

Nama saya Lia Brasali Ariefano.
Saya terlahir dengan nama Elizabeth Lia Indahyani.
Saat saya menulis ini, saya sudah menikah selama 7 tahun 6 bulan.
Sampai hari ini saya belum mempunyai anak.
Secara kedokteran keadaan ini dinamakan infertilitas.
Atau… Dunia mengatakan saya: M A N D U L.

Saya mengerti mengapa Sara tertawa saat ia mendengar Allah melalui malaikatnya memberi tahu Abraham bahwa ia akan mengandung.
Kitab Lukas menceritakan bahwa Elisabet juga akan mengadung. Malaikat Tuhan juga datang ke suaminya Zakaria, mengatakan bahwa istrinya yang telah mati haid dan dirinya yang sudah tua itu akan mendapatkan seorang anak laki-laki dan mereka hendaknya menamai anak itu Yohanes.
Tidak ada kata-kata pahit yang keluar dari mulut mereka. Tetapi saya yakin sebagai seorang perempuan yang mengerti kodrat keperempuanannya, naik turun perasaan di cap sebagai perempuan mandul, pasti membawa Sara dan Elisabet pada godaan untuk bertanya: “Bagaimana mungkin?” Kalau bahasa sekarang ini kayak Mission Impossible hehe..

Advent berasal dari bahasa Latin Advenīre (ad- to + venīre to come) yang berarti kedatangan atau akan tiba terutama untuk seseorang yang dinanti-nantikan.
7 tahun lebih saya dan suami saya menanti-nantikan kedatangan seorang anak, buah cinta kami berdua. Saya bukan seorang yang suka anak kecil. Bahkan ada masanya saya berpikir tidak ingin mempunyai anak karena hanya merepotkan dan menghalangi kebebasan serta karir saya. Tetapi rahmat Allah membawa saya pada sukacita kebenaran yang membuat saya menanti-nantikan berapapun anak yang Tuhan mau titipkan pada kami berdua. Bahkan saya pernah menginginkan anak minimal 4 dalam keluarga kami hehehhe…
Kenyataannya hari ini… boro-boro 4, satu kepalapun belum hadir dalam rahim saya. Kadang saya berpikir apa ini ganjaran dosa saya karena pernah berjanji dalam hati saya untuk tidak mempunyai anak?

Mandul atau barren berarti unfruitful / unproductive,  lacking in liveliness or interest.
Hhhhmmmm… menurut definisi, itulah kondisi saya hari ini. Tidak heran banyak perempuan yang begitu tertekan dengan keadaan ini.
Tidak heran Sara merelakan dirinya dimadu supaya suaminya bisa mendapatkan keturunan yang sangat penting secara adat istiadat.
Tidak diceritakan secara detail pergumulan apa yang dilalui Elisabet. Tetapi kedudukannya sebagai seorang istri dari imam yang terpandang, pasti memberikannya tekanan tersendiri.

Dinilai tidak mampu berbuah atau tidak produktif adalah suatu rasa yang seakan merobek keberadaan diri ini, melecehkan keperempuanan kita, dan membuat kita (atau untuk saya paling tidak) merasa menjadi istri yang tidak ‘berguna’.

Tetapi rahmat Allah yang Maha Tinggi membentuk hidup saya dengan cara yang tidak pernah saya pikirkan dan bayangkan karena dengan rahmatNya, sekali lagi… hanya dengan belas kasihan dan kemurahanNya, setiap hari terasa seperti Advent buat saya.
Saya merindukan kehadiran anak, sama seperti perempuan-perempuan lain, tetapi hari ini kerinduan itu tidak lagi terasa menyakitkan, tetapi malah membebaskan saat mengetahui bahwa panggilan keperempuanan saya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tubuh ini mengandung dan melahirkan seorang anak.

Panggilan keperempuanan saya menjadi penuh saat saya mampu menerima kasih Tuhan, membuka hati saya untuk dicintai Allah habis-habisan.
Panggilan keperempuanan saya menjadi nyata, saat saya melahirkan buah-buah dari kasih Tuhan itu melalui apa yang menjadi misi hidup saya.
Panggilan keperempuanan saya menjadi hidup saat kasih Allah yang saya terima kembali saya bagikan kepada orang-orang di sekeliling saya dalam bentuk karya.
Kalau hari ini saya belum dikaruniai seorang Anak, itu bukan karena dosa/kutuk/ganjaran atas apa yang saya lakukan. Saat saya kembali kepada Tuhan dan mohon ampun, saya percaya Dia Allah yang tidak pernah meningat-ingat dosa saya. Suami saya selalu member ikan analogi Allah yang sudah membuang dosa kita jauh ke dasar lautan yang paling dalam dan memberikan tonggak tulisan” “Dilarang Memancing!”
Tetapi saya percaya dengan hati yang penuh (ini juga proses yeee… hehehe) kalau hari ini saya belum mempunyai anak yang lahir dari kandungan saya, saya merasa saya sudah mempunyai banyak anak.
Yes, for me I feel that the calling of motherhood is not just defined by biological mother.

My third baby

Saya merasa hidup dan berbuah saat saya ada di tengah komunitas yang Tuhan berikan kepada saya untuk menjadi tempat berbagi. Ada di tengah-tengah orang-orang yang terus mendukung saya untuk mengeluarkan the best of me.
Saya merasa begitu bergairah dan produktif saat saya ada di ruang kuliah, di laboratorium, atau di ruang belajar saya. Detak jantung saya begitu keras ingin memberikan tanda yang begitu hidup dan sooo alive,  saat saya membayangkan suka cita dan harapan apa yang dapat saya bagikan untuk kemanusiaan  melalui ilmu yang saya pelajari ini.
Saya merasa begitu sempurna, setiap kali hati saya disentuh oleh cinta Tuhan melalui kehadiran suami, orang tua, adik, para Cordisians, juga begitu banyak sahabat yang mengasihi saya.

Ada kata pepatah lebih baik dicintai daripada mencintai tanpa balasan. Benarkah begitu? Karena tidak banyak perempuan yang dapat menerima cinta walaupun sepertinya menerima cinta terdengar mudah. Merasa dicintai tidak akan pernah terpuaskan sampai hati ini dibentuk dan dipulihkan terlebih dahulu oleh rahmat dan cinta Tuhan yang sempurna.

Melalui apa yang ada hari ini dalam hidup saya, tidak ada kata lain yang saya dapat ucapkan selain:  Syukur kepada Allah.
Kemandulan ini membuat setiap hari menjadi Advent buat saya.
Keadaan ini membuat dari waktu ke waktu saya melihat bahwa kuasa Allah lebih besar daripada kelemahan kita.           This “mission impossible”  (yaitu membuat saya menjadi hamil hehehe…) mengajarkan saya menjadi seorang perempuan yang penuh iman kepada Allah dan menjalankan iman saya tanpa back up plan. Yes, no back up plan!

Yes, again… My name is Lia Brasali Ariefano.
Saya terlahir dengan nama Elizabeth Lia Indahyani.
Saat  menulis ini, saya sudah menikah selama 7 tahun 6 bulan.
Dengan belas kasihan Tuhan saya menerima kasihNya.
Melalui rahmat Allah yang maha Tinggi, Ia mengubahkan dan memperbaharui hati saya.
Terlalu sering dunia mengatakan saya bodoh karena ikut Tuhan dan mau belajar hidup sesuai dengan perintah Tuhan melalui ajaran gereja.
Saya percaya… iman saya kepada Tuhan yang terus mau belajar berharap akan membuat suatu hari nanti dunia menyebut saya:  YANG BERBAHAGIA.

Bersama di dalam Tuhan, Ia akan menjadikan kita seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah dan yang tidak layu daunnya. Saat itu dunia akan melihat keajaiban dan sorak sukacita akan memenuhi hati banyak orang karena tahu kemandulan bukan sebuah mission impossible bagi Allah kita.
Merry Christmas to all ‘barren’ woman out there,
With the love of Jesus we are never barren in His sight.
We are woman with special plan from God.
With God nothin’ such Mission Impossible, cause anything is possible!

WOMAN – My Dear Popa Beato JPII

MY WOMANHOOD HERO

My Memory about my Popa

Begitu banyak yang terjadi dalam hidup saya, membuat saya kehilangan respect pada kaum lelaki. Sulit sekali melihat sosok pria dari sudut pandang kesempurnaan gambar Allah sebagai seorang ciptaan pertamanya yang hari ini seakana-akan hanya bisa menggunakan tanpa tanggung jawab serta kemampuan kaum lelaki yang hanya bisa berbicara tapi kalau disuruh action/ mengambil tanggung jawab hasilnya…. NOL BESAR!!!

Surat my hero JPII ini mengambil bagian yang besar dari pemulihan luka saya terhadap sosok lelaki. Dari hati dan raga seorang lelaki seperti beliau, saya menangkap ketulusan, kerendah-hatian, dan kasih yang memancar. Ia seorang paus, dan dari harinya beliau berkata: “Women’s dignity has often been unacknowledged and their prerogatives misrepresented; they have often been relegated to the margins of society and even reduced to servitude. This has prevented women from truly being themselves and it has resulted in a spiritual impoverishment of humanity, for this I am truly sorry.” Saat membaca bagian ini ada rasa sejuk yang mengalir di hati saya, seperti mengobati  luka yang ada dalam hati saya.

Sapaannya kepada setiap wanita membuat saya tersapa dan merasa dikasihi. His understanding about womanhood calling is outstanding! Agak sulit mengerti, bagaimana seorang lelaki bisa mengerti pergumulan keperempuanan seorang perempuan baik sebagai anak perempuan, saudari, istri, ibu, perempuan yang bekerja, tetapi beliau membahasakannya dengan sempurna.

Therefore the Church gives thanks for each and every woman: for mothers, for sisters, for wives; for women consecrated to God in virginity; for women dedicated to the many human beings who await the gratuitous love of another person; for women who watch over the human persons in the family, which is the fundamental sign of the human community; for women who work professionally, and who at times are burdened by a great social responsibility; for “perfect” women and for “weak” women – for all women as they have come forth from the heart of God in all the beauty and richness of their femininity; as they have been embraced by his eternal love; as, together with men, they are pilgrims on this earth, which is the temporal “homeland” of all people and is transformed sometimes into a “valley of tears”; as they assume, together with men, a common responsibility for the destiny of humanity according to daily necessities and according to that definitive destiny which the human family has in God himself, in the bosom of the ineffable Trinity.

The Church gives thanks for all the manifestations of the feminine “genius” which have appeared in the course of history, in the midst of all peoples and nations; she gives thanks for all the charisms which the Holy Spirit distributes to women in the history of the People of God, for all the victories which she owes to their faith, hope and charity: she gives thanks for all the fruits of feminine holiness.
From: Apostolic Letter Mulieris Dignitatem of The Supreme Pontiff John Paul II on the Dignity and Vocation of Woman.

Beato JPII statue at Wieliczka Salt Mine near Krakow, Poland (Beato JPII’s homeland). Miss him sooo much.

Bagi saya, Paus JPII become my hero, I always call him my dear Popa. Karena melalui sapaannya ia menyelamatkan jiwa muda saya bertahun-tahun lalu, dan saya percaya sebagai paus yang mempunyai hati yang sangat besar, cinta yang luas, passion yang kuat terhadap orang muda, seperti ia menyapa Lia muda bertahun-tahun lalu dengan ketulusan, kerendah-hatiannya, kejujuran, dan ke’ada’an beliau, Beato JPII akan menyapa kita semua, khususnya generasi muda kaum perempuan dengan pengertian yang baru akan panggilan keperempuanan.

Pengertian itu akan membebaskan dan membuat kita semua mampu terbang tinggi dan merayakan panggilan keperempuanan kita dari semuda mungkin. Karena ada rencana besar di balik panggilan ini.

Beato JPII big statue at Black Madonna of częstochowa, Mother of God who’s become the love of his life. His blessing to the land.

Yes, it is time to examine the past with courage, to assign responsibility where it is due in a review of the long history of humanity. Woman have contributed to that history as much as man and, more often than not, they did so in much difficult condition.

Thank you, every woman, for the simple fact of being a woman! Through the insight which is so much a part of your womanhood you enrich the world’s understanding and help to make human relations more honest and authentic. (Popa Beato JPII) 

Popa with all the saints

Miss you so much my dear Popa, please… please… Pray for me!

PS: Thanks to Elyse who designed and made this writing in PDF. Nyoba download aslinya ngga bisa, jadi gw curi ide design nya aja. Thank you!

My Stars of Life… Yes, Something Called Friendship

Hati ini terasa tumpul.
Rasanya tidak ingin lagi memberikan kesempatan pada hati ini untuk percaya dan merasa lagi pada sesuatu yang bernama persahabatan.

Hati ini marah.
Sekali lagi saya membiarkan diri ini melangkah untuk mencintai, dan mendapati… cinta itu disalah-artikan.

Hati ini memutuskan.
Untuk tidak menjadi seseorang yang ‘kepo’ mau tahu urusan orang lain. Biarpun saya tahu… orang yang saya kasihi ada dipinggir jurang dan ada kemungkinan dia terjatuh dan mati (tapi mungkin juga tidak).

Ya… hati ini merasa sakit, tetapi juga dapat merasakan senang. Syukurlah… berarti saya masih hidup.
Satu bulan belakangan ini saya hidup dalam dilemma, untuk keluar dari salah satu trauma saya (ngga abis-abis ya trauma gw… hhhmmm… what a life!!! *ho oh!*) dan kembali melangkah mengambil resiko untuk kehilangan dan merasakan kembali sakit yang sama seperti yang saya rasakan bertahun-tahun lalu.

It’s a dilemma. Wheather me being an honest friend or wisely silent. Resiko yang ada di depan mata, kehilangan akan akan seseorang yang dekat di hati saya kembali terjadi, atau diam seribu bahasa (yang katanya emas itu) dan mendoakan dari jauh sambil percaya akan rahmat dan kemurahan Allah yang juga bekerja dengan cara yang kita pikir tidak mungkin. Saya adalah seseorang yang menjunjung tinggi arti persahabatan. Apalagi persahabatan sesama teman perempuan. Tetapi waktu memang tidak dapat dibayar oleh apapun. Trauma dan luka memang memberikan pengertian yang mendalam akan arti persahabatan.

Kalau hari ini ada pertanyaan yang diajukan kepada saya, a simple question: what the meaning of friendship to you? Here is my answer:

Persahabatan buat saya adalah perjalanan panjang dari saling menyakiti dan mentertawakan apa yang menyakiti persahabatan itu.
Persahabatan artinya kemauan dan kerelaan untuk mengampuni terus menerus. Mengampuni sahabat kita dan juga mengampuni diri kita sendiri.
Persahabatan buat saya adalah keberadaan dan kehadiran. Keberadaan di saat-saat yang paling dibutuhkan, menangis bersama, muntah bersama (percaya atau tidak, I did it with one of my best friend in our youth’s days :D )… atau kehadiran  saat kita sebenarnya tidak mau ada di sana, tetapi tetap hadir dan tersenyum, menghargai keputusannya, mendoakan dan membuang jauh-jauh pemikiran untuk berkata suatu hari nanti: “See… I told you…”

So my dear friends… my best friends…

Maybe I am not a perfect friend for you (pastinyaaa… :D ), sometime I can be so annoying for you, yeah.. even sometimes I can be an enemy who’s pretend to hold your hands but stab you from the back… I can’t lie about myself rite? *don’t underestimate me mate… ggrrrrr* hihihihi…

But I am a friend who’s learning to have an honest heart, never ending hope, generous heart to love and forgive, and a courage to stand for a friendship… (*ooohhh so help me God daahhhh*)
Let’s make this world be a better place because we love each other through our friendship.

I am who I am today because the grace of God, love from my parents and hubby, and last but not least… I have so many friends who bring out the best in me.

Thank you.
… and Thank God! :-)

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”
- Martin Luther King Jr.

Freedom Castle of My Heart (I Had the Fairy Tale!)

Ini tahun ke 37 dalam kehidupan saya…
I have one BIG Secret! Embarrassing one (and two, and three, and four, banyak deh… :D )

Di usia 5 tahun hampir setiap hari saya bermain sendirian di kamar, di atas tempat tidur orang tua saya, sambil membangun ‘tembok-tembok’ dengan bantal guling yang ada, berbicara sendirian, seolah menunggu… my knight with shining armor come.

Usia 8 tahun  saya menunggu dengan berdebar-debar tayangan langsung The Royal Wedding dari Prince Charles and Lady Diana Spencer di TV. Memotong rambut saya seperti Lady Di, dan kembali berharap a Prince will come to take my hands.

Kemudian terjadi begitu banyak hal yang membuat mimpi seorang Lia kecil hancur berantakan. “Tiara” yang selama ini saya pakai sebagai tanda desire dalam hati saya perlahan mulai kusam.

Saya berpindah dari satu relationship ke relationship lain dengan satu harapan besar, the longing from a little girl yang selalu memegang dengan erat mimpi-mimpinya yang dari waktu ke waktu tidak pernah berubah. Harapan bahwa pangeran impian saya akan menjemput saya. That he will rescue me, he will ‘horse riding’ thousand miles to prove that I am so worth to persued.

Yes, Every princess has a castle, some kind of honor to defend. And I would rather fight my battles, than hide behind a thousand men. For years I’ve been hanging my hair outside of this tower, waiting for a savior. Believe it or not. That’s me! That’s the power of fairy tale in me.

Dua tahun belakangan ini, saya mencari dan mencari.

Mengapa rasanya begitu sakit.
It’s not just about my homeland  castle in Europe. Ini pasti lebih daripada rasa sakit yang terasa di tarikan nafas setiap membayangkan dan menceritakan Eropa, sedangkan saya terdampar di negeri ini.

There must be something bigger than this. Sesuatu yang harus saya lalui dan saya percaya akan membawa pembebasan bagi banyak putri-putri Allah yang tertawan di ‘castle’ nya masing-masing.

Beberapa waktu belakangan ini saya banyak merenung dan mendapati bahwa saya telah mendapatkan apa yang saya inginkan! Yes, actually… I had it.
I had the fairy tale!!!
A guy who know what he wanted.
Who show up for me. Who wanted me for who I was. He didn’t need me to be some one else.
He just.. wanted me.

And the good news is: there are more than one prince for me…
(Tuhan memang baik dan memberikan rejeki pangeran melimpah!!! Hehhee…)

Berkali-kali Papa dan adik saja, keluarga inti saya menunjukkan bahwa mereka melakukan banyak hal untuk mengeluarkan saya dari berbagai macam tawanan, dan berusaha membuat saya bahagia.

And almost 7 years ago, I married a prince, real prince of my life. The good part is a married my best friend, yang sudah menjadi ‘my rescue’ for almost 9 years of friendship. He saved me through and though. I just didn’t realize it.
(Untuk membaca lebih tentang apa yang pangeran saya lakukan untuk menyelamatkan saya, please click: http://whittulipe.wordpress.com/2011/02/22/love-letter-to-my-hubby-on-a-cloudy-mid-day/)

The best part is… literally… I have a guy who know what He wanted.
And all He wants always me… me.. and meeeeee!!!
Yes, please introduce my Prince Jesus Christ!
He’s really a true savior of mine.

Hampir tujuh tahun lalu, saya memkai long veillll untuk baju pernikahan saya, karena saya terinspirasi oleh baju pengantin dari Lady Diana long long loooongggg ago :-)
Dua tahun yang lalu saya meneteskan, ratusan tetes air mata saat nonton film Enchanted.
Saya masih mengkoleksi film Pretty Woman.
Akhir April lalu, saya tersedu-sedu melihat tayangan (another) Royal Wedding from Duke and Duchess of Cambridge!!! (ampe apal gini gw! Hehehe..)
Di akhir tulisan, saya selalu ingin sekali menuliskan: And they live happily ever after.

Ooohhh it’s so meee! Rasanya putri kecil Lia tidak akan pernah pergi meninggalkan tubuh ini. Why?
Karena saya, karena kita semua, adalah putri-putri kerajaan Allah.

Sebagai perempuan, tidak ada satupun dari kita yang akan kehilangan rasa ini, dan jangan biarkan apapun yang pernah atau sedang terjadi dalam kehidupan kita membuat kita kehilangan identitas ini.
Selama-lamanya… sekali lagi saya mau mengatakan: SELAMA- LAMANYA… Ia akan selalu menjadi knight of a shining armour buat Anda dan saya.

Saya tersenyum saat menuliskan kata-kata ini, seakan tiara kusam yang selama ini saya percayai sudah hilang, ternyata selalu ada di kepala saya.
Menghiasi rambut kita dengan keindahan, karena Anda dan saya diciptakan indah dan sempurna.

Common princess, lift your head up high.
If you been down so low, no where but up to go!
Smile from the window of your freedom castle. Smile and inspire the world with your calling as a woman.
Fill your heart and life with the love of God.
Call His name every day… (His your prince rite?!)
With Him,
with our Prince…
It’s gonna be a better, better, better day.

-Princess Lia Brasali Ariefano-
*fyuuihhh gw nulis ini sambil deg2kan, kayak ada yang mau meledak dari dada gw… All glory to God!*

PS: I think it’s time for me begin to write: A Princess Diary… rite (other) Princess?

Renungan Jumat di Radioterapi

Siang ini dengan badan yang sangat ngga enak saya nunggu di ruang radioterapi RSCM. Nungguin kuliah jam 12.30, sedangkan saya dtg kepagian 1 jam.

Duduk sambil manggut-manggut seakan setuju sama pembicaraan ibu2 di sebelah, saya menahan badan saya supaya ngga gabruk. Rasanya sulittttt bersyukur kl ud ngga enak badan gini.

Tapi sambil semilir, saya memperhatikan aktivitas pasien-pasien kanker yg sdg menunggu giliran buat disinar, serta keluarga yg mendampingi mereka. Ada yg jalan-jalan dgn belalainya (begitu istilah Mungky dulu ttg sondenya), ada yg sedang membaca, ada yg melamun, ada yang merem sambil megangin bengkak luka yang kayaknya berdarah.

Rasa syukur menyelip masuk perlahan dalam hati saya. Kekaguman yang tiada habisnya saya berikan untuk pasien kanker yang menghidupi arti pengharapan.
Awal saya duduk di sini, saya sempat terganggu dengan pemandangan duduk dengan kaki diangkat, ‘ngelosor’ di kursi panjang. Tdk ada yg duduk tidak angkat kaki (untung tdk ada yg meludah!), tetapi makin lama, curi dengar asal mereka yg dari kampung, bagaimana mrk berusaha menghargai hidup, saya terharu.

Orang sederhana sangat mudah berinteraksi satu sama lain. Mereka tdk pusing akan jabatan, image atau apapun. Mereka mensharingkan kehidupan dengan mudah, saling memeluk tanpa risi, berbagi makanan dari keterbatasan mereka, menghargai hidup dgn sangat sederhana. Kelihatannya mereka lebih mudah dibuat bahagia daripada saya seorang dokter, mahasiswi S2, yang katanya kaum intelektual. Kok ironis ya…?

Saya selalu menemukan Yesus di kalangan org sederhana. Yesus begitu mudah dijangkau lewat hidup mereka. Mungkin penderitaan mereka membuat Yesus lebih transparan dan mudah ditemui.

Oh Tuhan.. Oh Yesusku..
Beri aku rahmat untuk tetap sederhana. Hati yang mudah menampakkan kasih.
Jangan biarkan aku teralih dengan keegoisan ku. Ajarkan aku dapat berbagi hidup karena di situ aku menemukan Engkau yang juga dibagi-bagikan.

Jumat Pra Paskah ke berapa yaa…

*miss you Mungky*

Love Letter to My Hubby On a Cloudy Mid-Day

Di suatu perjalanan dengan bus menuju Tumpang untuk retreat, long-long ago in August 1995 I met him.

Waktu itu saya masih duduk berdampingan dengan mantan pacar saya (bener-bener mantan pacar yang tidak jadi suami :-p), dan dia duduk berdampingan dengan mantan pacar nya (yang juga bener-bener mantan pacar yang tidak jadi istri:-p).

Sembilan tahun kemudian di tahun 2004, setelah begitu banyak yang terjadi… ternyata dia (yang tadi duduk sama mantan pacarnya itu), benar-benar menjadi mantan pacar yang akhirnya jadi suami saya. (hhhmmm belibet ajeeee….) Bener-bener life is a mystery dahhhh :-)

Seven years sevent months friendship, one year and two months courtship, and six years eight months in marriage life, he transforms from someone to dearest one for me.

Saya belajar untuk menuliskan kata-kata cinta. Karena begitu banyak luka membuat kata-kata cinta sepertinya tidak lagi berarti untuk dituliskan dan/atau dikatakan.
Hati ini kembali menjadi hati kecil yang kembali belajar berjalan seperti Celine (anak babtis kami). Belajar untuk kembali mampu merasa dicintai.
Seluruh raga memperbolehkan kembali diri ini untuk terluka karena mencintai. I let my heart fall in love again.

Yes, today I fall in love with the man I married 6 years and 8 months ago. It’s such a warm and secure feeling.

It’s an emotional feeling because in a second all the feeling can turn to a fuzzy feeling full with complaining.
It’s lebayyyy writing this (yes or no?)… because in a second this love letter can change to a demand letter full of ‘why’ and ‘when’ questions and list of target he has to achieve as my husband.
It’s impulsive to wanting you my darl (copyrite from Angie Sondakh gw pinjem dulu) because in a second I can make you feel unwanted and unneeded.
But it’s ok because I learn to give my self completely day by day. My emotional, lebay, and impulsive (in a good, charming way) feeling and also my weakness who’s make me so uncaptivating to you.

Thank you for being my hero since day 1 of our marriage by giving yourself to take the cross of life (who’s me as the cross of course! :D kok malah bangga? Hehehe…)
Thank you for the hard work you did (and do) all these times to fulfill my need and comfort (I’m such a high maintenance wife in terms of comfort and pleasure rite?)
Thank you for making my dreams become your dreams, holding my hands and keep whispering to me that we will make all our dreams come true. Together!

Thank you because you always put God as the center of your life. By doing that you sanctify me as your wife.

Sementara ini… itu dulu thank you yang tertulis… (Thank you for a million reasons deh, tapi ntar keburu ilfil bacanya :D )

Most of all… Thank you for loving me by giving yourself to me…
Free, total, faithful, and fruitful …. (ToB bangeeetttt hihihihi…)
I have to stop before 12AM, and this love letter change to a pumpkin of grumpiness :D

And we live happily ever after (teteuuppp maksa kayak Cinderella)

Your lovely wife, (eheemm- eheemmm)
Lia (bukan Cinderella!)

Inspired by Angelina Sondakh… hehehee… Bukan nyumpahin suami gw kayak Adjie Marsaid (*amit-amit*!!!), tapi life is too short, so I better say (or write) a blessing words instead of anything unuseful.

Disclaimer:
Ini karya “sastra” tulisan gw lohhh… jadi bukan mau pamer perasaan cinta… hahaha… kalau merasa mual saat membaca ini silakan langsung dimatikan (mudah2an bukan my hubby yang doing it!… gagal deh love letter gw!).
Tapi kalau mau pindah bacaan lain… sorry it’s too late… because you’re at the end of this love letter hahaha…
Silakan memutuskan: mual-mual atauuuu  feel like Cinderella (in a real world!)
Yang pasti suami gw yang bakal geleng-geleng kepala baca tulisan istrinya yang sok Inggris dengan grammer berantakan dan sok PD pula! yayyyy that’s me :D

Celebration of Life in True Meaning

Seminggu yang lalu, tepatnya 13 Februarin 2011, saya kehilangan seseorang.

Seseorang yang secara fisik tidak terlalu dekat dengan saya, tetapi saya selalu tahu kapanpun saya membutuhkan dia, dia akan hadir secara fisik.
Sahabat yang memberi saya  kemudahan dalam berteman. Bersahabat dengan nya terasa begitu mudah, aman, ngga pusing karena dia tidak pernah berprasangka dan tidak mudah tersinggung.
Sosok yang mengajari saya apa artinya berjuang dan mempersembahkann silih dalam senyum dan tutup mulutnya.
Pribadi yang mengingatkan saya akan arti memberi. Bahkan saat kesakitan dan nyeri nya ia tetap memberikan dirinya.
Ia tidak pernah menggembar-gemborkan hubungannya dengan Tuhan, karunia-karunianya, tetapi memancarkan kasih Tuhan lewat hidupnya, seberapapun ia disakiti dan dikecewakan.

Untuk semua itu, tidak mungkin saya tidak kehilangan.

Tetapi di balik semua itu, di saat ia sudah benar-benar tutup mulut, tutup mata. Waktu ia sudah menutup semua inderanya dan saat ini bersatu dengan plankton-plankton air laut mengarungi samudra ke seluruh dunia, ia masih terus mengajarkan saya.

Tidak ada alasan untuk tidak berbagi diri dengan orang lain. Tidak ada alasan untuk tidak belajar memberi. Bagaimanapun keadaanmu.
Siapa yang tahu beberapa hari sebelum kematiannya, ia masih membantu salah satu sahabat yang juga sedang berjuang melawan kanker untuk mendapatkan seorang Romo yang bisa memberikannya sakramen perminyakan.
Ia memberikan uang sumbangan yang tadinya ditujukan untuknya kepada seorang teman sekamar di RSCM yang tidak mampu.

Saat semuanya binasa, apa yang kau tinggalkan di dunia ini menjadi bukti jejas kehidupanmu.
Sahabatku ini telah pergi, tetapi dari waktu ke waktu sampai detik ini rasa kehilangan itu ada (paling tidak untuk ku). Selalu ada alasan untuk mengenangnya karena ia meninggalkan tapak jejaknya di dunia ini.

Saat kita terbujur kaku di peti mati kita, yang ada tinggal pertanyaan: “Seperti apa engkau mau dikenang?”
Bila ada sebaris kalimat yang akan dituliskan di nisan kita, kalimat seperti apa yang kita ingin dituliskan untuk kita.

Saya masih harus belajar banyak dari kehidupan. Saya bukan orang suci, biarpun saya bermimpi untuk hidup kudus dan mengejar kekudusan itu. Saya belajar dari sahabat ku ini untuk tidak menyerah. Saya memperjuangkan keselamatan dengan takut dan gentar dengan iman percaya belas kasihan Allah yang membuat saya berani melangkah dalam hidup ini.

“Sebab bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Thank you so much for every thing you teached me through your witness of life.
Good bye for real my dear sister and friend Mungky D.Kusuma.
See you in heaven.

-adik dan sahabatmu di peziarahan dunia-

Mother and Mary

Mother and Mary

A reflection of mother’s day and mother Mary

“Mama ada?”

Itu pertanyaan pertama saya setiap kali saya pulang sekolah dan menginjakkan kaki di rumah kembali. Saya menanyakan itu setiap kali saya harus pulang sendiri/ dijemput dari sekolah oleh orang lain selain mama saya. Hari ini, bila saya mengingat kembali perasaan saya bila pertanyaan saya dijawab: “Ada.”… ada rasa hangat dan aman mengetahui mama saya ada di rumah.

Di masa puber dan menjelang dewasa, begitu banyak perselisihan dan pertentangan yang terjadi antara mama dan saya. Semua terjadi hanya karena pertentangan semua kehendak baik. Mama ingin yang baik dan benar terjadi dalam hidup puterinya, dan saya merasa sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan benar untuk hidup saya.

Hari ini, 6 ½ tahun pernikahan saya. 6 ½ tahun menjadi seorang istri, saya mulai mengerti apa yang dilalui oleh mama saya. Saya (mulai) mengerti apa artinya menjadi seorang ibu, biarpun saya belum dikaruniai seorang anakpun. Semuanya itu membawa saya pada sebuah refleksi indah di pertengahan antara hari ibu kemarin dan hari Natal besok lusa.

Do you know this song? Let’s read slowly what the lyric says:

Mary, did you know
that your Baby Boy would one day walk on water?
Mary, did you know
that your Baby Boy would save our sons and daughters?
Did you know
that your Baby Boy has come to make you new?
This Child that you delivered will soon deliver you.

Mary, did you know
that your Baby Boy will give sight to a blind man?
Mary, did you know
that your Baby Boy will calm the storm with His hand?
Did you know
that your Baby Boy has walked where angels trod?
When you kiss your little Baby you kissed the face of God?

Mary did you know..
The blind will see.
The deaf will hear.
The dead will live again.
The lame will leap.
The dumb will speak
The praises of The Lamb.

Mary, did you know
that your Baby Boy is Lord of all creation?

Mary, did you know
that your Baby Boy would one day rule the nations?
Did you know
that your Baby Boy is heaven’s perfect Lamb?
The sleeping Child you’re holding is the Great, I Am.

Saat saya membaca lirik lagu ini, saya membayangkan, apa yang terjadi saat Bunda Maria didatangi oleh Malaikat Gabriel.

Seorang gadis lugu, muda, yang mungkin sedang begitu excited nya menyiapkan pernikahan karena ia sudah ditunangkan dengan seorang pria. Tetapi dalam sekejab, semua berantakan ‘hanya’ karena malaikat yang memberitakan sebuah ‘berita gembira’. Saat itu dengan ketaatan dan ketulusan hatinya Maria mengatakan YA pada kehendak Tuhan atas dirinya. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah pada ku menurut perkataanMu.” Ohhh Mary did you know…

Apa jadinya kalau saat itu Maria mengatakan tidak kepada kehendak Allah yang ingin dinyatakan dalam hidupnya.

Hari ini kita tidak menyapanya dengan panggilan mother Mary.

Saat ini kita (mungkin) masih ada dalam rentetan hukum taurat yang mengikat kita.

Yang paling parah adalah… detik ini kita belum diselamatkan dari semua dosa kita.

Apa jadinya kalau saat itu (37 tahun yang lalu), my mom said NO to my presence at her womb?

Tidak pernah akan ada seorang Elizabeth Lia Indahyani Brasali, yang ‘ditemukan’ oleh seorang Josef Riko Ariefano my hubby.

Tetapi jalan seorang ibu bukanlah jalan yang terus menerus dipenuhi oleh gemerlapan bintang dan indahnya panggilan seorang keibuan.

Tanya saja pada Priska Lia bagaimana rasanya saat melahirkan Mika kira-kira 2 bulan yang lalu.

Ingat-ingat bagaimana pergumulan mual Anast waktu hamil Celine dan Ika saat ini.

Belum lagi gimana menghandle Jovan yang sudah mulai punya pendapat dan kemauan sendiri.

Saat-saat di mana anak-anak sakit dan membuat para ibu dan ayah tidak tidur dan gelisah melihat anak mereka sakit.

Saya mengingat bagaimana mama saya menangis waktu harus menghadapi anak-anaknya, saya dan adiknya memberontak di masa puber kami.

Apa rasanya saat Ayah Josef dan Bunda Maria, sudah berjalan demikian jauh, kemudian menyadari anaknya hilang, mereka berjalan berkilo-kilo meter… hanya untuk mendapati anak mereka mengatakan: “Kenapa engkau mencari Aku, bukankah Aku harus tinggal di rumah BapaKu?” (*ggrrrrrr* kalo itu anak gw, udah gw jitaakkkkk! J)

Tetapi saat itulah seorang ibu memperlihatkan cinta yang tidak ada batasnya.

Seperti Bunda Maria menyimpan semua dalam hatinya, banyak Ibu yang melakukan ini.

Saya tahu, mama saya menyimpan banyak perkara dalam hatinya, dan terus berdoa untuk suami, kedua anaknya, dan saat ini, kedua menantunya.

So today, two days after Mother’s Day, and it’s Chrismast eve!

Let’s celebrate the calling of a motherhood.

Be thankful for our mothers.

I am grateful to be a woman.

And Mary did you know? Thank you Mother Mary because you took all the risks and you said yes to God’s will and you brought Jesus to all of us.

Mother and Mother Mary.

I am so proud of both of you.

Pray for me Mother and Mother Mary, so I can be a woman after God’s own heart.

A Friendship with Something Called: Pain

Rasa sakit itu tidak enak. Tapi (ternyata) rasa sakit itu perlu.

Seorang penderita kusta (=Lepra)1 yang saraf tepi nya diserang oleh bakteri yang bernama  Mycobacterium leprae akan kehilangan rasa/sensorisnya. Is that good? Hhhmmm… Terkadang kalau kita sedang merasa kesakitan, kita berdoa minta tidak merasakan sakit lagi. Tapi saat seorang penderita lepra kehilangan rasa sakitnya, hal itu membuat kerusakan yang jauh lebih parah daripada bila ia merasakan nyerinya.

Rasa sakit adalah sesuatu yang banyak dihindari oleh banyak orang. Rasa sakit bahkan membawa manusia pada keinginan untuk mati, karena itu akan menghilangkan dan menyelesaikan rasa sakit itu dengan sekejab. Euthanasia2 menjadi satu hal yang diperdebatkan dalam penghormatan terhadap kehidupan, salah satunya karena keinginan untuk terbebas dari rasa sakit ini.
Tara Elizabeth Corner3, Miss Pageant America 2006 adalah seorang wanita yang desperately ingin keluar dari rasa sakit ini. Perceraian kedua orang tuanya di awal masa remajanya membuat ia menjadi seperti kehilangan kendali. Ia menjadi seorang teenager yang berteriak minta tolong dan perhatian, tetapi seakan-akan tidak ada yang mendengar teriakannya ini. Sampai ia menemukan, sebuah obat bernama Vicodin4 (sebuah obat penghilang rasa sakit tingkat sedang-berat) berhasil membuat ia ‘terbebas’ dari rasa sakitnya. Ia menggunakannya bahkan saat sedang ada di atas panggung pagelaran Miss Pageant saat itu. Tara bahkan mampu mengkonsumsi obat itu sampai 30 butir dalam sehari. Di satu tahap dalam hidupnya, Tara pernah menghadiri sebuah pesta, di akhir pesta ia memang setengah mabuk, tapi masih cukup sadar untuk mengetahui apa yang ada di sekitarnya. Ia membiarkan seorang teman lelakinya menggendong dia ke dalam mobil untuk diantar pulang. Dalam hati, ia tahu bahwa teman lelakinya ini punya maksud di balik keinginannya mengantar pulang. Saat itu, teman lelakinya memperkosa Tara di dalam mobil. Tara mengetahuinya, tapi membiarkan hal itu terjadi karena dengan begitu ia merasa terbebas dari rasa sakitnya. Rasa sakit karena merasa ia adalah sampah, barang kotor, dan tidak diinginkan karena tidak ada yang mencintai dan mendengarkannya. Membiarkan tubuhnya diperkosa, seperti sebuah penghilang rasa sakit karena tindakan itu mengkonfirmasi semua pandangannya terhadap dirinya sendiri. Ia melumpuhkan perasaannya, membiarkan hal buruk terjadi padanya, supaya ia terbebas dari rasa sakit.

Seorang anak perempuan berusia 15 tahun, yang mempunyai gambar diri begitu jelek. Tidak mencintai dirinya sendiri. Dia membiarkan dirinya terbuai dan mempercayai banyak kebohongan-kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Dia membiarkan tubuhnya mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Ia melakukan itu dari waktu ke waktu, membunuh rasa sakit yang awalnya muncul, sampai akhirnya ia merasa ‘numb’ akan rasa cinta. Ia membiarkan dirinya jatuh pada hubungan yang ‘asal’ karena ia memandang dirinya hanya seorang perempuan yang ‘asal’. Waktu ada rasa sakit akan kebenaran yang terungkap, ia menolak jauh-jauh kebenaran itu karena rasanya perasaan ‘numb’ yang dirasakannya lebih membuatnya terasa nyaman, biarpun jauh di kedalaman hatinya ia tahu, ia hidup dalam kebohongan dan kebahagiaan semu. Perhatian dari lawan jenis, sebuah relationship, dan status pacar seseorang menjadi adiksi dan sumber pelarian rasa sakitnya. Dalam satu hubungan ia merasa seperti mempunyai segalanya, padahal saat itu ia tidak mampu merasakan perasaannya sendiri.

Cerita 2 perempuan di atas rasanya bukan cerita yang luar biasa.

Sejak keluar dari rahim ibu, kita sudah mengenal apa rasanya sakit. Keluar dari jalan lahir ibu bukan proses yang menyenangkan bagi seorang bayi… (lihat muka bayi-bayi yang baru lahir, rasanya ngga ada yang lahir dengan muka tersenyum lebaarrrrrr…) tapi setelah itu seorang bayi tahu bahwa ia dikasihi waktu ia diletakkan di dada ibunya.
Dalam proses belajar kita sehari-hari, rasa sakit menjadi satu tolak ukur yang positif… Satu iklan detergen di TV bilang begini: “Kalau ngga ada kotor, ngga belajar!” atau apapun lah isinya (lupa-lupa inget…) Tapi rasa sakit menjadi batu pijakan yang positif untuk keberhasilan yang ada di depan jalan kita.

Saat berbagai kondisi menerpa kita, banyak keadaan yang terjadi tidak sesuai harapan kita.
Rasa sakit menjadi demikian perih, tak tertahankan, sampai rasanya tidak mampu melihat sisi baik dari rasa sakit itu.
Rasa sakit menacap begitu dalam di hati, sehingga rasanya tidak mungkin menariknya keluar karena itu akan menghancurkan hati lebih parah lagi.
Saat harapan akan rasa sakit yang memberi harapan akan hari esok yang lebih baik menjadi ilusi.

Saat inilah kemampuan defence mechanism5 manusia membiarkan rasa numb6 lebih baik daripada rasa sakit, karena ternyata dengan membiarkan perasaan menjadi numb hidup dapat terus berlangsung (apapun buah-buahnya, yang pentin hidup jalan teruuusss…)
Saat itu… kita tak ubahnya seperti seorang penderita lepra.

Tara membiarkan dirinya numb selama bertahun-tahun, bahkan di saat ia diperkosa. Anak perempuan tadi (yang sekarang sudah jadi perempuan dewasa), membiarkan dirinya numb selama bertahun-tahun karena ia mempercayai, dengan melumpuhkan perasaannya semuanya menjadi lebih baik. Tanpa mereka sadari, mereka hidup dalam kebohongan.
Sampai satu waktu someone touched their hearts…

Saat mengetahui bahwa Tara adalah seorang pencandu obat-obatan, dewan Miss Pageant saat itu ingin memecat Tara dari jabatannya. Tapi seorang pemilik dari Institusi Miss Pageant ini, membelanya dan memberi  kesempatan kedua kepadanya. Dia adalah Donal Trump. Kesempatan kedua ini seperti air segar yang memberi kesejukan dalam hatinya.
Anak perempuan itu tumbuh menjadi perempuan dewasa yang sangat rapi menyembunyikan semua perasaannya yang sesungguhnya. Adiksi nya terhadap sebuah hubungan membawanya dari satu hubungan ke hubungan yang lain. Ia tidak pernah merasa cukup dan aman dengan dirinya sendiri. Sampai di satu waktu, di dasar kejatuhan dirinya, ada sebuah suara lembut dalam hatinya, yang mengajaknya keluar dari semua kebohongan dan kelelahan dirinya menahan semua rasa sakit itu.

Saat ini, mereka berdua… Tara dan perempuan itu telah berhasil melampaui rasa sakitnya. Adiksi hanya gejala yang timbul dari rasa sakit yang tidak tertahankan. Adiksi menjadi tempat persembuyian yang aman dan terasa ‘benar’ saat rasa sakit tidak tertahankan.

Mereka berdua memilih untuk memberanikan diri, berhadapan dengan rasa sakit itu. Satu persatu. (Berjuang)Berdamai dengan setiap luka, (belajar) menerima diri sendiri, dan memilih untuk memandang rasa sakit sebagai kesempatan untuk berbuah bagi kehidupan.

Perempuan itu adalah saya sendiri.
Hari ini, saya selalu meneteskan air mata setiap kali membaca/mendengar perjuangan-perjuangan untuk keluar dari diri mereka. Apapun tahap yang mereka rasakan saat itu, apakah rasa sakit, atau kebanyakan justru tidak merasa apa-apa, butuh keberanian untuk menghadapinya satu persatu.

Saya pernah melalui semuanya itu, dan hari ini saya bisa berkata bahwa “Tangan Tuhan telah berlaku baik atasku.”
Apapun yang (pernah) terjadi dalam hidupmu, apapun cara kita memandang diri kita, dan kerusakan apapun yang sedang Anda alami hari ini, semuanya itu tidak menggagalkan rencana besar Allah akan kejadian kita di dunia ini.
Tidak ada luka, adiksi, kerusakan, kegagalan, yang cukup besar, yang mampu menghalangi rahmat cinta dan pengampunan yang selalu ditawarkan untuk Anda dan saya.
Bahkan berita baiknya adalah, Ia Allah yang terus mengarahkan pandanganNya pada hati yang hancur.
Berita buruknya? Saat Anda berteriak: “God, go away! Leave me alone!” … He won’t and will never do that. He is God who sooooo in love with you, and tremendously crazy about you and me… (saat nulis ini kok gw berasa Tuhan nyanyiin lagu: I’ll be There7 … ohhh so sweet…)

Today, make a special connection with your pain.
Be brave and be strong, cause the Lord is with you!
It’s time… to make all the pain that cripple you all these years into the magnificent power to bless and inspire the world!
It’s time to spread our wings and fly to persue our wildest dream.
It’s time to make a friendship to something called pain, because from that pain we can climb the highest mountain of our life and walk from victory to victory.
Yeessssss! (semangat sendiri :D )

For I am persuaded, that neither death, nor life, nor angels, nor principalities, nor powers, nor things present, nor things to come, Nor height, nor depth, nor any other creature, shall be able to separate us from the love of God, which is in Christ Jesus our Lord. (Rome 8:39-39)

Written by:
Survival woman who’s surviving from day to day pain and numb.
Battle in progress everyday!

Notes:
1 Kusta. Wikipedia ensiklopedia bebas. Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Kusta
2 Euthanasia. Reason for euthanasia. Available from:http://www.euthanasia.com/reasonsforeuthanasia.html
3 Beauty Queen Tara Corner’s Revelation. Available from: http://www.oprah.com/oprahshow/The-Truth-About-Beauty-Queen-Tara-Conner
4 Vicodin. Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Vicodin
5 Johathan Smith. Stress Management.  New York: Springer Publishing Company, 2002; p.29-38. Available from: http://books.google.co.id/books?id=_VDzXDikuXgC&pg=PA31&lpg=PA31&dq=numb+as+defence+mechanism&source=bl&ots=PVUvQGXo4n&sig=tIrodgecWLrezrEWccCv_zSpc18&hl=en&ei=cRC0TK6dMoOIvgPjloSYCg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7&ved=0CD0Q6AEwBg#v=onepage&q&f=false
6 Available from: http://www.thefreedictionary.com/numb
7 Available from: http://www.mp3lyrics.org/m/michael-jackson/ill-be-there/

Song of My Heart

Song of My Heart
Menanggapi e-mail Feli : RE: [DomusCordis] Indonesia Mengajar

hope will be the song that linger in my heart

Dulu… dulluuuuuuuuuuuuuuuuu sekali.

Saya pernah bermimpi masuk ke pedalaman untuk mengajar atau menjadi seorang dokter pengabdi masyarakat seperti Dr.Sartika (sinteron Dewi Yul jaman gw belum puber hehehe…)
Saya pernah bermimpi jadi duta WHO tinggal bersama orang-orang kelaparan dan memperbaiki kesehatan mereka.

Lalu makin besar, makin mengerti apa artinya kenyamanan dan kemampuan bertahan.
Bersamaan itu dengan penyadaran diri, dan ketidak percayaan akan mampunya meraih mimpi masa kecil, mimpi itu perlahan memudar.

Hari-hari ini, terutama sejak masuk dalam dunia mimpinya Domus Cordis:
Mengecap dipan dan senyum tulus embah-embah tua, serta senyum di wajah anak-anak saat menerima beasiswa di Manoreh.
Menatap dalam-dalam mata Herman dan melihat anak-anak bermain dengan sarana dan prasarana pendidikan yang ‘asal ada’.
Mengetahui ada seorang anak remaja punya mimpi dan ingin sekolah tinggi di satu daerah pinggiran Atambua.

Kenyataan-kenyataan ini menggetarkan hati dan mengusik rasa nyaman saya.
Lyrik lagu Anggun C.Samsi : Melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi, terlelap dalam lautan emosi. Setelah aku sadar diri, kau t’lah jauh pergi, tinggalkan mimpi yang tiada bertepi;
membuat hati ini lebih terusik lagi. (emang sih konteks lagunya berbeda, but still….)

Bila seorang saya (yang lahir, besar, dan tinggal di Jakarta pusat kepenuhan sarana, prasarana. Diberkati dengan rejeki, perhatian orang tua, dan saat ini menjadi seorang dokter) saja, mampu kehilangan mimpi,
apalagi mereka?
Mereka mungkin tidak pernah tahu apa definisi dari kata mimpi, bahkan jangan-jangan tidak ada yang pernah mengatakan bahwa harapan selalu ada dalam hidup mereka.

Saya setuju dengan Feli, anak-anak ini butuh role model. Generasi muda butuh figur.
Tidak pernah terlambat untuk membiarkan mimpi tiada bertepi, tetapi diiringi dengan kepercayaan bahwa sang pemimpilah yang membiarkan itu tiada bertepi karena ia telah meraihnya satu demi satu.

You are what you think you are!
You, fellow Cordisians, and me will be the witness of dreams.
Mari bersama merenggangkan kapasitas kita, because we are more than we think and He already (and always be) equiped us with everything we need to do this mission.

Herman and friends

Mari bersama punya mimpi buat sesama, punya mimpi melihat satu hari Herman(*) tersenyum dan membuat kita yang mengetahui latar belakang hidupnya lebih tersenyum lagi karena melihat kebesaran dan kemurahan Tuhan setia dalam hidup Herman-Herman di luar sana.
Kita akan memaknai senyum lebar kita, bila kita turut andil mengukir senyum itu.
Kita diberkati dengan pengetahuan mengenai mimpi, Let us be role model for each other with God as our center of role model.

Kalau ini adalah satu mimpi, saat ini saya seorang perempuan dewasa yang mampu memperjuangkan mimpi saya.
Kali ini.. saya tidak akan membiarkan mimpi saya pergi.

See hope in anyone’s eyes,
feel the air of hope in anyone’s heart,
and witnessing celebration of life from anyone I meet
will be song that linger in my heart.
This song is like voices of Angels calling out my name (and I hope yours too…)

Common Cordisians and everyone… Inspire the World with love!

(*) Herman adalah seorang lelaki anak usia 6 tahun yang telah ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya.
Anak yatim piatu ini diperlihara oleh neneknya, dan sering ada di gereja sehingga sangat dikenal oleh Romo2 dan lingkungan gereja.
Dia berkeliaran selama session di Lahurus. Buat saya pribadi yang tidak suka anak yang bandel, Herman sangat mengganggu.
Tapi saya spenuhnya  tahu di balik itu hanya jiwa seorang anak yang butuh perhatian, bimbingan, dan kasih sayang.
Hhhhhhh.. (*cumabisatariknapas*)

——————————————————————————————————–

From: domuscordis@yahoogroups.com [mailto:domuscordis@yahoogroups.com] On Behalf Of Kevin Darmawan
Sent: Tuesday, September 21, 2010 1:36 PM
To: domuscordis@yahoogroups.com
Subject: Re: [DomusCordis] Indonesia Mengajar

Sepertinya Laskar DC perlu segera memberi inspirasi ke anak-anak bangsa ini.  Mungkin bisa dimulai dengan memberi inspirasi supaya anak2 tsb bisa menjadi developer jalan raya dan jalan tol yg tidak Ambles.  =)

In Him,
Kevin

2010/9/21 Felicia Sidharta <felicia.sidharta@gmail.com>

Eh..
Gw baru tau ada gerakan Indonesia Mengajar. Telat banget ya??
http://indonesiamengajar.org/index.php?m=page.faq
hehehe.. Keren yaaaa…. Jadi lulus kuliah bisa ngajar anak kecil di pedalaman selama setahun.

Katanya sih kalo udah gitu cari kerja juga banyak koneksi sana sini dari program itu.. Bahkan bisa dapet link  ke beasiswa sana sini.
Mirip2 Peace Corp di Amrik.. (Dulu gw pengen banget ikut gituan tp kyknya kalo ga orang Amrik ga bisa)
Trus trus. katanya ya (ada temennya temen yang mo pegi jadi guru Indonesia Mengajar ke Halmahera)..
Nanti disana salah satu tugasnya mengajak anak SD untuk berani bermimpi!!

Katanya hasil riset beberapa tahun belakang itu.. anak kecil jaman sekarang kehilangan role models.
Jadi kalo jaman dulu masih ada yang berani mimpi mau jadi presiden, dokter, polisi atopun power rangers (hasil didikan Susan dan filem setengah jam sore sore) sekarang pada bingung.. mimpi jadi apa ya? OB gitu kadang. hais.
lagian anak kecil uda beken dapet waktu nyanyi di tipi nyanyinya lagi cinta.

Padahal dengan gosip2 jakarta akan tenggelam dalam 20 tahun.. akan dibutuhkan anak2 kecil yang berani bermimpi untuk menjadikan…. misalnya Garut atopun Puncak untuk jadi pusat bisnis selanjutnya.

Tapi ya.. pada intinya seiring makin kompleksnya masalah2 yang ada.. kalo ga bisa mimpi.. aga aga modyar juga. :-D

Demikian inspirasi hari ini. Yeay

Feli-